15 September 2010

Mudik Lebaran dan SPG


Mudik lebaran ini sepi sekali. Bukan arus mudik yang saya maksud. Kereta masih saja dijejali penumpang, jalanan juga terus dipadati motor dan mobil. Entah kapan pemerintah mau serius menggarap PR tahunan ini. Mungkin bukan waktunya juga yang jadi soal, tapi perkara alat dan pendukung transportasi yang manusiawi masih pula menjadi mimpi di negara ini.
Karena saya kebelet pulang ke Jogja, saya putuskan ambil kereta bisnis, menghindari kejadian setahun sebelumnya naik ekonomi dan walhasil harus berdiri dari Bandung sampai Jogja. Taruh pantat saja tidak bisa. Rencananya saya akan reservasi di stasiun Cirebon untuk mendapatkan tiket balik, tapi ternyata ada masalah dengan jaringan internet antara Senen dan Cirebon. Tiga hari berturut-turut kemudian saya hubungi stasiun bisakah saya reservasi online. Ternyata untuk kereta bisnis yang saya pilih tetap tidak bisa. Mereka menyarankan saya ambil yang eksekutif. Mbahmu... Tapi akhirnya denga berat hati saya ambil juga haha... Miris! Saya kedinginan di dalam kereta (ini bukan soal kampungan atau tidak, tapi banyak penumpang juga mengeluh AC nya terlalu dingin), padahal saudara-saudara saya di kelas ekonomi mungkin hampir tak bisa bernapas. Saya temukan juga dua gerbong terakhir kosong melompong tanpa penumpang, padahal kawan-kawan saya di kelas ekonomi bahkan sampai duduk di dalam toilet berbau pesing atau di atas gerbong dengan taruhan nyawa. Oya, saya juga harus menunggu kereta yang terlambat satu setengah jam di stasiun yang penuh sesak. Ah negara ini...


Nah, sebetulnya saya tak ingin menulis soal transportasi mudik, tapi masih nyambung dengan tradisi tahunan ini. Saya pulang dan tak menemukan kawan-kawan saya, hanya satu dua orang. Biasanya saya dan beberapa kawan mendatangi rumah beberapa kawan lainnya di malam takbiran, bukan sekedar silaturahmi tapi juga membantu menghabiskan makanan sisa buka puasa terakhir hehe.. Tahun ini, beberapa kawan saya yang sudah menikah memilih berlebaran di kampung sang istri. Beberapa kawan saya yang lain jadi sulit ditemui karena harus ikut suami. Wedeh! Nah satu kawan lagi yang biasanya sudah datang beberapa hari sebelum lebaran, kali ini belum juga terlihat batang hidungnya bahkan sampai di satu hari sebelum lebaran. Saya kirim pesan, dia jawab tak serius. Persis gaya kami waktu SMA.


Di hari lebaran, pulang saya dari ziarah, bertemulah saya dengan orangtua kawan saya itu. Sang ibu bilang anaknya masih di perjalanan dari Bogor. Wah wah... sibuk betul kawan saya rupanya. Barulah di malam pertama lebaran, saya bertemu dengan sang kawan. Alkisah, sekarang dia bekerja di sebuah department store. Tak heran saya kalau dia baru dapat ijin cuti pas hari lebaran. Toko mana yang tak mau kehilangan untung besar menjelang lebaran?


Pembicaraan kami lantas bergulir soal posisinya di sana. Ia menjadi HRD di sana. Ialah yang bertanggung jawab pada proses rekruitmen karyawan. Kawan saya yang lain yang sepertinya sudah kebelet ingin kawin, langsung cerah ceria saat kawan HRD ini cerita soal SPG-SPG di tempat kerjanya. Saya maklum. Saya sendiri lebih tertarik dengan proses rekruitmennya.


"Ya, kami kerjasama dengan lembaga outsourcing. Tinggal pilih lagi aja," ucapnya bangga. Degh! Waduh lembaga outsourcing yang katanya seringkali melakukan pelanggaran hak pekerja!


"Terus yang kamu pilih yang gimana?" tanya saya.


"Ya yang sesuai kriteria. Termasuk tinggi badan. Kemarin baru aja kutolak seorang pelamar yang tingginya tak memenuhi. Daripada aku yang kena semprot pimpinan!" Dia tersenyum.


"Lho, kalau misalnya yang tinggi badannya tidak memenuhi tapi dia pekerja keras, ramah?" pancing saya. Kawan saya yang lain manggut-manggut, seperti sepakat dengan saya.


