31 Agustus 2018

Nepotisme?

Saya sudah menerima hasil basisexamen inburgering. Hasilnya? Memuaskan donk. Yang penting sih lulus jadi nggak harus tes ulang. Maka perjuangan untuk pindah Belanda pun berlanjut. Selain formulir dari IND yang harus diisi, saya juga harus menyiapkan beberapa dokumen yang harus diterjemahkan dan dilegalisir. Dokumen pertama adalah akte lahir, yang akan saya butuhkan saat saya lapor diri di gementee di Belanda. Tapi pengalaman saya saat kuliah di sana, pihak gementee di Diemen tidak meminta akte lahir. Nyesek juga sih soalnya udah bayar translasi dan legalisir eh taunya gak dipake. Untunglah untuk legalisir dokumen yang satu ini masih bisa dipakai tanpa ada validity period, tidak seperti surat keterangan belum kawin yang legalisirnya hanya diakui jika dibuat tidak lebih dari 6 bulan.

Nah, ngomong-ngomong soal surat keterangan belum kawin, hari Senin kemarin saya ngurus dokumen ini. Karena Kartu Keluarga saya masih jadi satu dengan orang tua, maka saya harus pulang kampung. Hasil browsing di internet memberikan saya informasi kalau surat ini bisa didapatkan dengan mengajukan permintaan dulu ke RT/RW lalu diproses di Kantor Kelurahan dan dilegalisir di Kantor Urusan Agama, jika pemohon tercatat beragama Islam (untuk agama lain bisa diurus di Kantor Catatan Sipil). Dari pengalaman beberapa orang yang bisa langsung ke Kantor Kelurahan, saya juga memutuskan untuk langsung ke Kantor Kelurahan yang hanya berjarak 300 meter dari rumah. Ibu saya ikut menemani. Bener, bukan saya yang minta lho! (gak mau banget dianggap anak mami). Alasan beliau, biar urusannya cepet, yang terbukti benar.

Sampai di Kantor Kelurahan, ibu saya langsung disapa oleh beberapa pegawai, tampaknya ibu saya cukup dikenal. Lalu ditanyakan ada keperluan apa. Salah satu pegawainya mengonfirmasi bahwa surat keterangan belum kawin bisa dibuatkan di sana, tanpa harus melewati RT/RW. Dengan sigap, sang pegawai langsung mengerjakan surat tersebut, dengan sebelumnya meminta fotokopi Kartu Keluarga. Saya dan ibu saya menunggu sekitar 10 menitan. Tidak ada biaya sama sekali untuk mengurus surat ini, tapi ibu saya merasa harus memberikan amplop terima kasih kepada pegawai yang telah membantu. Mungkin kebiasaan dari jaman dulu ya. 

Dari Kantor Kelurahan, kami meluncur ke Kantor Urusan Agama (lebih tepat disebut Kantor Urusan Agama Islam, nggak sih?). Di ruang depan kantor tersebut, seorang warga sedang berbincang dengan petugas perempuan, dalam Bahasa Sunda, tentu saja. Saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira seperti ini:

“Jadi gimana? Gimana?” tanya sang petugas.

“Saya udah mendaftar untuk menikah bulan depan. Tapi saya mau pinjam dulu dokumennya untuk difotokopi karena tempat kerja saya minta,” terang si warga.

“Jadi udah daftar? Tapi mau fotokopi?” sang petugas sepertinya belum yakin dengan apa yang diinginkan si warga.

“Iya, surat keterangannya mau saya pinjam untuk difotokopi,” kata si warga.

Saya dan ibu saya hanya berpandang-pandangan. Walaupun saya tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan, dan saya yakin ibu saya juga demikian, tapi sepertinya kami sama-sama merasakan kalau urusan di KUA ini akan sedikit ribet.

“Iya, Ibu ada urusannya apa?” kata sang pegawai kepada ibu saya, setelah menyuruh si warga untuk menunggu hingga ada pegawai lain yang bisa memahami maksudnya.

“Ini anak saya butuh legalisir surat,” jawab ibu saya sambal menyerahkan map yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Sang petugas menerima map tersebut dan membaca sekilas isinya.

“Memangnya ini harus dilegalisir di sini ya, Bu?” tanya si petugas.

Lha…

Kemudian datang petugas lain, seorang laki-laki, menghampiri kami. Si petugas perempuan bertanya kepada si petugas laki-laki soal legalisir surat tersebut. Yang ditanya tampaknya juga tidak punya jawaban dan memberikan solusi agar kami menunggu sampai kepala KUA-nya datang, yang saat itu sedang ke luar kantor untuk menikahkan warga. Si petugas laki-laki lalu mengajak ibu saya berbincang, rasa-rasa pernah kenal sebelumnya. Eh ternyata iya, petugas ini saudaranya temannya bla bla... ibu saya. Dan dimulailah percakapan si A dimana sekarang, si B dimana, sampai HIJKLMN. Si petugas pamit untuk urusan lain sambil mengatakan kalau legalisir surat aja bisa cepat kok.

Kini tinggal saya dan ibu saya duduk di ruang depan mengamati petugas yang hilir mudik dan serombongan orang yang akan melakukan akad nikah di KUA. Ibu saya tiba-tiba bilang, 

“Tenang aja, mama tau kok kepalanya ini. Dia itu saudaranya saudara mama dari bla… bla… bla…” Yang sekarang saya tidak bisa ingat lagi simpul-simpul keluarga mana yang mempertemukan ibu saya dengan sang kepala KUA.

