21 April 2015

Kisah Kasih Bikin Paspor

Hari ini adalah hari pertama saya, secara resmi, bekerja di kantor baru. Dan saya menghabiskan hampir seharian di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. 

Belum. Belum ada keinginan jadi PNS, termasuk jadi pegawai kantor imigrasi. Kedatangan saya di kantor itu tak lain dan tak bukan untuk urus paspor. Singkatnya, saya diterima bekerja di sebuah organisasi yang cakupan kerjanya tidak hanya di Indonesia, jadi saya merasa perlu segera membuat paspor baru setelah yang lama kadaluarsa sejak Februari lalu.


Saya memulai kisah kasih saya dengan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan sejak Senin kemarin. Dengan penuh percaya diri saya sampai di sana jam 8 lebih sedikit. Naik ke lantai dua, saya langsung menuju meja informasi. Mereka memberitahu kalau kuota pendaftaran paspor secara manual untuk hari itu sudah habis. Walah... Ternyata mereka sudah mulai proses sejak pukul 6 pagi untuk kuota 100 pendaftar setiap harinya! Baiklah.

Saya sempat cek untuk daftar secara online. Memang lebih sederhana, tak perlu antri berlama-lama (tapi tetap antri lho...). Sayangnya, jadwal yang diberikan oleh Kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk proses selanjutnya paling cepat adalah satu minggu setelah kita mengisi formulir online. Usut punya usut, kantor ini memang paling banyak peminatnya. Teman saya menyarankan saya untuk mencari kantor imigrasi lain. Di Jakarta Selatan sendiri sebetulnya ada dua unit yang khusus melayani pembuatan paspor, di Kebayoran Baru dan Cilandak. Saya cek juga kalau online di Kebayoran Baru itu jadwalnya bisa keesokan harinya. Tapi saya tetap melirik kantor imigrasi yang di Warung Buncit Raya karena searah dengan kantor. Biarlah daftar manual pun.

Pagi jam 6.30 saya sudah sampai di sana. Antrian sudah mengular di luar gedung, saudara-saudara! Saya tanya satpamnya apakah masih ada kuota, syukurlah masih. Berdirilah saya di antrian sekitar 1 jam sebelum kantor benar-benar membuka layanan. Setelah cek kilat berkas-berkas oleh petugas, saya lalu dapat formulir dengan nomor antrian 2-067. Kode 2 adalah kode pelamar 'biasa' saja. Yang kode 1 itu untuk lansia, anak dan diffable. Ok juga nih sistemnya, saya pikir. 

Entah berapa kursi sudah saya duduki, dengan posisi dari mulai duduk sopan sampai selonjoran nggak jelas. Sabar lah... Menjelang jam 12 siang terdengar pengumuman bahwa layanan akan tutup sampai jam 1. Yang bikin gemes adalah nomor antrian berhenti di 2-064. Dikit lagi, bro... Ya sudahlah, mau gimana lagi. Kasihan juga para pegawai itu ya mau makan. Jam 1 lewat 10 menit barulah antrian kembali dipanggil. 

Kalau memang hari sial itu benar adanya, mungkin ini hari sial buat saya. Saya dipanggil ke Counter 3. Petugasnya, yang ramah sama petugas lain tapi langsung pasang muka judes begitu menatap pendaftar (dan ini hampir semua lho, mungkin SOP nya begitu ya), segera mengecek kembali berkas-berkas saya. Dia tanya alamat saya dimana,

"Lha itu, saya udah tulis di formulir," jawab saya.

"Oh bukan KTP Jakarta ya. Ada surat pengantar dari kantor?"

Dueng! Saya baru ingat, dulu waktu saya bikin paspor di Jogja dengan KTP non-Jogja, saya bawa surat pengantar dari kantor. Tapi saya tidak mau rugi, masak iya sudah ngantri dari pagi terus harus balik lagi gara-gara nila setitik. Saya bilang,

"Lho, tadi waktu dicek di depan saya tidak dikasih tahu. Di web juga cuma dikasih tahu saya cuma harus bawa dokumen-dokumen ini." Asli, muka saya waktu itu pasti tidak kalah judes dengan si petugas. Si petugas akhirnya meminta saya membuat pernyataan tulis tangan bermaterai. Ya lebih baiklah daripada mengular dari pagi lagi. Eits, belum selesai. Giliran saya mau difoto, komputernya error. Nah lho. Dimintalah saya foto di Counter 2, dengan petugas bapak-bapak yang sibuk senyum-senyum gak jelas sama pendaftar perempuan muda. Dan lagi-lagi saya dapat jatah judesnya. Cih.

