25 November 2012

Kenapa Kerja di LSM


Lima tahun lalu, saya dan seorang kawan dikirim ke sebuah pertemuan di Jakarta yang membahas isu pemiskinan. Pesertanya adalah remaja-remaja dari beberapa daerah di Indonesia dan dari beberapa negara di Asia Pasifik. Meskipun isunya luar biasa, tapi ada dua hal yang  saya dan kawan saya tidak bisa lupakan dari pertemuan tersebut. Pertama, saat di hari terakhir kami diajak melakukan field visit ke bantaran Kali Ciliwung yang ujung-ujungnya cuma arak-arakan peserta naik perahu di kali tersebut. Memalukan. Saya dan kawan saya mungkin saat itu terlalu berharap. Namanya field visit ya bersosialisasi dan menggali permasalahan di sana, tidak bisa kami lakukan.

Kedua, adalah percakapan kami dengan satu peserta dari Jakarta di sarapan hari pertama. Saya dan kawan saya memperkenalkan diri, dan si peserta ini juga memperkenalkan diri sebagai seorang aktivis. Dengan gaya sangat bangga, menyebutkan satu organisasi internasional yang bergerak di isu lingkungan. Saya lalu bertanya, apa saja kegiatannya. Jawabnya: (kira-kira saja, soalnya buka memori 5 tahun lalu itu butuh energi luar biasa hehe..)

"Belum banyak sih... Ya bagi-bagi leaflet, ikut aksi, gitu-gitu lah..."

Saya dan kawan saya terdiam. Hening. Saya yakin saat itu kawan saya berpikiran sama dengan saya. Dan terbukti benar, karena belakangan, kami berdua tertawa terbahak-bahak membicarakan sang aktivis tersebut. Gayanya selangit, ngaku aktivis, kerjaannya bagi leaflet di jalan! Aktif bagiin leaflet, maksudnya? Maklumlah, saat itu, saya dan kawan saya sudah cukup lama bekerja di LSM dan masih merasa tidak pantas menyandang predikat aktivis.

Saya mulai berkecimpung di dunia LSM sejak saya kuliah. Dan baru berhenti beberapa bulan lalu. Bertahun-tahun di LSM, saya tidak hanya jadi tahu soal berbagai isu, tapi juga jadi tahu macam-macam LSM dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ada LSM yang kerjaannya nyari donor tapi nggak ada hasil, ada LSM yang luar biasa mandiri dan mampu menjadi agen perubahan sosial, ada  LSM yang sangat profesional, ada LSM yang penuh dengan kekeluargaan, ada juga LSM yang cuma plangnya doang. Demikian juga orang-orangnya. Ada yang cuma nongol setahun sekali terus udah ngaku aktivis itu tadi, ada yang kerja bertahun-tahun sampai jadi pimpinan tapi masih disangka office boy sama tamu baru, ada yang lebih sibuk koar-koar, ada juga yang lebih suka main di belakang panggung.

Well, kenapa saya menulis ini? Akhir-akhir ini pandangan orang terhadap LSM mulai berubah. Kalau dulu dianggapnya masuk LSM itu seperti ikut organisasi (beginilah ayah saya berpikir tentang LSM), sekarang berkegiatan di LSM juga sudah dianggap sebagai bekerja. Apa pasal? Belakangan, kerja di LSM itu sudah seperti kerja di kantoran. Beberapa LSM mulai dikelola dengan sangat profesional. Ada jenjang karir dan sebagainya. Tapi tentu saja, tidak ketinggalan intrik-intriknya, baik di dalam organisasi maupun antar organisasi (isunya beragam, dari mulai pergulatan idealisme sampai ke masalah sesepele tai kuku: rebutan lahan).

Perubahan pandangan ini membuat banyak orang lantas memutuskan untuk bekerja di LSM.  Dan, orang yang sudah pernah bekerja di LSM juga mungkin akan berubah pandangannya terhadap LSM hehe..

Ada beberapa pertimbangan yang bisa anda lakukan sebelum mengambil keputusan bekerja di LSM. Ini murni hasil kreativitas saya, hanya berdasarkan observasi tanpa dukungan data-data sahih, jadi silakan kalau ada yang merasa tidak terima. Sesuai dengan judul postingannya, pertimbangan ini didasarkan pada kenapa kerja di LSM.

  1. Kalau niat anda bekerja untuk mencari uang, ya jangan di LSM. Beberapa orang yang saya tahu aktif berkegiatan di LSM, punya usaha sampingan yang jauh dari isu LSM nya. Atau ada juga yang sebaliknya, punya usaha sendiri dan menjadikan berkegiatan di LSM sebagai sampingan untuk menyalurkan sisi sosialnya. Realistis saja, perut perlu diisi, demikian juga dompet, pulsa, ruang tamu dan garasi. Bagi orang-orang yang saya sebut itu, kondisi nyata ini diakali dengan punya usaha sendiri itu tadi. Tapi bagi beberapa yang lain, punya cara mengakalinya sendiri: bergabung dengan satu LSM, bikin proposal, lalu setelah proposal diterima dan selesai urusan tanda tangan, sebelum menjalankan proyek, potong dulu budgetnya, sisakan untuk rekening pribadi dan tim sambil memikirkan bagaimana cara melaporkannya nanti ke sang donor. Tidak manusiawi? Ah, niatnya kan buat cari uang... Buka-bukaan sajalah, toh nyatanya, masih banyak orang yang menganggap negatif orang-orang yang bekerja di LSM, dianggap cuma jualan proposal atau jualan nasib orang lain. Tak ada asap kalau tidak ada api, nyatanya memang ada yang seperti itu. Tapi tentu, tidak semua. 
  2. Kalau niat anda bekerja untuk cari pengalaman, ikut seminar dan konferensi di luar kota dan luar negeri, anda perlu usaha ekstra. Setahun dua tahun bekerja di LSM saja tidak cukup dijadikan modal untuk mengantarkan anda berkeliling nusantara dan dunia. Sadarlah, ada banyak orang yang sudah bekerja bertahun-tahun di LSM  yang pastinya lebih layak kirim, kecuali anda bisa menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam waktu cepat. Oya, semakin besar LSM anda, semakin kesempatan kemana-mana ini lebih besar, apalagi jika anda bergabung di organisasi internasional. Lagi, organisasi internasional selain mengandalkan referensi, juga akan melihat pengalaman anda bekerja di LSM lokal sebelumnya.
  3. Kalau niat anda bekerja untuk menyalurkan kemampuan anda, sah-sah saja. Biasanya, ini dilakukan oleh orang-orang yang punya kepedulian cukup terhadap permasalahan sosial, tidak terlalu peduli isu spesifiknya apa, tapi punya kemampuan teknis yang ingin disalurkan. Saya kenal beberapa orang seperti ini, bisa berpindah-pindah isu tapi konsisten pada bidangnya.
  4. Kalau niat anda bekerja untuk menjadi aktivis, gampang, bagi-bagiin aja leaflet di jalan dan ikut aksi (hehehe... tetep ya dibahas). Di otak saya, aktivis itu identik dengan popularitas. Label aktivis diberikan oleh orang lain. Jadi ya kalau ini memang tujuan anda, bukalah jaringan sebanyak mungkin dan konsisten dengan isu yang anda perjuangkan. Tentu, harus aktif. Namanya juga aktivis.
  5. Kalau niat anda bekerja adalah agar mendapatkan lingkungan yang nyaman, jam kantor yang lebih fleksibel dan pakaian bebas, maka selamat bergabung di LSM. Tapi ingat ya, jam fleksibel memang artinya anda tidak masuk kantor dari jam 8 sampai jam 4, namun konsekuensinya adalah anda bisa lembur sampai mampus atau weekend anda terganggu dengan pelatihan ini, pertemuan itu, belum lagi saat ada kasus atau event khusus.
  6. Kalau niat anda bekerja untuk mengabdi kepada masyarakat, tidak usah bekerja di LSM, tapi jadilah pegawai negeri. Eh? Bukannya PNS itu abdi masyarakat ya? Terserahlah... Tapi ini serius, kalau memang niatnya untuk melakukan sesuatu bagi banyak orang, LSM memang bisa memberikan jalan, tapi tidak melulu. Fenomena (cieh..) yang saya lihat adalah begini, banyak orang bergabung di LSM memang awalnya karena tertarik dengan isunya dan merasa terpanggil untuk berjuang di isu tersebut, tapi lama kelamaan, asiknya dunia LSM melarutkan mereka (halaah..), lebih sibuk ngurus laporan buat donor, lebih sibuk meeting dan konferensi, sampai yang paling parah, lebih sibuk ngumpulin duit, lupalah niat awalnya. Kalau anda sering nonton Kick Andy, kita bisa melihat banyak orang yang melakukan sesuatu bagi orang lain dengan jalan mereka sendiri-sendiri, bukan? Mereka bisa kita jadikan contoh bagaimana melakukan sesuatu untuk masyarakat tanpa terlibat dengan suatu organisasi atau LSM. Lebih tidak ribet mungkin iya, tapi modal yang diperlukan tentu lebih banyak, dari mulai waktu, tenaga bahkan dana karena kita akan lebih banyak bekerja sendiri.

Kesimpulan tulisan ini: Tidak ada. Sekian, terima kasih.
baca selengkapnya

3 November 2012

Ayo Bersepeda!

"Wah muka kamu kok bersihan? Perawatan?"

Itu kata teman saya, semalam, saat kami sudah sekitar 10 bulanan tidak bertemu. Ini bukan kali pertama saya dapat komentar yang sama dari teman lain. Tentu saya senang karena teman saya bilang saya sekarang lebih bersih. Tapi tersinggung juga kalau disangka perawatan. Tersinggung karena boro-boro buat rawat muka, ngurusin perut aja masih morat-marit. 

Saya jawab saja, sedikit asal tapi masih masuk akal:

"Mungkin karena olah raga, jadi peredaran darahnya bagus."

Saya olah raga? Nah, itu baru berita. Setelah lulus sekolah, saya hampir tidak pernah olah raga kecuali jalan kaki ke kampus, nyuci pakaian setumpuk, dorong motor yang kehabisan bensin di tengah jalan atau melemas-lemaskan otot saat bangun tidur. Saat sekolah saja, saya olah raga cuma sekali seminggu pas ada pelajarannya, dan saya lebih senang kalau gurunya tidak masuk, membebaskan murid untuk beraktivitas fisik, yang artinya saya akan memilih nongkrong di kantin.

Lalu, olah raga yang saya lakukan sekarang apa? Saat saya pindah ke Jogja, saya memutuskan untuk beli sepeda. Tanpa motor. Jujur dari hati yang paling dalam (dan tidak banyak yang percaya), saya sedang mencoba untuk lebih 'hijau', nggak nambah-nambahin asap di jalan. Dan mengandalkan transportasi umum yang nyaman di Jogja itu sama seperti mengandalkan Donald Bebek untuk jadi konselor saya. Alasan lainnya, tentu saja soal dana. Hahaha.. terdengar lebih realistis.


