26 Desember 2011

Resolusi, Hanya Bagi yang Membutuhkan

Tik tok tik tok... Sedetik yang lalu. Lima menit kebelakang. Tadi pagi. Kemarin malam. Setahun silam.

Dunia berputar, menyapa kita sejenak lalu kita sebut ia dengan masa lalu. Canda tawa menimbulkan rindu. Tak sedikit pula tangis pilu. Darinya kita belajar. Menjadikan diri kita sekarang. Sekarang. Sekarang?
Tik tok tik tok... Sekarang. Detik ini. Menit ini. Jam ini. Malam ini. Hari ini. Minggu ini. Bulan ini. Tahun ini.

Masa yang sedetik kemudian, semenit kemudian, sejam kemudian, seminggu dan setahun kemudian akan menjadi memori.


Seminggu lagi, kita bersiap mengganti kalender kita dan membiasakan diri menulis angka 2 alih-alih angka 1 setelah 201. Semuanya memang hanya masalah angka, yang memudahkan kita beraktivitas dan menyamakan persepsi soal dimensi waktu. Namun, tak bisa disangkal, pergantian tersebut sering dijadikan momen berharga bagi banyak orang. Harga yang bisa dirupiahkan oleh para pemilik bisnis hiburan. Atau harga yang tak bisa dihitung nilainya seperti menikmati liburan dan menghabiskan waktu bersama keluarga, atau membuat resolusi, mencoba menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun yang sudah terlewati.

Resolusi. Terdengar indah dan menjanjikan namun tak jarang hanya berujung di coretan di atas kertas yang pada pertengahan tahun mungkin kita sudah melupakan dimana kita simpan atau bahkan sudah terbuang bersama tumpukan dokumen yang sudah tak berguna. Saya, termasuk yang rapi menyimpan, tapi juga rapi melupakan. Maka resolusi saya yang pertama kali di tahun depan adalah: berkomitmen pada resolusi saya. 

Beberapa kawan saya menganggap resolusi tidak penting, karena ada yang berfalsafah hidup mengikuti kemana air mengalir, atau karena ada yang memang setiap waktunya mereka beresolusi. Bagi orang seperti saya yang keinginannya macam-macam dan rupa-rupa, membuat resolusi adalah hal yang cukup membantu kemana arah yang akan saya tuju. Anda yang tidak merasa membutuhkan resolusi, silakan stop membaca sampai di sini. Anda yang tertarik membuat resolusi, silakan lanjut. 


Evaluasi: Melihat Resolusi Tahun Lalu
Dari 11 item yang menjadi resolusi saya di tahun 2011, hanya 6 yang saya rasa sudah saya raih. Tiga di antaranya sudah gagal di awal tahun karena salah perhitungan (soal beasiswa dan persiapan pendaftaran). Dari enam item yang berhasil saya raih, saya baru sadar kalau tiga item diantaranya sulit sekali dinilai keberhasilannya karena saya hanya menuliskan: kurangi rokok, kurangi limbah plastik dan perbanyak makan buah. Saya mungkin saja membela diri mengapa ada resolusi yang tidak bisa saya wujudkan, tapi fokus pada apa yang akan saya lakukan jauh lebih penting.

Melihat kembali resolusi yang pernah kita susun akan membuat kita bisa mengukur kemampuan (dan kemauan) diri kita. Jangan-jangan memang resolusi yang kita buat terlalu tinggi untuk diraih? Melihat kembali resolusi kita juga menjadi ajang belajar bagaimana membuat perencanaan yang lebih matang. Tentu juga kita bisa masukkan hal-hal yang sudah kita capai di luar resolusi, yang bisa kita gunakan sebagai acuan menyusun resolusi baru. Bukan tidak mungkin dalam waktu setahun kita bertemu seseorang yang mampu mengubah visi kita, mendapatkan promosi di tempat kerja, atau hal lainnya. 


Fokus: Mulai Menyusun Resolusi
Nah, ini dia. Saatnya menyusun apa-apa saja yang hendak kita capai tahun depan. Ada banyak teori soal bagaimana membuat perencanaan yang baik dan efektif. Saya coba sarikan dari beberapa sumber sambil berkaca dari apa yang sudah saya lakukan. Bagi beberapa orang, menyusun resolusi ini membutuhkan waktu tersendiri, sambil mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan dan telah kita raih. Bagaimanapun caranya, fokus menjadi hal yang penting karena apa yang akan kita pikirkan adalah perkara masa depan kita sendiri.

  • Prioritas. Tahu apa yang kita inginkan adalah modal pertama dalam membuat resolusi. Menulis sampai 30 item resolusi mungkin bisa jadi persoalan jika ketigapuluhnya itu tidak berada dalam satu rel. Yang saya lakukan di tahun lalu adalah membuat prioritas untuk pekerjaan dan studi. Ada item-item lain yang lebih mengarah pada gaya hidup saya catat di bagian lain. Awalnya mungkin ada banyak ide yang ingin kita lakukan, namun lebih bijak jika kita menyaringnya berdasarkan mana yang lebih penting dan segera.
  • Bernilai. Masukkan hanya hal-hal penting dalam hidup kita sebagai resolusi. Sejauh mana itu penting bisa kita lihat dari seberapa besar pengaruhnya pada masa depan kita, yang bagi setiap orang bisa jadi berbeda. Lulus kuliah misalnya, bisa saja prioritas bagi seseorang karena merasa harus cepat lulus, bisa kerja dan menyenangkan orang tua. Tapi bagi orang lain, lulus kuliah mungkin tidak menjadi prioritas karena prestasi di organisasi jauh lebih penting, misalnya. Bernilai atau tidaknya sesuatu bisa juga ditentukan dari bagaimana perasaan kita jika kita berhasil mendapatkannya.
  • Detail. Tujuan yang terlalu 'besar' mungkin bisa menjerumuskan kita. Alih-alih semangat, kita justru merasa terbebani oleh target yang kita buat sendiri. Lebih mudah jika kita pecah mimpi yang 'besar' itu menjadi bagian-bagian kecil, dan kepada bagian-bagian kecil itulah kita akan berusaha mencapainya. Contoh saya, tujuan besar saya bisa kuliah di luar negeri, mungkin terdengar besar. Namun jika saya pecah berdasarkan proses yang harus saya lalui: lulus tes bahasa inggris dengan skor X, lulus aplikasi di universitas X dan lulus beasiswa X, akan terasa tidak terlalu membebani.
  • Terukur. Resolusi 2011 saya soal pengurangan limbah plastik mungkin adalah contoh yang kurang baik. Saya melakukan pengurangan itu iya, tapi kadang-kadang saya tidak bisa menghindari karena lupa bawa tas atau barang belanjaan terlalu besar. Akan lebih tepat jika saya menulis: cukup tiga-empat kantong plastik dalam satu bulan, dan sebagainya.
  • Realistis. Resolusi bisa terbang ke bulan pada tahun 2012 mungkin akan jadi bahan tertawaan kawan-kawan kita. Tapi jika kita rasa itu adalah hal yang tingkat kemungkinan untuk dicapainya tinggi, kenapa tidak? Ukuran realistis atau tidak sangat subjektif. Di sini kita dituntut untuk jujur pada kemampuan yang kita miliki juga jeli pada kondisi di sekitar kita yang bisa memberikan dukungan. Realistis juga bukan berarti hal-hal yang yang akan kita lakukan adalah hal yang "mudah". Bagi orang yang senang membaca, menamatkan 1 judul buku dalam sebulan mungkin bukan masalah. Tapi untuk apa kita jadikan itu sebagai resolusi?
  • Jadwal. Ini adalah kesalahan fatal saya saat membuat resolusi 2011. Tidak ada jadwal! Beberapa hal sudah bisa kita jadwalkan karena ada jadwal lain yang mengatur. Misalnya, wisuda pada November 2012. Kita tidak bisa menjadwalkan untuk wisuda pada bulan Agustus jika kampus kita tidak punya agenda di bulan itu! Cari tahu soal jadwal-jadwal seperti ini, termasuk juga misalnya jadwal cuti bersama bagi yang akan mengagendakan liburan panjang ke lokasi yang kita impikan. Untuk resolusi yang nir-jadwal, kita lebih bebas menentukan, tentu dengan pertimbangan realistis untuk dicapai.
 
Komitmen: Siapkan Diri Kita
Evaluasi sudah dilakukan dan resolusi sudah tercatat rapi dalam agenda kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mulai menjalankan resolusi kita tentu saja. Antisipasi perlu dipersiapkan kalau-kalau di tengah jalan mesin kita mogok. Ada banyak cara untuk memotivasi diri sendiri agar komit pada janji kita pada diri sendiri. Pertama, berbagi resolusi dengan orang-orang terdekat agar bisa saling mengingatkan dan memberikan dukungan. Saya lakukan ini dengan kawan dekat saya dan cukup berhasil mencambuk semangat saya saat saya sudah mulai kehilangan fokus dan ia mengingatkan saya. Orang-orang ini juga yang akan memberikan reward saat kita berhasil mencapai resolusi kita. Ucapan selamat adalah penghargaan besar atas apa yang sudah kita raih. Jika itu tidak cukup, kita bisa memberikan reward pada diri kita sendiri.

Kita juga bisa mencatat resolusi kita pada kertas yang cukup besar dan menempelkannya di dinding kamar. Anggaplah ia sebagai alarm. Membuatnya tampil menarik, dengan menambahkan gambar dan warna, mungkin bisa membantu agar tidak terlihat sebagai hantu yang selalu mengikuti. Namun, jika perasaan terhantui itu terus menerus kita rasakan, agaknya kita perlu melihat kembali resolusi yang sudah kita susun. Sudah tepatkah? Merevisinya sehingga terasa lebih tidak membebani jauh lebih baik dibandingkan dengan kemudian berusaha mati-matian menggapai target tapi kita sendiri tidak menginginkannya. Resolusi tahunan, seperti halnya tahun baru, hanya perkara momen. Kita bisa membuat resolusi kapanpun kita butuhkan dan kita inginkan. Kita bisa menjadi diri yang baru tanpa harus menunggu pergantian kalender dan pergantian satu angka paling akhir di penanggalan.
baca selengkapnya

14 Desember 2011

Prison


Prison and criminalism are actually not my concern. But since I had to write a short essay about prison, I could not run away to think about the prison. It is not a big secret anymore that prisons in Indonesia have a bad management. Fortunately, I didn’t have to make an essay about that. Thinking of the fact that the law institution has turned out to be a place for many crimes is so irritating.