Setelah sekitar setengah jam kami menunggu, sang kepala KUA akhirnya datang. Dengan gesit, ibu saya langsung menghampiri dan tak lupa mengeluarkan jurus ‘ingat-gak-sama-saya’. Sang kepala KUA mengenali ibu saya, menanyakan kabar dan maksudnya datang ke KUA. Setelah membaca surat dari Kantor Kelurahan, dia menggangguk,

“Ah ya, ini dilegalisir di sini,” katanya sambal menyerahkan suratnya ke bawahannya. Beberapa petugas yang ada di sana mengangguk-angguk ‘Oh-I-see’ yang membuat saya semakin yakin kalau mereka mungkin tidak pernah menerima permintaan untuk melegalisir surat keterangan belum kawin sebelumnnya.

Lega rasanya karena urusan selesai. Jasa besar lagi diberikan oleh ibu untuk saya. Membuat urusan perbirokrasian ini menjadi lebih cepat. Eh, tapi cara-cara seperti ini termasuk nepotisme nggak sih? Hahaha… 

Saya coba cek di KBBI, hasilnya:

nepotisme/ne·po·tis·me/ /n├ępotisme/ n 1 perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat; 2 kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah; 3 tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan.

So, mungkin saya dan ibu saya mengambil keuntungan dari koneksi ibu saya di kantor-kantor pemerintahan untuk urusan surat ini. Kalau yang minta legalisir itu misalnya orang yang sama sekali tidak punya kenalan di KUA, apakah akan semudah kami mendapatkan legalisir? Tapi kok saya punya pembenaran ya. Toh para pegawai kantornya aja pada nggak paham apa yang diperlukan warganya. Jadi ya kita maen tembak aja prosedurnya gimana. Ya nggak? 
baca selengkapnya

9 Juli 2018

Saya dan Belanda

September 2016 saya ke Belanda. Itu memang bukan kali pertama saya menjejakkan kaki di negeri kincir angin tersebut. Tapi kali itu berbeda dengan perjalanan saya sebelumnya. Saya akan tinggal selama 1 tahun untuk kuliah. Akhirnya mimpi saya sejak kecil terwujud juga.

Adalah sepupu ibu saya yang pertama kali mengilhami saya untuk bisa ke Belanda. Saya lupa tepatnya, kira-kira saat saya masih kelas 2 atau 3 SD, ibu mengajak saya ke rumah salah satu tantenya yang anak pertamanya baru pulang dari Belanda. Saya tak yakin apakah sepupu ibu saya itu kuliah di sana untuk S1, S2 atau untuk short course, yang pasti saya terkesima dengan ceritanya tentang negeri di Eropa sana itu, dengan oleh-oleh keramik Blue Delft (ini baru saya tahu namanya bertahun-tahun kemudian). 

Cita-cita saya untuk kuliah ke Belanda sempat “terganggu” karena kecintaan saya terhadap manga dan anime. Ya saya pernah kepikiran untuk kuliah di Jepang. Bahkan, pilihan ketiga UMPTN (adek-adek, google lah apa itu UMPTN - saya ambil IPC yang 3 opsi) saya ambil Sastra Jepang. Gak jelas juga sebetulnya mimpi saya dulu itu apa. ‘Jepang kayaknya seru tuh’. Udah. Eh yang jebol justru pilihan pertama di Psikologi UGM. Tahun kedua saya kuliah di Jogja, saya bahkan ikut les Bahasa Jepang. Lumayan satu level doang, habis itu nyerah seiring dengan melunturnya hobi saya baca manga dan nonton anime. Plus, sepertinya psikologi dan isu-isu sosial yang semakin saya tekuni, agak kurang pas ya kalo dipelajari di Jepang. Mulai kembalilah saya pada mimpi saya dulu: Belanda. Lulus S1 tahun 2007, saya langsung hunting beasiswa sana-sini karena hal yang mustahil bagi saya untuk membiayai sendiri, atau minta orang tua. Beberapa kali saya ditolak, akhirnya males mau lanjut usaha. Ketahuilah saudara-saudara, buat apply beasiswa itu butuh energi dan waktu. Plus dana buat perbarui hasil IELTS atau TOEFL.

Sepupu saya dari pihak ayah, yang dari jaman sekolah selalu juara kelas, aktif di kegiatan sekolah, dan bahkan dapet jalur khusus kuliah di UI, berangkat ke Belanda, kalau tidak salah tahun 2009, dengan beasiswa StuNed. Terbit kembalilah hasrat saya untuk melanjutkan kuliah. Saya mulai persiapan lagi. Kali ini jauh lebih serius. Apalagi mengingat prestasi saya itu ibarat remahan rengginang jika dibandingkan setoples rengginang sepupu saya. Bertambah pula motivasi saya untuk ke Belanda karena tahun 2010 saya bertemu dengan seorang Belanda.

