6 Desember 2017

Just Do It

Sudah hampir tiga bulan ini saya menganggur setelah saya kembali ke Indonesia di pertengahan September kemarin. Well, tidak benar-benar nganggur juga sih. Selain ada “bantu-bantu” teman (perlu pakai tanda kutip karena bantu-bantunya tetap dihargai secara profesional), pada beberapa masa saya cukup sibuk: nongkrong sana sini, jumpa teman ini itu, sambil tetap kirim lamaran ke sana kemari. Setelah kerjaan “bantu-bantu” selesai, teman-teman sibuk dengan pekerjaan mereka, dan tidak ada lowongan pekerjaan yang menarik untuk saya daftar, mulailah saya dilanda kebosanan. Mau ngapain lagi ya?

Tahun 2012 saya pernah juga mengalami masa-masa menganggur seperti ini. Tanpa pekerjaan dan tabungan yang ala kadar, saya nekad resign dari Jakarta dan kembali ke Jogja. Saya merasa saat itu saya lebih termotivasi untuk melakukan banyak hal. Saya beli sepeda dan kemana-mana dengan modal gowes. Walaupun pada akhirnya saya bergabung dengan teman saya di dunia per-branding-an, toh saya masih sempat dan punya energi untuk kegiatan lain-lainnya, bahkan sampai akhirnya bisa kecapaian juga menyusun buku. Sekarang rasanya lain. Entah apakah karena sekarang saya nganggurnya di Jakarta, atau faktor lain yang enggan saya akui: umur. Hahaha…

Beberapa teman, yang sebagian sudah bertahun-tahun tidak bertemu, saya jumpai untuk sekedar menuntaskan rindu, update gossip (ini menu utama sebetulnya), atau sekedar haha-hihi. Saat saya mengutarakan kebosanan yang saya rasakan, beberapa dari mereka malah bertanya, “Kenapa nggak nulis lagi, Link?” Jleb.

Gara-gara itulah sebenarnya tulisan ini saya buat. Saya coba untuk kembali ke blog ini, yang andaikan rumah, mungkin sudut-sudutnya sudah dipenuhi sarang laba-laba dan kayu-kayunya melapuk digerogoti rayap. Asal tau saja, untuk bikin paragraf kedua tulisan ini, saya perlu nonton film Detektif Conan dulu, tutup laptop, makan, main Angry Birds 2, mandi, tidur. Saya merasa kemampuan saya menulis menurun drastis. Maksudnya menulis kreatif, bukan ngerjain tugas kuliah atau tesis lho ya (jangan curhat… jangan curhat…). Apa memang untuk memulai kembali sesuatu yang sudah lama ditinggalkan itu butuh energi luar biasa besar, atau memang sayanya saja yang malas? Atau, lagi-lagi, faktor umur? Hahaha…

Pengalaman nulis saya memang tidak banyak. Selain blog, yang alhamdulillah pernah menang kompetisi, hanya satu buku yang saya tulis di masa “nganggur” pertama, dan saya lebih sering bilang kalau buku itu lebih mirip kliping informasi (pun kabarnya entah gimana itu buku). Tulisan-tulisan saya yang lainnya tersebar di buku-buku kompilasi, plus laporan proyek. Duh mak! Maka ketika beberapa teman mulai mendorong saya untuk nulis lagi, saya merasa mendapatkan tantangan. Lebih untuk membuktikan kepada diri saya sendiri kalau saya bisa.

Menerima tantangan tersebut tentu ada konsekuensinya: saya harus mulai membaca lagi. Saya sadar bahwa kejumudan saya dalam menulis adalah, selain malas, juga kurangnya asupan bacaan. Satu tahun kemarin, otak saya dijajah oleh berpuluh-puluh jurnal -yang alhamdulillah karena daya ingat saya yang luar biasa buruk, sulit saya ingat lagi isinya. Mungkin karena terlalu banyak baca jurnal-jurnal itu, ada rasa-rasa eneg kalau liat tulisan yang banyak. Ya Tuhan, inikah yang namanya trauma? Jadi, apa kabar keinginan lanjut PhD? Well, saya saat ini sedang berusaha kembali menjalin kasih dengan buku karena saya sadar saya harus memperkaya referensi lagi, baik itu secara perspektif maupun teknis.

Hanya dua buku yang selesai saya baca dalam rentang tiga bulan ini: Sejuta Warna Pelangi-nya Clara Ng dan Gadis Naik Bujang-nya Shanti Agustiani. Eh, buku pertama itu bukannya buku anak-anak ya? Betul. Sengaja saya beli untuk referensi karena masih ada hasrat untuk menuntaskan mimpi membuat buku untuk anak-anak. Oke, buku ini memang selesai dibaca dalam waktu kurang dari satu jam hahaha…. Tapi beberapa malam saya habiskan untuk menikmati ilustrasi-ilustrasinya yang digarap beberapa ilustrator buku anak berpengalaman. Nah, kalau buku yang kedua itu novel pendek karya teman saya, tentang masa pubertas remaja perempuan. Awalnya saya beli sebagai bentuk dukungan terhadap teman. Lalu ketika saya diajak untuk berkolaborasi menulis dengannya, saya merasa ada kebutuhan untuk menyelesaikan buku tersebut untuk menjajaki cara berpikirnya yang akan penting bagi saya jika memang nantinya kami berdua akan bekerja bersama. Sekarang, saya sedang mulai membaca buku Psikologi Terapan yang disunting dosen saya di Psikologi UGM. Aih, katanya trauma baca bacaan berat? Hehehe… Anggaplah ini transisi, karena isinya tidak seberat jurnal dan teori-teori kuliah.

Bagi yang menunggu-nunggu apa sebetulnya inti dari tulisan saya kali ini, silakan berhenti berharap hahaha… Tulisan ini tak lebih dari sekedar uji coba saja. Meminjam tagline-nya Nike “Just do it”, saya hanya sedang ingin menulis apa yang ada dalam kepala. Karena kalau nunggu “Ah nanti kalau ada topik seru. Tar aja kalau ada pengalaman asik. Ganti laptop dulu ah biar semangat nulisnya”, sampai lebaran kuda tujuh kali pun, JK Rowling mungkin tidak akan melahirkan Harry Potter.


*Disclaimer: saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari Nike. Sepatu lari saya aja merk-nya lain #kodekerasbuatyangmaudiendorse

baca selengkapnya