Selesai foto dan scan sidik jari, saya kembali ke Counter 3 untuk menerima tanda bukti yang akan digunakan untuk pembayaran dan pengambilan paspor. Komputernya masih error donk. Menunggulah lagi saya, sampai pendaftar lain tanya sama saya kenapa lama sekali. Saya cuma bilang,

"Tuh, teknologinya gak canggih."

Akhirnya, saya terbebas dari Kantor Imigrasi jam 2 lewat. Hore. Semoga saja pengambilan paspornya nanti, yang untungnya hanya 3 hari proses, tidak pakai ngantri dan nunggu lama.

Pelajaran apa yang bisa didapat dari kisah saya ini? Baiklah, jadi kalau Anda sedang akan membuat paspor:

  1. Proseslah jauh-jauh hari sebelum Anda berencana pergi ke luar negeri sehingga bisa memanfaatkan pendaftaran online
  2. Pakai agen juga bisa, tapi sediakan kocek lebih tentunya. Harga paspor 48 halaman plus administrasi itu Rp355.000 (bukan e-passport). Dulu saya di Jogja mesti bayar sekitar Rp500.000. Di Jakarta, info dari teman, berkisar Rp650.000 sampai Rp1.200.000
  3. Cari kantor imigrasi atau unit layanan paspor terdekat dengan rumah. Tanya dulu berapa kuota per harinya dan mulai antri jam berapa.
  4. Jika Anda akan mengurus paspor di provinsi yang tidak sesuai dengan KTP dan KK, minta surat pengantar dari kantor atau kampus. Kalau tidak, ya siap-siap mengarang indah seperti pengalaman saya di atas hehe...
  5. Dokumen yang harus disiapkan adalah KTP, KK, akte lahir (atau ijasah) dan paspor lama (untuk yang sudah punya). Semua dokumen asli dibawa plus fotokopiannya ukuran A4.
  6. Berpakaian rapi dan wajar. Begitu pengumuman yang ada di kantor imigrasi. Entah maksudnya wajar itu seperti apa, kalau dari pengamatan saya sih tidak ada yang pakai baju selam atau bikini pas daftar paspor. Tapi ini memang masuk akal karena sistem one stop service, pengambilan foto dilakukan di hari yang sama saat kita menyerahkan berkas (berposelah yang wajar!)
  7. Kalau kebetulan dapat kantor imigrasinya yang ramai naujubilah, perkuat iman dan takwa. Dan jangan lupa sarapan. 

Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pembuatan paspor bisa diintip di http://www.imigrasi.go.id/


*foto dicomot dari http://tanjungperak.imigrasi.go.id/

baca selengkapnya

11 Maret 2015

PHP itu Mematikan


Ya, saya memang mau cerita soal PHP yang singkatan Pemberi Harapan Palsu itu. Tapi sayang sekali harus saya katakan kalau ini tidak ada hubungannya dengan urusan percintaan. Karena selain saya tidak punya cukup pengalaman di bidang per-PHP-an dalam ranah asmara (sungguh saya minta maaf jika selama ini ada kata dan tindakan saya yang menjurus pada PHP, sama sekali tak ada niatan), apa yang hendak saya tulis ini didasarkan pada kisah nyata meskipun nama dan identitas tertentu sengaja dikaburkan agar tidak menyulut perkara di kemudian hari. Kendati demikian, saya rasa inti PHP yang akan saya ceritakan ini dapat pula diterapkan dalam  bidang-bidang kehidupan manusia lainnya, termasuk bidang asmara.

Alkisah, saya mengajukan lamaran pekerjaan pada suatu organisasi yang lumayan besar. Sebut saja PermenKaret. Tidak sampai seminggu, saya sudah ditelpon, diundang untuk wawancara. Kaget campur senang, tapi saya tidak langsung besar kepala. Toh siapa tahu memang PermenKaret ini punya cara rekruitmen seperti itu. Lolos administrasi, wawancara, lolos administrasi, wawancara, tidak perlu tumpuk CV pelamar beribu-ribu.