Tahun 2011, saya dapat dua LoA dari dua universitas di Belanda. Saya juga ambil les Bahasa Belanda di Erasmus Taalcentruum di Kedutaan Belanda di Jakarta. Saya lulus level 1. Sayangnya, beasiswa untuk kuliah belum saya dapatkan. Tahun 2012 saya coba lagi. Dewi Fortuna belum juga mau nyapa saya. Kendor lagi lah semangatnya. Gitu ya saya mah hahaha… Tapi masih lanjut kursus lagi. Kali ini di Karta Pustaka Yogyakarta karena saya memutuskan untuk balik ke Jogja. Karena sistem belajarnya agak berbeda dengan di ETC, meskipun menggunakan bahan ajar yang sama, saya tidak bisa benar-benar lanjut ke level 2. Jadi kalau ditanya, udah level berapa Bahasa Belanda saya, saya selalu jawab: 1,5. Hehehe…

Tahun 2014 saya pindah ke Jakarta lagi dan saya memutuskan untuk fokus kerja aja dulu lah, merapikan CV biar lebih mantap kalau mau daftar beasiswa lagi.

Well, akhirnya aplikasi StuNed saya tahun 2016 diterima juga. Saya beruntung karena di fase baru mereka sedang coba saring penerima beasiswa hanya melalui satu tahap seleksi: administrasi saja. Gila juga. Tapi mereka mengurangi hampir separuh kuotanya, jadinya ya boleh dibilang sama aja ketatnya. Oya, setelah saya coba ambil psikologi beberapa kali dan gagal, kemudian menyadari kalau jalur karir saya gak ada psikologi-psikologinya (ada sih, tapi dikit), lalu tiba-tiba dapet email blast dari seorang rekan dari jaringan kerja tentang Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) yang punya program master’s degree in public health yang spesifik di isu sexual and reproductive health and rights dan saya daftar dan keterima, akhirnya saya masukkan KIT dalam aplikasi StuNed saya. Dan ya, berhasil! Keberuntungan saya yang lain adalah isu kesehatan sebetulnya bukan lagi prioritas untuk StuNed. Dan saat StuNed Day di Kedutaan Besar Indonesia tahun 2017, saya ngobrol dengan orang StuNed yang bilang kalau StuNed akan menghentikan kerja samanya dengan KIT karena, again, isu kesehatan tidak lagi menjadi prioritas mereka. Tapi jangan khawatir, handai taulan yang pengen kuliah di KIT dengan beasiswa, masih bisa coba curi kesempatan dari Orange Knowledge Programme (dulu bernama Netherlands Fellowship Programme) atau beasiswa dari KIT.

Satu tahun di Belanda saya tidak hanya belajar materi kuliah. Hmm… terdengar seperti promosi beasiswa-beasiswa luar negeri: Anda juga akan belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, belajar bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda, belajar mengembangkan sayap dan menempatkan diri dalam kancah internasional, bla bla… Ya itu memang benar, saya rasakan sendiri saat saya kuliah. Tapi yang paling saya rasakan saat saya kembali ke Indonesia adalah… sepertinya Belanda memang lebih cocok dengan pilihan hidup saya. Ayah saya sepertinya sudah mencium niat saya ini. Saat saya pulang ke rumah orang tua setelah menyelesaikan kuliah saya di Belanda, dia bilang, “Lho, kirain kamu nggak akan pulang ke Indonesia…” Saya cuma nyengir.

Kalau kuliah ke Belanda sudah nongkrong di otak saya sejak kecil, pindah ke Belanda mungkin relatif baru. Seringnya juga keinginan itu datang dan pergi. Mungkin karena sebelum-sebelumnya otak saya masih mengategorikan rencana itu sebagai mimpi, perasaan yang muncul lebih ke excitement gak jelas. Sekarang saat saya benar-benar (ingin) membulatkan tekad untuk pindah ke sana, justru muncul keragu-raguan: siapkah saya meninggalkan Indonesia? Keluarga, teman, pekerjaan, gorengan pinggir jalan, ojek online? Sebetulnya saya ini kepedean terlalu dini. Sebelum bisa pindah ke sana, jalannya gak gampang. Pertama saya harus lulus inburgeringsexamen, alias tes Bahasa Belanda dasar (level A1) dan pengetahuan seputar Belanda. Untuk tes ini, saya masih sedang mempersiapkan sejak saya kembali ke tanah air. Walaupun belum pede, saya nekad aja daftar dulu untuk tes. Lima hari kemudian saya dapat konfirmasi, dan saya diminta untuk mengontak Kedutaan Belanda untuk membuat janji kapan akan tes. Dan keluarlah tanggal 9 Juli 2018! Dag dig dug kan…(**) Jika hasil tesnya memenuhi syarat, barulah saya bisa apply visa MVV untuk resident permit. Tentu saja ada sekian dokumen yang harus saya urus terlebih dulu, tidak seperti saat saya apply MVV untuk kuliah yang jauh lebih mudah. Setelah mendapatkan MVV dan terbang ke Belanda, saya harus ambil inburgeringsexamen A2 dalam waktu 3 tahun agar saya benar-benar bisa dianggap terintegrasi dengan masyarakat Belanda. Dan, tentu saja, saya harus cari pekerjaan di sana. Well, it is still hard to believe that in a few months, if I pass the exam and the visa is granted, I will start my new journey. It won’t be easy, indeed. But I’m preparing myself to be ready.


