14 September 2012

Menjadi Pekerja Lepas itu Pilihan


Menjadi pekerja lepas adalah sebuah pilihan. Saya sedang memilihnya saat ini. Ya, saat ini. Belum tahu bulan-bulan ke depan. Jika ada tawaran pekerjaan yang sesuai dengan minat (dan kebutuhan saya hehe...) tentu akan saya pertimbangkan masak-masak. Baru sebulan saya menjadi pekerja lepas. Sepintas memang tampak menyenangkan, bebas, tapi tetap saja ada beberapa hal yang harus saya perhatikan. Setidaknya mencoba untuk menjadi sedikit profesional.

Pekerja lepas tidak bisa begitu saja disamakan dengan wiraswasta, walaupun keduanya memang sama-sama mandiri. Tidak terikat dalam satu aturan lembaga dalam waktu lama. Bedanya, wiraswasta biasanya punya usaha sendiri, membuat "lembaga" sendiri entah dalam bentuk perusahaan, organisasi atau warung kaki lima. Pada akhirnya, terbentuk pola relasi baik dalam "lembaga" tersebut maupun dengan pihak lain secara lebih permanen. Misalnya, saya bikin perusahaan, saya akan merekrut orang-orang yang akan bekerja dengan saya. Tentu tidak dalam hitungan hari. Demikian juga bila saya punya warung kaki lima, saya akan cari supplier beras dan ikan dengan harga terjangkau dan kualitas terbaik, menjadikannya rekanan, juga bukan dalam waktu seminggu dua minggu.

Hubungan yang dibangun dalam dunia pekerja lepas tidak se-"lama" itu.  Hitungannya bisa jadi hanya dua tiga hari, bisa jadi ada klien yang senang dengan hasil kerja kita dan menawarkan kita pekerjaan lain di kemudian hari atau ada jenis orderan yang bisa makan waktu satu dua bulan pengerjaan.  Contohnya saya. Saya bisa mendapatkan job mengerjakan lay out dan ilustrasi buku yang bisa memakan waktu lebih dari satu bulan. Tapi saya juga bisa tiba-tiba mendapatkan job via pesan singkat seperti ini:

"Sibuk nggak, Ling? Bisa bikinin ilustrasi? Tapi butuh cepet nih, empat hari, bisa?"

Sesaat, tawaran-tawaran tersebut tentu menarik. Terutama jika ada bumbu-bumbu rupiah di belakangnya. Jujur sajalah, siapa yang tak butuh uang. Apalagi atas kerja yang sudah kita lakukan. Saya memang baru belajar menjadi pekerja lepas, tapi seperti saya katakan di atas, saya mencoba untuk lebih profesional, sedikit. Caranya? Ini yang saya coba lakukan.

Pertama, tentukan prioritas. Bukan tidak mungkin dalam satu waktu ada beberapa tawaran kerjaan dari orang yang berbeda. Kecuali kita punya empat pasang tangan, mata yang mampu melek enam hari enam malam atau mampu membelah diri layaknya amoeba,akan lebih bijaksana jika kita menggunakan hak kita untuk memilih mana pekerjaan yang akan kita ambil. Bisa karena faktor kedekatan, daya tarik pekerjaannya (isu dan tema), rupiah, atau hal lain. Itu semua tergantung diri kita. Buat apa menjadi pekerja lepas kalau semua pekerjaan kita ambil lantas kita tak punya waktu untuk diri kita sendiri? Tentu saja tidak lupa mengatakan maaf pada orang-orang yang belum bisa kita bantu pada saat itu dan menawarkan waktu lain, jika memang membutuhkan.

Kedua, komitmen. Dulu sekali saya punya buku agenda untuk menuliskan rencana-rencana kegiatan saya. Tapi saya hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Alasannya, malas dan fleksibilitas orang-orang di sekitar saya yang luar biasa dan seringkali menghancurkan apa yang sudah saya rencanakan. Intinya, saya tidak punya komitmen pada agenda saya sendiri. Menjadi pekerja lepas justru memaksa saya untuk mengubah buku catatan saya menjadi buku agenda sederhana. Selain sebagai alat bantu untuk mengobati kepikunan, agenda tersebut membantu saya untuk menentukan kapan saya harus menyelesaikan satu pekerjaan dan berani untuk menerima pekerjaan lain. Komitmen ini jelas bukan hanya untuk kebutuhan saya, tapi juga menjaga kepercayaan orang-orang yang memberikan kita pekerjaan. Saya sendiri biasanya memundurkan satu dua hari tenggat waktu untuk saya menyelesaikan suatu pekerjaan dari jadwal yang sudah disepakati dengan si pemberi pekerjaan.

