20 Mei 2011

Tidak Sensitif Gender atau Mati Rasa?


Beberapa hari lalu, saya naik transjakarta dari Masjid Agung menuju Bank Indonesia. Saya janjian dengan teman-teman lama dari Jogja, sekedar bertemu dan mengupdate informasi terbaru, alias gosip hehe...


Di Masjid Agung, tidak banyak penumpang yang mengantri. Dalam bis juga tidak ada penumpang yang berdiri, bahkan masih ada beberapa bangku kosong. Maklum, halte pertama dari blok M. Namun ketika saya masuk bersama beberapa penumpang lain, saya memilih berdiri, biar lebih dekat AC. Hehe...  Sampai di halte Polda, mulai tampak kerumunan penumpang menanti bis. Penumpang yang keluar hanya 1-2 orang, tapi yang masuk bisa lebih dari satu tim basket jumlahnya, begitu terus sampai saya tiba di Bank Indonesia.


Satu hal yang membuat saya tergeleng-geleng adalah saat di halte Senayan, pasangan istri suami masuk dengan bayi mereka dalam gendongan ibunya. Karena sudah sesak, si istri berdiri di dekat saya sementara sang suami di belakangnya. Saya sempat tengak tengok mencoba mencarikan tempat duduk untuk si ibu. Mana tega lah melihat perempuan harus menggendong bayinya dalam bus yang penuh sesak. Beruntung ada laki-laki yang melihat ke arah saya dan menunjuk si perempuan yang sedang menggendong bayi. Ia menawarkan tempat duduknya. Saya bilang saja pada si perempuan kalau di belakang ada tempat duduk.


Cukup lama saya sibuk dengan SMS dari kawan lalu saya terkaget karena menemukan si perempuan masih saja berdiri dekat saya. Penasaran, saya tengok bangku yang tadi ditawarkan si laki-laki. Ternyata sudah diisi seorang perempuan lain yang sebelumnya berdiri di depan tempat duduk itu. Mungkin perempuan ini mengira si laki-laki sudah akan turun dari bis dan bangkunya bisa ia kuasai. Mungkin dia tidak meihat kalau sebelumnya sudah ada kode-kode yang disampaikan antara si laki-laki, saya dan perempuan yang menggendong bayi.


Yang membuat saya bingung adalah, deretan bangku di samping saya diisi oleh perempuan-perempuan remaja. Mungkin berusia 16-18 tahunan. Salah satunya yang duduk paling ujung, langsung berhadapan dengan si perempuan yang menggendong bayi. Sama sekali tak ada di antara mereka yang tergerak untuk memberikan ruang pada ibu dan bayi itu mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Saya benar-benar bingung. Selama ini saya, yang laki-laki, berusaha untuk berempati pada perempuan: bagaimana rasanya jika saya harus mengalami menstruasi setiap bulan yang kadang-kadang disertai kram, bagaimana rasanya saya harus hamil dan membawa perut buncit saya kemana-mana, bagaimana rasanya melahirkan, bagaimana rasanya harus mengasuh bayi dan menggendongnya setiap hari. Sampai kapanpun, saya tidak akan bisa merasakan itu, tapi bukan berarti saya tidak bisa memahaminya.


Saya bisa saja menyalahkan sang suami yang dengan entengnya membawakan tas bayi dan botol susunya, bukan si bayi yang bobotnya jelas lebih berat. Tapi di sisi lain, saya paham dengan budaya yang sudah terkonstruksi di masyarakat soal siapa yang (dibentuk) untuk menjaga dan mengasuh bayi. Laki-laki dalam hal ini juga korban. Korban dari sebuah sistem yang lebih besar dan mengglobal. Ataukah mungkin juga perempuan-perempuan muda itu juga sudah terkonstruksi dalam melihat bahwa perempuan yang menjadi ibu itu ya memang sudah seharusnya menggendong bayi. Seakan-akan itu adalah beban yang tanpa bisa kompromi lagi harus diterima oleh setiap perempuan yang memutuskan untuk melahirkan dan memiliki bayi.