Lewat seminggu paska wawancara, saya mulai pasrah. Apalagi setelah tahu ada kandidat lain yang punya pengalaman lebih dari saya. Benar saja, setelah hampir dua minggu saya ditelpon HRD-nya PermenKaret. Dia bilang, untuk posisi yang saya lamar, mereka butuh orang yang lebih senior (saya tidak sempat tanya maksudnya ini dari perspektif usia ataukah pengalaman). Kepada saya, ditawarkan posisi lain. Oh jangan senang dulu, ini bukan tawaran untuk langsung menempati posisi tersebut. Ditawarkan kepada saya kira-kira saya tertarik atau tidak untuk ikut proses wawancara lagi, ya semacam final interview. Saya lalu minta dikirimkan deskripsi kerjanya untuk saya pelajari. Besoknya, saya terima undangan untuk wawancara.

Hanya satu orang yang mewawancarai saya, ‘bosnya’ PermenKaret di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan standar yang diakhiri dengan, “Kami butuh posisi itu secepatnya (tiga minggu setelah dinyatakan lolos harus ikut workshop) dengan gaji yang kami tawarkan bla…bla…bla…” Terdengar positif ya? Belum. Ini belum masuk bagian per-PHP-an. Saya diberi tahu akan mendapatkan kabar besoknya. Dan dimulailah…

Sampai besok sorenya saya bolak-balik cek email. Siapa tahu nyasar ke spam dan saya tidak mendapatkan notifikasi. Tidak ada kabar sama sekali sampai saya tidur. Masuk hari selanjutnya, belum ada kabar juga hingga akhirnya saya beranikan diri untuk menelepon si HRD. Saya bilang kalau saya perlu kabar agar saya bisa berdiskusi dengan tempat saya kerja sekarang untuk negosiasi waktu yang tepat saya bisa mundur. Sebagai informasi, kontrak pekerjaan saya sekarang berakhir awal April, yang artinya kalau PermenKaret ingin saya mulai bekerja, kalau saya diterima, pada akhir Maret, saya harus berdiskusi dulu, bukan? Jadi saya tekankan kalau saya menunggu sekali kabar yang seharusnya saya terima kemarin.

Jawaban dari sang HRD mengagetkan saya. Selain tidak tahu kalau saya seharusnya dikabari kemarin itu, dia juga belum tahu bagaimana hasilnya. Dia bilang akan mengabari saya hari itu juga. Saya jawab kalau saya paham jika PermenKaret butuh waktu untuk mempertimbangkan, tapi setidaknya saya diberi tahu kapan saya akan mendapat kepastian. Sang HRD keukeuh akan mengabari saya hari itu juga dengan alasan dia akan cuti panjang. Ok, baiklah. Dan sampai berhari-hari hingga detik ini tak ada satu pun kabar saya terima.

Sebelumnya, di mata saya PermenKaret adalah organisasi besar yang profesional. Walaupun kadang dengar berita ini itu yang agak kurang sedap tentangnya, saya merasa hal itu lumrah-lumrah saja. Toh tidak ada gading yang tak retak. Selama tidak fatal. Tapi dari proses rekruitmen yang saya alami, saya merasa ini benar-benar sudah di luar batas kewajaran. Saya merasa sudah di-PHP-in, hal yang sepatutnya tidak dilakukan organisasi sebesar itu. Memang saya dengar desas-desus soal posisi yang ditawarkan itu, tapi apapun yang terjadi ini tak ada kaitannya dengan kewajiban mereka untuk memberikan kepastian kepada orang yang sudah mereka wawancara. Mungkin akan berbeda kisah jika saya tidak diberi tahu, “Akan kami kabari besok” dan “Hari ini juga akan kami kabari”. Perkara saya tidak terima, kecewa pastinya. Tapi mendapat kabar, sekalipun lewat email, tentang penolakan itu jauh lebih baik rasanya. Saya bisa konsentrasi pada hal lain.

Memberi harapan kepada orang lain itu perlu komitmen yang besar. Seperti kita membuat janji. Pasalnya, kebanyakan dari kita yang diberi harapan akan segera menyusun rencana, jaga-jaga agar jika harapan itu benar-benar diberikan kita sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dan jika tidak, tindakan apa pula yang harus diambil. Menyusun agenda supaya hal-hal lain dalam hidupnya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun kita tidak hidup dalam satu dimensi melulu soal hal yang diharapkan itu saja, pecahan-pecahan hidup kita yang lainnya saling terkait. Satu ketidakpastian bisa berdampak pada hal lain dalam hidup kita. Meski kadang sesaat, ketidakpastian mematikan rencana dan agenda yang sudah kita susun. Tidak jarang pula justru ‘sesaat’ itulah waktu yang sangat krusial dalam hidup kita, maka matilah kita karena setitik PHP. (Ok, anak kalimat terakhir itu memang terdengar berlebihan)

Ngomong-ngomong, gak ada yang lagi PHP-in orang kan?


baca selengkapnya

22 Februari 2015

Mengapa Kita Membunuh Orang yang Membunuh Orang untuk Menunjukkan Bahwa Membunuh itu Salah?