"Tak mau aku ambil resikolah! Aturannya sudah jelas!" kata kawan HRD saya.


"Aturan kan bisa diubah tho? Kamu dari bagian HRD bisa pula ikut kasih saran soal perubahan aturan. Atau mungkin aturan itu juga bagian kalian yang harus menyusun?" tanya saya. Kawan saya diam. Tak bisa saya terjemahkan maksud diamnya. Entah tak tahu jawabannya karena dia tergolong orang baru atau berpikir kenapa mesti repot-repot mengurus soal sepele seperti itu. Sepele buat dia tapi tidak buat orang-orang yang ditolak kerja gara-gara sentian.


Kalaupun penampilan pendukung, bekerja sebagai SPG tentu bukan hal mudah. Tahu sendiri bagaimana pandangan orang pada perempuan yang senang berdandan dan berok mini walaupun itu demi tuntutan kerja. Belum lagi harus berdiri berjam-jam dengan sepatu hak tinggi. Selalu pasang muka ramah walau hati mungkin sedang gundah gulana. Soal gaji? Ya tengoklah saat jam makan siang kemana mereka pergi. Mungkin untuk membeli barang-barang yang dijual di tokonya sendiri pun mereka harus berpikir beribu kali. Belum lagi harus menghadapi oom-oom usil tukang goda. Saya tanyakan pula soal cuti haid buat para SPG. Ternyata tak ada. Fuh!


Lalu bagaimana mereka mudik saat lebaran ya? Adakah THR untuk mereka? Cukupkah untuk membeli tiket pulang pergi dan sekedar oleh-oleh untuk keluarga di kampung? Haruskah mereka lagi-lagi berdiri selama berjam-jam walau kali ini tanpa high heels dan rok mini, tapi juga AC dan alunan musik digantikan gerah bau keringat dan tangis isak bayi yang berjejal di antara orang-orang?
baca selengkapnya

4 September 2010

Sama Rata itu Tidak Adil


Alkisah saya sedang berusaha sekuat tenaga menyelesaikan penelitian, sialnya proyek saya bikin tulisan juga dikejar deadline. Maka terdamparlah kembali saya di kotak wordpress ini hehe.. Tapi tenang, saya tidak akan curhat soal penelitian atau tulisan saya.


Dua hari lalu saya bertemu seorang kawan (yang menginisiasi update status saya juga). Seperti saya, dia juga memilih untuk  bekerja tidak di sektor formal karena alasan yang juga sama: boring! Dia bekerja di sebuah lembaga yang (katanya) hidup dengan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Perbedaan dan keberagaman bukan jadi soal lagi baginya, tapi ternyata tidak di tempat kerjanya. Apa pasal?


"Masak di bulan puasa, kami staf yang non muslim tidak mendapatkan jatah makan siang seperti biasanya? Uang makan pun tak ada!" ujarnya. Awalnya saya pikir itu cuma gerutuan tak penting seorang staf yang kelaparan di jam makan siang. Saya bilang, mungkin itu salah satu cara untuk menghargai staf lain yang berpuasa. Menurut dia tidak begitu. Dia dan kawan-kawan yang tidak puasa cukup tahu diri.


"Kalaupun kami makan di depan mereka yang berpuasa, kami minta ijin dulu lah. Toh, nyatanya, niat mereka kan memang untuk berpuasa, kenapa menjadikan godaan itu beban? Jadikan saja cobaan menambah pahala! Lebih sopan lagi, kami mau kok cari makan di luar buat makan siang, tapi ya gimana, uang makan aja nggak ada!" ucapnya gemas. Saya tersenyum. Saya jadi ingat, di bulan puasa banyak restoran yang harus menutup jendelanya dengan kain. Bahkan, tak segan-segan beberapa ormas yang katanya religius mendatangi dan mengancam restoran atau warung makan yang tetap buka di bulan puasa. Lha, yang puasa siapa yang menderita siapa. "Yang puasa sih enak dapat pahala, kita dapat laparnya doang! Sama saja dengan memaksa orang lain untuk berpuasa juga, bukan?" lanjut kawan saya.


Itu baru satu perkara. Perkara lainnya soal THR dan parcel yang diberikan kepada staf di kantornya menjelang lebaran. Memang, THR dan parcel ini diberikan kepada semua staf, tidak peduli muslim atau bukan. Saya bilang, itu berarti bagus karena mereka mencoba berbagi kebahagiaan dengan orang yang tidak merayakan lebaran. Lagi-lagi, menurut dia tidak seperti itu.


