3 Januari 2013

Saya Harus Nulis

Gara-gara ikut workshop tulis menulis, saya kembali buka blog yang sudah cukup lama tak tersentuh ini (oh, maafkan saya, galinkholic, lebih sering menelantarkanmu!). Pasalnya, di workshop itu, juga di workshop yang sebelumnya pernah saya ikuti, wejangan dari para narasumber selalu sama: menulislah setiap hari dan jadikan itu kebutuhan! Bah, ngurusi kebutuhan yang lain saja masih keteteran hehehe... Ujung-ujungnya saya curhat di Facebook seperti ini:


           'lima ratus kata sehari buat situ sih gampang, situ kan penulis.
           buat saya bisa update status aja udah syukur'


Ya, itu excuse saya. Berdalih sok sibuk lah, mentok ide lah. Padahal, para narasumber, lagi, mengingatkan bahwa ide tulisan itu bisa didapatkan dari hal-hal sederhana dari kehidupan kita sehari-hari. Bahwa tidak perlulah menulis berurai kata-kata puitis, bolak-balik irama dan semacamnya. Nulis ya nulis saja. Bah!

Baiklah, beruntung sekali dapat momen tahun baru yang identik dengan resolusi. Padahal saya lebih kenal resolusi dalam bentuk pixel. Tahun baru ini memang tidak saya sambut dengan resolusi. Percuma buat saya yang moody dan kepengenannya seabrek tapi nggak ngukur diri. Nah, tapi... gara-gara urusan tulis menulis ini, dapat juga saya satu resolusi: menulis. Nggak usah muluk-muluk jadi buku atau naskah FTV. Cukup di blog ini saja dulu. Tidak harus juga lima ratus kata, yang penting bisa nulis setiap hari. Sanggupkah saya?  Sanggup! (siap-siap aja besok nemu satu postingan yang isinya cuma tiga baris kalimat hehehe...)

Omong-omong soal tulis menulis, saat ini sebenarnya saya sedang disibukkan dengan urusan menulis juga. Gotong royong dengan beberapa teman. Teman? Hmmm... Ya, beberapa saya kenal, beberapa saya cuma tahu namanya, beberapa saya baru kenal setelah ada proyek ini. Singkat cerita, gara-gara lempar-lemparan komentar di status seorang kawan, saya dapat ide buat bikin buku tentang pengalaman orang-orang yang pernah aktif di organisasi yang saya juga pernah bekerja di dalamnya. Satu budaya yang saya lupakan di organisasi tersebut adalah: 'kau yang beride, kau yang tanggung jawab!' Hahaha... Jadilah saya menumbalkan diri untuk proyek ini. Terima kasih untuk para kawan yang jadi teman diskusi konsep. Tanpa kalian apalah artinya saya. Halaaah...

Pengantar editor sudah selesai saya susun. Dan dengan sangat menyesal, ada beberapa bagian yang tidak jadi saya muat karena isinya lebih banyak soal curhatan saya. Jadi, galinkholic, terima kasih sudah akan (kembali) menjadi tong sampah saya kali ini. Nah, ceritanya, organisasi saya sudah berhasil membuka tidak cuma wawasan tapi juga perspektif dan sikap ratusan anak muda di Yogyakarta dalam kurun waktu hampir dua puluh tahun. Bayangkan bagaimana saya harus mengontak orang-orang yang kini tersebar tidak hanya di seantero Nusantara tapi juga sampai ada yang nyangkut di benua lain! Stop. Tidak harus membayangkan saya gedor-gedor pintu atau kirim ratusan surat kepada mereka. Kali ini saya berterima kasih kepada Facebook. Ya, cukup posting satu kali di group, responpun berbanjiran.