Soal laki-laki yang menawarkan tempat duduknya pada si perempuan, saya juga tidak bisa bilang dia laki-laki yang sensitif gender.  Bukan tidak mungkin juga jika si laki-laki ini juga terkonstruksi oleh budaya yang ada, sebagai laki-laki yang harus menampilkan citra kuat dan mengayomi perempuan. Memberikan tempat duduk pada perempuan adalah salah satu cara yang bisa dilakukan, secara tidak sadar, untuk menunjukkan ke'lelaki'an seseorang. Tapi bisa jadi juga, dia punya perasaan yang lebih sensitif. Mencoba merefleksikan atau mengasumsikan perempuan itu adalah ibunya, atau jika dia heteroseksual, mengasumsikan si perempuan itu sebagai pasangannya atau anaknya.


Nah, lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan muda yang sama sekali tidak tergerak hatinya? Saya rasa, untuk kasus ini bukan soal sensitif tidak sensitif gender, dengan beberapa alasan mengacu pada kemungkinan si laki-laki yang tidak sensitif gender tapi ada hal lain yang menggerakkannya untuk melakukan sesuatu kebaikan bagi perempuan. Mungkin ini hanya soal rasa. Matinya rasa kita sebagai manusia yang mencoba memahami bagaimana rasanya berada di posisi lain. Nah kalau sudah begini, Pendidikan Moral Pancasila, Pancasila dan Kewarganegaraan, atau apapunlah bungkusnya dengan isi yang itu-itu juga, agaknya tak ada gunanya. Saya ingat betul dulu ada satu soal dalam tes di sekolah dasar yang menanyakan: "Jika kamu sedang berada di dalam angkutan umum lalu ada nenek yang tidak mendapat tempat duduk, apa yang akan kamu lakukan?" Orang paling bodoh yang akan menjawab: "Membiarkan si nenek bergelantungan dan kena jambret"


Bagaimana dengan pendidikan agama? Maaf harus saya katakan, perempuan-perempuan muda yang duduk manis di bis itu separuhnya memakai atribut agama. Jadi pendidikan agama telah sangat berhasil mendoktrin siswa untuk percaya pada atribut dan ritual ketimbang soal hubungan antar manusia yang, bagi saya, justru disitulah esensi hidup manusia: menghargai dan menghormati manusia yang, kalau anda percaya Tuhan, adalah berarti menghargai dan menghormati Tuhan yang menciptakan manusia.


Saya lalu ingat berbincang-bincang dengan seorang kawan di kantor soal pendidikan di Indonesia. Sistemnya memang sudah hancur duluan. Mencoba menghasilkan sumber daya manusia yang tahu segala tapi tidak profesional. Kurikulumnya saja sudah dibongkar berulang kali, tapi hasilnya justru seperti sekarang. Mau menyalahkan arus informasi dari luar? Eits, kalau pondasinya sudah kuat, sudah mantap, mau angin sekencang apapun, tak akan tumbang saya rasa.
baca selengkapnya

13 Mei 2011

Zona Nyaman


Tidak hanya sekali dua saya dengar ada orang memberikan nasihat pada yang lain, "Keluarlah dari zona nyamanmu!" Biasanya si orang yang dinasehati adalah orang yang sedang stuck dalam dunianya. Selalu mengeluh pada keadaannya namun tidak juga menunjukkan tanda-tanda untuk berubah.


Zona nyaman memang mengasyikan, namun seringkali membuat kita tumpul. Saya sedang tidak ingin berbusa-busa soal kemungkinan pengkonstruksian zona nyaman agar orang-orang menjadi tumpul dan memberikan kesempatan pada yang lain untuk memanfaatkan ketumpulan pikir mereka. Tidak, saya tidak ingin ngomongin itu dulu. Saya mulai dari yang sederhana dulu saja.
Saya boleh dibilang baru keluar dari zona nyaman. Tidak mudah memang. Sebelumnya saya tinggal di Yogyakarta, kota yang sangat nyaman untuk ditinggali, dengan pekerjaan yang menyenangkan. Perubahan besar dalam hidup saya (juga saya keluar dari zona nyaman yang lain), membuat saya berpikir bahwa kehidupan nyaman yang saya rasakan tidak akan membawa saya pada kehidupan yang lebih baik, dalam versi saya.