Every country has its own regulations on how to reduce the crime rate of their  countries. The regulations may be different, but they have a similar way to put people who are sued to be criminal in the prison. Some people think that it is an effective tool. But others think, it isn’t.

It seems that prisons are effective to make people not do any crimes. Prisons are built to make people scared. Living in the prison is absolutely not a choice. No one want to live without any fun, get trapped in a small room and have to share your life with someone that you don’t expect. People also need punishment for what they did –if they did a crime. This behavioral theory of human is well understood by many people and is applied to control human behavior. In this point of view, prisons are an effective tool in reducing the crime. And of course, we can imagine that if all of the criminals are put in prison, they will not be able to harm, or do something bad to other people who live outside of the prison.

Some people who think that prisons are not effective in reducing the crime probably assumed that crime doesn’t naturally run in the human’s blood. They believe that there are many other factors that lead people to do a bad thing. For example, the violence that is showed by the television day by day has influenced people to do the same thing as they watched. Prison is not the answer for this issue. The social pathology can only be cured by respecting humanity, taking care of our children and society with love. The critics are also addressed to what do the prison give to the prisoners? Do they give some soft skills that can be used when the prisoners back to the society? Or does the environment and atmosphere of the prisons not change them into a better person?

In my opinion, prisons may be an effective tool in reducing the crime. But to prevent the crime is much more important. Prisons are the last thing that we can give to people who cannot accept the rule of humanity. However, they, the criminals, are still a human, have to be treated as human even when they have to spend their life in prison. Treating them with no respect will only result another problem: they go back to the society and repeat to do crime or even worse. That is my opinion, what about yours?
baca selengkapnya

11 Desember 2011

Melawan Mitos HIV & AIDS

Dua orang perempuan masuk ke dalam ruangan dimana saya dan beberapa teman sedang mendengarkan pengalaman sebuah organisasi yang bergelut di isu HIV & AIDS di Bali. Seorang staf organisasi tersebut lantas meminta keduanya untuk duduk di bangku depan dan memperkenalkan diri mereka, termasuk statusnya sebagai orang yang terinfeksi HIV. Sang staf lalu mempersilakan kami untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Saya salah tingkah. Tak bertanya satu pun, hanya kening berkerut-kerut.

Bukan hanya sekali dua saya bertemu orang yang terinfeksi HIV. Beberapa kawan saya juga HIV positif, sebagian perempuan. Namun bukan itu yang menjadi alasan saya memilih bungkam. Jika kawan-kawan saya yang positif HIV bisa dengan tenang dan percaya diri menceritakan statusnya di depan umum karena sudah terbiasa, saya menangkap ketidaknyamanan pada wajah dua perempuan ini. Wajah yang mengajak memori saya kembali ke beberapa tahun lalu, saat saya pertama kali bertemu dengan perempuan yang HIV positif yang bukan berasal dari komunitas pengguna napza suntik dan pekerja seks, komunitas-komunitas yang selama ini dianggap beresiko tinggi dalam penularan HIV. Saat itu saya sedang membantu memfasilitasi pertemuan orang-orang yang terinfeksi HIV dari berbagai komunitas. Ia adalah salah satu pesertanya.

“Aku dapat dari suamiku.” Kalimat itu begitu saja keluar dari mulutnya tanpa saya tanya. Saya masih ingat, saat itu kami sedang menikmati kopi di sela acara. Saya langsung paham yang dia maksud ‘dapat’ artinya adalah terinfeksi HIV. Yang membuat saya agak terkejut adalah karena selama sesi pertemuan, dia tidak banyak bicara. Lebih sering duduk diam dan mendengarkan. Wajahnya yang lugu sangat serius mencerna setiap informasi yang didapat dan saat berbicara terdengar agak ragu karena masih harus bergelut dengan emosinya sendiri. Saya mungkin terdengar mendramatisir, tapi anda mungkin juga akan menyimpulkan hal yang sama jika melihat genangan air matanya nyaris tumpah saat dia melanjutkan kisahnya, “Suamiku sudah meninggal. Saat itulah aku baru tahu ia meninggal karena AIDS. Dan pada hari itu juga aku tahu aku HIV positif”.

Kejadian itu baru dia alami beberapa bulan sebelum kami bertemu. Wajar rasanya jika saat itu kondisinya belum stabil, apalagi usianya hanya terpaut beberapa tahun di bawah saya. Harus menerima sekian kenyataan yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apalagi dengan bayi yang belum genap setahun, kekhawatiran akan masa depan masih terbayang di wajahnya kala itu. “Syukurlah, anakku negatif,” katanya sambil tersenyum.

Sikap dan cara bicaranya sangat berbeda saat dia berbicara dengan saya dan saat dia berada dalam forum. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh dua perempuan yang saya lihat siang itu. Sayang, saya kehilangan kesempatan untuk mengobrol santai dengan mereka. Walaupun saya juga tidak tahu apa yang akan saya tanyakan, tapi saya merasa lebih nyaman berbicara secara personal. Dalam hal ini, saya memposisikan bagaimana jika saya adalah mereka. Saya tidak akan melakukan hal yang saya tidak suka orang lain memperlakukan saya. Jika saya adalah mereka, mungkin saya akan merasa khawatir orang-orang akan mencap saya ini itu saat saya memberi tahu status saya, menganggap saya yang tidak-tidak karena bicara HIV & AIDS seringkali sulit bebas nilai.

Sejak ditemukannya, HIV & AIDS tak pernah lepas dari mitos dan isu moralitas. Ini juga yang dialami oleh kawan saya itu. Keluarganya sendiri menolak dia setelah diketahui statusnya. Tak disebutkan apa alasannya kepada saya, tapi saya duga itu karena keluarganya tak punya informasi yang benar soal HIV & AIDS. Tak sedikit keluarga yang melalukan tindakan seperti ini kepada mereka yang terinfeksi HIV, takut tertularlah atau karena mereka yang HIV positif itu dianggap telah melakukan perbuatan-perbuatan melanggar nilai dan norma. Bahkan, orang yang meninggal karena AIDS pun masih saja mendapatkan perlakuan seperti ini. Di Bali misalnya, beberapa kali terjadi jenazah orang yang meninggal karena AIDS ditolak olah warga adat. Padahal menurut kepercayaan Hindu Bali, jenazah harus dimandikan oleh seluruh warga.

Selain mitos bagaimana mudahnya HIV ditularkan, mitos lain yang berkembang juga misalnya HIV & AIDS adalah wabah orang asing, yang padahal, sebagai contoh saja di Bali, turis-turis asing memiliki informasi dan kesadaran yang lebih tinggi tentang HIV & AIDS, terbukti dari kondom yang senantiasa mereka siapkan dan tidak ragu-ragu mengakses layanan terapi rumatan metadhon yang disediakan layanan-layanan kesehatan di Bali. Selain sebagai wabah orang asing, masyarakat masih juga memandang HIV & AIDS sebagai wabah para pekerja seks, terutama pekerja seks perempuan. Perempuan yang terinfeksi HIV, apapun penyebabnya, kemudian mendapatkan cap negatif sebagai perempuan ‘nakal’, sementara perempuan yang dianggap ‘baik-baik’ tidak mungkin tertular HIV. Padahal menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional tahun 2010, dari 5.210 kasus AIDS kumulatif pada perempuan, sebanyak 41,4 persennya adalah ibu rumah tangga, sedangkan jumlah kasus pada perempuan pekerja seks sebesar 8,7 persen. Tentu saja, perempuan yang terpaksa menjadi pekerja seks jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang menjadi ibu rumah tangga. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa jumlah laki-laki yang menjadi pelanggan pekerja seks jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pekerja seksnya sendiri, yang justru jarang sekali mendapatkan cap negatif karena perilakunya itu dianggap lebih ‘lumrah’ dalam masyarakat.

Mitos-mitos seperti ini juga acapkali diperkuat oleh pemberitaan yang kurang berimbang dan penyajian data tanpa penjelasan lebih dalam. Misalnya saja, banyaknya kasus HIV di kalangan orang muda yang disajikan ‘seadanya’ tanpa keterangan lebih jelas, dapat membentuk opini masyarakat bahwa HIV & AIDS adalah hanya masalah orang muda, yang seringkali dianggap berjiwa ‘pemberontak’, suka mendobrak tabu-tabu sosial. Padahal jika kita telusuri, angka tersebut mungkin justru menggambarkan kesadaran orang-orang muda ini untuk melakukan tes HIV dan bagaimana program-program HIV & AIDS yang ada selama ini lebih banyak menyasar kelompok usia ini.

Usia muda, perempuan dan HIV positif. Secara parsial saja sudah dipenuhi label-label tak mengenakkan. Bayangkan jika ketiganya tersandang pada diri kita. Kawan saya, ia perempuan dan terinfeksi HIV pada usia yang masih sangat muda, lalu mendedikasikan dirinya pada isu HIV & AIDS dengan mengaktifkan kelompok dukungan sebaya bagi perempuan-perempuan yang terinfeksi HIV bersama kawan-kawan lain. Ada rasa bahagia saat saya melihat banyaknya kelompok-kelompok dukungan sebaya seperti itu, apalagi ada pula yang diinisiasi justru oleh keluarga orang yang terinfeksi HIV seperti yang ada di Singaraja, dan ada yang mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat sekitar seperti yang ada di Jembrana. Meskipun keduanya berada di Bali, saya percaya masih ada dan akan lebih banyak lagi kelompok-kelompok seperti itu dari Sabang hingga Merauke. Juga hal yang sangat menggembirakan ketika lebih banyak anak muda yang peduli pada isu HIV & AIDS, tidak menelan mentah-mentah mitos yang beredar di masyarakat dan tak ragu berkawan dengan orang-orang yang terinfeksi HIV.

Kita tak mungkin hanya menunggu waktu untuk menjawab persoalan HIV & AIDS sekarang ini. Membutuhkan proses dan usaha keras agar masyarakat terbebas dari mitos-mitos menyesatkan, mendapatkan informasi yang benar dan bersikap serta berperilaku dengan tepat. Proses dan usaha keras telah dilakukan kawan saya itu, yang perempuan dan terinfeksi HIV pada usia muda, yang berhasil melawan mitos yang terinternalisasi dalam dirinya, yang menjadikannya seperti sekarang. Proses yang mungkin masih sedang dilalui oleh dua perempuan yang masuk ke ruangan di siang itu.

baca selengkapnya

1 Desember 2011

Semua Bisa Kena HIV Bukan Sekedar Angin Lalu

Campur aduk rasanya saat saya membaca berita tentang penolakan seorang siswa yang diketahui ayahnya positif HIV. Sang anak, yang negatif, sebetulnya sudah diterima di sekolah tersebut namun tiba-tiba orang tuanya mendapatkan pesan singkat dari salah satu guru yang menyatakan bahwa anak tersebut tidak jadi diterima karena adanya kekhawatiran dari beberapa orang tua murid. 

Perasaan pertama yang saya rasakan adalah geram pada pihak sekolah dan kasihan pada si anak. Perasaan saya lalu berubah menjadi kekhawatiran mungkin masih banyak –semoga tidak- anak-anak yang mendapatkan perlakuan serupa. Saya bertanya-tanya, apakah para guru dan orang tua akan melakukan hal yang sama pada anak yang ibu atau ayahnya terkena hepatitis atau TBC? Apakah mereka tidak pernah mendapatkan informasi tentang HIV & AIDS yang benar?

Dalam hal ini, tentu pihak sekolah tidak bisa disalahkan seratus persen. Saya sedikit paham cara pikir pihak sekolah tersebut mengingat masih minimnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat umum terkait HIV & AIDS. Program-program yang sudah bertahun-tahun dijalankan secara tidak langsung sudah melabel kelompok tertentu sebagai beresiko tinggi dan yang lainnya tidak. Bagi yang terakhir ini, selain kurangnya akses informasi bagi mereka, mereka juga telah ditumbuhkan untuk tidak mencari informasi tersebut karena merasa diri berada di area ‘aman’. Hasilnya ya seperti sekarang ini, slogan “Semua Bisa Kena” seakan angin lalu bagi sebagian orang.

Data yang dikeluarkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional pada 2010 bisa dijadikan gambaran bagaimana kelompok masyarakat yang tidak terimbas program penanggulangan justru kini berada di posisi beresiko. Dari 5210 kasus AIDS kumulatif pada perempuan, sebesar 41.4% nya adalah ibu rumah tangga. Sedangkan jumlah kasus pada perempuan pekerja seks sebesar 8.7%. Pertanyaannya adalah tentu saja, apakah para ibu rumah tangga tersebut sebelumnya tahu bahwa mereka punya potensi terinfeksi HIV?

Beberapa tahun lalu, kali pertama saya bertemu dengan perempuan yang terinfeksi HIV tanpa sebelumnya ia tahu ia beresiko. Cara pandang saya dulu yang masih sangat bias membuat saya terkejut bukan main saat ia mengatakan terus terang kalau dirinya positif HIV. Di antara teman-temannya, saya pikir dia adalah mahasiswa yang sedang mencoba-coba berkegiatan sosial, masih terlihat keluguannya. Sampai dia bercerita bagaimana HIV bisa bersarang di tubuhnya.

Ia menikah di usia yang masih muda. Dia tak pernah tahu sang suami ternyata positif HIV sampai suaminya meninggal di rumah sakit dan dokter kemudian memanggilnya. Sang dokter menganjurkannya untuk tes agar segera diketahui statusnya sehingga langkah selanjutnya bisa segera diambil. Pun demikian pada bayi hasil pernikahan mereka. Hasilnya, ia dan anaknya positif. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya jadi dia. Bingung, frustrasi, sedih, takut dia rasakan. Beruntung, keluarga sang suami memberikan dukungan dan motivasi yang besar sehingga dia bisa melanjutkan kehidupannya dengan semangat. Bahkan, saat saya undang untuk menceritakan kisahnya di sebuah program radio, dia sangat berantusias membagi pengalamannya dengan tujuan agar tidak ada lagi perempuan-perempuan yang mengalami kisah serupa.

Maka saat saya membaca berita penolakan sebuah sekolah pada siswa yang ayahnya positif HIV membuat saya sangat khawatir, lantas apa yang akan dilakukan sekolah pada siswa yang diketahui statusnya HIV positif seperti anak teman saya itu? Ini adalah bahan renungan kita bersama di Hari AIDS Sedunia ini, apakah program penanggulangan HIV & AIDS yang selama ini telah dilakukan sudah menyentuh semua lapisan masyarakat? Apakah program dan tanggung jawab harus selalu difokuskan kepada kelompok tertentu yang dianggap beresiko tinggi saja?
baca selengkapnya

14 November 2011

Oeroeg

Saya tak sengaja menemukan buku ini saat saya hendak mencari buku gambar. Dia tidak dipajang di deretan best-seller, bahkan nyaris tak terlihat karena terhalang buku-buku lain yang ukurannya lebih besar dan warna-warna yang mencolok. Tapi justru, sampulnya yang sederhana, sketsa dua anak lak-laki di tengah hujan, memikat saya. Judulnya pun agak janggal "Oeroeg".

"...lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu -itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu -bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?

Penggalannya yang ada di sampul belakang inilah yang memantapkan saya, ya ini buku yang harus saya baca. Belakangan saya tahu, itu adalah kalimat yang diucapkan Gerard Stockman kepada sang tokoh "aku" saat sang tokoh yang berdarah Belanda mengalami konflik batin melihat sahabat Indonesianya diperlakukan kurang baik oleh teman-teman Belandanya yang lain. Gerard Stockman, laki-laki eksentrik yang jatuh cinta pada Indonesia, adalah guru berpetualang bagi tokoh "aku" dan Oeroeg.

"Oeroeg" berkisah tentang si "aku" -namanya tak pernah disebutkan hingga akhir cerita- yang menghabiskan masa kecil dan remajanya bersama Oeroeg, seorang Sunda, anak mandor dari administrateur -ayah si "aku"- sebuah perkebunan di Kebon Jati, Priangan tahun 40-an. Keduanya bahkan telah bersama-sama sejak masih dalam rahim karena kedekatan kedua ibu mereka. Persahabatan mereka diwarnai petualangan-petualangan khas masa kecil, termasuk kekhawatiran orang tua si "aku" pada kadar keeropaan anak mereka yang lebih fasih berbicara bahasa Sunda dibandingkan bahasa orangtuanya.

Persahabatan mereka harus berakhir, yang juga akhir dari cerita ini, saat Oeroeg memutuskan tidak akan bekerja di dinas pemerintahan karena tidak mau menerima bantuan bangsa Eropa. Nasionalisme dalam darah muda Oeroeg telah membuat tembok besar yang nyata antara dirinya dengan sahabat masa kecilnya.

Terus terang, saya tidak menemukan klimaks saat membaca buku ini. Namun ia tetap menarik karena dua hal. Pertama, saya suka dengan gaya penulis dalam menggambarkan hal-hal dengan sangat detail, baik itu tempat, manusia dan terutama citra alam yang membawa kita berada pada suasana dan masa lalu.

Hal yang menarik lainnya adalah karakter dua tokoh utamanya, "aku" dan Oeroeg, yang harus menghadapi dunia mereka yang sama dengan permasalahan yang berbeda, digambarkan dengan sangat baik seakan-akan mereka memang benar ada dan hidup pada masa itu. "Aku" yang lebih tenang, mungkin karena didikan orang tua, selalu berusaha mati-matian untuk menjaga persahabatannya dengan Oeroeg meskipun hal ini tidak terlalu disukai orang tua dan teman-temannya yang lain. Sementara Oeroeg, karakternya lebih keras. Tidak peduli pada apa kata orang dan terkesan tidak butuh teman. Beranjak dewasa, sebelum nilai-nilai kebangsaan tertanam kuat dalam dirinya, ia berusaha sekuat tenaga menampilkan citra sebagai orang berpendidikan dari kelas atas dengan menggunakan pakaian berkelas, lebih banyak bicara Belanda bahkan menolak jika harus membuka siapa orangtuanya. Di sisi lain, si "aku" tampak menikmati saat ia bisa bersama keluarga Oeroeg dan merasakan kerinduan luar biasa pada suasana Kebon Jati yang ia anggap sebagai kampung halamannya.

Konflik-konflik identitas yang mereka alami adalah buah dari pergolakan sebuah bangsa pada masa itu. Saat bangsa pribumi sudah mendapatkan pendidikan yang cukup, beberapa sadar pada kondisinya dan ingin berjuang atas nama bangsa. Walaupun beberapa yang lain, demi kepentingan pribadi, mengabaikan nasib orang-orang sedarahnya. Di sisi lain, ada bangsa Belanda yang enggan melepaskan kegemilangan yang mereka dapatkan di Hindia, masih merasa diri mereka yang paling santun dan beradab karena warna kulit mereka. Meskipun, beberapa di antaranya menaruh empati yang sangat besar pada kehidupan rakyat tertindas dan bersedia menanggalkan keeropaannya demi dunia yang lebih adil. Jangan dilupakan juga kemelut para Indo, blasteran yang berada di area abu-abu, berusaha mati-matian menjadi Eropa namun seringkali terganjal oleh setengah darah pribumi yang mengalir di tubuh mereka yang juga tidak bisa begitu saja diterima oleh bangsa pribumi.

Saya percaya bahwa identitas seseorang tidak melulu, bahkan mungkin lebih banyak tidaknya, dipengaruhi oleh siapa orang tua kita dan darimana kita berasal. Identitas ditentukan oleh dimana kita ingin mengakar, kita merasa nyaman untuk tumbuh, bukan oleh tanda yang dikenali apalagi hanya secarik kartu. Saya pernah berdiskusi soal pindah kewarganegaraan. Buat saya, itu bukan hal yang tidak mungkin bisa saya lakukan. Menjadi Indonesia bukan berarti harus menjadi warga negara Indonesia. Sekalipun misalnya saya tiba-tiba menjadi warga negara Afrika Selatan, saya akan tetap Indonesia. Bukan karena warna kulit saya sawo matang dan bola mata saya hitam, tapi karena saya sudah berakar di sini. Oya, dan siapa yang tahu pasti kalau leluhur kita berdarah murni Indonesia?

Saya tidak akan berpanjang lebar soal isu ini, mungkin di tulisan lain. Kembali ke Oeroeg, ternyata cerita ini sudah pernah diangkat ke layar perak pada 1993, kerjasama Belanda, Belgia dan Indonesia. Ada dua nama yang saya kenal turut bermain di film itu, Adi Kurdi dan Ayu Azhari. Sepertinya saya harus cari filmnya untuk melengkapi buku yang sudah saya baca ini.

Adalah Hella S. Haasse yang menulis kisah Oeroeg. Tulisan-tulisannya banyak berlatar belakang Hindia-Belanda, tempat ia lahir dan dibesarkan. Ia tutup usia pada September 2011 di umur 93 tahun dan telah menerima banyak penghargaan di bidangnya serta dalam dunia literasi Belanda mendapatkan julukan "The Grand Old Lady".

Data buku 
Judul: Oeroeg 
Penulis: Hella S. Haasse
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Oktober 2009 (naskah asli 1948)
Tebal: 144 hlm
baca selengkapnya

13 November 2011

Positif: Status dan Pikiran


Saya masih ingat, siang itu saya sedang bekerja di depan komputer. Di belakang saya, kawan saya duduk di meja panjang, menghadap laptop. Saya mendengar ia lalu menggeser kursinya dan berdiri menghampiri saya membawa secarik kertas kemudian memberikannya kepada saya. Sambil tersenyum ia bilang, “Aku positif”. 

Saya sudah bekerja di isu HIV & AIDS cukup lama. Meksipun saya bukan orang lapangan, dalam beberapa pertemuan tidak jarang saya bertemu dengan orang yang terinfeksi HIV (orang menyingkatnya ODHA, saya memilih tidak pakai singkatan karena untuk orang yang terinfeksi virus lain juga tidak ada singkatannya). Beberapa kali juga saya mendengar kabar, si A baru VCT dan hasilnya positif, atau si B meninggal karena AIDS. Namun ketika kawan saya sendiri yang mengatakan ia positif, perasaan saya campur aduk. Usaha saya sekuat tenaga untuk akhirnya memberikan respon, “Jadi, apa rencanamu?”

Usianya beberapa tahun lebih muda dari saya. Kegiatan dan ketertarikan kami pada isu yang sama membuat kami dekat.Dia sangat periang dan setiap kehadirannya selalu meramaikan suasana. Maka ketika ia memberikan kabar itu, ada rasa khawatir kalau ia akan berubah walaupun saya tahu pengetahuannya soal HIV & AIDS tergolong advance. Saya sempat bingung juga dengan pengetahuan yang dia punya, kenapa masih bisa terinfeksi. Tapi saya tidak mau menyinggungnya, sudah tak ada guna. 

“Ya sudah, aku nikmati saja hidup selagi bisa,” jawabnya masih dengan tersenyum. Namun kali ini senyumnya agak pahit. Saya lalu memberikan nasihat untuk menjaga gaya hidupnya. Nasihat yang saya yakin dia sudah tahu. Soal kematian, saya bilang itu tidak bisa diprediksi, bisa jadi saya yang lebih dulu mati karena tertabrak kereta atau semacamnya. Dia kembali tersenyum.

Saya mungkin bukan teman yang baik dalam hal ini. Beberapa kali saya bersikap sok tak peduli saat kawan saya itu membandel kalau saya mengingatkan dia untuk mengurangi aktivitas di malam hari. Pada akhirnya saya cuma bilang, “Terserah. Itu hidupmu”. Mungkin kalimat itu akan benar-benar terdengar demikian kalau lawan bicara saya orang lain. Tapi karena dia kawan baik, saya selipkan nada kecewa dalam kalimat itu untuk menunjukkan kalau saya sebetulnya peduli tapi tidak memiliki hak untuk mengatur hidupnya.

Keterlibatannya dalam kelompok dukungan sebaya dan keputusannya mengonsumsi ARV meskipun hasil tes CD4 nya masih bagus di kemudian hari, terus terang sangat mengejutkan saya. Pertama, terlibat dalam kelompok dukungan sebaya berarti siap untuk diketahui statusnya oleh teman-teman kami yang lain, mengingat sebagian besar teman kami juga bekerja di isu HIV & AIDS. Bukan tak mungkin juga kegiatannya akan tercium oleh keluarganya. Kedua, keputusan mengonsumsi ARV adalah kontrak seumur hidup, membutuhkan komitmen. Hal yang saya khawatirkan adalah keputusan-keputusan tersebut diambil karena tergesa-gesa. Sekali lagi, saya merasa telah gagal menjadi teman baik, tidak bisa membantunya memberikan pertimbangan-pertimbangan yang mungkin dia butuhkan saat akan mengambil keputusan.

Kepindahan saya ke kota lain beberapa bulan berikutnya membuat kami jarang berkomunikasi. Hanya sesekali menelepon atau berkirim pesan singkat. Itupun tak pernah menyinggung urusan kesehatannya. Sekali dua kali kami bertemu, tapi tak pernah lama dan hadirnya beberapa teman lain menghalangi saya untuk menanyakan kabarnya lebih dalam. Sampai akhirnya, saat dia datang ke Jakarta untuk sebuah urusan, kami memiliki waktu yang cukup untuk berbicara banyak.

Keceriaannya masih ada. Namun ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Kawan saya sering bicara dengan tatapan entah kemana. Kadang saya menebak-tebak dimana pikirannya saat dia bicara. Kali ini, setiap dia bicara, saya tidak hanya menebak, tapi saya juga bisa merasakan dimana dia sedang berada.  Hamparan rumput yang luas dengan sinar matahari yang hangat. Dia berubah.

“Aku sekarang berusaha menerima semua yang ada dalam diriku, termasuk virus-virus sialan ini,” katanya tenang, namun dengan nada sedikit mengejek saat dia mengatakan sialan. Dia menceritakan keterlibatannya di sebuah organisasi yang memberikan dampak luar biasa pada bagaimana ia memandang hidup. Ia mencoba bermeditasi dan mengakarkan dirinya pada alam semesta. Saya takjub.

Saya berkaca pada diri saya sendiri. Sejauh mana saya sudah bisa menerima segala hal yang ada dalam diri saya? Masih pantaskah saya berkeluh kesah soal keseharian saya yang kadang menjemukan atau merasa pesimis tentang masa depan saya? Dan dimana rasa terima kasih saya pada alam semesta yang sudah memberikan banyak hal dan pelajaran? Semua orang berubah. Kawan saya berubah menjadi positif, tidak hanya statusnya saja, tapi kini juga pikirannya.

Bernegosiasi dengan HIV yang ada dalam tubuh bukan perkara mudah. Bukan soal virus atau rentetan terapi yang harus dijalani yang membuatnya berat. Lebih dari itu, lingkungan sosial yang masih terperangkap dalam mitos soal HIV acapkali menjadi masalah yang harus dihadapi: teman-teman, keluarga, layanan kesehatan dan sebagainya. Omong kosong kalau saya mencoba mengatakan kepada semua orang yang terinfeksi HIV untuk berpikiran positif saat masyarakat masih memandang negatif keberadaan mereka. Setiap orang punya masalah masing-masing yang berat ringannya tak bisa kita perbandingkan. 

Saat ini, lebih banyak teman, bahkan ada satu saudaranya yang sudah mengetahui status kawan saya. Alih-alih terbebani, kawan saya malah terlihat bebas saat menceritakannya pada saya. Ada secercah cahaya dalam hati saya saat saya tahu orang-orang itu, teman dan saudaranya, bisa menerima statusnya. Kami mungkin tidak berandil banyak dalam memberikan dukungan kepadanya. Satu-satunya yang bisa saya berikan adalah tetap menjadi kawan baik, mendengarkan ceritanya dan melihatnya sebagai manusia utuh.

Di mata saya, kawan saya adalah contoh orang yang terinfeksi HIV namun tidak mengungkung dirinya dalam kekhawatiran tak perlu soal statusnya. Ia tahu kehidupan dan masa depannya akan berubah sejak HIV hidup dalam aliran darahnya. Namun tak membutuhkan waktu lama baginya untuk membuka jalan baru yang seindah, atau bahkan mungkin lebih, dari mimpi-mimpinya di masa lalu. Ya, usianya lebih muda dari saya, tapi pengalamannya menghadapi kehidupan jauh melebihi saya. 

(Jakarta)






baca selengkapnya

8 November 2011

Happiness vs Roller Coaster

What is happiness? A simple question with complicated and confusing answers. One of my colleagues asked me this evening. It took a few minutes before I answered, "it is... something that set you free?" It was absolutely not a good answer!

He and two other colleagues were discussing the difference between love and fall in love. My colleague said that love brings happiness and fall in love brings joyful. I do agree with his idea. When you fall in love, you are like riding a roller coaster, up and down, full of fun and your adrenaline is pumped. Exciting. But when you are in love, you feel like you are in the prairie with the blue sky and the songs of the birds, peaceful and... you feel free.

Happiness comes from the fulfillment of our needs, not our desires or wants. The problem is that many people are trapped in the last one. We think that what we want is always what we need. And what is the difference between needs and wants? It is also not an easy question to be answered. Frankly, I don't have enough competency to define them. But since I'm writing this on my personal blog, I can say whatever I want (or I need?? hehe..) 

Needs are natural. I could say that everybody on this earth have the similar needs as Abraham Maslow showed them on the hierarchy of needs. Freud called it id. We need to eat, to love, to be loved, to be appreciated, etc. They come from inside. 

And what about wants? Wants are more socially constructed. When someone says that she is hungry, she needs to eat (yes, we can say she wants to eat, but still, she needs to wipe her hunger). If she is Javanese, her parents maybe tell her to eat rice (Freudian defined it as ego for her want to eat rice, and super ego because she doesn't prefer to eat the stolen rice, bread, or even shoes, hehe..) And when she needs someone to be her partner, her society maybe tell her to find a good looking, mature and prosper man (super ego has controlled her to create an ideal partner and mostly, heterosexual, therefore she has to reduce her same sex sexual desire if she feels it). So,
it seems that the wants are actually the way to fulfill the needs. 

Back to our topic that many people trapped in their wants instead of focus on their needs. We try to fulfill our wants with the aim to reach the happiness. And what happen then? We may feel joy, fun, and define it as a happiness. I can't say that it is wrong. The definition of the happiness itself may vary from one person to another. But in my opinion, that kind of 'happiness' will not be long-lasting, so I will call it 'the pseudo of the happiness' or in another word, it is an ecstasy. We have only fulfilled our wants, not our needs. Once you don't want it anymore, you will loose all of the feeling. Some parts inside you are still empty and need to be completed.

Ya, sometimes it's hard to find what do we really need since we belong to a society. What I can suggest is we maybe need to do a little reflection: "What do we feel after we have reached what we think we need? Do we feel like in the peaceful prairie? Or we feel like we are riding a roller coaster?"
baca selengkapnya

25 Oktober 2011

Serumit Membalik Telapak Tangan

Beberapa teman saya belum menikah, banyak diantaranya yang berusia di atas saya. Sebagian memang seperti tidak berminat dengan pernikahan, bahkan mungkin juga tidak dengan berpasangan. Tapi sebagian yang lain tampak sekali mendambakan pernikahan, cuma saja 'belum ketemu yang cocok' atau 'belum diberi jodoh'.

Untuk alasan pertama, yang 'belum ketemu yang cocok', di telinga saya terdengar lebih baik daripada yang alasan kedua. Mungkin karena saya berprasangka kalau alasan kedua itu sebetulnya sebelas dua belas dengan yang pertama, cuma dibungkus 'diberi' yang lebih terkesan ada kaitannya dengan yang namanya nasib, dengan takdir, dengan Sang Pengatur Hidup, dengan yang sampai saat ini masih saya ragukan. Mereka percaya kalau Ia belum berkehendak, mau dicari sampai tujuh samudera juga si jodoh itu tidak akan ketemu. Saya melihatnya, urusan mencari pasangan ini jadi begitu rumit, berkelindan dengan roda takdir.

Ayah saya, punya teorinya soal takdir -yang belakangan saya percaya teori tersebut- termasuk urusan jodoh perjodohan. Beliau bilang seperti ini kira-kira, "Takdir itu turun saat kita sudah memilih, jadi kalau kita tidak mencari dan memilih jodoh, tak akan ada juga takdir berjodoh bagi kita". Dulu saya anggap ide itu gila karena keyakinan buta saya saat itu. Sekarang saya tahu darimana otak liar ini saya dapatkan.

Terus terang saya bingung memberi jawaban saat ada orang yang bertanya bagaimana cara mendapatkan pasangan. Apalagi kalau orang yang bertanya bisa dengan mudah menarik perhatian orang lain. Ya ya... saya tahu berpasangan itu berbeda dengan berhubungan seks. Meskipun dua-duanya kadang tak bisa dipisahkan, tapi pada beberapa kasus ada yang berpasangan dan memilih untuk menunda berhubungan seks karena alasan nilai-nilai individu, dan ada juga yang bisa melakukan hubungan seks dengan orang yang baru dikenal satu atau dua jam lalu, tanpa terikat oleh kata "pasangan".

Biasanya saya jawab dengan kalimat klise, "Mungkin kamu belum benar-benar membuka hati?", "Mungkin kamu butuh bersosialisasi di lingkungan lain?", "Mungkin kamu punya kriteria yang belum bisa kamu temukan dari orang-orang yang ada di sekitar kamu sekarang?". Mungkin... Selalu banyak kemungkinan, tapi saya hampir selalu mencoba menghindari mengatakan, "Mungkin bukan takdirmu..."

Bagi beberapa orang, berpasangan bukan perkara yang mudah. Pertama, kadang kita terikat dengan kriteria-kriteria yang terlalu sempurna mengenai seperti apa pasangan yang kita inginkan. Ini salah satu mungkin lain dari sulitnya orang mendapatkan pasangan atau menjadi begitu mudahnya orang memutuskan hubungan dengan pasangannya karena ada sesuatu yang sangat tidak kita suka, mengupil di depan banyak orang, misalnya.

Saya tidak sengaja menemukan buku Erich Fromm, The Art of Loving, di rumah teman saya. Saya cuma baca satu halaman (saya harus mendapatkan buku itu!) dan ya... dia mengatakan, banyak orang seringkali hanya terfokus bagaimana agar diri kita dicintai. Menganggap itu sebagai kebutuhan. Butuh memiliki pasangan yang mencintai dan bisa menerima diri kita alih-alih sebaliknya. Kita sendiri menekan kebutuhan kita yang lain, kebutuhan untuk mencintai. Bahkan untuk urusan cinta mencintai, kita masih saja egois.

Apakah egois soal cinta itu salah? Tentu tidak. Dalam kadar tertentu, cinta itu memang egois. Jika ada dua orang yang memenuhi kriteria kita datang bersamaan menyatakan cinta kepada kita, apa kita akan lantas menerima dua-duanya sekaligus? Mungkin. Tapi jika kita termasuk penganut monogami, yang menekankan kita untuk memlih satu saja pasangan, siapa yang akan kita pilih? Sama seperti ketika kita meninggalkan orang yang sudah menjadi pasangan selama bertahun-tahun karena tanpa sengaja kita mendapatkan kenyamanan yang lebih dari orang yang kita temui di suatu senja dan hati kita mengatakan, "Ya, dia orangnya!". Mungkin kita memikirkan perasaan orang yang tidak kita pilih, orang yang kita tinggalkan, tapi saat kita memilih yang lain dan meninggalkan yang lainnya, kita tak lebih dari seorang egois, bukan?

Perkara lain dalam berpasangan adalah saling memahami satu sama lain. Beruntung jika dua orang yang berpasangan bisa meraih mimpinya masing-masing dan masih terikat pada sebuah komitmen. Namun tak jarang, salah satu atau mungkin dua-duanya, harus mengalah. Kita harus mengubur mimpi kita sebelumnya lalu memupuk mimpi yang baru bersama pasangan. Bagi saya, inilah saat-saat ujian. Ujian bagi kadar keegoisan kita. Saat kita bertanya, apakah jika kita lupakan mimpi pribadi kita demi bisa berpasangan akan membuat kita tetap bahagia?

Maaf, saya tidak sedang bicara tentang cinta buta yang artinya kita menurut begitu saja apa yang dikehendaki pasangan kita. Kata kuncinya ada di negosiasi. Apakah kita dan pasangan sama-sama menawarkan alternatif pilihan? Ada proses dialog bagaimana untuk meminimalisir kerugian di masing-masing pihak. Win and win solution bagi saya itu fatamorgana. Pasti selalu ada yang harus mengalah. Mengalah bukan pada pasangan, tapi pada kondisi yang memaksa kita untuk mencari alternatif solusi terbaik bagi diri kita dan pasangan.

Nah, saya malah seperti sedang tambah menakut-nakuti orang yang sedang mencari pasangan. Hehehe... tidak, tidak. Cinta bisa begitu kompleks jika kita membuatnya seperti itu, demikian juga sebaliknya, karena bagi saya, cinta itu energi yang luar biasa, kita bisa membuat prosesnya menjadi sederhana dan mudah. As easy as one, two, three... (Plain White T's - 1234)



baca selengkapnya

9 Oktober 2011

Ideal dan Realita: Saya

Bagi saya, mengunjungi Jogja adalah berarti pulang. Saya tidak punya keluarga di sana, jika yang dimaksud dengan keluarga adalah orang tua atau kakak adik kandung atau orang-orang yang berhubungan darah. Tidak pula ada rumah di sana, jika yang dipahami rumah sebagai sebuah bangunan berpintu dan berdaun jendela. Keterikatan saya dengan Kota Gudeg itu tidak sebatas hanya karena saya pernah kuliah di salah satu universitasnya. Lebih dari itu, sebagian proses penting dalam hidup saya dimulai di antara keramaian Malioboro dan heningnya Kaliurang di malam hari.

Bagaimana saya memandang konsep keluarga dan rumah yang berbeda hanya satu dari sekian banyak proses perubahan dalam diri saya. Toh saya lahir dan dibesarkan, sangat beruntung, dalam keluarga yang utuh, lengkap dengan rumah -dalam arti yang sebenarnya. Yogyakarta telah memberikan banyak pelajaran tentang hidup, cinta dan perjuangan. Dan sekali lagi, saat kemarin saya menghabiskan waktu hampir satu minggu di sana, Yogyakarta dengan nyata memberikan satu lagi pelajaran: bahwa materi bukan segalanya.

Bekerja di Jakarta tentu saja menjanjikan isi dompet lebih tebal, walaupun terkikis juga oleh pengeluaran sehari-hari yang selangit dan gaya hidup. Saya mendapatkan gaji berkali-kali lipat dibandingkan saat saya bekerja di Yogyakarta. Itu patut saya syukuri. Tapi tentu saja ada tebusannya. Awalnya saya pikir, kekalutan saya hidup dan bekerja di ibukota hanya sebuah proses saja. Toh banyak teman dan orang lain yang bisa menikmati hiruk pikuknya kota Jakarta. Saya mengira saya akan juga bisa seperti mereka. Tapi ternyata tidak.

Saya masih bisa tertawa di sini. Tapi tawanya terasa lain. Beberapa kali saya merasa ada sesak dalam tawa saya. Saat saya di Jogja kemarin, saya bisa tertawa lepas. Segar dan menyenangkan.

Saya bertemu banyak orang di sini. Beberapa yang sebelumnya hanya saya dengar saja nama mereka karena posisi dan kehebatan mereka. Siapa saya di depan mereka? Saat saya di Jogja kemarin, saya bertemu kenalan-kenalan lama yang mengakui keberadaan saya. Bangga dan melegakan.

Saya juga memiliki teman di sini. Sebagian besar hanya saya temui saat jam kantor. Saya akui saya yang membuat pagar karena merasa cara berpikir saya dengan mereka dalam beberapa hal agak berbeda. Saat saya di Jogja kemarin, kawan-kawan saya biarkan bebas bermain di halaman saya. Nyaman dan membuat saya hidup.


Dari yang hanya teori bahwa materi bukan segalanya, saya mengalami sendiri bagaimana kehidupan yang membuat segar, bangga dan nyaman itu tidak saya dapatkan dari materi. Hampir satu minggu saya hidup dalam dunia ideal saya: membuat desain dengan santai, mengobrol sampai larut malam ditemani kopi dua ribu lima ratus rupiah, mengata-ngatai dan dikata-katai kawan tanpa ada sakit hati, tidak mengalami lalu lintas macet berjam-jam.

Sekarang saya kembali ke realita yang sebetulnya saya sendiri yang menciptakan. Awalnya ada rasa sesal, tapi saat saya sadar bahwa apa yang sedang saya lakukan adalah juga untuk mendapatkan kehidupan ideal yang saya inginkan, saya berusaha menghidupkan kembali diri saya. Setidaknya, saya tahu kemana saya harus pulang saat saya nanti sudah merasa letih.
baca selengkapnya

23 September 2011

Makan Siang dan Hitam Putih Keyakinan

Sebuah percakapan saat makan siang antara seorang perempuan dan seorang laki-laki yang usianya separuh usia si perempuan.

P : Tidak sholat?
 

L : Tidak.
 

P : Oh, anda Kristen? Atau Katholik?
 

L : Bukan keduanya. Saya tidak punya agama.

Si perempuan terdiam sebentar. Dia berpikir dan ingin mengatakan mana ada orang yang tidak punya agama. Tapi laki-laki yang sedang duduk di depannya ini menjawab tanpa ada tanda ia sedang bergurau.


P : Kenapa?
 