"Itu namanya rata tapi diskriminatif. Sama rata itu tidak adil. THR dan parcel kan maksudnya agar lebaran jadi nggak garing. THR bisa dipakai buat ongkos mudik juga. Parcelnya bisa dipake untuk menjamu tamu. Cara pandang mereka masih dengan kacamata orang Islam. Buat kami, parcel dan THR akan lebih berharga diberikan nanti menjelang hari raya kami." Saya sempat bertanya, lalu yang tidak punya hari raya, bagaimana? "Ah, tanya saja satu per satu, kalau mau diberikan pas ulang tahun mereka... ya berikan saja," jawabnya. Saya bilang, bukannya jadi merepotkan? Misalnya, lebih mudah, dan murah, membeli parcel-parcel itu dan membagikannya di saat yang sama, bukan?. "Judulnya nggak mau repot aja kan? Menghargai perbedaan itu emang repot kok, masalahnya kita mau apa nggak. Itu aja."


Sebagai minoritas baru (karena pilihannya), tak jarang ia mendapatkan pertanyaan biasa namun dengan nada tak sedap dari seorang kawan kerjanya seperti, "kenapa kamu jadi seperti ini?", "apa kamu salah bergaul?". Kawan saya bukan orang yang tak mau menjawab hal-hal seperti itu. Oh, dia sangat senang sekali berdiskusi tentang itu, namun tentu saja, bukan dengan orang yang bertanya dengan tatapan sinis.


Dia benar-benar kecewa dengan lembaganya karena urusan-urusan seperti itu dianggap sepele. Memang benar sepele, ia akui. Tapi justru dari hal-hal kecil lah perubahan dimulai. Untuk apa berkoar-koar soal ide besar perdamaian jika kebutuhan kecil seperti itu saja luput dari perhatian. Sebuah kelompok akan dinilai bukan dari apa yang ia berikan untuk kelompok atau orang lain, tapi juga dari bagaimana ia memperlakukan anggota kelompoknya. Boleh saja lembaganya memperjuangkan adanya dunia yang lebih indah tapi kesejukannya ternyata bahkan belum bisa dinikmati orang-orang yang berada di dalamnya. Miris.


Saya sempat berkomentar dengan nada canda. Selama ini kelompok minoritas sering berteriak-teriak agar kebutuhan mereka terakomodasi. Berharap agar kelompok mayoritas bisa memperlakukan minoritas dengan penuh penghargaan. Lalu bagaimana dengan kelompok minoritas sendiri, sudahkah menghargai mayoritas? Ataukah mayoritas memang tidak membutuhkan penghargaan semacam itu karena dengan kekuatan massa yang mereka miliki, secara otomatis semua kebutuhan mereka terpenuhi?


"Kami menghargai mereka. Itu jelas. Mereka pikir tak terganggu tidur kami dengan suara adzan di pagi hari dari tiga buah toa masjid samping rumah dengan volume maksimal. Mereka pikir tak tersinggung perasaan kami saat mereka menyebut kami 'non', padahal identitas kami beragam dan tak bisa disederhanakan begitu saja. Kami ucapkan selamat atas hari raya mereka, tapi sebagian dari mereka melarang umatnya mengirim hal yang sama kepada kami. Kami menerima semua itu dengan lapang, bukan karena kami takut, tapi kami mencoba menghargai mayoritas."


Saya paham maksud kawan saya. Yang dia harapkan adalah bukan hanya pengakuan dan penerimaan bahwa kelompok minoritas ini ada, namun diperlakukan dengan adil. Bukan pukul rata sama rasa. Teringat saya kata guru saya, "Adil itu bukan berarti semua orang mendapatkan porsi yang sama besar, namun ia adalah ketika semua orang mendapatkan porsi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan."


Nah, saya jadi berpikir lagi. Apakah yang sudah dan sedang saya lakukan selama ini sudah adil? Bukan sekali dua kali saya anggap orang lain akan dengan senang hati menerima tangan saya. Merancang ini itu, melakukan ini itu atas nama kepentingan orang lain dan menganggap itu kebutuhan mereka. Toh saya pikir, saya juga akan senang jika diperlakukan demikian. Saya. Kacamata saya. Egois sekali saya.


Kalimat terakhir yang diucapkan teman saya ketika kami akan berpisah dan perlu beberapa waktu bagi saya memikirkannya karena cekaknya otak saya adalah, "Ya, mayoritas dan minoritas memang cuma masalah posisi. Namun juga, saya mungkin minoritas dalam hal ini, tapi dalam hal lain bisa jadi saya mayoritas."
baca selengkapnya