Ramai diperbincangkan berita terkait hukuman mati yang akan diberikan kepada dua terpidana duo Bali Nine yang warga negara Australia. Tony Abbott, Perdana Menteri Australia, meminta Pemerintah Indonesia membatalkan hukuman tersebut. Wajar tentu saja bagi suatu pemerintah memberikan perlindungan maksimal bagi warganya. Sayangnya, Abbott menyinggung bantuan yang pernah diberikan pemerintahnya saat tsunami menerjang beberapa daerah di Indonesia pada 2004 silam. Seolah Abbott ingin mengingatkan, ‘Berterima kasihlah sedikit…

Ini jelas memicu reaksi kemarahan dari warga Indonesia. Beberapa lantas membuat gerakan pengumpulan  koin yang kemudian akan diserahkan kepada kedutaan Australia untuk mengembalikan bantuan yang pernah diberikan. Saya pribadi juga tersinggung dengan pernyataan Abbott. Tapi ini bukan berarti saya mendukung apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia atas hukuman mati yang akan segera diberikan kepada pengedar dan bandar narkoba.

Lalu apakah ini artinya saya mendukung peredaran dan penyalahgunaan narkoba? Tidak. Garis bawahi bahwa ketidaksetujuan saya bukan karena kasusnya. Sekalipun itu teroris yang dijatuhi hukuman, saya tetap dengan pendirian saya, hukuman mati bukan solusi. Hukuman mati hanya mengajarkan satu hal, yaitu bahwa menghabisi nyawa seseorang itu diperbolehkan, dengan alasan tertentu. Ini yang saya tidak dapat setujui. Dengan alasan apapun, tak ada yang berhak mengambil nyawa seseorang.

Saya tidak begitu peduli bagaimana Indonesia akan dilihat oleh dunia internasional karena masih memberlakukan hukuman mati. Saya juga tak begitu peduli bagaimana nantinya hubungan Indonesia dengan Australia, Brazil, Belanda atau negara lain yang warga negaranya tertangkap di Indonesia dan dijatuhi hukuman mati. Ini bukan soal saya melihat bagaimana hak asasi manusia ditegakkan di Indonesia. Ini murni perkara hati.

Beberapa orang yang mendukung diberikannya hukuman mati beralibi, toh para terpidana itu juga tidak berpikir dua kali saat melakukan kejahatan mereka. Berapa orang yang harus meregang nyawa karena overdosis narkoba? Berapa banyak anak yang kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, sahabat kehilangan kawan karena penyalahgunaan narkoba? Jika penjahatnya teroris, berapa nyawa yang telah mereka habisi dari satu ledakan bom? 

Saya jadi bertanya, apakah itu yang namanya keadilan? Mata dibalas dengan mata dan membuat kita lebih baik dari mereka? Siapa kita? Jika ini soal balas dendam, kenapa hukuman untuk pencuri sandal tidak dengan mencuri balik barang yang dimiliki si pencuri? Bukankah dari kecil pun kita diajari untuk tak mendendam?

*


Jika tidak dengan hukuman mati, mereka tidak akan kapok-kapok, datang ke Indonesia mengedarkan narkoba! Begitu mungkin alibi selanjutnya dari pendukung hukuman mati. Apakah membuat kapok harus dengan hukuman mati? Sadari saja kalau penegakkan hukum di Indonesia itu ibarat pisau yang tak kenal asahan berpuluh-puluh tahun. Tumpul. Karatan. Ini yang seharusnya diperbaiki. Mengasah kembali pisaunya. Bukan dengan menggasakkan pisau tumpul pada leher-leher bernyawa.

Soal nyawa ini, saya jadi ingat satu kawan di jejaring sosial. Ia teman sekolah yang lama tak berkomunikasi, tapi kembali terkoneksi berkat internet. Ia salah satu yang postingannya saya sukai karena isinya menyejukkan, beberapa ia buat dengan gaya berkisah. Satu cerita menarik saya comot di sini untuk mengingatkan kita betapa berharganya nyawa makhluk hidup:

Aku diam. Tiba-tiba kurasakan geli di lengan kiriku. Saat kulihat ada semut hitam tengah berjalan di sana, refleks kubeberkan telapak tangan kanan. Hendak kutepuk semut itu.

“Hei! Hati-hati, Nak! Tepukanmu bisa membunuhnya!” teriak ibu.