Well, soal bersepeda, saya mau berbagi keuntungan yang saya dapat dengan bersepeda, berdasarkan pengalaman saya menjadi pesepeda selama kurang lebih dua bulan ini. Mungkin bisa menjadi inspirasi bagi anda yang juga ingin bersepeda =)

Pertama ya itu tadi, lebih sehat. Peredaran darah lancar dan efeknya ke muka lebih cling cling hehe... Tapi bener lho, badan saya juga terasa lebih segar, jarang pegal-pegal kayak dulu (kiranya diperlukan penelitian lanjutan untuk membuktikan apakah karena saya bersepeda saja, atau karena stress saya berkurang, tapi perlu dicatat kalau pola makan saya masih sama, pembersih muka saya juga masih sama dan saya masih hobi begadang dan merokok). Cuma, baca-baca di beberapa sumber, bersepeda memang baik buat kesehatan tapi harus diimbangi dengan olah raga lain karena bersepeda hanya fokus pada tubuh bagian pinggang ke bawah. Okelah, saya angkat barbel besok-besok. Catatan saja, kalau memang anda sangat peduli dengan kesehatan: pemakaian masker bisa jadi penting kalau anda tidak ingin paru-paru anda terkotori asap kendaraan lain saat bersepeda!

Kedua, bikin udara lebih hijau. Polusi yang muncul dari sepeda paling parah ya bau keringat yang terlalu menyengat, itupun kalau kita jorok hehe... Ya silakanlah dibandingkan antara sepeda, motor, mobil dan truk reyot, mana yang lebih sering berasap dan bikin udara pengap. Point ini mungkin sangat cocok bagi anda yang merasa peduli soal lingkungan.

Ketiga, lebih irit. Tidak harus beli bensin, pertamax atau solar. Dan yang paling penting, lebih banyak yang ngasih parkir gratis untuk sepeda hehehe... Tapi pastikan kalau sepeda kita terkunci dengan aman. Perawatan sepeda juga tidak mahal, tidak perlu ganti oli rutin (kecuali ngoliin rantai) dan nggak ada istilah turun mesin. Plus, tidak perlu takut kena cegatan polisi atau tiba-tiba ada operasi SIM, STNK dan sebagainya yang mengharuskan anda mengocek uang. Oya, catatan, bisa jadi sepeda menjadi tidak lebih irit kalau anda memutuskan untuk membeli sepeda yang harganya 40 juta ke atas. Pas, point ini cocok bagi para ekonomis hehe..

Keempat, lebih hafal nama jalan dan lingkungan sekitar. Kecepatan sepeda paling banter berapa sih. Itu memungkinkan kita untuk lebih bisa tengok kanan kiri. Ya asal tidak terlalu lama dan terlalu sering kalau tidak mau celaka. Saat saya dulu naik motor, seringnya saya tidak punya kesempatan untuk bisa melihat lebih rinci jalan yang saya lalui. Yang penting: cepet sampe.

Kelima, lebih fleksibel. Untuk yang satu ini, perlu dispesifikan, yaitu fleksibel dengan aturan jalan dan urusan parkir kendaraan, karena jelas sekali kalau bagi pesepeda amatir seperti saya, menjadi sangat tidak fleksibel untuk menempuh jalur lebih dari 20 km! Yang saya maksud fleksibel dengan aturan jalan adalah bisa nyelip-nyelip saat macet, bisa ngelawan jalan satu jalur/ one way (tidak direkomendasikan, tapi banyak dilakukan, asal aman hehe..), tetap melaju walau lampu masih merah tanpa takut disemprit pak polisi (juga tidak direkomendasikan, tapi juga banyak dilakukan. Pastikan anda tahu benar situasi lalu lintasnya. Saya juga ikut berhenti di lampu merah yang saya tahu sangat ramai, tapi bisa meluncur tanpa beban di perempatan yang sepi) atau seperti yang saya lakukan tadi sore: naik ke trotoar yang tidak ada orangnya karena jalur untuk motor tergenangi air (beruntungnya di Indonesia, trotoarnya multi fungsi). Bentuk sepeda yang ramping juga membuat urusan parkir tidak ribet. Ada celah sedikit yang kira-kira muat untuk sepeda tapi tertutup kendaraan lain, gampang: angkat saja sepedanya, taruh di tempat tersebut.

Yang terakhir, saya tidak tahu apakah  fenomena ini terjadi di Jogja saja atau di kota lain juga. Para pesepeda di kota ini, kebanyakan ramah dengan pesepeda lainnya. Keramahannya ditunjukkan dengan tersenyum dan menganggukkan kepala saat berpapasan atau bahkan beberapa kali saya disapa pesepeda lain yang mendahului saya, sama seperti kebiasaan jaman dulu kalau kita sedang berjalan dan harus mendahului orang lain. Ah tentramnya... Para pesepeda memang banyak yang bergabung di komunitas-komunitas sepeda, itu akan menambah nilai plus bersepeda, lebih sehat secara sosial.

Masuk ke gang-gang kecil juga tidak masalah, orang-orang tidak terganggu. Saya cukup bilang, "Permisi, Bu, Pak!" dan orang-orang akan menjawab, 'Nggiiiiih...". Memang saat bermotor juga kebiasaan ini dilakukan, tapi saat bersepeda saya merasa lebih yakin kalau saya tidak menganggu dengan suara mesin atau asap knalpot kendaraan saya.

Ada yang mau menambahkan?

Oya, saat bersepeda juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama masalah keamanan. Bukan hanya kita sendiri yang memakai jalan, dan kebanyakan, 'saingan' pesepeda itu lebih besar dan cepat. Di Jogja, hampir di semua perempatan sudah ada ruang sepeda, maksudnya untuk pesepeda berhenti saat lampu merah. Tapi lebih seringnya para pesepeda berhenti di depan ruang tersebut agar lebih cepat mengayuhkan pedalnya saat lampu menyala hijau (karena harus bersaing dengan pengendara motor yang begitu lihat lampu hijau seperti banteng lihat kain merah). Di sepanjang jalan juga, beberapa ada jalur sepedanya. Tapi saya jarang pakai karena justru bagian jalan itu yang laing jelek, begajulan, dan banyak lubang-lubang serapan. Kebanyakan pemakai jalan lain, maklum dengan hal-hal ini dan menghargai pesepeda. Tapi ya ada juga motor dan mobil yang dengan entengnya berhenti di ruang sepeda.

Helm bisa jadi hal yang penting untuk mengindari cedera di kepala, kalau-kalau kita, semoga tidak, terjatuh karena tersenggol kendaraan lain atau kelalaian kita sendiri. 

Lalu, berikan kode, biasanya dengan lambaian tangan, jika kita meminta kesempatan untuk menyeberang atau akan berbelok dan kita tahu kalau di belakang kita cukup banyak kendaraan lain. Selain 'saingan' yang lebih besar, ada juga pengguna jalan yang lain yang harus kita utamakan, yaitu pejalan kaki. Berhentilah kalau ada dari mereka yang akan menyeberang.

So... Ayo bersepeda!

baca selengkapnya

24 Oktober 2012

Bersetia Pada Komitmen

Akhir minggu kemarin saya memfasilitasi satu pelatihan tentang seksualitas. Kami berusaha membongkar isu yang masih sering bikin malu-malu kucing ini dari konsep-konsep besar tentang wacana dan hak asasi manusia sampai ke soal-soal yang personal dan intim. Banyak hal baru yang saya pelajari dari peserta yang usianya muda-muda (dan saya jadi merasa sudah tidak muda lagi hehe...) Satu yang cukup menarik adalah saat ada pertanyaan dari peserta soal kesetiaan. Konteksnya adalah kesetiaan pada pasangan. Memang saat itu, ini tidak didiskusikan panjang lebar, tapi menempel terus di benak saya. Saya menutup diskusi tersebut dengan pernyataan:

"Setia itu kepada komitmen yang telah kita buat."

Ini adalah kalimat teraman untuk menjawab beragamnya tipe-tipe hubungan intim (catat: hubungan intim yang saya maksud bukan hubungan seksual) yang dibuat oleh dua orang (atau lebih) manusia. Nah lho, hubungan kok mirip perumahan pakai tipe-tipe segala? Well, itulah kenyataannya. Saya lalu berkonsultasi dengan Mbah Google, mencoba mencari referensi yang oke soal tipe-tipe hubungan dan tralaaa... saya menemukan dua gambar keren di situs ini. Dua gambar ini mencerminkan beragamnya tipe-tipe hubungan intim yang ada:



Gimana? Anda bisa menemukan tipe hubungan yang mana yang sedang anda miliki sekarang? Ya, kalau dari gambar pertama, ada tiga bola besar: monogami, non-monogami atau selibat. Masing-masing ada turunannya sendiri-sendiri. Monogami misalnya, ada yang dalam bingkai pernikahan, ada juga yang 'teman tapi mesra'. Syaratnya, satu pasangan saja dalam satu periode. Nah, kalau yang non-monogami ini yang lebih beragam tipenya, dari yang paling terkenal dan banyak dibahas seperti open-relationship dan poligami, sampai yang baru saya dengar seperti unicorn (memiliki hubungan dengan dua orang yang berpasangan, walah...). 

Setiap orang sah-sah saja memilih untuk punya tipe hubungan seperti apa. Tunggu... saya seperti terdengar sedang menyetujui poligami juga? Nah, saya punya alibi untuk yang satu ini. Tapi sebelum ke sana, mari kita kembali ke soal kesetiaan terlebih dulu.


Setia. Apa kata KBBI?

se·tia a 1 berpegang teguh (pd janji, pendirian, dsb); patuh; taat: bagaimanapun berat tugas yg harus dijalankannya, ia tetap -- melaksanakannya; ia tetap -- memenuhi janjinya2 tetap dan teguh hati (dl persahabatan dsb): telah sekian lama suaminya merantau, ia tetap -- menunggu; berpegang teguh (dl pendirian, janji, dsb): walau hujan turun dng lebatnya, ia tetap -- memenuhi janji pergi ke rumah kawannya; 


Dari definisi di atas, ternyata saya nggak keliru-keliru amat. Tiga definisi tersebut tidak satupun yang menyebut kata orang atau pasangan, kecuali kalau "dan sebagainya" memberikan juga pilihan untuk itu.