Si laki-laki tahu si perempuan punya agama, tampak dari atribut yang dikenakan. Agama yang sama dengan agama yang ia tinggalkan. Mustahil tak akan ada debat kusir jika ia mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya merasa lebih tenang hidupnya setelah tak lagi menganut agama itu. Maka ia hanya menjawab:
 

L : Tidak apa-apa. Yang pasti melalui proses.
 

P : Ah... proses. Usia anda masih muda. Mungkin anda sedang kebingungan. Tidak masalah.
 

Si laki-laki hanya tersenyum. Ya, kebingungan. Tapi ia merasa beruntung dengan kebingungan yang ia rasakan yang mungkin tak pernah dialami oleh kebanyakan orang lain yang bak kerbau dicocok hidung menerima begitu saja doktrin yang diturunkan dari ibu dan ayah mereka.
 

Si perempuan memandang si laki-laki, ada rasa khawatir. Laki-laki itu mungkin seusia anaknya yang paling tua. Ia bersyukur bisa memberikan pendidikan agama yang cukup untuk anaknya. Lebih dari itu, ia bersyukur ia masih memiliki agama. Seperti apa hidup anak muda itu tanpa agama. Dengan agama, si perempuan merasa berjalan di jalan terang, membuatnya merasa aman dan tenang.
 

P : Janganlah tidak beragama. Lebih baik pindah agama daripada tidak memiliki satupun karena agama itu pegangan hidup.
 

L : Maaf, saya punya pegangan hidup sendiri. Saya tahu nilai yang baik dan buruk.
 

P : Ya, tapi tanpa pemimpin... ah, nanti juga anda akan merasakan saat anda berkeluarga nanti.
 

Si perempuan sekali lagi melirik dengan khawatir laki-laki muda yang duduk di depannya, sibuk menghabiskan jus jeruk dari gelasnya. Kini ia teringat pada kakak laki-lakinya.
 

P : Kakak saya pindah agama saat usinya tak lagi muda. Dan itu menyulitkan anak-anaknya.
 

L : Menyulitkan anaknya?
 

P : Ya, mereka diminta memberikan ucapan hari raya yang dirayakan anak-anaknya tapi tidak oleh ayah mereka.
 

Si laki-laki hampir tersedak. Tampak persoalan yang serumit menyelesaikan 1 x 1 x 3.
 

P : Saya dulu sekolah di sekolah berbasis agama C yang berbeda dengan agama yang saya anut. Jadi saya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Ah, tapi sayang, kakak saya pindah ke A, bukan C.
 

Si laki-laki kali ini hampir menelan gelas jusnya. Sungguh dia tidak paham dengan cara berpikir si perempuan itu, kontra diksi dalam waktu sepersekian detik.
 

Si perempuan berputar-putar dalam pikirannya sendiri. Apa yang terjadi pada anak muda ini hingga ia memutuskan tidak beragama? Tidakkah ia takut pada tuhan? Pada surga dan neraka?
 

L : Maaf, saya permisi duluan. Saya mau merokok.
 

P : Oh, silakan. Oya, Anda juga harus memikirkan bagaimana nanti saat anda menikah dan punya anak, mungkin itu akan menjadi pertimbangan soal agama anda.

Si laki-laki tersenyum mengangguk.
 

Si perempuan memandang punggung laki-laki muda yang beranjak menuju ruang merokok. Kilatan memori kembali menghinggapi benaknya. Ah ya, ibunya. Ibunya pun meski mengaku beragama tapi tak pernah beribadah. Lalu ia ingat ayah si ibu, kakeknya, yang menyebut nama tuhan di tarikan nafas terakhirnya padahal ia tahu sang kakek adalah penganut aliran keyakinan yang tak pernah menyebut nama tuhan dengan sebutan itu.
 

Si laki-laki teringat pada ayahnya yang sudah tak lagi menanyakan kapan akan menikah karena sepertinya sudah mulai paham kalau pernikahan bukan suatu kewajiban dan tujuan hidup bagi anaknya. Ia menyalakan sebatang rokok, menengok sebentar ke belakang, melihat si perempuan, lalu bergumam, 'Kasihan...'
baca selengkapnya

6 September 2011

Kehilangan

Pagi ini saya bangun pagi dengan kabar yang menyesakkan. Sebuah berita kematian. Seseorang yang baru satu tahun saya kenal, bertemu hanya sekali saat Natal tahun lalu dan hanya berkirim sapa lewat email. Sedih sudah pasti, sampai menangis juga. Tapi apa mau dikata jika sang waktu sudah menginginkan demikian.

Kehilangan saya pertama kali yang paling membekas adalah saat kakek saya meninggal. Masih duduk di SMP kelas 1 saya waktu itu. Kakek saya memang sangat dekat dengan cucu-cucunya, terutama lima cucu pertamanya yang kebetulan lelaki semua. Saat liburan sekolah, dia mengantar saya dan dua kakak saya mengunjungi sepupu kami di Bandung. Saya juga sering diantarnya ke pasar untuk membeli balon tiup yang hadiahnya bermacam-macam (saya bisa mendapatkan semua hadiahnya karena kakek saya membelikan satu tenteng utuh balon yang ditiup dengan sedotan mini itu).

Saat kakek hendak menutup usia, kami semua berkumpul di dekat tubuhnya yang sakitnya tak bisa menutupi gagah tegap di masa lalunya. Seingat saya, dari empat anak perempuannya, hanya satu orang yang datang belakangan saat kakek sudah benar-benar tidak bernafas lagi. Jerit tangisnya meledak lebih kencang dibandingkan kami yang sudah beberapa waktu menemaninya, mendaraskan doa-doa agar ia diberikan keselamatan. Ibu saya, anak kedua kakek, tampak lebih tenang. Entah karena hampir setiap hari sebelum kakek meninggal ibu saya selalu menyempatkan berkunjung jadi sudah lebih bisa menerima saat itu datang, atau memang karena bawaannya ibu saya demikian. Saya mungkin mirip ibu, berusaha untuk tetap tenang, meskipun tidak dipungkiri air mata tidak bisa berhenti mengalir.

Kehilangan seseorang adalah konsekuensi dari kita hidup. Oh, mungkin lebih tepat kalau saya bilang kehilangan adalah risiko dari rasa memiliki, dan karena rasa memiliki adalah manusiawi sehingga demikian pun dengan rasa kehilangan. Ayah saya menyebut orang yang sudah tidak bisa merasakan rasa kehilangan sebagai orang yang kurang waras, mungkin maksudnya kurang manusiawi. Meskipun ayah saya bilang, justru itulah obat panjang umur (teorinya agak berbelit, bisa jadi satu blog sendiri nanti), tapi saya sama sekali tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa merasakan kehilangan. Namun saya tentu juga tidak ingin berkubang dalam kesakitan dan kesedihan melulu. Kehilangan adalah, sama seperti emosi lainnya, sesuatu yang saya harus kontrol. Artinya, saya mungkin sedih, tapi bukan berarti saya jadi tidak makan tiga hari tiga malam.

Tentu saja saya paham tidak semua orang sepemikiran dengan saya, atau mungkin ada yang awalnya sependapat tapi saat dihadapkan dengan suatu kejadian luar biasa, hilang kontrol menjadi diwajarkan. Tak ada yang salah dan benar. Setiap orang toh punya cara masing-masing mengelola emosinya. Setiap orang punya pilihannya sendiri-sendiri untuk bergerak atau hanya duduk di sudut ruangan. 

Pilihan dan cara menghadapi kehilangan juga terbentuk dari nilai-nilai yang kita yakini. Meyakini bahwa orang yang meninggalkan kita akan masuk surga, mungkin manjur bagi beberapa orang untuk bisa sedikit berpasrah. Bagi yang percaya reinkarnasi, tentu harapan kehidupan baru yang jauh lebih baik bagi si mati. Saya tidak mau ambil pusing kemana akan perginya jiwa setelah mati. Itu jawaban yang saya belum menemukan jawabannya. Yang saya inginkan adalah saya mampu mengenang kebaikan-kebaikan orang-orang yang meninggalkan saya, seperti orang yang baru saja 'pergi' tadi pagi. Masih ingat rasanya saat ia tersenyum dan bermimik jenaka saat mengenakan peci hadiah Natal dari saya. Beruntung ukurannya pas dengan ukuran kepalanya. Saya tidak akan lupa saat saya online, tiba-tiba dia datang hanya bertanya kabar. Saya tentu juga tidak akan pernah lupa meskipun tubuhnya sedang digerogoti kanker, ia mau mengantarkan saya ke hutan tempat istrinya dibesarkan.

Jika surga memang ada, yang artinya tuhan juga ada, saya minta tuhan menempatkannya ia di tempat indah itu. Jika jiwa manusia hanya sekumpulan energi, saya berharap energinya tetap berada di sekitar orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya. Setidaknya, saat ini, energi itu tak merasakan sakit lagi. Damai. Thanks for your love and kindness, you will always be in our hearts, Henk!
baca selengkapnya

27 Agustus 2011

Dicari: Buku Anak Berkualitas

Ini kali kedua saya akan pulang ke rumah orang tua saya setelah saya pindah ke Jakarta. Pulang ke rumah orang tua yang tidak pernah lebih dari 3 kali dalam setahun adalah berarti siap-siap membeli oleh-oleh untuk sanak saudara di sana, apalagi untuk keponakan-keponakan saya. Saat saya tinggal di Jogja, membeli oleh-oleh tidak terlalu membingungkan, cukup jalan di Malioboro dan tinggal memilih barang. Beragam, harga murah dan khas Jogjanya juga dapat. Di Jakarta?

Pulang pertama beberapa bulan kemarin, saya belikan saja dua keponakan laki-laki saya buku bacaan. Sementara untuk keponakan
perempuan saya belikan boneka kepiting. Bukan alasan gender, tapi karena si keponakan perempuan ini umurnya belum ada 1 tahun, dan ternyata, keponakan perempuan saya tidak suka boneka hehe..

Kali ini, awalnya mau saya belikan saja keponakan-keponakan saya yang laki-laki baju baru. Ya, itung-itung baju lebaran. Untung saja tidak jadi, karena selain saya bingung dengan ukuran dan kesukaan mereka (warna, gambar, dan sebagainya), keponakan saya yang paling besar mengirimi saya pesan singkat untuk tidak dibelikan baju lebaran karena sudah punya. Hahaha... anak jaman sekarang. Akhirnya, saya kembali membelikan mereka buku. Berharap keponakan-keponakan saya jadi punya minat baca, plus tambahan pengetahuan. Maka pergilah saya ke toko buku terdekat.