Keluar dari zona nyaman berarti menerima tantangan baru. Itu yang sedang saya rasakan sekarang. Namun, hal ini justru membuat saya berpikir ulang, haruskah saya keluar dari zona nyaman jika justru membuat hidup saya tidak nyaman? Bukankah tujuan perjalanan manusia adalah, mungkin salah satunya, mencari kenyamanan?


Mungkin, zona nyaman itu seperti gelas-gelas yang berjejer menanjak dengan selang air yang menyambungkan gelas yang satu dengan yang lain, menjadi tali kehidupan. Ketika satu gelas air sudah penuh, adalah tugas si air untuk mencari jalan melalui selang menuju gelas baru yang masih kosong. Jika tidak, tumpahlah air dalam gelas. Sia-sia apa yang kita dapat.


Bagi air, melewati tanjakan bukanlah kemampuannya. Tapi bukan juga sesuatu yang tidak mungkin. Ada mesin pompa lho! Hehe... Mencari pompanya itu yang seringkali sulit. Pompa yang mampu mendorong kita untuk bergerak naik. Pompa yang bisa membawa air pada satu gelas lain, mengisinya hingga kembali penuh dan terus dan terus.


Bagi air, pompa belumlah jaminan mampu membawanya dengan selamat menuju gelas baru. Perlu dipertimbangkan apakah selangnya baik-baik saja atau ada bocor sedikit atau di sana sini. Ini yang seringkali membuat kita ragu untuk bergerak. Ketakutan-ketakutan apakah selangnya cukup aman untuk kita lewati. Belum lagi ketakutan apakah gelas yang baru akan lebih besar, lebih bersih atau justru lebih kecil dan penuh lumut? Nah, mau tidak mau saya jadi kepikiran bahwa mungkin ketakutan-ketakutan itu juga diciptakan agar sebagian orang tetap berada di gelas yang terbawah.


Keluar dari zona nyaman untuk mencari zona nyaman baru, bagi saya itu tujuan saya. Hanya satu yang masih mengganjal, sampai zona nyaman mana dan seperti apa saya akan berhenti dan benar-benar nyaman?
baca selengkapnya

7 April 2011

Hubungan Jarak Jauh, Kenapa Tidak?


Eits... Jangan memicingkan mata dulu. Mungkin Anda termasuk orang yang anti hubungan jarak jauh alias long distance relationship. Tidak tahan tidak bertemu. Susah mengatur waktu. Godaan kanan kiri. Membosankan. Mahal. Mungkin itu alasan mengapa orang langsung angkat tangan begitu mendengar ide hubungan jarak jauh ini. Tapi, buat orang yang percaya takdir, percaya cinta bisa datang kapan dan dimana saja, bagaimana bisa menolaknya? Buat orang yang tidak percaya takdir, tidak percaya cinta itu buta, menjalani hubungan jarak jauh mungkin adalah sebuah keputusan yang mau tidak mau harus diambil karena alasan tertentu.



Saya tidak akan memberikan tips bagaimana menjalani hubungan jarak jauh. Saya belum ahli. Saya hanya ingin mengembalikan ke makna sejatinya mengapa orang memutuskan (bagi yang percaya keputusan di tangan manusia) menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak hanya hubungan jarak jauh yang penuh tantangan, namun juga hubungan-hubungan lain yang tak kalah rumit tantangannya.


Misalnya saja, pagi ini di kantor saat saya baru saja datang dan langsung sibuk dengan daftar peserta pelatihan. Telinga saya sempat menangkap kawan-kawan saya asyik bercakap soal pernikahan beda agama. Buat saya, tidak ada masalah sama sekali. Menikah atau tidakpun bukan lagi soal. Namun berbeda dengan kawan-kawan saya yang masih memegang teguh ajaran agama.


"Itu namanya ujian cintanya lebih untuk siapa, untuk dirinya sendiri atau untuk Tuhan," kata seorang kawan. Jelas maksudnya jika dia berada di posisi harus memilih, dia akan memilih Tuhannya. Kawan saya yang lain lantas mengatakan bahwa pernikahan dalam agama yang sama tidak menjamin kebahagiaan. Ya, mungkin dia yang sepakat bahwa pernikahan beda agama sah-sah saja.


Dengan terpaksa saya kaitkan dengan judul tulisan saya, agaknya saya berkesimpulan bahwa cinta tidak mengenal batas: usia, jenis kelamin, agama, bangsa dan juga jarak. Kita mungkin saja bermimpi memiliki pasangan ideal: usia sebaya, satu agama, dekat dalam dekapan, tapi kenyataan? Saya masih percaya Tuhan (walau lebih sering skeptis) dan percaya bahwa cinta adalah energi-Nya.


Karena kuasa Tuhan tak terbatas, demikian juga dengan cinta. Ia bisa hadir tanpa kita duga, mungkin di saat kita gemilang atau di saat kita terpuruk. Saat kita bertemu dengan orang yang kita rasa tepat, membuat kita nyaman dan ia juga merasakan hal yang sama terhadap kita, saat itulah kita berdaulat atas diri kita, mengambil keputusan: membuat hubungan atau tidak. Tidak ada yang mutlak, dua-duanya punya konsekuensi dan masa depan. Kita, sang pengambil keputusan, juga punya beragam latar belakang (seperti kawan-kawan saya itu) yang menjadikan nilai benar dan salah tidak absolut.


Karena cinta tak terbatas, demikian juga energinya. Terhubung secara spiritual, menurut saya, adalah saling mengirim energi positif satu sama lain, karena kita hidup di alam energi. Ibarat bangunan, sebuah hubungan butuh pondasi yang kuat sehingga halangan apapun tak akan ada artinya, termasuk jarak. Soal bagaimana menjalaninya, rumus komunikasi, negosiasi dan toleransi adalah bak pilar bagi bangunan itu.


Hubungan jarak jauh, ataupun dekat, intinya sama saja: cinta. Siapa bilang hubungan jarak dekat tak ada masalah? Silakan cari data di kantor catatan sipil, berapa banyak yang cerai karena alasan jarak. Jadi tidak usah berkecil hati bagi yang sedang, atau bimbang akan memutuskan untuk, menjalani hubungan jarak jauh. Kecanggihan teknologi telah menawarkan satu solusi. Namun, teknologi hanyalah alat untuk menghantarkan energi kita. Tanpanya, hubungan jarak jauh tetap tidak mustahil untuk dijalani. Pilihannya: mau atau tidak.


PS. Happy 8 Months Anniversary! =)
baca selengkapnya

19 Maret 2011

BOMbastisnya Media!


Hebat sekali media di Indonesia! Belum selesai liputan tsunami Jepang, sekarang beralih ke isu bom yang santer meledak (dan diledakkan). Ya, memang, kasus bom tidak bisa dianggap enteng karena pertama, isu yang sengaja ingin ditampilkan peneror adalah agama. Niat sekali rupanya ingin menambah rentetan kasus kekerasan di Negara kita tercinta ini atas nama isu tersebut. Kedua, soal kemungkinan pengalihan isu, yang saya tidak mau bahas itu (terlalu berat dan malah menuduh yang tidak-tidak). Ketiga, yang juga jadi status saya di facebook, soal kesiapan aparat keamanan dalam menghadapi isu seperti ini. Saya bingung kenapa barang-barang yang dicurigai harus diledakkan dulu baru diidentifikasi, bukan sebaliknya. Tidak ada detektor?


Nah, lalu kenapa awal tulisan saya sepertinya lebih fokus ke medianya daripada bomnya? Itu karena saya memang ingin mencoba menyampaikan uneg-uneg saya soal media di Indonesia, terkait kasus bom yang sedang santer. Saya merasa media justru 'membantu' kerja para pengirim bom dengan mengupas tak habis-habisnya kasus ini. Mungkin tanpa disadari, media juga telah menyebarkan teror, bukan hanya dari pengulangan terus menerus kasus tersebut (yah biasalah... apalagi yang bisa dijual?), tapi juga dengan bumbu-bumbu tak penting atau penggunaan kata yang bisa menjerumuskan penonton* pada ketakutan berlebih. (*saya hanya fokus pada media televisi).


Bumbu tak penting itu saya lihat saat media mengupas kasus bom di kediaman Ahmad Dhani. Saya bukan pendukung Dhani, respect pun saya tidak. Tapi saya tidak mencoba mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama dengan saya karena ini masalah nilai. Ternyata, media yang katanya bebas nilai, justru secara tidak disadari telah melakukan hal yang tidak saya lakukan itu. Bukannya fokus pada kasus bom, saya lihat liputannya justru malah membahas kontroversi yang pernah dibuat Dhani, yang menurut saya sangat sensitif karena terkait isu agama. Orang yang tadinya tidak tahu atau mungkin sudah lupa, jadi tahu atau teringat kembali. Buat saya, itu namanya memperkeruh suasana.


Kemudian, pagi ini saat bangun tidur, saya langsung lihat tivi dan kaget bukan main karena sedang heboh diberitakan soal bom di Bandung dan Yogyakarta! Pakai liputan langsung dari TKP dan cukup ekslusif karena menggeser beberapa acara yang lainnya. Setelah saya ikuti, ternyata yang sedang menjadi pusat perhatian adalah kotak ponsel dan bungkusan yang 'diduga' berisi bom. Anak muda bilang: please deh! Beberapa kali si presenter lupa menambahi 'barang yang diduga', jadinya bom terus bom terus. Beruntung saya menyimak berita sampai tuntas. Tapi coba bayangkan orang yang mungkin karena kesibukan, hanya menonton separuh berita, apa media bisa jamin mereka tidak akan panik?


Bom jelas bisa menjadi teror. Tapi media seharusnya lebih bijak untuk tidak membom masyarakat dengan berita yang berlebihan dan tidak tepat.
baca selengkapnya

17 Maret 2011

Solusi Semacet Jalanannya


Alamak, postingan terakhir saya tertanggal 2 Januari 2011. Tidak heran sebetulnya karena sebulan kemarin saya disibukkan oleh proses rekruitmen (merekrut dan direkrut, walaah.. apapula ini?), sampai akhirnya saya diterima di kantor baru di Jakarta. Ya, sejak awal bulan ini saya resmi berkontribusi menambah padat jumlah volume manusia di ibukota. Karena ini adalah tulisan perdana saya setelah saya meninggalkan kota gudeg tercinta -yang saya ingin sekali suatu saat bisa kembali tinggal di sana- maka saya ingin sekali menuangkan uneg-uneg saya soal carut marut ibukota.


Sebelumnya saya beberapa kali ke Jakarta, tapi tak pernah lama dan tak pernah ingin tinggal lama atau sekedar berkeliling. Kota yang angkuh, rumit dan pengap, itu yang ada dalam benak saya. Tinggal di sini adalah pilihan kesekian hanya jika para astronom sudah menyerah tak bisa menemukan planet lain untuk tempat hidup alternatif bangsa manusia. Tapi ya, pilihan juga yang akhirnya membuat saya hijrah, mencoba keluar dari zona nyaman dan berharap akan mendapatkan yang lebih baik (Uh.. oh.. bukankah itu mimpi setiap orang yang mengadu nasib ke ibukota?)


Saya sampai di Jakarta di hari terakhir bulan Februari. Sore hari. Bagus sekali karena tepat saat jam macet. Beruntunglah si sopir taksi yang mengantar saya cukup ramah dan berbincanglah kami soal kemacetan di Jakarta.
"Untung, Mas, demonya udah rampung. Tadi macet banget, belum lagi ada kebakaran di Wisma Antara," katanya.


Saya cuma manggut-manggut. Wisma Antara itu dimana, saya tak paham. Singkat cerita, sampailah saya di kos baru. Letaknya tak terlalu jauh dari kantor saya, kira-kira hanya 10 menit naik bis, dengan catatan: tidak macet! Sejak awal, saya memang tidak ingin berkendara pribadi di Jakarta. Syukur kalau dapat kos yang dengan jalan kaki saja saya bisa mencapai kantor. Alasan saya pada orang yang terheran-heran kenapa saya mengirim balik motor ayah saya adalah saya takut dengan jalanan di Jakarta hehe... Rumit kalau saya harus bilang saya tidak ingin menambah asap, selain dari asap rokok, di kota yang sudah sesak.


Kawan saya yang baik memberi tahu jalur bis yang bisa saya naiki. Ok, hari pertama tidak ada masalah, tidak ada macet. Saya senang karena artinya saya tidak harus buru-buru ke kantor karena cuma 10 menit itu tadi. Hari-hari berikutnya: musibah. Radio Dalam, tempat kos saya, ternyata adalah jalan yang sehari-harinya macet. Bisa 15 menit sendiri dipanggang di dalam bis! Dengan ongkos dua ribu perak, saya tidak tahu harus bersyukur atau mencaci dengan wujud bis yang lebih mirip kaleng sarden karatan, kursi yang bikin pantat pegal, plus sopir ugal-ugalan (bahkan pernah sekali saya naik bis yang sopirnya ternyata berkemampuan lebih, mengumpat setiap kendaraan di depannya).


Minggu pertama bekerja, saya harus menghadiri workshop di sebuah universitas. Untuk ke sana, saya harus dua kali naik bis. Senang rasanya karena saya tak harus naik kaleng besar lagi dari terminal, bisa naik transjakarta yang adem. Dengan riang gembira saya keluar dari bis 72 di Blok M, beli tiket trans dan... harus mengantri sekitar 10 menit untuk naik bis di dalam shelter yang juga mirip kaleng sarden: panas.


Saya berusaha untuk tidak mengeluh (Oya? Lalu paragraf-paragraf di atas apa namanya?). Saya cuma bingung dengan sistem transportasi umum di Jakarta. Apa memang masalah ini tidak jadi prioritas ya? Pada 2011 ini, pemerintah rencananya akan memberlakukan pajak progresif bagi mereka yang memiliki kendaraan lebih dari satu atas nama dan alamat yang sama.


"Masalahnya, Ling, lo tau sendiri orang sini kayak gimana ngakalin aturan. Kalo orang kaya mah gampang, beli mobil lagi atas nama suaminya, istrinya, anak-anaknya, atau mungkin siapanya gitu. Alamat juga bisa diatur lah," kata kawan saya yang jurnalis.


Sama saja! Wajar jika orang memilih untuk beli kendaraan pribadi jika melihat sistem transportasi amburadul seperti ini. Kalau punya uang, kenapa juga harus berkeringat-keringat di jalanan. Toh masih bisa beli mobil ber-AC, bahkan pasang TV juga bisa. Tak usahlah ngomongin kesadaran warga yang tidak peduli terhadap lingkungan, kalau ada sistem yang lebih baik untuk mengatasinya sebetulnya lama kelamaan perilaku orang juga bisa diubah. Terkesan memaksa memang, tapi kalau untuk kepentingan orang yang lebih banyak, kenapa tidak?


Saya teringat teman saya di Belanda yang cerita saat aturan dilarang merokok baru ditetapkan di seluruh negara bahkan sampai di cafe pun tidak boleh. Perokok 'dipaksa' untuk merokok di luar, atau smoking area yang sempit. Nyatanya, sekarang mereka akhirnya terbiasa (hehe... jujur saja, sangat menyiksa harus mematuhi aturan itu saat musim salju!). Aturan tersebut dibuat untuk melindungi kepentingan orang lain (yang tidak merokok) dari efek racun rokok.


Kembali ke soal transportasi, meskipun saya sangat tidak yakin akan ada orang pemerintah yang baca tulisan saya ini, saya ingin berkomentar saja. Syukur kalau ada yang merespon. Pembangunan jalan layang jelas bukan solusi (saya lihat ada proyek jalan layang non tol Antasari-Blok M). Alih-alih mengurangi kemacetan, tetap saja tak dapat membendung hasrat orang untuk membeli kendaraan baik karena alasan konsumerisme ataupun sudah angkat bendera putih untuk naik angkutan umum. Saran saya buat pemerintah sih, kalau memang mau serius dengan pajak progresif itu, lakukanlah dengan benar. Cuma ya angkutan umum juga pelayanan dan fasilitasnya diperbaiki.