Aku menengok ke arah Ibu. Telapak tanganku tertahan di udara.

“Tak usah ditepuk. Pegang saja pelan-pelan, lalu pindahkan. Kecil-kecil gitu bernyawa lo..! Emang kamu bisa bikin nyawa?”**


*Judul dan Gambar diambil dari
http://nobodycorp.org/portfolio/anti-hukuman-mati/#jp-carousel-1737
**Thanks, Kang Idim!
baca selengkapnya

17 Februari 2015

Kita Pikir?

Enak sekali kalau punya kakak yang hanya terpaut umur 2-3 tahun. Topik obrolan masih satu frekuensi, bisa jadi teman curhat dan sekutu yang hebat saat orang tua terlalu ‘rese’. Hmm.. tapi enak juga kalau punya kakak yang terpaut umur jauh. Ada yang bisa diandalkan saat ibu atau ayah tidak ada di rumah, bisa memberikan masukan yang lebih masuk akal saat kita dilanda masalah, mengajari bermain gitar atau bagaimana perawatan wajah terbaik. Ah, tapi enak juga kalau punya adik. Ada yang bisa kita suruh-suruh saat kita malas menggerakkan badan. Eh, tunggu… Jadi anak tunggal juga sepertinya enak. Semua yang kita inginkan bisa dikabulkan. Perhatian dan kasih sayang hanya untuk kita.

Asyik sekali kalau punya pacar. Ada yang mengucapkan ‘Selamat Pagi’ setiap hari. Ada yang mengerti, dan berusaha mengerti, apa yang sedang kita rasakan. Ada yang tersenyum senang hanya karena melihat kita tertawa. Tapi… asyik juga ya kalau kita single. Bebas kemana-mana dengan siapa sesuka hati. Tak perlu khawatir rasa cemburu berlebih yang menyulut pertengkaran. Hmm… atau lebih asyik punya open-relationship. Punya teman rasa pacar. Kita masih bisa ‘bermain-main’ dengan orang lain tanpa harus takut menyakiti pasangan.

Setiap hari bertemu pacar itu sepertinya seru. Siapa bisa menahan rindu saat hati terbalut cinta? Kita bisa sentuh wajahnya setiap hari, bersyukur bisa menemaninya hampir dalam setiap apapun yang ia lakukan. Hmm… tapi punya pacar jarak jauh juga sepertinya seru. Setiap hari selalu ada dua kisah menarik, beda makanan yang disantap, beda orang yang ditemui. Ada ruang lebih untuk kehidupan pribadi tanpa harus merasa sendiri.

Ah, sepertinya menarik kalau rumah kita ada di tepi pantai. Mata selalu dimanjakan pada setiap senja. Air kelapa yang dinikmati bersama angin laut beraroma asin. Deburan ombak dan anak-anak yang berlari menyambut kapal nelayan yang baru pulang menangkap ikan. Tapi punya rumah di atas bukit juga menarik. Udara segar hadiah dari rindangnya pepohonan tersaji setiap saat. Bunga beraneka warna bermekaran di musim tertentu dengan iring nyanyian burung-burung kecil. Sesekali tupai menggemaskan menyapa teras rumah. Hmm… punya rumah di tengah kota juga menarik. Segala fasilitas bisa kita dapat semudah membalikkan badan. Ratusan orang kita temui setiap hari dengan berbagai kisah.

Atau justru sebaliknya…

Kakak yang umurnya dekat dengan kita hanya jadi biang masalah. Sediki-sedikit kita dibandingkan dengannya. Kakak yang umurnya jauh juga tidak jadi berkah karena tingkahnya lebih kolot dari orang tua kita. Punya adik itu menyebalkan, apalagi saat harus mengantarnya dan menjaganya bermain dengan bocah lain. Ugh! Dan kau pikir jadi anak tunggal itu enak? Serba diatur. Tak ada juga yang dapat diajak bicara saat orang tua tak di rumah.

Punya hubungan dengan seseorang hanya menambah rumit hidup. Sedikit-sedikit harus saling pengertian, sedikit-sedikit harus membuka diri. Dan single juga tidak selamanya bahagia, karena berarti jomblo, serupa tapi punya konotasi lebih negatif. Senegatif cara orang melihat kenapa kita tidak punya pacar juga. Open-relationship? Pernah dengar drama? Cukup.