(**) Kabar gembira datangnya tidak hanya dari mastin. Saya baru aja selesai inburgeringsexamen! Cukup pede sih dengan ujiannya (ga tau juga hasilnya gimana tar haha…), berkat rajin latihan dan minum milo setiap hari. Buat kalian yang mau ikut ujian ini dan mau latihan, cek blog satu ini. Berguna banget, dan Mbak Geraldine-nya ramah dan suka menolong. Pengalaman saya pribadi tentang inburgeringsexamen ini? Tar aja deh kalo hasilnya udah keluar, gak enak sama tetangga.

baca selengkapnya

6 Februari 2018

Maaf dan Terima Kasih

Hari Minggu kemarin saya belanja untuk keperluan harian di supermarket yang ada di mall yang jaraknya hanya lima menit jalan kaki dari tempat saya tinggal (Ya Tuhan, berikan hamba-Mu ini kekuatan…). Salahnya saya sendiri tidak mempertimbangkan kalau hari Minggu itu pusat-pusat perbelanjaan pasti ramai, jadilah acara belanja yang harusnya singkat dan padat, acara kali ini tidak hanya memakan waktu lama tapi juga menguji mental. Ya elah, masak beli pisang, roti, sama susu aja pake ujian mental segala? Begini ceritanya.

Kejadian pertama, saat saya ngantri untuk minta ditimbangkan pisang, di depan saya adalah seorang ibu yang menerima buah yang sudah ditimbangkan dan diberi label harga oleh petugas supermarketnya. Sambil tersenyum, si petugas mengucapkan terima kasih. Yang diberi ucapan justru melengos aja gitu dengan muka judes. Kok saya agak gimana gitu ya?

Saya lalu ke bagian camilan. Saat saya sedang mempertimbangkan dengan penuh seksama wafer mana yang akan saya beli, jari kelingking kaki saya digilas roda baby stroller. Sadar kalau baby strollernya sudah tidak berada di jalan yang benar, saya rasakan si stroller ditarik balik. Otomatis saya lihat siapa oknumnya. Yang dipandang balik melihat saya dengan muka datar. Sungguh datar. Saya coba mengernyitkan dahi dan memberi kode, “Ada sesuatu yang seharusnya kamu katakan, bukan?” Tidak ada suara apapun, saudara-saudara. Santai aja gitu belokin strollernya.

Kejadian selanjutnya adalah saat saya antri di kasir. Di depan saya adalah seorang bapak usia paruh baya dengan kereta dorongan penuh belanjaan. Kemudian datang seorang perempuan usia SMA, menambahkan belanjaan ke dalam kereta, berbicara sesuatu kepada si bapak yang membuat saya mengambil kesimpulan kalau dia anaknya, lalu si perempuan itu pergi. Si bapak sudah berada di depan petugas kasir ketika si anak perempuan kembali dengan barang lain, lalu ia bergabung dengan perempuan lain, yang mungkin ibunya, yang menunggu di pintu masuk supermarket. Lalu mereka pergi entah kemana.

Si bapak sibuk sendiri memindahkan belanjaan ke counter kasir. Petugas kasir memberikan sehelai nota yang baru saja dia cap, “Pak, ini barangnya diambil lagi di counternya ya.”

“Ini barang apa ya, Mbak?”

“Ini kosmetik, Pak. Diambil di counter (menyebut merek).”

Saat si bapak itu membayar dengan kartu debitnya, seorang laki-laki muda, kira-kira usia SMA juga, muncul dari balik komputer kasir, menyodorkan deodorant roll-on kepada si bapak,

“Ini. Eh, masih bisa kan, Pak?” Tanpa melihat adanya beberapa orang yang sedang mengantri. Si bapak mengatakan kalau belanjaannya baru dibayar dengan kartu. Laki-laki muda itu lalu merangsek mendekati si bapak, “Jadi harus cash ya? Mama kemana?”

Ya, saudara-saudara, antrian harus terhenti karena si anak sibuk dengan hapenya mencoba menghubungi sang mama demi bisa membayar deodorant roll-on nya, sang mama nggak ngangkat-ngangkat telpon, dan akhirnya si bapak berkata kepada petugas kasir, “Dibatalkan saja, Mbak.” Dua orang yang mengantri di belakang saya tidak bisa menutup tawa nyinyir mereka. Sementara bapak-anak itu berlalu begitu saja dengan belanjaan mereka, tanpa rasa bersalah sudah membuat kami menunggu.

Ini orang-orang kok susah amat sih bilang maaf dan terima kasih?

*

Beberapa minggu lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat di Jogja. Sambil makan bakso yang pernah jadi idola banget karena dekat dengan kantor saya dulu, kami mengobrol ngalor-ngidul, sampai ke topik soal minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Saya bilang kalau saya dulu sebetulnya orang yang cukup kesulitan untuk minta maaf dan tidak terbiasa juga mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang saya anggap kecil, seperti saat tidak sengaja menabrakkan baby stroller, saat menerima buah yang baru ditimbangkan, atau membuat orang lain menunggu. Paling banter ya saya nyengir aja kalau bikin salah. Baru beberapa tahun belakangan saja kebiasaan minta maaf dan berterima kasih saya lakukan karena melihat orang yang paling dekat dengan saya melakukan hal tersebut dan saya melihatnya sebagai sesuatu yang memang layak untuk dicontoh.

Jujur, bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan ini. Di awal-awal, beberapa kali saya harusnya bilang terima kasih, yang keluar malah maaf. Serius lho! Sampai akhirnya saya sadar kalau saya harus melakukannya karena memang saya benar-benar ingin meminta maaf dan ingin mengatakan terima kasih. Bukan karena basa-basi. Saat saya minta maaf, saya mencoba memposisikan diri saya pada pihak yang dirugikan atas apa yang sudah saya lakukan. Nggak enak ‘kan kalau nunggu orang pake ATM lama banget kayak ATM punya dia sendiri? (Note: Tolong jangan dipraktekkan bayar gaji pekerja via ATM yang ada di lokasi dan waktu yang ramai ya).

Juga saat kita mengucapkan terima kasih. Kecuali Anda sudah mati rasa, ada perasaan senang ‘kan saat orang lain mengucapkan terima kasih kepada kita dengan ekspresi muka yang tidak dibuat-buat? Mungkin kita merasa kalau yang kita lakukan hanyalah hal yang kecil, tapi mungkin bagi orang lain perbuatan kita itu memberikan manfaat yang tidak sedikit.

Karena saya tidak percaya dengan konsep dosa dan pahala, bagi saya meminta maaf dan mengucapkan terima kasih melatih saya untuk lebih reflektif, sekaligus menyambung kembali rasa keterhubungan antara sesama. Jangan kemana-mana, tetap di…..!
baca selengkapnya

6 Desember 2017

Just Do It

Sudah hampir tiga bulan ini saya menganggur setelah saya kembali ke Indonesia di pertengahan September kemarin. Well, tidak benar-benar nganggur juga sih. Selain ada “bantu-bantu” teman (perlu pakai tanda kutip karena bantu-bantunya tetap dihargai secara profesional), pada beberapa masa saya cukup sibuk: nongkrong sana sini, jumpa teman ini itu, sambil tetap kirim lamaran ke sana kemari. Setelah kerjaan “bantu-bantu” selesai, teman-teman sibuk dengan pekerjaan mereka, dan tidak ada lowongan pekerjaan yang menarik untuk saya daftar, mulailah saya dilanda kebosanan. Mau ngapain lagi ya?

Tahun 2012 saya pernah juga mengalami masa-masa menganggur seperti ini. Tanpa pekerjaan dan tabungan yang ala kadar, saya nekad resign dari Jakarta dan kembali ke Jogja. Saya merasa saat itu saya lebih termotivasi untuk melakukan banyak hal. Saya beli sepeda dan kemana-mana dengan modal gowes. Walaupun pada akhirnya saya bergabung dengan teman saya di dunia per-branding-an, toh saya masih sempat dan punya energi untuk kegiatan lain-lainnya, bahkan sampai akhirnya bisa kecapaian juga menyusun buku. Sekarang rasanya lain. Entah apakah karena sekarang saya nganggurnya di Jakarta, atau faktor lain yang enggan saya akui: umur. Hahaha…

Beberapa teman, yang sebagian sudah bertahun-tahun tidak bertemu, saya jumpai untuk sekedar menuntaskan rindu, update gossip (ini menu utama sebetulnya), atau sekedar haha-hihi. Saat saya mengutarakan kebosanan yang saya rasakan, beberapa dari mereka malah bertanya, “Kenapa nggak nulis lagi, Link?” Jleb.

Gara-gara itulah sebenarnya tulisan ini saya buat. Saya coba untuk kembali ke blog ini, yang andaikan rumah, mungkin sudut-sudutnya sudah dipenuhi sarang laba-laba dan kayu-kayunya melapuk digerogoti rayap. Asal tau saja, untuk bikin paragraf kedua tulisan ini, saya perlu nonton film Detektif Conan dulu, tutup laptop, makan, main Angry Birds 2, mandi, tidur. Saya merasa kemampuan saya menulis menurun drastis. Maksudnya menulis kreatif, bukan ngerjain tugas kuliah atau tesis lho ya (jangan curhat… jangan curhat…). Apa memang untuk memulai kembali sesuatu yang sudah lama ditinggalkan itu butuh energi luar biasa besar, atau memang sayanya saja yang malas? Atau, lagi-lagi, faktor umur? Hahaha…

Pengalaman nulis saya memang tidak banyak. Selain blog, yang alhamdulillah pernah menang kompetisi, hanya satu buku yang saya tulis di masa “nganggur” pertama, dan saya lebih sering bilang kalau buku itu lebih mirip kliping informasi (pun kabarnya entah gimana itu buku). Tulisan-tulisan saya yang lainnya tersebar di buku-buku kompilasi, plus laporan proyek. Duh mak! Maka ketika beberapa teman mulai mendorong saya untuk nulis lagi, saya merasa mendapatkan tantangan. Lebih untuk membuktikan kepada diri saya sendiri kalau saya bisa.

Menerima tantangan tersebut tentu ada konsekuensinya: saya harus mulai membaca lagi. Saya sadar bahwa kejumudan saya dalam menulis adalah, selain malas, juga kurangnya asupan bacaan. Satu tahun kemarin, otak saya dijajah oleh berpuluh-puluh jurnal -yang alhamdulillah karena daya ingat saya yang luar biasa buruk, sulit saya ingat lagi isinya. Mungkin karena terlalu banyak baca jurnal-jurnal itu, ada rasa-rasa eneg kalau liat tulisan yang banyak. Ya Tuhan, inikah yang namanya trauma? Jadi, apa kabar keinginan lanjut PhD? Well, saya saat ini sedang berusaha kembali menjalin kasih dengan buku karena saya sadar saya harus memperkaya referensi lagi, baik itu secara perspektif maupun teknis.