Butuh waktu berjam-jam bagi saya untuk memilih buku yang tepat. Pertama, saya harus yakin kalau buku yang akan saya berikan sudah sesuai dengan kemampuan mereka, usia mereka. Kedua, saya ingin membeli buku yang tentu saja berkualitas baik dari segi isi maupun tampilannya. Tentu, saya menghindari buku yang bias gender dan terlalu penuh dengan doktrin.

Terus terang saya bingung dengan buku-buku anak-anak yang ada di pasaran. Saya merasa anak-anak jaman sekarang dituntut lebih dari anak-anak di jaman saya dulu (atau dulu saya tidak diperlakukan begitu ya?). Buktinya, dari sekian banyak buku, kebanyakan lebih fokus pada peningkatan kemampuan anak, yang menurut saya terlalu memaksa. Mengenal huruf dan angka untuk anak di bawah 5 tahun, masih masuk akal lah. Tapi sampai juga dikenalkan bahasa Inggris, Mandarin, Arab apalagi Korea? Saya ngelus-elus dada. Saya sampai harus berpikir beribu kali membelikan keponakan saya buku bilingual, apalagi trilingual. Apa para penerbit itu memang menangkap kebutuhan pasar (yaitu orang tua) yang menginginkan anak-anaknya bisa lancar cas cis cus bahasa asing?

Bukannya saya tidak ingin keponakan saya bisa juga lancar bicara bahasa asing, cuma saya pikir, itu ada waktunya sendiri. Toh di keluarga saya tidak ada yang bicara Mandarin, Arab atau Korea. Yang saya pentingkan lebih dulu adalah bagaimana agar bisa menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini, yang tentu saja tidak bisa didapat dengan berlatih menulis rapi, menghitung perkalian atau menghapalkan beberapa kata Mandarin.

Saya lalu mencoba mencari buku-buku terjemahan. Ada satu buku yang cukup menarik dengan gambar yang sederhana dan sangat anak-anak. Saya tertarik karena judulnya adalah bagaimana agar anak bisa mengenal dan hidup dalam keberagaman. Tapi setelah saya baca sekilas, di dalamnya ada beberapa bagian yang kurang cocok diterapkan untuk keponakan saya dalam budayanya dimana dia hidup. Saya ingat, saya juga pernah berniat membelikan keponakan saya sebuah buku tentang bagaimana menghadapi lingkungan sosial di sekolah. Bagus bukunya, cuma sayang, lagi-lagi konteks budaya. Misalnya ada bagian saat sang tokoh juga harus berhadapan dengan pacar ibunya, dan sebagainya. Untuk anak umur 8 tahun yang tinggal di kota kecil di Indonesia, konsep-konsep seperti itu mungkin akan membingungkan, walau tidak mungkin ada beberapa anak yang harus menghadapi kondisi tersebut, tapi tidak dengan keponakan saya.

Ah semoga saja buku anak-anak yang bermutu dan mendidik tidak akan menjadi langka seperti lagu dan tontonan untuk anak-anak.
baca selengkapnya

7 Juli 2011

Hidup Bagai Air Mengalir: Ironi.

Tidak seperti biasa, pagi itu bis yang saya naiki tidak penuh sesak. Selain duduk nyaman, saya juga bisa membaca satu dua halaman buku yang sengaja saya bawa. Buku selalu ada di dalam tas saya untuk jaga-jaga kalau bermacet ria dalam bis terus mati kutu. Tapi lebih sering tidak dibacanya karena tangan saya sibuk bergelantungan, tidak kebagian tempat duduk.

Baru beberapa paragraf saya baca, seorang ibu dan anak perempuan berusia dua atau tiga tahun duduk di samping saya. Si anak melihat name tag yang saya gantung di leher dan menunjuk-nunjuknya tapi tidak mengatakan apapun. Si ibu yang merasa menunjuk-nunjuk orang lain sebagai perilaku tidak sopan, meraih tangan si anak, meletakkannya di perut si anak, lalu berkata, "Oomnya mau kerja. Nanti kamu sudah besar juga kerja." Saya tersenyum.

Nanti kamu sudah besar juga kerja, kalimat yang sederhana dan saya yakin tak ada tendensi apapun dari perempuan itu. Tapi dampaknya bagi saya? Saya tutup buku yang sedang saya baca lalu asyik dengan pikiran sendiri. Kumat.

Hidup manusia antara lahir dan mati sepertinya telah digariskan dengan sekian tugas, seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir selalu begitu: sekolah - kuliah - kerja - menikah - bereproduksi - pensiun. Secara siklus, umumnya mungkin memang seperti itu. Walaupun saya tahu ada banyak yang tidak bisa sekolah, tidak bisa kuliah, kerja, menikah dan bereproduksi, entah karena alasan pemiskinan, pemarjinalan atau perbedaan individu yang tidak mendukung. Pun ada beberapa orang yang meskipun mampu, tapi memilih untuk tidak mengambil salah satu atau salah dua tugas itu: memilih tidak kuliah, memilih tidak menikah atau memilih tidak memiliki anak, juga dengan sekian alasan.

Selain menjadi tuntutan sosial, yang menarik adalah adanya kerangka tertentu untuk merujuk setiap tugas tersebut secara lebih spesifik, sesuai dengan nilai yang ada di masyarakat. Agak ribet bahasa saya, mungkin dengan contoh akan lebih mudah dipahami. Sekolah, misalnya, diartikan jenjang SD sampai SMA, duduk dalam kelas dan bertemu guru enam hari dalam seminggu. Tak heran jika ada yang bilang, "Anak saya tidak sekolah, cuma homeschooling", yang berarti proses belajar, yang sebetulnya inti dari sekolah, yang dilakukan di luar lembaga sekolah, tidak termasuk 'sekolah'. Begitupun dengan bekerja. Bagi banyak orang, bekerja berarti di kantor, masuk pagi pulang sore dan sekian kriteria lainnya (kriteria ini tidak berlaku bagi beberapa pekerjaan yang dimaklumi perbedaannya lebih karena prestise: dokter, pilot, dsb). Tidak heran juga kalau akhirnya ada yang berkata, "Saya tidak bekerja, cuma buka usaha sendiri".

Saya lantas melihat diri saya sendiri, pagi itu di dalam bis menuju kantor. Saya bertanya kepada hati: inikah yang benar-benar saya inginkan? Pagi berangkat, di kantor duduk di depan komputer, sesekali berdiskusi dengan kawan, sore pulang, lima hari dalam seminggu. Saya membayangkan seorang saya yang lain, yang sehari-hari hanya melakukan apa yang benar-benar ingin saya lakukan. Penulis, pekerja seni, saya iri pada mereka yang seakan-akan mendapatkan semuanya: melakukan apa yang mereka mampu, mereka inginkan dan juga, yang paling penting, mendapatkan uang dari apa yang mereka lakukan itu. Belakangan, saya baru sadar, mungkin mereka juga tidak sebebas seperti apa yang saya bayangkan: berurusan dengan manager, dengan label, jadwal yang padat demi memenuhi kontrak, tuntutan fans dan celengan. Ah, memang tak ada yang bisa benar-benar lepas dari sistem sosial.

Esoknya, setelah makan siang, saya mengobrol dengan teman kantor saya. Dia menceritakan pengalamannya menjadi ibu rumah tangga selama tiga tahun. Bukan pengalaman yang cukup menyenangkan, saya duga. Beban dan tanggung jawab untuk mengurus rumah dan bayi menjadikan ia sering merasa tertekan dan lebih sensitif. Jiwa sosialnya menghendaki ia berkegiatan di luar, berjumpa dengan banyak orang dan menggunakan otaknya bukan melulu urusan susu basi atau harga bawang merah.

Saya lalu teringat kawan saya saat sekolah dulu. Dia seorang perempuan yang sangat rajin. Saat SD, kami bersaing mendapatkan posisi siswa teladan (sekolah kami berbeda tapi masih satu komplek). Beranjak SMP dan SMA, tidak seperti saya yang malah tambah melorot, dia makin bersinar. Kalau ada pekerjaan rumah kimia (dia paling jago urusan ini), saya rajin menyambangi rumahnya yang hanya 50 meter dari rumah saya. Sering, dia tidak membiarkan saya begitu saja menyalin pe-ernya, namun dengan sabar mengajari saya yang otaknya sudah tidak peduli dengan C4H2O atau apalah. Lulus kuliah, dia melanjutkan kuliah di pendidikan (kalau tidak salah dapat beasiswa juga, beda dengan saya yang akhirnya terdampar di universitas swasta selama 1 tahun). Ya, dia akan sangat cocok menjadi guru, dengan otak dan kesabaran yang luar biasa. Tapi apa yang kemudian terjadi? Sama seperti banyak teman perempuan yang pintar-pintar di sekolah, mereka hanya berakhir dengan mengurus anak dan suami, sambil menjalankan bisnis rumahan yang mungkin tidak butuh teori atom dan sejenisnya. Miris!

Tuntutan sosial. Selalu melulu soal itu. Saking kuatnya, tuntutan ini bahkan mengalahkan prinsip yang dianggap paling dasar bahkan oleh orang yang meyakininya: agama. Saat saya pulang kampung kemarin, saya, ibu dan adik melayat kerabat yang meninggal. Ibu saya bertanya soal jadwal tahlilan dan berapa banyak yang biasanya datang. Yang ditanya menjawab, "Kalau di sini banyak, bisa lebih dari 100 orang. Soalnya tidak enak kalau tidak datang, daripada jadi gunjingan sekampung" (terjemahan bebas dari si penutur yang bicara Sunda). Lha...

Guru saya di organisasi di Jogja, yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di pesantren, pun pernah mengajukan pertanyaan retoris pada saya, "Lebih kuat mana nilai agama dan kemanusiaan (sosial-pen)? Kemanusiaan!" Dia lalu mencontohkan kenapa orang memakai baju. Apa karena agama mengajarkan demikian atau lebih karena perasaan malu telanjang di muka umum, karena semua orang memakai baju masak kita memakai daun jati?