Permintaan pacar untuk bertemu setiap hari terasa manis di awal, tapi ujung-ujungnya seperti harus ikut upacara setiap Senin pagi. Rutinitas. Membosankan. Dia tidak usah cerita, kita tahu apa kegiatan dia seharian. Dan punya pacar tapi jarak jauh juga bisa menjauhkan keromantisan. Apalagi saat sinyal mendadak hilang dan pacar memutuskan untuk pergi dengan teman-temannya daripada menelepon kita.

Rumah di pantai itu menarik? Tunggu saja saat musim badai. Dan rumah di atas bukit juga berarti siap-siap saja dengan kedatangan ular atau listrik yang tiba-tiba padam karena tiangnya amblas dibabat longsor. Akhirnya, hidup di tengah kota memang menjanjikan banyak hal, tapi ada yang harus ditebus untuk mendapatkan janji manis itu: waktu, tenaga, pikiran bahkan kadang pertemanan.

Jadi, kita pikir?
Lingkaran mana yang lebih terang?



baca selengkapnya

14 Desember 2014

Pesan yang Tak Sampai dari Supernova

Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Dee yang bukunya telah menjelma menjadi film layar lebar. Terlepas dari kekecewaan saya (masih gemas luar biasa dengan tokoh Diva), saya senang karena karya tersebut bisa diperluas pasarnya. Ya, sebagai fondasi Supernova, Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh bukan buku yang mudah dipahami karena kreativitas sang penulis mengawinkan istilah sains dan kata-kata romantis, ide besar tentang alam dan pengalaman sekian manusia yang walaupun hanya bagian titik-titik kecil dari ide besar itu tapi masing-masing saling terhubung. Jadi mungkin saja ada orang yang sudah membaca tapi tidak dapat esensinya, atau baru baca satu bab langsung tutup buku karena rasa baca buku pelajaran fisika, maka film ini bisa jadi alternatifnya.


Seperti satu narasi dalam bagian akhir film (saya lupa tepatnya, itu kelemahan saya yang paling menyebalkan), “Bagi Anda yang terbiasa melihat dunia hitam dan putih…”, Supernova memang menyajikan banyak fenomena yang dianggap masih tabu oleh masyarakat kita: pasangan sesama jenis, prostitusi, perselingkuhan. Cara Dee menghadirkan fenomena-fenomena itu menarik, memang mendobrak pola pikir hitam-putih kebanyakan orang. Misalnya saja, gay yang seringkali dilekatkan dengan hedonisme dan sering gonta-ganti pasangan. Dee justru menggambarkan tokoh gay yang berpasangan bertahun-tahun, tidak terjebak pada ‘mengapa aku seperti ini?’, party, fashion dan seks. Juga dari tokoh Diva, yang sebagai pekerja seks high-class, Dee ingin menunjukkan suatu otonomi atas tubuh seorang individu. (Tentu ini menjadi catatan karena bisa dijadikan senjata bagi para moralis menggeneralisir semua fenomena prostitusi)

Sayangnya, dobrakan yang coba ditawarkan oleh Dee tidak mendapatkan respon semestinya dari penikmat Supernova. Pesannya tidak sampai. Setidaknya begitu yang saya rasakan saat saya menonton filmnya kemarin sore. Cekikikan serta lontaran “iiih..” dan “jijik”, saat Reuben dan Dimas menunjukkan afeksi di antara mereka, mengisyaratkan saya satu hal: masyakarat belum siap dengan hal ini.

Namun yang paling membuat saya terganggu adalah saat adegan Arwin mengajak, secara tersirat, untuk berhubungan seks dengan istrinya, Rana, yang sedang tidak menginginkan hal tersebut karena hatinya sudah terpaut pada Ferre. Rana berteriak dalam hati, “Re, tolong aku. Aku diperkosa.*” Kebanyakan penonton, dan kebanyakan perempuan, tertawa. Heran saya.

Tidakkah mereka tahu adanya perkosaan dalam rumah tangga? Ya, itu terjadi ketika salah satu pihak tidak menginginkan berhubungan seks, tapi pihak lain tetap memaksa, dengan cara apapun sehalus apapun. Ini bukan lelucon. Saya jadi bertanya pada perempuan-perempuan penonton itu, jika mereka memang belum pernah melakukan hubungan seks, pernahkah setidaknya membayangkan apa rasanya harus mengikuti kehendak suami saat diri tidak menginginkan? Apakah hanya alasan sakit saja yang bisa membuat seorang istri dapat menolak ajakan suami? Ah ya, dalam agama bukankah istri harus melayani suami, dalam kondisi apapun ya, daripada dilaknat malaikat sampai pagi? Salah nonton film sepertinya, Ayat-ayat Cinta saja kalau begitu. 