Banjir respon tidak berarti banjir tindak lanjut. Memang ada yang betulan mengirim tulisan di detik-detik akhir deadline. Tapi ada yang pelan-pelan hilang setelah heboh komentar pengen ikut nulis. Yang nge-like tidak saya hitung. Masa tenggat bahkan sampai harus saya perpanjang tiga kali. Formalnya. Informalnya, entah. Awalnya, saya merencanakan buku tersebut bisa terbit bersamaan dengan ulang tahun organisasi di penghujung tahun. Tapi ya, manusia berkehendak, manusia lain juga punya kehendak. Target saya tidak berhasil. Sampai menjelang akhir tahun, saya hanya berhasil mengumpulkan dua belas tulisan. Akhirnya, atas saran dari kawan saya yang paling setia menjadi tandem diskusi sekaligus konsultan saya untuk proyek ini, saya cetak saja tulisan yang sudah ada, dijadikan dua eksemplar buku dan menjadi kado pada perayaan ulang tahun organisasi. Sayang, di saat bersamaan, saya harus ke luar kota. Jadilah sang kawan merangkap konsultan saya itu yang menyerahkannya kepada para pimpinan organisasi, sekaligus membacakan kata pengantar yang ditulis oleh pengurus di level nasional. Katanya, katanya nih, adegan pembacaan dan penyerahan ini sampai menguras air mata para pimpinan. Wah!

Setelah itu (itu artinya minggu ini), beberapa orang lain menyusulkan tulisan-tulisan mereka. Tidak. Saya tidak mutung. Saya justru semakin bersemangat. Semangat itu saya coba tularkan ke teman-teman saya. Ada yang sudah menulis tapi tidak pede mengirimkannya, saya katakan saya akan bantu mempercantik. Ada yang tulisannya seiprit-seiprit, saya kasih beberapa masukan pemancing ide. Ada yang tulisannya amburadul, saya ngamuk-ngamuk hehehe... Nggaklah, saya minum kopi banyak-banyak biar tahan. Ada juga yang ngaku nggak bisa nulis tapi pengen berkontribusi dan saya yakin dia punya cerita yang menarik, saya sampai bela-belain akan lebih intens mengawalnya (eh? bodyguard?).

Proyek ini membawa banyak pelajaran bagi saya pribadi. Membaca setiap kisah mereka membuat saya merasa sangat sangat sangat (sengaja saya ulang tiga kali biar mantap, bukan typo) beruntung telah menjadi bagian dari organisasi tersebut. Komitmen dan transferan energi teman-teman saya luar biasa, menggiring ide kecil yang sederhana menjadi sebuah karya besar. Kesabaran saya juga diuji dalam mengerjakan proyek ini. Salah satu teman saya bilang saya cocok jadi debt collector karena 'kegigihan' saya nagih tulisan. Salahnya udah janji, ya saya kejar hahaha... (Beribu maaf bagi yang wall Facebook-nya dikotori emoticon manis tapi mengandung efek teror. Ya, saya cukup bilang halo dengan embel-embel senyum dan teman-teman saya langsung kabur)

Pelajaran lainnya ya soal tulis menulis itu. Dari ratusan orang yang berkumpul di group, hanya segelintir yang mau menulis. Yang beralasan sibuk, saya tahu beberapa yang mengirimkan tulisan itu juga adalah orang-orang yang kesibukannya mengalahkan Putri Indonesia. Tapi mereka tetap menulis. Yang beralasan tidak bisa menulis, saya tahu itu bohong besar. Tidak mungkin lulus SMA kalau tidak bisa nulis. Yang beralasan malas, saya tahu itu benar. Hehehe... Entah karena malas mengingat-ingat lagi memori yang sudah lama tersimpan, malas duduk berjam-jam di depan monitor, malas mengikatkan kembali dengan sesuatu di masa lalu, atau malas-malas lainnya. Sama seperti saya juga yang sering malas untuk buka dan ketak-ketik di blog ini, rasa malas itu adalah senyata-nyatanya musuh. Sungguh! Waspadalah! Karena itu saya sekarang sedang membulatkan tekad: saya harus nulis!

4 komentar:

  1. sungguh tidak cuma para 'pemimpin' yang terharu ketika membaca pengantar buku itu..:)
    saya jadi penasaran dengan isinya, so kapan bisa saya miliki bukunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya? wah, sayang saya tidak di sana ya.. bisa jualan tisu nih. tunggu saja kehadirannya. ibarat pesen makan, makin lama nunggu makin terasa nikmat makannya hahaha

      Hapus
  2. cobalah koh, ikut @30haribercerita, setiap hari kita diwajibkan memposting tulisan kita selama satu bulan. it's challenging yet fun! Trust me it works, halah! http://terlalurisky.blogspot.com/2012/12/aturan-main-dan-peserta-30-hari.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. menarik! menarik! tengok ah... thanks ya, tan

      Hapus