Jadi kalau dari awalnya dalam satu hubungan, dua orang bersepakat untuk berelasi hanya dua orang saja, mereka itu, ya kalau ada satu orang yang selingkuh, berarti sudah tidak setia. Tapi kalau dari awal kedua pasangan bersepakat untuk menjalani open-relationship, ya kalau ada yang sakit hati artinya juga tidak setia pada komitmen yang sudah dibuat bersama. Bukan begitu? Soal selingkuh juga bisa beda artinya bagi setiap orang. Ada yang baru jalan dan makan berdua saja dengan orang lain sudah dianggap selingkuh, ada yang kalau kirim-kiriman SMS mesra dengan orang lain sudah dianggap selingkuh, tapi ada juga yang merasa diselingkuhi kalau pasangannya melakukan aktivitas seksual fisik seperti ciuman, pelukan dan hubungan seksual. Sangat relatif. Itu mengapa saya lebih percaya kalau kesetiaan itu lebih pada komitmen yang telah dibuat. Komitmen itu soal janji. Bukan hanya janji kita pada pasangan, tapi janji pada diri sendiri.

Nah nah... soal komitmen ini yang kadang kurang diperdalam pada fase-fase awal sebuah hubungan intim, terutama pada tipe hubungan monogami. Menyepakati apa yang boleh dan apa yang tidak dalam hubungan, termasuk dalam relasi sosial dengan orang-orang di sekitar. Seringnya, kita terperangkap dalam kondisi ideal yang kita inginkan dan kita terlalu percaya diri kalau pasangan kita juga punya keinginan dan kebutuhan yang sama dengan kita. Halooo... anda akan berelasi intim dengan seseorang yang mungkin anda tidak tahu ia dibesarkan oleh tipe keluarga seperti apa, apa tontonan dan bacaannya waktu dia kecil, bagaimana kawan-kawannya dan lain sebagainya!

Bagusnya sih, soal komitmen ini dikomunikasikan bahkan pada saat kita belum memutuskan akan menjalani hubungan monogami dengan seseorang. Tapi ya, peribahasa cinta itu buta, mungkin jadi kambing hitam dalam hal ini. Tak masalah, pacaran (bagi yang percaya pacaran), bahkan pernikahan, adalah sebuah proses untuk saling mengenal satu sama lain, saling berkomunikasi, mencoba menerima perbedaan-perbedaan dan membuat negosiasi-negosiasi. Lama-lama anda akan tahu juga, pasangan kita suka atau tidak kalau kita lebih sering jalan dengan teman daripada dengannya. Saat pasangan memberikan respon negatif, saat itulah kita bisa membuka lagi ruang diskusi soal komitmen ini.

Idealnya memang orang menjalin hubungan intim dengan orang lain yang punya tipe sama. Bayangkan saja kalau ada pasangan, yang satunya ingin hubungan monogami, sementara pasangannya lebih senang dengan tipe hubungan open-relationship. Itulah gunanya pedekate, menurut saya. Seperti kalau mau beli kucing, disarankan untuk tidak membeli yang di dalam karung.

Oke, sekarang soal poligami. Seperti yang saya bilang, meskipun saya ini sekarang (dulu mungkin tidak hehehe...) pengidap monogami akut, saya mencoba terbuka dengan sekian ragam tipe hubungan, tapi tidak dengan poligami. Persoalannya adalah, pertama kondisi perempuan saat ini yang ketika menjadi istri seseorang 'dipaksa' untuk nrimo alih-alih bisa mengutarakan apa keinginannya dan kondisi laki-laki yang karena patriarki (termasuk dalam penafsiran agama) terbentuk menjadi suami yang punya keputusan 'mutlak' atas keluarganya. Coba tanya pada istri-istri yang diduakan, ditigakan atau diempatkan, apakah benar-benar rela melepaskan suaminya begitu saja memperistri perempuan-perempuan lain? Jika, kondisinya bisa diubah, perempuan lebih setara dengan laki-laki, saya mungkin bisa lebih toleran soal poligami ini.

Persoalan kedua adalah, saya ingin mempertanyakan saat si suami mengikrarkan janjinya di depan penghulu atau saat melamar si calon istri. Bagaimana komitmennya? Apakah memang dari awal sudah berkomitmen pada dirinya sendiri kalau satu istri saja tidak akan cukup? Apakah keinginannya itu sudah dikomunikasikan pada sang calon istri? Sama seperti orang pacaran, yang awalnya manis dan dunia serasa milik berdua, kondisi masa depan memang tidak bisa diprediksi, termasuk perasaan kita. Bisa jadi dalam perjalanan hubungan, salah satunya sudah tidak bisa setia pada komitmennya dan hal itu tidak bisa dinegosiasikan lagi dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut.

Maka pesan terakhir saya adalah, bersetialah bukan pada pasangan kita, tapi pada komitmen yang telah kita buat. Bagi yang merasa komitmennya terlanggar, kita punya hak untuk memutuskan apa yang terbaik bagi diri kita. Pun bagi yang merasa sudah melanggar komitmen, segeralah mengambil keputusan.
baca selengkapnya

22 September 2012

"Sayang, Password FB Kamu Apa?"

Kemarin sore saya bertemu seorang mahasiswa S2 yang akan bikin workshop untuk guru-guru SMP dan meminta bantuan saya untuk menjadi salah satu fasilitator di workshop tersebut. Ada satu materi yang akan diberikan dalam workshop, tentang ruang personal, yang mengingatkan saya pada status seorang kawan di Facebook yang saya tengok pagi harinya. Saya lupa pasti kata-katanya (malas juga mau nyari-nyari lagi), tapi intinya tentang password semua akun yang bagi beberapa pasangan penting buat saling mengetahui. Saya komentari singkat,

"Fenomena yang menarik"

Fenomena karena terjadi belakangan ini saja, bukan? Ya tentu saja, saat ibu dan ayah saya pacaran dulu, tidak mungkin mereka tuker-tukeran password facebook, twitter, skype dan sebagainya. Oh... sederhananya hidup...

Menarik buat saya karena mengetahui password pasangan bukan sesuatu yang gue banget. Mungkin ada yang tujuannya hanya untuk fun. Okelah kalau yang itu. Tapi kalau tujuannya untuk memata-matai pasangan? Walah... mau berpasangan atau main intel-intelan? Bukannya dasar sebuah hubungan adalah saling percaya? Kalau sudah tidak ada kepercayaan lagi, kenapa juga hubungannya mesti dilanjutkan sih? Lagipula, dan ini diakui kawan lain yang dalam hubungan sebelumnya berbagi password dengan pasangannya (untunglah mereka sudah putus), kalau memang mau niat nakal, selingkuh dan sebagainya, cuma orang yang otaknya dari dodol yang mengekspresikannya lewat jejaring sosial mereka. Itu pendapat saya. Kenapa soal ruang personal mengingatkan saya pada fenomena berbagi password ini adalah karena ada beragam tipe orang dalam menjalin hubungan. Berbedanya 'zona nyaman individu' setiap manusia bisa jadi punya sumbangan untuk menentukan mau memberikan password kita ke pasangan, 'memaksa' pasangan memberikan passwordnya kepada kita, atau sebodo amat pasangan kita mau jungkir balik di akun mereka.

Dalam psikologi, ruang personal diperkenalkan pertama kali oleh Edward T. Hall (1966), meskipun pemakaian istilah tersebut digunakan juga dalam bidang lain seperti arsitektur. Ruang personal adalah ruang ilusi soal privasi dan kenyamanan, satu di antara konsep-konsep ruang lain dalam konteks hubungan interpersonal manusia. Ruang lain adalah ruang intim, ruang sosial dan ruang publik. Secara teori, ruang-ruang itu meskipun tak kasat mata, ada ukurannya masing-masing yang berbeda untuk setiap individu yang dipengaruhi oleh banyak faktor dan bisa jadi berubah pada kondisi tertentu atau pada orang-orang tertentu. Saya misalnya, saya bukan orang yang cukup nyaman ketika harus melakukan kontak fisik dengan orang lain, kecuali orang tersebut sudah saya anggap sangat dekat. Berbeda dengan kawan saya yang jalan-jalan di mall dengan teman saja bisa sambil pegang tangan.

Kalau teori tentang ruang personal tersebut berbicara tentang ukuran fisik soal kenyamanan, perkara berbagi password itu adalah hal yang ukurannya tidak lagi dalam inchi atau sentimeter. Lebih ilusioner, mungkin. Atau lebih tepat itu adalah perkara privasi? Keduanya bicara soal zona nyaman individu. Di ruang intim, kita bisa dengan leluasa membuka privasi kita, menceritakan kisah yang terlalu memalukan untuk diberitahukan pada orang lain, bahkan sampai (mungkin) tidak segan menunjukkan isi celana dalam kita. Beberapa dari kita tidak memberikan password akun-akunnya kepada pasangan bukan soal privasi ini. Toh, justru ada banyak hal yang tidak dibagi dalam akun-akun kita yang malah kita ceritakan dengan pada pasangan. 

Lagi, itu soal kenyamanan. Kalau memang keduanya sepakat dan sama-sama nyaman dengan berbagi password, ya silakan saja. Kadarnya juga mungkin berbeda ya. Ada yang boleh cuma nengok saja, ada yang bisa sampai upload foto dan berbalas komentar dengan temannya pasangan. Demikian juga dengan ruang personal. Agak gegabah rasanya kalau kita menganggap semua teman kita punya ruang personal yang sama. Atau parahnya, punya ruang personal yang sama dengan kita. Terus terang, sangat menganggu bagi saya kalau saat ruang personal saya melebar untuk satu orang karena suatu alasan, eh orang itu ruang personalnya cuma selebar kuku jempol kaki. Haduh! Kita bisa saja kok mengidentifikasi mana teman-teman kita yang ruang personalnya lebar dan mana yang sempit. Bahasa tubuh adalah hal yang bisa jadikan salah satu indikasi. Misalnya seperti saya tadi, saya yang tidak suka gelendotan atau pegang-pegang tangan teman, bisa jadi sinyal kalau ruang personal dan ruang intim saya tidak selebar daun kelor. Tapi tenang, kawan, ruang tersebut ibarat karet gelang, semakin sering direndam minyak tanah, semakin lentur. Dan tulisan saya semakin ngawur. Selamat malam.


baca selengkapnya

17 September 2012

Menghilangkan Noda Luntur [Bukan Tips]

Pakaian kesayangan anda terkena noda luntur dari pakaian lain? Saya punya tips untuk agar noda tersebut hilang:

1. Keringkan pakaian anda sampai benar-benar kering.
2. Ambil bensin secukupnya, siramkan ke pakaian anda.
3. Nyalakan api, bakar pakaian anda.
4. Noda luntur di pakaian anda hilang. Pakaian anda juga.

Ya begitulah. Judul blog saya memang menyesatkan. Terserah. Saya sedang kesal. Celana jeans kesayangan saya terkena noda luntur yang lumayan parah. Saya sudah coba mengikuti satu tips yang saya temukan di internet. Saya campur asam cuka dan deterjen dalam ember yang diisi air hangat, lalu pakaian yang terkena noda luntur tersebut saya rendam semalaman (katanya sih cukup setengah jam saja, tapi saya merasa karena noda lunturnya lumayan parah, akan dibutuhkan waktu lebih lama). Ya, saya berhasil. Berhasil mengubah kamar mandi saya menjadi beraroma bak dapur tukang bakso. Noda lunturnya masih setia menempel. (Saya menduga, tips tersebut mungkin bisa berlaku untuk noda luntur yang tidak terlalu parah, tidak di pakaian berbahan jeans dan tindakan dilakukan sesegera mungkin).