Ketiga, tentukan harga. Ya. Menjadi pekerja lepas adalah memberikan kesempatan (dan keharusan) untuk menentukan harga pada karya saya. Bukan hal yang mudah jika, apalagi, berhubungan dengan teman. Faktor enak tidak enak. Well, karena pekerja lepas, sah-sah saja memberikan diskon khusus bagi mereka. "Harga" di sini juga bisa berarti posisi tawar kita dengan pemberi order. Minggu pertama saya tiba di Jogja, saya sudah ditawari mengerjakan ilustrasi untuk buku PAUD. Saya tidak bertemu muka dengan tim penulis yang setelah saya pelajari isinya, bikin saya geleng-geleng kepala. Masak iya anak kecil diajari: Singa tempatnya di kandang, ikan tempatnya di akuarium? Kemana hutan dan kolam alam? Sialnya, saya terlanjur mengiyakan menerima pekerjaan tersebut. Pelajaran bagi saya adalah 'mbok ya jangan asal ambil, pelajari dulu'.

Keempat, mandiri. Ini bukan nama bank. Ada yang bilang bahwa menjadi pekerja lepas adalah menjadi bos bagi diri sendiri. Ada benarnya. Karena kita tidak harus manut dengan aturan yang dibuat atasan. Karena kita bisa mengatur jadwal kerja kita sendiri. Tapi, bos betulan bisa mendelagasikan (red: menyuruh) bawahan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pekerja lepas tidak. Pekerja lepas adalah bos dan bawahan dalam satu waktu. Supervisi dilakukan oleh diri sendiri, juga monitoring dan evaluasi.

Kelima, membuka jejaring seluas-luasnya. Modalnya sederhana, empat hal yang di atas tadi kita pegang benar-benar. Dari pengamatan saya, pekerja lepas dipasarkan lebih banyak dari mulut ke mulut. Tidak perlu pasang iklan di mana-mana. Satu klien puas, bisa menjadi promotor ulung bagi kita. Kontak teman-teman dekat yang sudah tahu keahlian kita dan memberi tahu mereka bahwa kita siap menerima pekerjaan jenis ini, jenis itu. Tentu, ada teknologi yang sangat berguna. Handphone, internet dan jejaring sosial sekarang menjadi alat bantu saya untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang membutuhkan jasa saya.

Terakhir, tanamkan dalam hati kita bahwa apapun bentuk pekerjaan itu tidak ada yang selalu mulus. Ya memang membosankan duduk di belakang meja 8 jam sehari dan hanya bisa istirahat di Sabtu dan Minggu. Tapi, kebebasan yang dijanjikan tipe pekerjaan lepas juga sebetulnya hanya slogan penuh janji layaknya politisi bakal maju pemilihan. Bisa jadi janji tersebut benar, bisa juga tidak. Bayangkan saja jika anda dikejar deadline lebih dari satu orderan plus harus mengatur janji bertemu dengan klien sana sini. Tapi ya, ada juga pekerja lepas yang bisa lebih sering ongkang-ongkang kaki di angkringan ketimbang bekerjanya. Setiap pekerjaan punya resikonya masing-masing. Kalau anda berharap dapat uang banyak dengan bersantai-santai saja, bisa. Jika orang tua anda benar-benar kaya raya atau anda memutuskan mencari jodoh seorang milyarder dan tidak menuntut anda untuk bekerja. Sekali lagi, pekerja lepas itu pilihan, termasuk pilihan untuk menjadi pekerja lepas tipe seperti apa atau pilihan sampai kapan kita akan menjadi pekerja lepas.

7 komentar:

  1. belum berani saya jadi pekerja lepas mas.. masih terlalu takut kagak makan.. hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. apapun pekerjaannya, yang penting dinikmati =D

      Hapus
  2. tp kebanyakan orang suka pekerja tetap gan apalagi PNS hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kita kan gak harus selalu ikut kebanyakan orang hahah

      Hapus
  3. waah jadi freelancer adalah salahsatu keinginan saya, hanya kita sendiri yang mengatur jam kerja kita, fleksibel dan sepertinya santaiii...meskipun saya juga harus berpikir masak2 untuk keputusan itu. Selamat mencari nasi!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya santai yaa #senyum miris.. Kabar2i ya kalau ada gudang beras hehehe

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus