7 Agustus 2012

Dua Tahun Sudah

Dua tahun. Terasa seperti dua hari lalu. Saat kita saling menjelajahi isi kepala. Dan setiap jengkal tubuh. Namun dalam dua tahun itu, terkadang dua jam seperti dua minggu. Saat akut rindu sulit untuk diobati. Saat gejolak hasrat hanya mampu diredam lewat nada dan panorama.

......

Baik. Saya menyerah. Saya tidak mampu membuat lirik romantis. Beginilah nasib orang yang lebih banyak melongonya kalau liat pertunjukkan teater atau pembacaan puisi. Suka bingung sendiri. Saya cuma mau bilang kalau waktu itu relatif. Oh, maaf, tidak hanya waktu, keindahan juga relatif. Contohnya, puisi yang bagi beberapa orang terdengar indah,  bagi saya kadang tampak bak gunung menjulang yang diselimuti kabut. Indah, tapi indera tak mampu mencerna. Misterius.

Kenapa saya mau cerita soal waktu yang relatif? Bisa ditebak hari ini adalah sesuatu (saya benci harus mengakui kalau artis satu itu sudah berhasil meracuni otak saya dengan kata ini, tapi saya toh menyukainya hahaha...). Ya, dua tahun lalu saya punya rekaman dalam otak yang tidak akan dan tidak ingin saya hilangkan atau saya edit. Ehm... tunggu dua tahun? Oh iya, dua tahun masehi tepatnya. Dua tahun penanggalan kalender matahari. Yang dibulatkan. Apanya yang dibulatkan? Mataharinya sudah bulat (katanya). Pembulatan kalender masehi dibuat karena sebetulnya planet ini membutuhkan waktu 23 jam, 56 menit dan 4,09 detik untuk melakukan putaran 360 derajat, riweuhlah kalau dipaksa ngikutin itungan itu (belum lagi, menurut peneliti, setiap tahun putaran bumi bertambah atau berkurang satu milidetik, lengkapnya diklik di sini saja). Kalau hitungan hijriyah, mungkin lebih-lebih 1-2 bulan kali ya. Kalau hitungan Jawa dan Saka, paling meleset beberapa minggu. Kalau hitungan phitagoras, cari dulu derajat sudut-sudutnya.

Itu baru relativitas waktu dari sisi teknik itung-itungan. Belum dari sisi yang lebih humanis: perasaan. Kalau lagi nunggu orang, apalagi janjian mau makan dan perut kita sudah berdendang sementara yang ditunggu-tunggu nggak nongol-nongol juga, jalannya jarum detik seperti di-slow motion. Beda banget sama kalau lagi nongkrong di cafe, hahahihi gosipin orang, pesan satu gelas kopi hanya buat gratis internetan, nggak sadar udah mejeng dari mulai pelayannya pasang tulisan 'open' sampai mereka pasang muka jutek berasa pengen nyambit pake sapu. Kalau lagi naik motor ketahan lampu merah yang pake count down (apa sih namanya itu?), padahal nggak sampai 5 menit tapi berasa 5 hari, apalagi di tengah hari bolong, berasa lagi sunbathing. Beda deh sama 5 jam perjalanan naik bus doyong tapi ditemenin orang yang lagi kita taksir.

Bagaimanapun terasanya, ada yang lebih penting soal waktu ini. Kecuali, Doraemon berbaik hati meminjamkan laci meja belajar Nobita, kita tak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki apa yang sudah kita lakukan. Waktu yang akan menjawab itu cuma judul lagu, sampai kapan juga, ditanya berulang-ulang juga, naga-naganya waktu nggak bakal jawab-jawab. Perubahan dan kebaikan yang kita impikan ya hanya kita sendiri yang bisa mengusahakannya. Cepat atau lambat tidak akan ada artinya lagi kalau kita bisa mengisi setiap hari, jam, menit dan detik yang kita punya dengan hal-hal positif. Soal yang seperti apa itu hal-hal positif? Lagi, relatif...

.....

"Too bad we can't really celebrate together today. Luckily, every day with you is wonderful already."

Hmmmm...


baca selengkapnya