Soal rencana dipindahkannya ibukota ke Jonggol mungkin juga bisa menjadi sedikit solusi. Jujur saja saya pesimis kalau itu bisa memperbaiki keadaan jika tidak didukung oleh hal lainnya seperti yang saya contohkan sebelumnya. Tapi ya setidaknya, berkuranglah volume kendaraan sang presiden beserta iringannya, menteri-menteri beserta iringannya, pejabat lain beserta iringannya, yang bukan hanya menambah asap dan macet, tapi juga cuma menambah jengkel (dan mungkin iri) rakyat biasa yang berpeluh berdesak-desakan menggelantung di kaleng besar beroda empat melihat para pengemban amanat warga negara enak-enakan di mobil mewah dengan fasilitas bebas macet. Setidaknya saya sebagai rakyat, merasakan hal tersebut, maaf bukan bermaksud menggeneralisir, saya cuma curhat atas nama saya sebagai seorang rakyat biasa.
baca selengkapnya

2 Januari 2011

"Pak Menakertrans, ini ada cerita!"


(Tulisan ini dibuat pada 16 Desember 2010)


Empat puluhan, mungkin lebih, perempuan. Semua berjilbab. Bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil. Saya tahu mereka akan bekerja di luar negeri saat sama-sama antri untuk boarding. Kebetulan mereka akan satu pesawat dengan saya, hanya saja mereka turun enam jam lebih cepat.  Dubai.
Awalnya, saya ingin bercerita tentang perjalanan saya, bagaimana prosesnya, fasilitas, dan sebagainya. Tapi keberadaan perempuan-perempuan itu jauh lebih menarik untuk saya tulis. Ya mungkin nanti saya akan menulis bagaimana (mudahnya) mengurus visa schengen, tiket pesawat yang murah meriah, dan sebagainya.


Saat saya tahu mereka adalah para calon pekerja migran, mau tidak mau pikiran saya langsung melayang ke kisah-kisah tragis para pekerja migran, yang kebanyakan perempuan. Perlakuan majikan yang buruk, kurangnya perhatian dari pemerintah dan sebagainya. Kisah konyol juga muncul di benak saya ingat saat bapak presiden kita memiliki program ‘cemerlang’ agar para pekerja migran tersebut bisa terlindungi: diberi handphone! Pak Presiden ini meremehkan atau bagaimana, sini deh tengok ke Soekarno-Hatta, mereka sedang asyik berbincang dengan sanak familinya di Jawa Barat sana lewat handphone (dugaan saya saja keluarga mereka di Jawa Barat karena mereka kebanyakan berbicara bahasa Sunda). Ya semoga saja, nanti sang majikan tidak merampas handphone mereka. Yang paling penting lagi, semoga saja kedutaan besar Indonesia di masing-masing negara tujuan pekerja migran bisa dihubungi 24 jam dan langsung turun tangan begitu ada kasus. Itu yang paling penting!


Kasus pekerja migran terakhir yang saya ingat itu kasus Sumiyati, walaupun setelah itu saya lihat beberapa kali di televisi ada kasus-kasus serupa juga. Terima kasih kepada media yang hanya mengekspos kasus Sumiyati terus-terusan. Itu bukan kasus pertama. Saya jadi penasaran apakah pemerintah punya data tahunan berapa banyak pekerja migran yang mendapatkan kekerasan dari majikan, berapa yang tidak pernah mendapatkan gaji, berapa yang tidak kembali. Mungkin pemerintah tidak punya data yang akurat karena angka pekerja migran ilegal yang masih cukup tinggi.


Saya hanya penasaran, dengan pemberitaan tentang kekerasan yang dialami pekerja migran, mengapa masih banyak juga yang berangkat ke sana ya? Ini baru satu penerbangan lho saya lihat ada puluhan perempuan akan berangkat ke Dubai. Bagaimana dengan penerbangan yang lain? Ke Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Saudi Arabia? Bagaimana dengan hari-hari dan jam yang lain? Apa mereka tidak menonton televisi, mendengarkan radio atau membaca koran? Tidak ciutkah nyali mereka? Atau mereka paksa beranikan diri sendiri karena di tanah airnya sendiri mereka seakan tak dibutuhkan?


Satu hal yang membuat saya tersenyum adalah bagaimana maskapai penerbangan nasional ini memperlakukan mereka. Saya tidak sempat melihat bagaimana petugas bandara memperlakukan calon pekerja migran itu, walaupun yang saya dengar seringkali tidak sedap. Petugas maskapain ini sangat ramah. Sang petugas sambil tersenyum tidak hanya membantu mereka boarding, namun juga sempat mengajukan pertanyaan hangat, yang, bagi mereka, mungkin tidak biasa mendapatkan perhatian seperti itu, terbiasa diacuhkan, sehingga tidak tahu harus menjawab apa selain tersenyum.
Harapan saya satu, semoga saya bisa duduk bersebelahan dengan mereka. Sepuluh jam perjalanan mungkin akan menjadi sangat menyenangkan jika bisa mendengarkan kisah mereka. Harapan saya terkabul! Seorang perempuan muda duduk di samping saya, menemani perjalanan sampai Dubai.
Sebut saja Wiwin namanya. Asli Cirebon, hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan dari kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Awalnya agak canggung saya ingin bertanya, tapi akhirnya saya beranikan juga karena rasa penasaran.


“Ini yang kedua kali. Sebelumnya saya kerja di Suriah 3 tahun,” jawabnya saat saya bertanya soal tujuannya ke Dubai untuk bekerja.


“Tidak takut, Mbak? Kan banyak cerita menyeramkan soal pekerja Indonesia di Arab,” tanya saya.


“Ah, nggak, Mas. Majikan saya yang di Suriah baik kok.”


“Ya semoga yang di Dubai nanti juga baik ya, Mbak.”


“Hehehe... iya. Saya pasrah saja.” Deg! Kalimat terakhirnya ia ucapkan sambil tersenyum. Jika saya menjadi dia, saya tidak mungkin bisa pasrah begitu saja melihat berita di tivi soal kekerasan yang dialami para pekerja migran.


“Sudah lancar bahasa Arab donk, Mbak?” tanya saya lagi, mengalihkan topik dari hal-hal yang mungkin akan menambah hati saya tersayat. Saya egois.


“Nggak juga, Mas. Mengerti sedikit-sedikit saja.”


“Lho? Memang selama di Suriah bagaimana? Terus sebelum berangkat bekerja, tidak dikasi kursus bahasa dulu?” tanya saya penasaran.


“Dulu sih kalau bicara pakai bahasa Tarzan hehehe... Nggak ada kursus-kursus gitu. Saya di Jakarta cuma tiga hari, terus berangkat.”


“Selama tiga hari itu ngapain aja, Mbak?” saya bayangkan tiga hari pelatihan kecakapan, pengenalan budaya dan pembekalan lainnya yang akan berguna bagi para pekerja migran yang akan diberangkatkan.


“Nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur, makan, tidur, makan hehehe... Enak tho?” jawabnya jujur.


Astaga! Terkejut saya. Tidak ada pembekalan sama sekali! Jadi biro-biro pekerja itu hanya menampung begitu saja lantas memberangkatkan mereka. Ckckck... lantas pemerintah juga diam saja? Tidak tahu, pura-pura tidak tahu atau bagaimana?


Sudah habis pertanyaan saya untuk Wiwin. Yang hendak ditanyai pun rupanya sudah bersiap-siap tidur, membentangkan selimut lalu menggunakannya untuk menutup seluruh tubuhnya. Kakinya diangkat ke atas kursi. Saya hanya bisa memandang langit gelap lewat jendela pesawat. Campur aduk pikiran saya. Saya hanya bisa berdoa semoga Wiwin dan rekan-rekannya diberikan keselamatan selama bekerja. Semoga juga bapak-bapak yang katanya wakil rakyat itu ada yang tidak sengaja baca blog saya (tapi buat apa juga ya kalau otak dan hatinya nggak jalan?)
baca selengkapnya