Yang bikin saya kesal adalah juga keteledoran saya saat menerima pakaian dari laundry. Saya tidak langsung mengeceknya. Sudah menjadi kebiasaan saya, pakaian yang saya ambil dari laundry tidak langsung saya buka. Tidak ada alasan apa-apa. Malas saja. Kesal lainnya adalah, si tukang laundry sama sekali tidak memberi tahu kalau celana saya kelunturan (dari sekian pakaian yang saya laundry, cuma celana itu yang terkena noda luntur). Setidaknya ya, minta maaf deh. Saya tidak akan nuntut, percuma juga nuntut laundry rumahan. Karena sudah terlanjur seperti ini, saya memutuskan tidak akan menggunakan jasa laundry tersebut lagi.

Ibaratnya, nila setitik rusak susu sebelanga. Kesalahan-kesalahan kecil seringkali merusak sesuatu yang lebih besar. Saya bayangkan ada beberapa orang yang juga kesal karena pakaiannya terkena noda luntur dari laundry yang sama di waktu yang bersamaan juga. Beberapa di antaranya lalu memutuskan tidak akan menggunakan jasanya lagi karena toh, di Jogja ini mencari jasa laundry seperti mencari warung burjo. Mudah, terutama di area kost-kostan. Berapa banyak kerugian si tukang laundry setelah ditinggal beberapa pelanggannya karena masalah sepele itu? Andaikan si tukang laundry lebih teliti. Andaikan si tukang laundry mau mengakui kesalahannya.

Mengakui kekeliruan kita seringkali bukan perkara semudah mengambil kotoran hidung dan menempelkannya di bawah meja. Tapi percayalah, itu adalah hal pertama yang harus dilakukan jika kita masih ingin dipercaya oleh orang lain. Kekecewaan atau bahkan rasa tersakiti orang lain memang tidak akan hilang begitu saja, namun setidaknya itu menunjukkan bahwa kita sangat menyesal dengan kekeliruan yang telah kita buat dan meyakinkan orang lain bahwa kita akan berusaha untuk tidak mengulang kekeliruan yang sama. Seperti pakaian yang terkena noda luntur, nodanya mungkin hilang, tapi si pakaian tidak akan pernah sama seperti saat pakaian tersebut masih baru, bukan?

Selamat ber-Senin ria!


PS: bagi yang punya saran bagaimana menghilangkan noda luntur yang lumayan parah pada celana jeans, silakan lho...




baca selengkapnya

14 September 2012

Menjadi Pekerja Lepas itu Pilihan


Menjadi pekerja lepas adalah sebuah pilihan. Saya sedang memilihnya saat ini. Ya, saat ini. Belum tahu bulan-bulan ke depan. Jika ada tawaran pekerjaan yang sesuai dengan minat (dan kebutuhan saya hehe...) tentu akan saya pertimbangkan masak-masak. Baru sebulan saya menjadi pekerja lepas. Sepintas memang tampak menyenangkan, bebas, tapi tetap saja ada beberapa hal yang harus saya perhatikan. Setidaknya mencoba untuk menjadi sedikit profesional.

Pekerja lepas tidak bisa begitu saja disamakan dengan wiraswasta, walaupun keduanya memang sama-sama mandiri. Tidak terikat dalam satu aturan lembaga dalam waktu lama. Bedanya, wiraswasta biasanya punya usaha sendiri, membuat "lembaga" sendiri entah dalam bentuk perusahaan, organisasi atau warung kaki lima. Pada akhirnya, terbentuk pola relasi baik dalam "lembaga" tersebut maupun dengan pihak lain secara lebih permanen. Misalnya, saya bikin perusahaan, saya akan merekrut orang-orang yang akan bekerja dengan saya. Tentu tidak dalam hitungan hari. Demikian juga bila saya punya warung kaki lima, saya akan cari supplier beras dan ikan dengan harga terjangkau dan kualitas terbaik, menjadikannya rekanan, juga bukan dalam waktu seminggu dua minggu.

Hubungan yang dibangun dalam dunia pekerja lepas tidak se-"lama" itu.  Hitungannya bisa jadi hanya dua tiga hari, bisa jadi ada klien yang senang dengan hasil kerja kita dan menawarkan kita pekerjaan lain di kemudian hari atau ada jenis orderan yang bisa makan waktu satu dua bulan pengerjaan.  Contohnya saya. Saya bisa mendapatkan job mengerjakan lay out dan ilustrasi buku yang bisa memakan waktu lebih dari satu bulan. Tapi saya juga bisa tiba-tiba mendapatkan job via pesan singkat seperti ini:

"Sibuk nggak, Ling? Bisa bikinin ilustrasi? Tapi butuh cepet nih, empat hari, bisa?"

Sesaat, tawaran-tawaran tersebut tentu menarik. Terutama jika ada bumbu-bumbu rupiah di belakangnya. Jujur sajalah, siapa yang tak butuh uang. Apalagi atas kerja yang sudah kita lakukan. Saya memang baru belajar menjadi pekerja lepas, tapi seperti saya katakan di atas, saya mencoba untuk lebih profesional, sedikit. Caranya? Ini yang saya coba lakukan.

Pertama, tentukan prioritas. Bukan tidak mungkin dalam satu waktu ada beberapa tawaran kerjaan dari orang yang berbeda. Kecuali kita punya empat pasang tangan, mata yang mampu melek enam hari enam malam atau mampu membelah diri layaknya amoeba,akan lebih bijaksana jika kita menggunakan hak kita untuk memilih mana pekerjaan yang akan kita ambil. Bisa karena faktor kedekatan, daya tarik pekerjaannya (isu dan tema), rupiah, atau hal lain. Itu semua tergantung diri kita. Buat apa menjadi pekerja lepas kalau semua pekerjaan kita ambil lantas kita tak punya waktu untuk diri kita sendiri? Tentu saja tidak lupa mengatakan maaf pada orang-orang yang belum bisa kita bantu pada saat itu dan menawarkan waktu lain, jika memang membutuhkan.

Kedua, komitmen. Dulu sekali saya punya buku agenda untuk menuliskan rencana-rencana kegiatan saya. Tapi saya hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Alasannya, malas dan fleksibilitas orang-orang di sekitar saya yang luar biasa dan seringkali menghancurkan apa yang sudah saya rencanakan. Intinya, saya tidak punya komitmen pada agenda saya sendiri. Menjadi pekerja lepas justru memaksa saya untuk mengubah buku catatan saya menjadi buku agenda sederhana. Selain sebagai alat bantu untuk mengobati kepikunan, agenda tersebut membantu saya untuk menentukan kapan saya harus menyelesaikan satu pekerjaan dan berani untuk menerima pekerjaan lain. Komitmen ini jelas bukan hanya untuk kebutuhan saya, tapi juga menjaga kepercayaan orang-orang yang memberikan kita pekerjaan. Saya sendiri biasanya memundurkan satu dua hari tenggat waktu untuk saya menyelesaikan suatu pekerjaan dari jadwal yang sudah disepakati dengan si pemberi pekerjaan.

Ketiga, tentukan harga. Ya. Menjadi pekerja lepas adalah memberikan kesempatan (dan keharusan) untuk menentukan harga pada karya saya. Bukan hal yang mudah jika, apalagi, berhubungan dengan teman. Faktor enak tidak enak. Well, karena pekerja lepas, sah-sah saja memberikan diskon khusus bagi mereka. "Harga" di sini juga bisa berarti posisi tawar kita dengan pemberi order. Minggu pertama saya tiba di Jogja, saya sudah ditawari mengerjakan ilustrasi untuk buku PAUD. Saya tidak bertemu muka dengan tim penulis yang setelah saya pelajari isinya, bikin saya geleng-geleng kepala. Masak iya anak kecil diajari: Singa tempatnya di kandang, ikan tempatnya di akuarium? Kemana hutan dan kolam alam? Sialnya, saya terlanjur mengiyakan menerima pekerjaan tersebut. Pelajaran bagi saya adalah 'mbok ya jangan asal ambil, pelajari dulu'.

Keempat, mandiri. Ini bukan nama bank. Ada yang bilang bahwa menjadi pekerja lepas adalah menjadi bos bagi diri sendiri. Ada benarnya. Karena kita tidak harus manut dengan aturan yang dibuat atasan. Karena kita bisa mengatur jadwal kerja kita sendiri. Tapi, bos betulan bisa mendelagasikan (red: menyuruh) bawahan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pekerja lepas tidak. Pekerja lepas adalah bos dan bawahan dalam satu waktu. Supervisi dilakukan oleh diri sendiri, juga monitoring dan evaluasi.

Kelima, membuka jejaring seluas-luasnya. Modalnya sederhana, empat hal yang di atas tadi kita pegang benar-benar. Dari pengamatan saya, pekerja lepas dipasarkan lebih banyak dari mulut ke mulut. Tidak perlu pasang iklan di mana-mana. Satu klien puas, bisa menjadi promotor ulung bagi kita. Kontak teman-teman dekat yang sudah tahu keahlian kita dan memberi tahu mereka bahwa kita siap menerima pekerjaan jenis ini, jenis itu. Tentu, ada teknologi yang sangat berguna. Handphone, internet dan jejaring sosial sekarang menjadi alat bantu saya untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang membutuhkan jasa saya.

Terakhir, tanamkan dalam hati kita bahwa apapun bentuk pekerjaan itu tidak ada yang selalu mulus. Ya memang membosankan duduk di belakang meja 8 jam sehari dan hanya bisa istirahat di Sabtu dan Minggu. Tapi, kebebasan yang dijanjikan tipe pekerjaan lepas juga sebetulnya hanya slogan penuh janji layaknya politisi bakal maju pemilihan. Bisa jadi janji tersebut benar, bisa juga tidak. Bayangkan saja jika anda dikejar deadline lebih dari satu orderan plus harus mengatur janji bertemu dengan klien sana sini. Tapi ya, ada juga pekerja lepas yang bisa lebih sering ongkang-ongkang kaki di angkringan ketimbang bekerjanya. Setiap pekerjaan punya resikonya masing-masing. Kalau anda berharap dapat uang banyak dengan bersantai-santai saja, bisa. Jika orang tua anda benar-benar kaya raya atau anda memutuskan mencari jodoh seorang milyarder dan tidak menuntut anda untuk bekerja. Sekali lagi, pekerja lepas itu pilihan, termasuk pilihan untuk menjadi pekerja lepas tipe seperti apa atau pilihan sampai kapan kita akan menjadi pekerja lepas.
baca selengkapnya

10 September 2012

Segara Anakan, Laguna Cantik di Sempu Malang


Belum setengah perjalanan, kami sudah kehabisan nafas. Jalan setapak menaik bukanlah medan yang mudah bagi kaki-kaki kami yang sudah termanjakan jaman. Bagaimanapun, kami berusaha menikmati perjalanan di tengah hutan tersebut dengan iming-iming air laut yang jernih dan pasir pantai yang bersih, Segara Anakan. Hmmm...