Manusia memang unik. Di satu sisi ingin mempertahankan kekhasan individu yang dimiliki masing-masing. Menonjol dengan apa yang dimiliki dan sejatinya ia. Namun di sisi lain, manusia juga tidak mau berbeda dengan kebanyakan orang alih-alih dianggap terlalu nyentrik atau bahkan kurang waras. Untuk yang terakhir, saya masih bertanya-tanya, apakah keinginan itu memang murni muncul dari dalam diri atau ditekankan sedari kita kecil untuk mengikuti kemana air mengalir? Adakah kemungkinan, dengan sistem yang ada sekarang, jika kita melawan arus itu kita bisa menemukan telaga lain yang sama jernihnya, bahkan mungkin lebih?
baca selengkapnya

6 Juli 2011

Pluralisme Kewargaan

Senang sekali saya mendapatkan buku ini. Gratis pula! :: thanks, dear =) ::

Kalimat awal di kata pengantar menyebutkan buku ini sebagai salah satu buah dari program kolaborasi empat negara yang dinamai Pluralism Knowledge Programme sejak akhir 2008. Segera, memori saya terbang ke satu tahun lalu (tepat di bulan ini), saat saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam salah satu kegiatan pada program yang sama. Dengan bingkai Summer School on Pluralism and Human Development, saya bersama sembilan belas orang dari empat negara tersebut berbagi pengalaman dan ilmu mengenai berbagai isu, termasuk pluralisme di negara masing-masing.

Belanda disibukkan dengan pluralitas warga negara, antara kaum imigran dan kaum yang mendaulat dirinya sebagai asli Belanda. Sementara di Uganda, isu kesukuan dan partai politik menjadikan negara tersebut tak pernah sepi dari kerusuhan. Di India, selain masalah kasta, ketegangan berbau agama juga menjadi isu. Yang disebutkan terakhir adalah isu besar yang sedang dihadapi di Indonesia saat ini.

Tak ayal, meskipun di judul buku ini tak disinggung sama sekali soal agama, saya langsung mengaitkan pluralisme yang dimaksud pastinya tak bakal jauh-jauh dari isu kepercayaan dan keyakinan.


Tulisan pertama dengan tajuk Pluralisme Kewargaan: Dari Teologi ke Politik yang ditulis Zainal Abidin Bagir dan tulisan kedua Keragaman, Kesetaraan dan Keadilan: Pluralisme Kewargaan dalam Masyarakat Demokratis (Zainal Abidin Bagir dan AA GN Ari Dwipayana), memberikan gambaran mengenai arah dan urgensinya pluralisme kewargaan. Istilah ini mungkin terdengar baru, namun diajukan oleh para penulis dengan alasan sebagai pembeda dari wacana pluralisme teologis yang seringkali berujung buntu karena urusan teologis sulit diganggu gugat. Agama di sini dipandang tak hanya melulu urusan teologis namun juga mencakup dimensi sosial. Karena kenyataannya, agama juga memainkan peran tidak hanya dalam urusan bagaimana menyembah Tuhan, namun juga dalam urusan-urusan sosial termasuk politik yang justru di situlah akar masalah yang sedang dihadapi sekarang oleh bangsa ini.

Wacana pluralisme kewargaan terfokus pada bagaimana masyarakat yang multi identitas dapat hidup bersama dalam konteks ikatan suatu negara-bangsa yang mempersatukan identitas-identitas tersebut. Bicara negara, tentu bicara politik.

Pada tulisan ketiga, Mustaghfiroh Rahayu mencoba mengangkat isu pluralisme (agama) dan hak-hak perempuan. Dua isu yang sama-sama memimpikan kesetaraan manusia, namun ternyata bisa bertemu pada titik yang berpotensi melemahkan salah satunya. Penulis mencontohkan beberapa kasus seperti kasus poligami di Perancis, kasus cerai seorang perempuan Muslim di India, kasus cerai dalam hukum Yahudi dan kasus nusyuz dan poligami dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Kasus-kasus tersebut melukiskan bagaimana pluralisme yang mengidamkan adanya penghargaan dan pengakuan atas keragaman budaya dan tradisi, termasuk budaya dan tradisi dalam agama, berhadapan dengan tuntutan feminisme yang menginginkan perlakuan yang lebih adil bagi perempuan.

Isu ini mengingatkan saya pada satu diskusi di Summer School soal poligami. Bagi pemerhati hak-hak perempuan (rata-rata berlatar belakang organisasi), poligami jelas menunjukkan lemahnya posisi perempuan, karenanya tak ada alasan untuk menyetujuinya. Sementara bagi mereka yang lebih kuat pada isu-isu pluralisme (berlatar belakang akademisi), poligami dipandang sebagai satu bagian budaya tertentu yang karenanya patut dihargai, bukan masalah besar.

Saat itulah awal saya menyadari bahwa pluralisme cukup 'membingungkan'. Jika saya mengatakan saya pluralis, saya tidak bisa berteriak minta dibubarkannya ormas tertentu yang menurut saya biang rusuh. Jika saya melakukannya, maka saya tidak cukup pluralis karena tidak bisa menerima keberadaan ideologi ormas tersebut. Soal bagaimana kemudian saya berpandangan mengenai pluralisme ini, tentu tidak akan saya bahas di sini.

Tulisan yang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala adalah tulisan Trisno S. Sutanto di bagian kelima buku ini. Lewat Negara, Kekuasaan, dan "Agama": Membedah Politik Perukunan Rezim Orba, penulis tidak hanya membelah namun menguliti kulit wajah rezim tersebut yang dengan lihainya mengemas isu kerukunan agama (penulis membahasakannya sebagai perukunan) untuk melanggengkan kekuasaan dan mengontrol umat beragama di Indonesia.

Sejak awal perumusan ideologi negara ini, agama telah menjadi isu panas. Sila pertama Pancasila ternyata sangat abstrak, di satu sisi memberikan kelonggaran bagi semua orang, termasuk yang tidak beragama, bertuhan berbilangan dan tidak mengakui tuhan untuk tetap berdaulat dalam negara ini. Tapi di sisi lain, dan yang sering terjadi, sila ini justru dijadikan alat pembenaran bagi negara untuk mengatur hidup keagamaan masyarakatnya alih-alih kehidupan antar agama. Negara seakan memiliki wewenang untuk menjaga kemurnian agama melalui UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Padahal jelas, kemurnian agama bisa sangat multi tafsir (tengok saja beragamnya aliran atau kelompok dalam satu agama).

Ternyata, negaralah yang selama ini telah menanamkan benih-benih kecurigaan di antara pemeluk agama. Istilah SARA yang digaung-gaungkan pada masa silam, misalnya, adalah salah satu bukti bahwa keberagaman telah dipandang sebagai sesuatu yang mengancam, bukan lagi merupakan realitas faktual. Sayangnya, keruntuhan orde baru tidak lantas meluluhkan cara pandang penguasa terhadap hal ini. Lebih parah lagi, negara seakan-akan melakukan pembiaran terjadinya kekerasan yang menimpa kelompok minoritas agama seperti yang terjadi pada kasus Ahmadiyah.

Sebagaimana ditulis dalam buku ini, pluralisme kewargaan belum tentu menjadi satu solusi untuk menyelesaikan semua masalah keragaman agama karena adanya jurang antara wacana ide-ide dan kenyataan di lapangan. Namun, dengan pandangan baru ini, bukan tidak mungkin kita dapat menemukan solusi bagi terciptanya kehidupan yang harmonis yang kita impikan.

Informasi buku
  • Judul buku : Pluralisme Kewargaan, Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia
  • Penyusun : Zainal Abidin Bagir, dkk.
  • Penerbit : CRCS UGM dan Mizan
  • Tahun : 2011
  • Tebal : 200 hlmn
baca selengkapnya

5 Juli 2011

The Challenge of Pluralism in Indonesia

In Indonesia, pluralism is often associated with religious and cultural issues reflecting the diversity of beliefs and ethnic groups in this country. For human rights activists, this concept has always been warmly welcomed as a step toward the peaceful life to which we all aspire. Unfortunately, in 2005, the Indonesian Ulama Council (MUI), a religious institution with huge political influence in Indonesia, forbade religious pluralism, citing it as incompatible with the doctrines of the dominant religion in Indonesia: Islam. Anti-Western politics—the fuel in the fire of fundamentalist Islam—were likely the real reason behind this ban; several verses in the Qur'an precisely recognize plurality and encourage Islam’s adherents to appreciate and respect others’ beliefs. Despite these explicit arguments to the contrary, fundamentalists in Indonesia still do not want to admit that the Islamic religion teaches pluralism.

Political selfishness and religious fanaticism, especially in the late 90s, have resulted in many Muslims becoming staunch militants for their religion but losing their humanity in the process. Religious verses have been repeatedly used as a justification for violence against other religious believers, even when those people worship the same religion but emphasize different ideas. This situation has damaged a cultural value that was previously preserved by the Indonesian people for centuries: tolerance.

Historical evidence shows many examples of religious harmony in Indonesia’s past-- Hindu and Buddhist temples built side by side, as at the famous site of Borobudur; Islamic doctrines fluidly synchronized with traditional beliefs, as in Java; and the graves of Muslims and Christians buried on neighboring plots. Many examples indicate that Indonesia has had a long, successful cultivation of the seeds of pluralism in everyday life. Even our national slogan, Bhinneka Tunggal Ika (“Different, but One”) shows the founding fathers’ desire to create a pluralistic state in Indonesia. The challenge for pluralist activists in Indonesia today is how to nurture those seeds once again.

Resurrecting tolerance is just one challenge facing human rights in contemporary Indonesia. Another challenge is to redefine the concept of pluralism, which has often been narrowly confined to issues of religion and culture, to encompass the many different identities comprising human rights. Religion is an identity that may represent the spiritual aspect of human beings. Culture is the identity which refers to the social aspect. The identity of one’s physical aspects may be reflected through skin color or gender. But what about the tolerance and diversity needed to acknowledge our human sexual aspect? Bhinneka Tunggal Ika should not only be understood as a defense for religious and cultural pluralism, but for sexual pluralism as well.

While some activists understand the diversity of human sexuality and consider it a legitimate part of a person's identity, many advocates remain afraid to talk openly about this issue. Peoples’ reluctance to include sexuality in discussions of pluralism has begun to make sense, given the increasingly tough threats of fundamentalist opponents, but this is just another aspect of the patriarchic, hetero-normative establishment that we must work to co-opt in the struggle for real equality.

Religious pluralism has existed in Indonesia since its inception, largely thanks to support from religious leaders who could act as a counter to fundamentalism. Some Muslim religious leaders who are more liberal have finally joined the pluralism movement, and while their openness to political and religious diversity may be applauded, the issue of sexuality is often still regarded as a sensitive issue. Unless we begin to work sexuality into the pluralism debate in a thoughtful and deliberate way, pluralist-leaning religious leaders may withdraw from the movement, failing to accept sexual diversity as a valued and respected aspect of human rights. This is a big challenge for the movement of pluralism in Indonesia, and one that I plan to devote myself to helping overcome.

PS. big thanks to Lauren Weeth for fixing the mess I made hehe..
baca selengkapnya