Pertanyaannya saya justru, jika untuk hubungan seksual saja Rana tidak asertif pada suaminya, lalu apa yang menjadi landasan rumah tangga mereka? Komunikasi yang saling? Saya rasa tidak.

Dugaan saya yang lain adalah, tokoh Rana yang menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan suaminya, dianggap telah menurunkan martabatnya sendiri, setidaknya mungkin di hadapan para penonton seperti itu. Sehingga apa yang dialami dan dirasakan Rana akan dianggap main-main dan dikomentari “Ya salahnya sendiri…” termasuk saat merasa dirinya diperkosa oleh suami sendiri. Apakah saya saja yang terlalu sensitif dengan isu perkosaan ini? Bisa jadi, tapi bukan berarti tanpa alasan. 

Perkosaan bukan hal main-main. Saya bahkan sedapat mungkin tidak menggunakan kata tersebut untuk berkelakar, karena setiap kali mendengar kata perkosaan yang saya bayangkan adalah seseorang yang tersiksa tidak hanya secara fisik tapi juga mental. Maka ketika ada orang yang mengatakan, “Saya diperkosa” saya merasakan pedih yang luar biasa dalam, luka batin yang akan sulit untuk disembuhkan.

Well, jika memang dugaan-dugaan saya itulah yang menjadi dasar dari respon penonton terhadap adegan Rana dan Arwin tersebut, berarti ini adalah pekerjaan rumah bagi para pejuang hak asasi manusia, terutama hak perempuan. Faktor X dari penerima pesan film Supernova memang terlalu kompleks, dan tentu kita paham bahwa pola pikir masyarakat yang sudah mapan tidak dapat diubah begitu saja hanya dengan satu karya novel atau film.

Jika respon ini terjadi karena medianya, karena kehilangan daya untuk menggiring emosi penikmat karya karena proses adaptasi dari buku ke film (yang memang tidak mudah), ya ini pekerjaan rumah bagi para pembuat film. Terutama bagi yang ingin menggebrak cara-cara pikir tradisional.

Tapi saya sungguh-sungguh berharap bahwa respon tersebut memang tidak dikehendaki oleh sang pengirim pesan, sang pencipta karya. Bahwa apa yang dirasakan oleh Rana tersebut tidak dimaksudkan untuk main-main.


*Keping 9, Kestaria, Putri dan Bintang Jatuh

baca selengkapnya

12 Desember 2014

Email dan Etika

Beberapa hari lalu seorang kawan membuat status di akun jejaring sosialnya yang intinya menyindir seseorang –entah siapa, tak ia sebutkan, tak penting juga buat saya tahu- yang tak kunjung membalas email yang ia kirimkan. Padahal, si terkirim email punya gawai canggih yang terhubung dengan internet setiap waktu.

Lain lagi di kantor saya, ada satu staf yang mendapat teguran gara-gara caranya berkomunikasi melalui email. Tampak sepele sebetulnya: kegemarannya menggunakan akun pribadi dibandingkan dengan akun email kantor, penggunaan kata yang dianggap kurang sopan dan tata bahasanya yang membingungkan, panjang lebar tapi berputar-putar.

Nah, bertepatan dengan Jumat sore nan kelabu dan karena posisi saya di kantor membuat saya beberapa bulan lalu ketiban merampungkan bagian komunikasi internal dan eksternal, termasuk etikanya sebagai pedoman organisasi, maka dengan ini saya hendak berbagi apa yang telah saya dapatkan, baik berdasarkan pengalaman maupun hasil berselancar di jaring-jaring internet. (Luar biasa bukan bahasa saya?)

Intinya, berkomunikasi melalui email tetap butuh etika. Namanya etika, bisa jadi setiap budaya dan lingkaran sosial akan berbeda. Pada dasarnya sama saja seperti kita berkomunikasi langsung dengan orang alias tatap muka. Itu yang biasanya saya jadikan patokan beremail ria secara sopan dan santun. Taruh kata saat kita mengirim email kepada teman lama soal rancangan bisnis yang akan dibangun bersama, tentu berbeda dengan email kita untuk meminta informasi lebih detail soal produk asuransi. Saat beremail dengan teman, kita bisa bayangkan duduk bersamanya di sebuah coffee-shop sambil diselingi haha-hihi. Masak iya seperti itu juga saat berbicara dengan petugas asuransi? Ya, kecuali kalau petugas asuransinya ya sahabat kental kita. Oke, berikut poin-poinnya, dan ya, saya sengaja hanya fokus pada etika berkomunikasi dalam konteks profesional alias dunia kerja, walaupun bisa saja dipakai untuk urusan lain.