Ya, beberapa hari lalu, saya dan lima orang kawan pergi ke Pulau Sempu, selatan Kabupaten Malang. Kami memutuskan akan menghabiskan malam di sebuah pantai (atau tepatnya laguna) di salah satu sudut pulau tersebut, yang kata orang dan foto-foto di internet, memang luar biasa cantiknya. Jumat, 31 Agustus 2012, kereta api Malabar memberangkatkan saya dan empat orang kawan, Uki, Ajeng, Ayu dan Dewi, di jam dua belas malam kurang sedikit, agak telat dari jadwal. Kami beruntung karena hanya dua hari sebelumnya kami memesan tiket dan tinggal 5 tiket yang tersisa, kelas bisnis. Mempersiapkan energi, alias tidur, adalah agenda kami di kereta.

Jam 6.30 pagi, kami sudah disambut udara segar Kota Malang. Itu kali pertama saya ke kota ini. Suasananya mengingatkan saya pada Kota Bandung bertahun-tahun lampau saat saya biasa menghabiskan liburan sekolah di rumah oom dan tante saya. Kawan saya segera menghubungi satu kawan lain yang akan bergabung bersama kami, Oyo namanya. Ia berangkat dari Surabaya. Oyo lalu menawarkan kami untuk bersih-bersih di kantor lamanya, kantor Kompas, yang jaraknya tidak lebih dari sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun. Bersih-bersih yang dimaksud adalah sikat gigi dan cuci muka saja. Entah, malas saja rasanya untuk mandi hehehe... Kopi panas dan roti menjadi sarapan kami sebelum memulai perjalanan selanjutnya. Beruntung sekali kami karena teman Oyo menawarkan diri untuk mengantar kami dengan mobilnya menuju Gadang. Tentu saja, daripada harus naik angkot dengan barang bawaaan kami yang tidak sedikit, diyakinkan dengan pernyataan Uki,

"Menjadi backpacker kan bukan berarti menyiksa diri."

Sepakat. Kawan saya mengomentarinya dengan menyebut kami sebagai backpacker abal-abal. Hahaha... terserah. Tak ada niat menjadi backpacker juga.

Jam 10.00 kami sudah sampai di Gadang, setelah sebelumnya mampir ke sebuah toko untuk membeli perbekalan (belakangan baru kami sadar, terlalu banyak yang kami bawa!). Penampilan kami dengan tas-tas punggung besar segera menarik para supir, kernet (dan juga preman) mendekat dan tak butuh waktu lama untuk mendapatkan bis kecil (bison) yang akan membawa kami ke Dampit. Perjalanan sekitar 1 jam hanya perlu kami bayar tujuh ribu rupiah, itupun kami masing-masing menjajah dua bangku, satu untuk badan dan satu untuk tas.

Dari Dampit, barulah petualangan dimulai. Kami membutuhkan transportasi menuju Pantai Sendang Biru, dan hanya satu alat transportasi umum yang bisa mengantar kami ke sana: angkot mini (kawan saya bilang: Kaleng Sarden) yang beroperasi setiap dua jam sekali. Sudah ada satu angkot yang siap berangkat, tapi kami tengok, di dalamnya sudah cukup penuh penumpang. Kalau saja bapak penjual rokok tidak memberitahu kami, mungkin kami harus terdampar dulu di Dampit menunggu angkot selanjutnya. Akhirnya kami rela naik angkot yang akan berangkat tersebut, berdesakan dengan penumpang lain. Oh, maaf, kurang penekanan: BERDESAKAN. Ya, delapan belas orang penumpang dalam satu mobil untuk perjalanan sekitar 2 jam dengan rute bebukitan. Kami cukup membayar lima belas ribu rupiah untuk perjalanan bak ikan sarden naik roller coaster.

Tiba di Sendang Biru, kami segera meminta nomor handphone supir angkot. Yup, kami memutuskan untuk menyewa angkotnya untuk perjalanan pulang. Dua ratus ribu rupiah untuk enam penumpang dan sang sopir bersedia mengantar kami sampai ke Gadang, cukup adil bagi kami mengingat kami tidak tahu akan selelah apa kami nanti sepulang dari pulau. Kantor Jagawana adalah tempat yang pertama kami datangi di Sendang Biru. Meminta ijin. Well, Pulau Sempu dengan luas 877 hektar tersebut sebetulnya bukan taman wisata. Ia adalah taman konservasi dimana hanya peneliti atau jurnalis yang bisa masuk dengan surat ijin khusus (simaksi) yang dibuat di Surabaya. Namun, keberadaan pulau ini semakin menarik minat banyak orang sehingga kedatangan para penikmat alam ini tak bisa dibendung. Sang petugas Jagawana mengatakan sebetulnya sudah ada ide untuk menurunkan status Pulau Sempu menjadi taman wisata agar setiap orang bisa masuk, dengan catatan hanya di lokasi tertentu dan lokasi lainnya tetap dipertahankan menjadi wilayah konservasi. Tapi, proses penurunan status ini bukan hal mudah. Petugas Jagawana tersebut juga mengatakan karena statusnya tersebut, kami sebaiknya ditemani oleh guide.

Setelah mengisi formulir, kami mencari tempat yang bisa mengisi perut kosong kami. Heran juga, di daerah pantai sulit sekali mendapatkan rumah makan seafood. Justru nasi rawon dan nasi ayam yang mendominasi. Kalaupun ada, menu ikan goreng dan bakar. Sikat saja, kelaparan sekali kami itu. Tak lupa, kami juga membungkus nasi dan lauknya untuk makan malam di pulau. Kami lalu kembali ke kantor Jagawana, menitipkan beberapa barang yang tidak akan kami butuhkan selama di pulau, dan meminjam sepatu karet anti licin (hanya saya dan Ayu yang menyewa, yang lain cukup pede dengan alas kakinya).

Dari Sendang Biru, Pulau Sempu terlihat sangat dekat, mungkin tidak sampai satu kilometer. Tapi berenang tentu saja bukan pilihan (apalagi buat saya yang berenang ala kadarnya). Selain berat dengan barang bawaan, memutuskan berenang menuju sempu adalah bersiap "mencium" perahu-perahu nelayan, salah satunya yang kami sewa dengan harga seratus ribu untuk perjalanan pergi dan pulang. Ditemani Rahmat, guide kami, dan si empunya perahu, kami menuju Sempu. Udara segar laut tak henti-hentinya menyapa kulit kami. Segar!


Di sebuah hutan bakau, perahu kami berlabuh. Beberapa orang tampak sibuk mendorong perahunya menuju laut, terperangkap surut rupanya. Beberapa orang lain tampak duduk-duduk kelelahan, mungkin baru pulang dari lokasi yang akan kami tuju. Dan segeralah kami menembus hutan Sempu sebelum matahari tenggelam. Untuk perjalanan normal, dibutuhkan 1,5 sampai 2 jam menuju Segara Anakan. Lain halnya dengan saat musim hujan, saat jalurnya menjadi licin. Saya menghitung ada sekitar 15 sepatu atau sandal yang akan memfosil di pulau itu, sisa-sisa para pengunjung yang mungkin terjebak tanah becek. Sebetulnya tracknya tidak terlalu sulit bagi saya yang berkaki panjang. Namun, terhalang akar-akar pohon atau batu, juga tanjakan yang tidak terlalu curam, cukup menyulitkan beberapa kawan saya. Tapi toh, kami bisa menepumpuhnya dalam satu setengah jam. Masih wajar.



Surga adalah saat setelah perjalanan panjang yang melelahkan kemudian disapa senja matahari, tiupan angin laut dan panorama yang menggairahkan mata. Itu yang kami rasakan saat melihat Segara Anakan dari balik rimbunan pohon. Seolah ada pompa energi yang mendorong kami lebih bersemangat dan sedikit mengacuhkan kerumunan kera yang mendekati kami, salah satunya melempari Oyo dengan kaleng minuman yang sudah rusak.

Semangat kami tiba-tiba runtuh setelah mendapati pantai laguna yang sudah dipenuhi belasan tenda! Oh, keliru waktu kami rupanya. Akhir pekan seperti ini, banyak orang juga yang berniat bermalam di laguna ini. Berniat. Ya. Benar-benar niat. Apa bukan niat namanya kalau bawa ikan segar dari Sendang Biru, cobek, bumbu dapur bahkan ada yang bawa galon air dan tempat nasi. Dari puluhan pengunjung, hanya tim kami yang bermodal nasi bungkus dan sleepng bag. Bagus. 

Ah, sudahlah, toh keindahan pantai ini masih bisa dinikmati. Plus, tentu saja, alunan gitar dengan suara-suara lantang kurang ramah telinga.

Segara Anakan ini terlingkupi oleh dinding-dinding karang. Di seberang karang, adalah Samudera Hindia yang kalau anda nekad berenang, bisa sampai ke Australia. Terjawab sudah kenapa perahu yang membawa kami dari Sendang Biru tidak berlabuh di sisi pulau yang lebih dekat dengan lokasi ini. Terjangan ombak samudera bisa dengan mudah melempar perahu nelayan ke tebing-tebing karang dan mengubahnya menjadi serpihan kayu. Di salah satu sisi tebing, ada lubang besar yang menjadi perantara Samudera Hindia dengan Segara Anakan. 

Saat air pasang, ombak-ombak menyisakan airnya untuk bisa menyelusup ke lubang tersebut. Imajinasi kami adalah Segara Anakan ini merupakan bak mandi di rumah-rumah tua yang harus diisi oleh berember-ember air yang ditimba dari sumur yang terpisahkan oleh dinding. 


Pagi hari adalah waktu yang selalu mengasyikan untuk dihabiskan di pantai. Apalagi di Segara Anakan ini yang airnya sangat jernih. Segeralah kami berganti kostum pantai, yang bagi sebagian besar pengunjung sepertinya tidak terlalu biasa, tapi bagi kami justru aneh jika ada orang ke pantai lalu melindungi diri dengan jaket. Sudahlah, yang penting sama-sama menikmati keindahan alam. 



Lelah perjalanan dan kakunya badan akibat meringkuk semalaman dalam sleeping bag, mendadak sirna setelah badan tersentuh air laut. Badan yang seharian kemarin tidak mandi dan harus buang air di sela rimbunan pohon hehehe... Terlupakan sejenak bahwa kami harus segera kembali ke Sendang Biru.
baca selengkapnya

7 Agustus 2012

Dua Tahun Sudah

Dua tahun. Terasa seperti dua hari lalu. Saat kita saling menjelajahi isi kepala. Dan setiap jengkal tubuh. Namun dalam dua tahun itu, terkadang dua jam seperti dua minggu. Saat akut rindu sulit untuk diobati. Saat gejolak hasrat hanya mampu diredam lewat nada dan panorama.