Hanya dua buku yang selesai saya baca dalam rentang tiga bulan ini: Sejuta Warna Pelangi-nya Clara Ng dan Gadis Naik Bujang-nya Shanti Agustiani. Eh, buku pertama itu bukannya buku anak-anak ya? Betul. Sengaja saya beli untuk referensi karena masih ada hasrat untuk menuntaskan mimpi membuat buku untuk anak-anak. Oke, buku ini memang selesai dibaca dalam waktu kurang dari satu jam hahaha…. Tapi beberapa malam saya habiskan untuk menikmati ilustrasi-ilustrasinya yang digarap beberapa ilustrator buku anak berpengalaman. Nah, kalau buku yang kedua itu novel pendek karya teman saya, tentang masa pubertas remaja perempuan. Awalnya saya beli sebagai bentuk dukungan terhadap teman. Lalu ketika saya diajak untuk berkolaborasi menulis dengannya, saya merasa ada kebutuhan untuk menyelesaikan buku tersebut untuk menjajaki cara berpikirnya yang akan penting bagi saya jika memang nantinya kami berdua akan bekerja bersama. Sekarang, saya sedang mulai membaca buku Psikologi Terapan yang disunting dosen saya di Psikologi UGM. Aih, katanya trauma baca bacaan berat? Hehehe… Anggaplah ini transisi, karena isinya tidak seberat jurnal dan teori-teori kuliah.

Bagi yang menunggu-nunggu apa sebetulnya inti dari tulisan saya kali ini, silakan berhenti berharap hahaha… Tulisan ini tak lebih dari sekedar uji coba saja. Meminjam tagline-nya Nike “Just do it”, saya hanya sedang ingin menulis apa yang ada dalam kepala. Karena kalau nunggu “Ah nanti kalau ada topik seru. Tar aja kalau ada pengalaman asik. Ganti laptop dulu ah biar semangat nulisnya”, sampai lebaran kuda tujuh kali pun, JK Rowling mungkin tidak akan melahirkan Harry Potter.


*Disclaimer: saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari Nike. Sepatu lari saya aja merk-nya lain #kodekerasbuatyangmaudiendorse

baca selengkapnya

21 April 2015

Kisah Kasih Bikin Paspor

Hari ini adalah hari pertama saya, secara resmi, bekerja di kantor baru. Dan saya menghabiskan hampir seharian di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. 

Belum. Belum ada keinginan jadi PNS, termasuk jadi pegawai kantor imigrasi. Kedatangan saya di kantor itu tak lain dan tak bukan untuk urus paspor. Singkatnya, saya diterima bekerja di sebuah organisasi yang cakupan kerjanya tidak hanya di Indonesia, jadi saya merasa perlu segera membuat paspor baru setelah yang lama kadaluarsa sejak Februari lalu.


Saya memulai kisah kasih saya dengan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan sejak Senin kemarin. Dengan penuh percaya diri saya sampai di sana jam 8 lebih sedikit. Naik ke lantai dua, saya langsung menuju meja informasi. Mereka memberitahu kalau kuota pendaftaran paspor secara manual untuk hari itu sudah habis. Walah... Ternyata mereka sudah mulai proses sejak pukul 6 pagi untuk kuota 100 pendaftar setiap harinya! Baiklah.

Saya sempat cek untuk daftar secara online. Memang lebih sederhana, tak perlu antri berlama-lama (tapi tetap antri lho...). Sayangnya, jadwal yang diberikan oleh Kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk proses selanjutnya paling cepat adalah satu minggu setelah kita mengisi formulir online. Usut punya usut, kantor ini memang paling banyak peminatnya. Teman saya menyarankan saya untuk mencari kantor imigrasi lain. Di Jakarta Selatan sendiri sebetulnya ada dua unit yang khusus melayani pembuatan paspor, di Kebayoran Baru dan Cilandak. Saya cek juga kalau online di Kebayoran Baru itu jadwalnya bisa keesokan harinya. Tapi saya tetap melirik kantor imigrasi yang di Warung Buncit Raya karena searah dengan kantor. Biarlah daftar manual pun.

Pagi jam 6.30 saya sudah sampai di sana. Antrian sudah mengular di luar gedung, saudara-saudara! Saya tanya satpamnya apakah masih ada kuota, syukurlah masih. Berdirilah saya di antrian sekitar 1 jam sebelum kantor benar-benar membuka layanan. Setelah cek kilat berkas-berkas oleh petugas, saya lalu dapat formulir dengan nomor antrian 2-067. Kode 2 adalah kode pelamar 'biasa' saja. Yang kode 1 itu untuk lansia, anak dan diffable. Ok juga nih sistemnya, saya pikir. 

Entah berapa kursi sudah saya duduki, dengan posisi dari mulai duduk sopan sampai selonjoran nggak jelas. Sabar lah... Menjelang jam 12 siang terdengar pengumuman bahwa layanan akan tutup sampai jam 1. Yang bikin gemes adalah nomor antrian berhenti di 2-064. Dikit lagi, bro... Ya sudahlah, mau gimana lagi. Kasihan juga para pegawai itu ya mau makan. Jam 1 lewat 10 menit barulah antrian kembali dipanggil. 