  • Kebanyakan organisasi atau perusahaan saat ini sudah menyediakan akun email untuk masing-masing stafnya dengan server organisasi atau perusahaan. Gunakan akun ini untuk semua urusan pekerjaan dan yang berkaitan dengan organisasi atau perusahaan kita. Tetap gunakan akun pribadi untuk email-email yang personal, untuk membuat akun jejaring sosial atau untuk menjadi anggota mailing-list backpacker-an atau pencarian jodoh. Akun email organisasi atau perusahaan menunjukkan bahwa kita memang bagian dari organisasi atau perusahaan tersebut. Ia menjadi identitas pertama kita saat kita hadir membawa nama lembaga. Bayangkan, kita akan presentasi proposal proyek di sebuah perusahaan besar dan kita datang dengan bersandal jepit dengan celana jeans belel. Tidak salah memang. Tapi ya… tetap ada tapinya.
  • Gunakan kalimat lengkap, jelas dan hindari singkatan-singkatan yang tidak baku. Komunikasi adalah menu sehari-hari kita dalam bekerja, bukan? Tidak jarang komunikasi ini berpengaruh pada atmosfer kerja. Drama yang muncul di internal organisasi juga ada kalanya muncul karena kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Juga saat kita berkomunikasi dengan orang di luar lembaga kita. Sadari bahwa setiap orang memiliki kapasitas, latar belakang dan sensitivitas yang berbeda-beda. 
  • Jangan lupa memberi judul untuk setiap email yang kita kirimkan karena selain memudahkan penerima email mengetahui maksud email kita, risiko terdeteksi sebagai spam juga bisa berkurang. Sama pentingnya adalah melengkapi email dengan pengantar dan penutup, termasuk saat meneruskan email atau melampirkan dokumen. Ibarat kita masuk ruangan orang lain, masak iya kita ujug-ujug masuk dan taruh dokumen di atas meja padahal si empunya ruangan duduk terus di kursinya.
  • Nah ini dia yang dialami kawan saya: balas email yang ditujukan kepada kita! Tidak perlu berpanjang-panjang jika memang tidak diperlukan, cukup dengan kalimat singkat bahwa maksud email sudah kita terima. Jika memang kita butuh waktu untuk mempelajari isi emailnya terlebih dahulu, bilang saja demikian. Tapi tidak perlu selalu membalas email yang di-CC kepada kita, kecuali, lagi-lagi, jika sangat diperlukan. Sama halnya dengan tidak perlu selalu “reply all” untuk email yang dikirimkan ke banyak orang pada waktu bersamaan. “Reply all” hanya dipakai jika semua orang membutuhkan jawaban kita.
  • Kita seringkali lupa jika setiap tanda baca memiliki arti sendiri. Demikian juga dengan penggunaan huruf kapital, bold dan warna-warni yang sering kali ditafsirkan berbeda oleh orang. 
Coba baca ini.
Coba baca ini!
Coba baca ini!
Coba baca ini!!!!
Coba baca ini?!!!
COBA BACA INI!!!

COBA BACA INI!!!

 
  • Emoticon? Walaupun sebaiknya dihindari, sebetulnya tergantung dengan siapa kita berkirim email. Terkadang ada yang menggunakan emoticon sederhana untuk lebih menunjukkan ekspresinya seperti :( atau :) saat mengirim email pada kolega. Bisa jadi atasan kita juga menggunakannya. Lebih peka saja dengan siapa kita beremail dan topik apa yang sedang dibicarakan.
  • Ingat, email hanya salah satu alat kita untuk berkomunikasi. Jika kita memang butuh jawaban segera dari orang yang kita kirimi email tapi tidak kunjung juga mendapatkan respon bak punguk merindukan bulan, segera saja temui atau hubungi lewat telepon. Siapa tahu yang bersangkutan sedang ada urusan yang jauh lebih penting atau mungkin ada di lokasi dengan koneksi internet kembang kempis.
  • Terakhir dan sebetulnya yang paling penting, sopan santun berlaku di mana pun, meski caranya berbeda. Lagi, lagi dan lagi, email hanya salah satu media untuk bisa berkomunikasi. Soal bagaimana caranya bertutur sopan, saya yakin tak ada satupun dari pembaca blog ini yang hidup dari kecil sendirian di tengah belantara. 


Have a nice weekend!
baca selengkapnya