......

Baik. Saya menyerah. Saya tidak mampu membuat lirik romantis. Beginilah nasib orang yang lebih banyak melongonya kalau liat pertunjukkan teater atau pembacaan puisi. Suka bingung sendiri. Saya cuma mau bilang kalau waktu itu relatif. Oh, maaf, tidak hanya waktu, keindahan juga relatif. Contohnya, puisi yang bagi beberapa orang terdengar indah,  bagi saya kadang tampak bak gunung menjulang yang diselimuti kabut. Indah, tapi indera tak mampu mencerna. Misterius.

Kenapa saya mau cerita soal waktu yang relatif? Bisa ditebak hari ini adalah sesuatu (saya benci harus mengakui kalau artis satu itu sudah berhasil meracuni otak saya dengan kata ini, tapi saya toh menyukainya hahaha...). Ya, dua tahun lalu saya punya rekaman dalam otak yang tidak akan dan tidak ingin saya hilangkan atau saya edit. Ehm... tunggu dua tahun? Oh iya, dua tahun masehi tepatnya. Dua tahun penanggalan kalender matahari. Yang dibulatkan. Apanya yang dibulatkan? Mataharinya sudah bulat (katanya). Pembulatan kalender masehi dibuat karena sebetulnya planet ini membutuhkan waktu 23 jam, 56 menit dan 4,09 detik untuk melakukan putaran 360 derajat, riweuhlah kalau dipaksa ngikutin itungan itu (belum lagi, menurut peneliti, setiap tahun putaran bumi bertambah atau berkurang satu milidetik, lengkapnya diklik di sini saja). Kalau hitungan hijriyah, mungkin lebih-lebih 1-2 bulan kali ya. Kalau hitungan Jawa dan Saka, paling meleset beberapa minggu. Kalau hitungan phitagoras, cari dulu derajat sudut-sudutnya.

Itu baru relativitas waktu dari sisi teknik itung-itungan. Belum dari sisi yang lebih humanis: perasaan. Kalau lagi nunggu orang, apalagi janjian mau makan dan perut kita sudah berdendang sementara yang ditunggu-tunggu nggak nongol-nongol juga, jalannya jarum detik seperti di-slow motion. Beda banget sama kalau lagi nongkrong di cafe, hahahihi gosipin orang, pesan satu gelas kopi hanya buat gratis internetan, nggak sadar udah mejeng dari mulai pelayannya pasang tulisan 'open' sampai mereka pasang muka jutek berasa pengen nyambit pake sapu. Kalau lagi naik motor ketahan lampu merah yang pake count down (apa sih namanya itu?), padahal nggak sampai 5 menit tapi berasa 5 hari, apalagi di tengah hari bolong, berasa lagi sunbathing. Beda deh sama 5 jam perjalanan naik bus doyong tapi ditemenin orang yang lagi kita taksir.

Bagaimanapun terasanya, ada yang lebih penting soal waktu ini. Kecuali, Doraemon berbaik hati meminjamkan laci meja belajar Nobita, kita tak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki apa yang sudah kita lakukan. Waktu yang akan menjawab itu cuma judul lagu, sampai kapan juga, ditanya berulang-ulang juga, naga-naganya waktu nggak bakal jawab-jawab. Perubahan dan kebaikan yang kita impikan ya hanya kita sendiri yang bisa mengusahakannya. Cepat atau lambat tidak akan ada artinya lagi kalau kita bisa mengisi setiap hari, jam, menit dan detik yang kita punya dengan hal-hal positif. Soal yang seperti apa itu hal-hal positif? Lagi, relatif...

.....

"Too bad we can't really celebrate together today. Luckily, every day with you is wonderful already."

Hmmmm...


baca selengkapnya

31 Juli 2012

Membantu Karena Apa?

Ada satu pemandangan baru di kantor saya hari ini. Saya melihat satu kotak di lobby kantor saya. Kotak besar transparan dengan tulisan  ‘Sumbangan untuk Muslim Rohingya’. Sudah ada satu lembar seratus ribu dan dua lembar lima puluh ribuan. Karyawan front office dengan tersenyum berkata, “Silakan, Mas, kalau mau bantu!” Saya melewatinya sambil tersenyum. Beberapa langkah kemudian saya menggeleng-gelengkan kepala.

Ya. Silakan saja kata-katai saya tidak manusiawi, pelit, tidak punya perasaan, sok-sokan atau apapun karena bukannya buka dompet-ambil uang-masukkan ke kotak, saya malah geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk menulis blog ini. Saya punya alasan, tentu saja yang, daripada saya katakan pada petugas front office yang kemudian akan mengganti lengkung senyumnya dengan lengkung cemberut, akan coba saya tuliskan di sini.

Membantu sesama memang tidak ada salahnya. Mulia sekali, justru. Tapi menolong dengan bijaksana itu menurut saya lebih penting. Saya memang bukan orang bijak, bukan cita-cita juga menjadi orang bijak (cita-cita saya adalah punya usaha sendiri, ongkang-ongkang kaki di rumah dan uang mengalir dengan sendirinya, okay, itu mimpi, bukan cita-cita). Untuk kasus Kotak Sumbangan Muslim Rohingya itu, bagi saya akan lebih bijak kalau diganti Kotak Amal Muslim Ahmadiyah Indonesia atau Kotak Sumbangan untuk Anak Jalanan Jatinegara. Kenapa? Apalagi jika kita langsung memberikan pada orangnya, isi kotak-kotak amal yang saya sebutkan belakangan akan sampai di tujuan dengan jumlah yang relatif tetap. Saya bilang relatif karena mungkin di perjalanan kita perlu beli bensin atau membayar orang yang mengangkut uang-uang kita (ya kali, mau nyumbang berapa truk gitu). Ok, sekarang jaman modern, tinggal transfer dan tak perlu truk. Oya, dan tak perlu berburuk sangka juga kalau sekian persen uang-uang itu akan berakhir di kantong siapa, maka saya perlu mengajukan alasan yang lebih logis.

Alasan yang saya maksud ini adalah justru akan diawali dengan sebuah pertanyaan. Kenapa orang harus membantu orang lain? Jawabannya akan sederhana dan cenderung PMP (atau PPKn) banget: karena sebagai manusia berkewajiban untuk menolong sesama manusia! Oh, kurang terasa PMP (atau PPKn)-nya ya? Karena sila kedua Pancasila berbunyi: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Baik… baik… Itu yang dikatakan oleh orang tua kita di rumah, guru kita di sekolah, pendeta kita di gereja, ustadz kita di mesjid dan teman kita yang sedang merayu dapat pinjaman uang di akhir bulan.

Apa kita membuat prioritas saat akan membantu orang lain? Tentu. Terdengar lebih masuk akal bukan kalau kita memberikan uang kita pada adik tercinta yang mungkin akan menghabiskannya untuk beli pulsa agar bisa bermesra-mesraan dengan pacarnya lewat telepon dibandingkan dengan memberikannya kepada seorang ibu yang tak kita kenal yang kita temui di pasar yang mungkin sedang kebingungan karena uangnya tak cukup untuk beli susu sang anak. Kotak amal yang saya lihat siang tadi pun paham dengan prioritas tersebut. Makanya perlu ditulis: Muslim Rohingya . Lupakan Rohingyanya dan tiba-tiba anda (yang muslim) akan merasa punya ikatan yang sangat kuat sebagai satu umat besar satu agama yang mewajibkan anda untuk menolong sesamanya.

Tidak ada yang salah, (biasanya akan berlanjut dengan kata: tapi…) tapi (nah kan!) karena kotaknya berjudul Muslim Ronghiya maka saya ambil Muslim saja sebagai contohnya, apa anda tidak merasa punya ikatan juga dengan mereka yang tinggal di gubuk-gubuk kardus dan mereka juga sholat dan puasa sebagaimana anda beribadah? Apakah kita tidak merasa punya ikatan saat orang-orang Ahmadiyah itu dibakar rumahnya, diusir, bahkan dihajar dan dibunuh padahal mereka merasa sebagai orang Islam juga? Ataukah memang jika diruntut garis keturunan, kita ternyata masih sepupuan dengan orang-orang muslim di Rohingya sana dan tak ada garis penyambung dengan orang-orang di Kuningan pengikut Ahmadiyah? Buat saya, ini tidak logis.

Apalagi lalu kita berteriak-teriak kalau pemerintah Myanmar tidak becus menegakkan demokrasi, pemerintah Myanmar tidak mampu melindungi warganya dan Pemerintah Republik Indonesia tercinta akan mengangkat isu ini dipertemuan OIC (Organization of Islamic Cooperation), Agustus nanti di Mekkah (Pak Beye, seperti biasa, merasa prihatin dengan situasi di sana). Bravo!! Apa kabar korban lumpur Lapindo? Sorry to say, kalau saya jadi pemerintah Myanmar, saya akan bilang: Talk to my hand! Ngaca! Apalagi kita (kita? gw aja kali) tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, ada yang bilang orang-orang Rohingya itu imigran dari Bangladesh yang masuk ke wilayah Rakhine yang mayoritas Buddha, beberapa sumber menuturkan bahwa korban tidak hanya jatuh dari pihak Rokhingya saja, Rohingya bakar vihara Rakhine, Rakhine hancurkan masjid Rohingya. Agenda untuk menjatuhkan citra pemerintahan Suu Kyi? Atau perang antar etnis berebut wilayah atas nama agama? Terserahlah. Yang pasti, di sana ada anak-anak yang tak berdosa yang ikut-ikutan menderita dan jadi korban (aaah, masih juga pilih-pilih mau bantu anak yang Islam, Buddha atau Kristen?).

Saya jadi bertanya-tanya, memang begitukah yang diajarkan? Mendahulukan membantu orang yang satu agama atau satu etnis dulu dan yang lain belakangan atau kalau perlu kita ikut-ikutan memusuhi?