Kalau memang hari sial itu benar adanya, mungkin ini hari sial buat saya. Saya dipanggil ke Counter 3. Petugasnya, yang ramah sama petugas lain tapi langsung pasang muka judes begitu menatap pendaftar (dan ini hampir semua lho, mungkin SOP nya begitu ya), segera mengecek kembali berkas-berkas saya. Dia tanya alamat saya dimana,

"Lha itu, saya udah tulis di formulir," jawab saya.

"Oh bukan KTP Jakarta ya. Ada surat pengantar dari kantor?"

Dueng! Saya baru ingat, dulu waktu saya bikin paspor di Jogja dengan KTP non-Jogja, saya bawa surat pengantar dari kantor. Tapi saya tidak mau rugi, masak iya sudah ngantri dari pagi terus harus balik lagi gara-gara nila setitik. Saya bilang,

"Lho, tadi waktu dicek di depan saya tidak dikasih tahu. Di web juga cuma dikasih tahu saya cuma harus bawa dokumen-dokumen ini." Asli, muka saya waktu itu pasti tidak kalah judes dengan si petugas. Si petugas akhirnya meminta saya membuat pernyataan tulis tangan bermaterai. Ya lebih baiklah daripada mengular dari pagi lagi. Eits, belum selesai. Giliran saya mau difoto, komputernya error. Nah lho. Dimintalah saya foto di Counter 2, dengan petugas bapak-bapak yang sibuk senyum-senyum gak jelas sama pendaftar perempuan muda. Dan lagi-lagi saya dapat jatah judesnya. Cih.

Selesai foto dan scan sidik jari, saya kembali ke Counter 3 untuk menerima tanda bukti yang akan digunakan untuk pembayaran dan pengambilan paspor. Komputernya masih error donk. Menunggulah lagi saya, sampai pendaftar lain tanya sama saya kenapa lama sekali. Saya cuma bilang,

"Tuh, teknologinya gak canggih."

Akhirnya, saya terbebas dari Kantor Imigrasi jam 2 lewat. Hore. Semoga saja pengambilan paspornya nanti, yang untungnya hanya 3 hari proses, tidak pakai ngantri dan nunggu lama.

Pelajaran apa yang bisa didapat dari kisah saya ini? Baiklah, jadi kalau Anda sedang akan membuat paspor:

  1. Proseslah jauh-jauh hari sebelum Anda berencana pergi ke luar negeri sehingga bisa memanfaatkan pendaftaran online
  2. Pakai agen juga bisa, tapi sediakan kocek lebih tentunya. Harga paspor 48 halaman plus administrasi itu Rp355.000 (bukan e-passport). Dulu saya di Jogja mesti bayar sekitar Rp500.000. Di Jakarta, info dari teman, berkisar Rp650.000 sampai Rp1.200.000
  3. Cari kantor imigrasi atau unit layanan paspor terdekat dengan rumah. Tanya dulu berapa kuota per harinya dan mulai antri jam berapa.
  4. Jika Anda akan mengurus paspor di provinsi yang tidak sesuai dengan KTP dan KK, minta surat pengantar dari kantor atau kampus. Kalau tidak, ya siap-siap mengarang indah seperti pengalaman saya di atas hehe...
  5. Dokumen yang harus disiapkan adalah KTP, KK, akte lahir (atau ijasah) dan paspor lama (untuk yang sudah punya). Semua dokumen asli dibawa plus fotokopiannya ukuran A4.
  6. Berpakaian rapi dan wajar. Begitu pengumuman yang ada di kantor imigrasi. Entah maksudnya wajar itu seperti apa, kalau dari pengamatan saya sih tidak ada yang pakai baju selam atau bikini pas daftar paspor. Tapi ini memang masuk akal karena sistem one stop service, pengambilan foto dilakukan di hari yang sama saat kita menyerahkan berkas (berposelah yang wajar!)
  7. Kalau kebetulan dapat kantor imigrasinya yang ramai naujubilah, perkuat iman dan takwa. Dan jangan lupa sarapan. 

Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pembuatan paspor bisa diintip di http://www.imigrasi.go.id/


*foto dicomot dari http://tanjungperak.imigrasi.go.id/

baca selengkapnya

11 Maret 2015

PHP itu Mematikan


Ya, saya memang mau cerita soal PHP yang singkatan Pemberi Harapan Palsu itu. Tapi sayang sekali harus saya katakan kalau ini tidak ada hubungannya dengan urusan percintaan. Karena selain saya tidak punya cukup pengalaman di bidang per-PHP-an dalam ranah asmara (sungguh saya minta maaf jika selama ini ada kata dan tindakan saya yang menjurus pada PHP, sama sekali tak ada niatan), apa yang hendak saya tulis ini didasarkan pada kisah nyata meskipun nama dan identitas tertentu sengaja dikaburkan agar tidak menyulut perkara di kemudian hari. Kendati demikian, saya rasa inti PHP yang akan saya ceritakan ini dapat pula diterapkan dalam  bidang-bidang kehidupan manusia lainnya, termasuk bidang asmara.