Well, biar tidak terlalu buta-buta amat soal Rohingya versus Rakhine, saya cari kronologisnya seperti apa. Ada yang tertarik? Silakan buka:

Saya hanya coba sekadar membaca saja untuk menetralkan otak saya dari bombardir foto-foto korban kerusuhan di Myanmar yang menghiasi facebook saya. Terlalu serius juga belum tentu benar. Malu aja kalau udah mati-matian bela salah satu pihak sampai urat leher mau putus, eh ternyata pihak itu justru kompor masalahnya. Lagipula, kalaupun saya merasa terikat dengan orang-orang di Myanmar itu karena saya dan mereka sama-sama manusia. Sama seperti saya merasa terikat dengan orang Ahmadiyah di Kuningan dan anak jalanan di Jatinegara. Perbedaan-perbedaan itu tak lebih dari kotoran mata yang menghalangi penglihatan saya saat bangun tidur. Sekian.
baca selengkapnya

22 Juli 2012

Sok Tahu Saya Soal Membesarkan Anak


Kemarin malam saya nonton Batman the Dark Knight Rises di salah satu mall yang menurut saya paling wah di Jakarta. Alasannya bukan buat gaya-gayaan, apalagi nyambi shopping di sana. Kawan saya merekomendasikan tempat nongkrong yang asyik di lantai 3, cafĂ© di sebuah toko buku terkenal dengan pemandangan langsung ke Bundaran HI. Saya yang sedang belajar motret, tertarik juga buat menjajal kamera saya (bukan kemampuan saya hehe…). Dan karena saya dan kawan saya itu adalah partner buat ke bioskop, jadilah agenda menonton masuk dalam list weekend kami.


Tak heran kalau malam minggu bioskop pasti penuh. Saya dan kawan saya mendapatkan tempat duduk terpisah. Lebih baik daripada mengambil kursi di deret paling depan, dengan resiko pegal leher. Kebetulan di samping kanan saya adalah pasangan muda istri suami dengan anak mereka yang umurnya belum ada 1 tahun. Ya! Benar sekali. Kenapa tidak sekalian saja si orang tua ngajak anaknya nonton The Raid, Hannibal atau Sex and the City? Di tengah-tengah film yang durasinya seakan menyaingi film Bollywood itu, si anak merengek-rengek, mungkin bosan, sang ayah lalu mengeluarkan handphonenya dan membiarkan si anak bermain-main dengan handphonenya tersebut. Sang orang tua tenang melanjutkan menonton aksi Batman.


Betul, kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang isu anak. Saya memang belum punya anak. Niat ada, tapi belum kesampaian. Punya anak itu sepertinya menyenangkan (dan merepotkan ya, bapak dan ibu?). Hanya saja, saya memperhatikan orang-orang di sekitar saya bagaimana mereka mendidik dan memperlakukan mereka. Masih di mall yang sama, saat saya makan malam, di meja depan saya, seorang bapak memarahi anak perempuannya yang berumur 5 atau 6 tahun yang tidak mau membagi rotinya kepada sang adik. Cara memarahinya seperti orang yang berbisik mengajak tinju, sampai si anak dengan diam takut-takut akhirnya merelakan juga rotinya dibagi dengan si adik. Juga, seorang ibu yang tangannya ditarik-tarik oleh anak lelakinya yang meskipun si ibu terus-terusan bilang, “Nggak, jangan ke sana… Nggak, jangan ke sana…” tapi kakinya menurut juga mengikuti kehendak si anak. Juga, saat saya menghentikan niat untuk merokok karena ada anak kecil di sekitar saya, justru seorang bapak dengan giat membakar tembakau di depan anak bayinya. Dan… setiap hari tetangga saya tak pernah alpa membentak anak-anaknya, kadang dengan kata-kata ‘Goblok’, ‘Bego’. Saya cuma bisa elus dada.


Sebagai orang yang belum punya anak, saya tidak bisa memberikan saran bagaimana cara memperlakukan anak. Pelajaran hanya saya dapat dari bagaimana orang tua mengasuh saya dan saat kuliah Psikologi Perkembangan. Saya juga bukan hakim yang bisa menyalahkan perlakuan orang tua di bioskop, di tempat makan dan yang tetangga saya itu. Kalau saya mengharapkan anak saya nanti akan menjadi orang yang cerdas, kritis dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, mungkin harapan orang tua-orang tua itu berbeda dengan saya. 


Akan seperti apa anak kita nanti tergantung dari bagaimana kita membesarkan mereka. Menurut cerita kawan-kawan saya, anak lebih mudah belajar dengan cara melihat dan meniru. Buang-buang waktu jika kita meminta anak kita berbicara pelan kalau tiap kali kita bicara seperti pakai toa. Satu hal lagi, penerapan hukuman dan penghargaan. Hukuman bukan berarti memarahi atau memotong uang jajan anak, ada banyak cara untuk melakukannya seperti mendudukannya di kursi dan mengajaknya bicara, mendiskusikan apa konsekuensi dari perbuatannya. Penghargaan juga bukan berarti permen dan video game terbaru. Anak kita bukan robot. Sentuhan, pelukan dan kata-kata pujian jauh lebih berharga bagi mereka kelak.


Tanggung jawab membesarkan anak memang tanggung jawab orang tua. Tapi prakteknya, lingkungan sosial juga memberikan kontribusi tidak sedikit pada perkembangan anak. Kawan saya di kantor misalnya, menceritakan anak perempuan 5 tahunnya tahu-tahu sudah bergaya bak tokoh antagonis remaja SMA yang suka mengina orang lain. Ya, korban sinetron. Itu baru satu faktor: televisi. Untuk hal-hal seperti televisi, majalah, internet atau sekolah, orang tua memang dituntut untuk selalu melakukan pengawasan. Tapi bagaimana jika yang ‘salah’ adalah program-program yang secara sembrono ditawarkan media massa untuk anak hanya karena filmnya animasi dengan melupakan esensi, atau anak-anak ‘dipaksa’ menonton dan akhirnya hapal lagu-lagu tentang jatuh cinta dan patah hati? Aturan dari pemerintah soal jam tayang televisi dan muatan program, sepertinya belum serius dilakukan. Bagaimana juga jika sistem pendidikan yang ada sekarang justru hanya mendorong siswa-siswanya untuk mampu bersaing dan berprestasi di bidang akademik saja? Banyaknya kasus tawuran yang dilakukan pelajar, misalnya, mungkin bisa menjadi satu pertanyaan besar: siapa/ apa yang bertanggung jawab?


Baiklah, untuk menutup tulisan saya kali ini, saya ingin sedikit berandai-andai jika saya menjadi seorang konsultan untuk orang tua yang menginginkan anak-anaknya seperti apa. Sengaja, tidak saya tuliskan harapan saya pribadi. Saya hanya merefleksikan dan mendramatisir apa yang saya lihat. Kalau yang ingin serius dan betulan, silakan googling, sudah banyak sumber tersedia tentang bagaimana cara mendidik dan membesarkan anak. Sok-sokan saja saya, toh di luar sana juga banyak yang sok-sokan punya anak tapi nyatanya tampak tidak siap secara mental. Berikut saran-saran saya kalau anda ingin anak anda seperti:





  • Giant. Tahu tokoh ini dalam Doraemon kan? Nah, kalau kita ingin anak anda seperti Giant yang tidak bisa mengendalikan amarahnya dan senang mengintimidasi kawan-kawannya, belajarlah dari ibunya yang tidak pernah tersenyum, selalu berteriak dan selalu siaga gagang sapu di tangannya untuk memukul Giant. Masih kurang? Suguhkan film-film dan video game berbau kekerasan.
  • Barbie dan Ken. Siapa yang tak ingin anaknya tumbuh menjadi sosok yang menawan secara fisik dan populer? Kalau memang ‘hanya’ itu yang anda inginkan dari anak anda, segera masukan mereka ke kelas model. Sudah banyak kursus model untuk anak-anak. Ikutsertakan dalam setiap perlombaan. Belikan mereka baju-baju bagus setiap hari dan larang untuk bermain di tanah atau bergaul dengan anak-anak yang menurut anda tidak pantas menjadi teman mereka. Usahakan anda juga selalu tampil modis kapan dan dimanapun.
  • Garfield. Antar jemput anak anda setiap hari, ingat, jangan sampai terlambat. Berikan apapun yang dia inginkan. Pastikan persediaan makanan selalu berlimpah, karena cukup saja tidak cukup. Mungkin perlu juga dua orang babysitter yang mengganti baju dan sepatunya, juga mengerjakan PR sekolah. Jika perlu, pindahkan Timezone ke kamar anak anda sehingga ia tidak perlu capek-capek keluar rumah. Garfield yang bulat dan pemalas memang menggemaskan, tapi dia kucing.


Mau mencoba atau menambahkan berdasarkan pengalaman? Silakan!



baca selengkapnya

20 Juli 2012

Salah Kaprah Soal Anarkisme


Baru kemarin saya pulang dari pertemuan tiga hari di sebuah hotel di Jakarta. Entah karena menjelang Ramadhan atau alasan lain, di lobby hotel ada pemandangan yang tidak biasa (saya beberapa kali ikut acara yang diadakan di hotel yang sama). Banyak buku-buku yang disusun rapih, plus kasir. Ya, ada booth penerbit buku. Kebetulan, buku-buku karya Dee juga dijual di sana, termasuk Supernova, yang setelah ganti cover, saya jadi berniat mengoleksinya (sebelumnya saya hanya mengandalkan rental buku dekat kost-kostan, jaman masih mahasiswa).


Sekarang saya sedang kembali membaca Akar. Tokoh Bong dalam buku itu mengingatkan pada saat saya masih menjadi relawan di sebuah organisasi di Yogyakarta. Pindah-pindah divisi, akhirnya saya menjajal Divisi Radio. Kerjaannya siaran di radio-radio kerjasama, mengusung isu-isu yang sedang diperjuangkan oleh lembaga kami. Tapi ada satu radio yang agak unik. Pihak radio mendesain programnya dengan nama Lifestyle, mencoba menyampaikan isu-isu tersebut dengan fenomena-fenomena sosial yang nyata ada di lingkungan kita. Sialnya, selama beberapa bulan, saya yang ditugaskan mengawal program tersebut. Artinya, tidak seperti program di radio lain yang kalau mentok ide bisa ambil tema beberapa bulan sebelumnya atau menaruh dokter sebagai narasumber, saya ditantang untuk terus menggali fenomena-fenomena sosial, plus mendatangkan narasumber orang-orang yang mencair dalam fenomena tersebut.


Punk. Satu tema yang saya pernah usulkan dan kesanalah Akar membawa memori saya kembali. Sebelum siaran, saya buka-buka internet dulu cari referensi. Penelusuran membawa saya pada satu pengetahuan tentang anarkisme. Paham ini memang erat sekali dengan punk sehingga lahir gerakan punk mengusung ideologi anarkisme, Anarko-punk. Saya tidak akan membicarakan soal anarkisme secara luas atau mendalam, saya hanya ingin membagi hal yang sangat dangkal saja namun justru di situlah titik persoalannya: penggunaan istilah anarkisme. 




Istilah anarkis atau anarkisme yang sering kita dengar, bukanlah kata yang tepat untuk merujuk apa yang disangkakan kebanyakan orang namun terus diproduksi oleh media massa secara salah kaprah yang ujung-ujungnya masyarakat juga ikut tersesat. Saya coba ambil beberapa judul berita dari media online yang cukup sering saya buka: 

  • Ramadan, Kapolri Tindak Tegas Ormas yang Anarkis (tempo.co, 16/07)
  • Aksi Anarkis Buat Distribusi LPG Terhambat (vivanews.com, 19/06) 
  • SBY Minta Polri Tindak Tegas Kelompok Anarkis (kompas.com, 01/07) 

Dari judul beritanya, kita sudah digiring pada pemahaman bahwa anarkis itu satu dua dengan tindakan kekerasan, tindakan sewenang-senang, melanggar aturan hukum, atau dalam bahasanya bapak presiden kita: “yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat”. Benarkah demikian nilai-nilai anarkisme?


Saya kutipkan dari http://ind.anarchopedia.org/Anarkisme:


"anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia” (Peter Kropotkin)


Masih sumber yang sama, anarkisme secara keseluruhan dapat diartikan sebagai suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan.


Lihat baik-baik, adakah kekerasan dalam definisi tersebut? Walaupun pada prakteknya, ada beberapa anarkis yang mengijinkan tindakan penyerangan dan kekerasan, namun perlu dicermati bahwa bukan tindakan kekerasan atau penyerangan tersebut yang menjadi titik tekan anarkisme. Penyerangan dan kekerasan diperbolehkan selama sasarannya adalah negara, pemerintahan dan kapitalisme, sebagai sistem yang dipercayai telah melakukan penindasan terhadap manusia. Toh, beberapa anarkis bahkan dengan terang-terangan tidak sepakat dengan metode penyerangan dan kekerasan untuk menyampaikan ide dan meraih tujuannya.


Anarkisme tidak bisa begitu saja dianalogikan sebagai tindakan kekerasan. Jika ya begitu, sama saja dengan menganalogikan Islam dengan kegiatan terorisme. Semua orang tahu, beberapa teroris itu mengatasnamakan Islam. Tapi tidak semua muslim sepakat dengan metode teror itu untuk menegakkan kejayaan Islam, beberapa bahkan mengutuk tindakan terorisme. Plus, tidak semua tindakan penyerangan dan kekerasan dilakukan atas nama anarkisme, sama seperti tidak semua tindakan teror dilakukan melulu oleh orang Islam. Menyebut anarkisme untuk merujuk pada tindakan penyerangan atau kekerasan hanya agar terdengar lebih intelek, justru menunjukkan kurangnya pemahaman tentang anarkisme itu sendiri.


Sebagai penulis, apalagi penulis berita (oya, termasuk juga editor), pengertian anarkisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kiranya bisa menjadi acuan untuk tidak menggunakannya secara salah kaprah lagi:
anar·kis·me n ajaran (paham) yg menentang setiap kekuatan negara; teori politik yg tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang
Apa susahnya menulis saja ‘tindakan pengrusakan’, ‘penyerangan’, ‘kekerasan’, atau kalau ingin lebih keren ‘destruktif’ atau ‘vandalisme’. Menarik, istilah vandalisme seringkali direduksi hanya untuk tindakan seperti merusak taman kota, membuat graffiti (karena dianggap merusak, padahal menurut saya justru memperindah –asalkan temanya jelas dan tidak dilakukan di dinding rumah orang- dibandingkan dengan jutaan banner iklan). Vandalisme dalam KBBI diartikan sebagai: 
va·ndal·is·me n 1 perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb); 2 perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas
Well, karena saya percaya bahwa media juga dikontrol oleh sebuah sistem yang lebih besar dan mapan, bisa jadi pemahaman salah tentang anarkisme dengan sengaja dibiarkan. Anarkisme dicitrakan sebagai paham dan tindakan yang menakutkan, karena itu harus diberantas. Tujuannya jelas, kita tidak akan membiarkan jika ada sesuatu yang mengancam kita, bukan? 

*Saya tidak sedang mempromosikan anarkisme. Wong ngerti aja cuma setengah-setengah. Namun jika anda tertarik untuk mempelajarinya, alamat-alamat ini mungkin bisa menjadi salah dua referensi: 
http://www.anarchism.net/
http://pustaka.otonomis.org
baca selengkapnya

18 Juli 2012

Kita Pernah Jatuh: Murni Curhat


Tahun ini saya punya rencana untuk melanjutkan studi. Tentu saja dengan mengharapkan beasiswa. Bayar kuliah sendiri terlalu mahal, apalagi saya ingin sekali melanjutkan kuliah tidak di dalam negeri. Persiapan sudah saya lakukan dari tahun kemarin, mulai dari cari-cari universitas yang punya pogram yang saya incar, tes bahasa inggris yang menjadi syarat untuk melamar ke universitas dan mengontak ini itu untuk mau memberikan referensi untuk saya. Hasil tes IELTS saya lumayan, tidak wow tapi cukup sebagai syarat. Itupun setelah ikut kursus intensifnya selama seminggu. Dekan saya di S1 dan dosen saya di summer school juga bersedia memberikan referensi. Girang bukan main saat dua universitas yang saya lamar, Groningen dan Tilburg, menerima aplikasi saya. Saya lalu memilih admission letter dari Tilburg untuk kelengkapan aplikasi beasiswa. Selang beberapa minggu, datang email yang menyatakan saya belum bisa menerima beasiswa.


Belum patah arang, saya cari lagi universitas lain yang masih buka lowongan. Ketemu satu, walaupun dengan jurusan yang tidak terlalu saya minati, tapi karena ada embel-embel beasiswa, maka melamarlah lagi saya. Baru beberapa hari kemarin, karena lama tak ada kabar, saya tanyakan pada universitas tersebut soal tanggal pengumuman dan jawabannya singkat sekali:


>>Dear Lingga Tri Utama
>>You have been admitted, a letter was sent.


Bukannya senang, saya malah bingung. Pasalnya, untuk melamar beasiswa, menurut informasi via email beberapa bulan lalu, saya cukup menuliskan di motivation letter soal beasiswa itu. Prosesnya sama seperti proses tanpa melamar beasiswa. Saya tanyakan soal ini dan mendapatkan jawaban bahwa tenggat waktu beasiswa sudah habis. Nah lho. Saya cari informasi lagi ke alamat email lain dan jawabannya adalah, ternyata saya harus mengirimkan motivation letter tersebut bersama beberapa dokumen kepada seorang profesor yang bertanggung jawab pada proses seleksi beasiswa tersebut. Kesal.


Pelajaran pertama untuk saya adalah cari informasi sebanyak dan sedetail mungkin tentang universitas dan program beasiswa. Saat saya mendaftar ke Tilburg, hampir saja saya tidak mengirimkan research proposal karena tidak ada informasi tersebut di websitenya, tapi belakangan saya temukan di form pendaftaran. Ok lah, ini tahun pertama saya serius sekali daftar kuliah. Sebelum-sebelumnya saya asal daftar saja. Tapi itu bukan alibi yang baik tentu saja.


Pelajaran kedua, saya merasa gagal. Saya tahu beberapa orang yang mendapatkan beasiswa karena pengalaman-pengalaman mereka yang seabrek atau prestasi mereka yang menjulang (ah ya, saya lupa, kawan saya mengingatkan ada juga yang dapat karena faktor “keberuntungan” sampai akhirnya kawan saya memutuskan untuk rehat sejenak dari pencarian beasiswa, tapi saya tidak mau mendiskusikannya di sini). Dari mereka-mereka saya seperti berhadapan dengan cermin, ya ya… pengalaman dan prestasi saya tidak banyak. Di situlah saya merasa gagal. Merasa jatuh. Merasa ingin bisa memutar waktu mengembalikan ke masa dimana saya bisa meraup pengalaman dan prestasi sebanyak mungkin yang saya yakin sebetulnya saya bisa kalau saya mau. 


Saya pernah jatuh sebelumnya. Semua orang pernah. Mungkin jatuh dari pohon atau sepeda. Sakit. Ya terasa sakit. Luka di lutut atau memar di lengan mungkin tak sebanding dengan perasaan ternyata kita tidak berhasil memanjat pohon atau mengendarai sepeda dengan baik. Tapi itu tidak pernah menyurutkan kita untuk terus memanjat pohon dan bersepeda keliling kampung, bukan? Tak ada juga bayi yang tiba-tiba lancar berdiri, berjalan dan berlari-lari tanpa pernah jatuh (sayang saya tidak bisa mengingat, orangtua saya juga tidak pernah menceritakan proses jatuh bangun saat saya belajar berjalan).


Jika kita gagal, berarti kita tidak benar-benar berusaha. Saya lupa kalimat itu ada dalam film apa. Tapi saya mengamini, untuk kepentingan saya pribadi. Dengan begitu, saya terpacu untuk berusaha lebih keras lagi. Praktiknya memang tidak sesederhana itu karena ada hal-hal di luar kuasa kita yang sulit atau bahkan mungkin tidak mungkin kita ubah (menjadikan bumi ini tidak lagi bulat tapi prisma, misalnya). Toh sampai sejauh ini, keinginan saya masih masuk akal. Saya memang sesekali ingin punya sayap yang bisa membuat saya terbang lintas benua, ingin bisa membelah diri layaknya amoeba saat merasa terlalu banyak yang harus saya kerjakan atau ingin bisa menghilang dalam sekejap dari rapat-rapat membosankan. Selain itu, saya rasa saya masih waras. Ingin bisa kuliah, memiliki pekerjaan yang saya cintai dan hidup bersama pasangan yang saling mengisi.


Jika kita gagal, berarti kita tidak benar-benar berusaha. Bukan berarti akhir dunia atau lantas menghalalkan segala cara untuk mensukseskan keinginan kita. Saya melihat kehidupan saya seperti hamparan kertas dan saya tidak sedang membuat satu garis linier. Saya yakin saya bisa membuat banyak garis, juga kurva berkelok, menentukan tidak hanya satu titik tujuan dan bahkan mewarnainya. Itu cara saya memaknai kegagalan. Berhenti meneruskan satu garis karena sudah mentok bukan lantas menjadikan kita sebagai pengecut, tapi justru berpikir lebih realistis. Saya perlu membuat garis lain. Masih terlalu luas kertas yang saya miliki kalau hanya fokus hanya pada satu garis saja. Plan B, mungkin itu bahasa lainnya. Rencana kedua bukan hanya sebagai cadangan kalau rencana pertama kita tidak berhasil mendapatkan X, tapi juga rencana kedua untuk memungkinkan kita mendapatkan Y, Z dan yang lainnya.


Kita pernah jatuh. Saat belajar berjalan, naik sepeda, memanjat pohon. Dalam karir, akademik, mimpi, cinta. Tapi itu bukan akhir dunia. Ada tantangan baru. Ada kesempatan lain. Ada orang tua kita yang membantu kita kembali berdiri. Ada sahabat-sahabat baik yang memberikan dukungan. Dan terpenting bagi saya, ada orang yang saya sayangi yang memberikan energi luar biasa untuk saya. Thanks, honey! 


*Ini murni curhatan ngalor ngidul. Membacanya dengan terlalu bersungguh-sungguh sangat tidak disarankan hehehe..*


baca selengkapnya