Alkisah, saya mengajukan lamaran pekerjaan pada suatu organisasi yang lumayan besar. Sebut saja PermenKaret. Tidak sampai seminggu, saya sudah ditelpon, diundang untuk wawancara. Kaget campur senang, tapi saya tidak langsung besar kepala. Toh siapa tahu memang PermenKaret ini punya cara rekruitmen seperti itu. Lolos administrasi, wawancara, lolos administrasi, wawancara, tidak perlu tumpuk CV pelamar beribu-ribu.

Lewat seminggu paska wawancara, saya mulai pasrah. Apalagi setelah tahu ada kandidat lain yang punya pengalaman lebih dari saya. Benar saja, setelah hampir dua minggu saya ditelpon HRD-nya PermenKaret. Dia bilang, untuk posisi yang saya lamar, mereka butuh orang yang lebih senior (saya tidak sempat tanya maksudnya ini dari perspektif usia ataukah pengalaman). Kepada saya, ditawarkan posisi lain. Oh jangan senang dulu, ini bukan tawaran untuk langsung menempati posisi tersebut. Ditawarkan kepada saya kira-kira saya tertarik atau tidak untuk ikut proses wawancara lagi, ya semacam final interview. Saya lalu minta dikirimkan deskripsi kerjanya untuk saya pelajari. Besoknya, saya terima undangan untuk wawancara.

Hanya satu orang yang mewawancarai saya, ‘bosnya’ PermenKaret di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan standar yang diakhiri dengan, “Kami butuh posisi itu secepatnya (tiga minggu setelah dinyatakan lolos harus ikut workshop) dengan gaji yang kami tawarkan bla…bla…bla…” Terdengar positif ya? Belum. Ini belum masuk bagian per-PHP-an. Saya diberi tahu akan mendapatkan kabar besoknya. Dan dimulailah…

Sampai besok sorenya saya bolak-balik cek email. Siapa tahu nyasar ke spam dan saya tidak mendapatkan notifikasi. Tidak ada kabar sama sekali sampai saya tidur. Masuk hari selanjutnya, belum ada kabar juga hingga akhirnya saya beranikan diri untuk menelepon si HRD. Saya bilang kalau saya perlu kabar agar saya bisa berdiskusi dengan tempat saya kerja sekarang untuk negosiasi waktu yang tepat saya bisa mundur. Sebagai informasi, kontrak pekerjaan saya sekarang berakhir awal April, yang artinya kalau PermenKaret ingin saya mulai bekerja, kalau saya diterima, pada akhir Maret, saya harus berdiskusi dulu, bukan? Jadi saya tekankan kalau saya menunggu sekali kabar yang seharusnya saya terima kemarin.

Jawaban dari sang HRD mengagetkan saya. Selain tidak tahu kalau saya seharusnya dikabari kemarin itu, dia juga belum tahu bagaimana hasilnya. Dia bilang akan mengabari saya hari itu juga. Saya jawab kalau saya paham jika PermenKaret butuh waktu untuk mempertimbangkan, tapi setidaknya saya diberi tahu kapan saya akan mendapat kepastian. Sang HRD keukeuh akan mengabari saya hari itu juga dengan alasan dia akan cuti panjang. Ok, baiklah. Dan sampai berhari-hari hingga detik ini tak ada satu pun kabar saya terima.

Sebelumnya, di mata saya PermenKaret adalah organisasi besar yang profesional. Walaupun kadang dengar berita ini itu yang agak kurang sedap tentangnya, saya merasa hal itu lumrah-lumrah saja. Toh tidak ada gading yang tak retak. Selama tidak fatal. Tapi dari proses rekruitmen yang saya alami, saya merasa ini benar-benar sudah di luar batas kewajaran. Saya merasa sudah di-PHP-in, hal yang sepatutnya tidak dilakukan organisasi sebesar itu. Memang saya dengar desas-desus soal posisi yang ditawarkan itu, tapi apapun yang terjadi ini tak ada kaitannya dengan kewajiban mereka untuk memberikan kepastian kepada orang yang sudah mereka wawancara. Mungkin akan berbeda kisah jika saya tidak diberi tahu, “Akan kami kabari besok” dan “Hari ini juga akan kami kabari”. Perkara saya tidak terima, kecewa pastinya. Tapi mendapat kabar, sekalipun lewat email, tentang penolakan itu jauh lebih baik rasanya. Saya bisa konsentrasi pada hal lain.

Memberi harapan kepada orang lain itu perlu komitmen yang besar. Seperti kita membuat janji. Pasalnya, kebanyakan dari kita yang diberi harapan akan segera menyusun rencana, jaga-jaga agar jika harapan itu benar-benar diberikan kita sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dan jika tidak, tindakan apa pula yang harus diambil. Menyusun agenda supaya hal-hal lain dalam hidupnya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun kita tidak hidup dalam satu dimensi melulu soal hal yang diharapkan itu saja, pecahan-pecahan hidup kita yang lainnya saling terkait. Satu ketidakpastian bisa berdampak pada hal lain dalam hidup kita. Meski kadang sesaat, ketidakpastian mematikan rencana dan agenda yang sudah kita susun. Tidak jarang pula justru ‘sesaat’ itulah waktu yang sangat krusial dalam hidup kita, maka matilah kita karena setitik PHP. (Ok, anak kalimat terakhir itu memang terdengar berlebihan)

Ngomong-ngomong, gak ada yang lagi PHP-in orang kan?


baca selengkapnya