20 Mei 2011

Tidak Sensitif Gender atau Mati Rasa?


Beberapa hari lalu, saya naik transjakarta dari Masjid Agung menuju Bank Indonesia. Saya janjian dengan teman-teman lama dari Jogja, sekedar bertemu dan mengupdate informasi terbaru, alias gosip hehe...


Di Masjid Agung, tidak banyak penumpang yang mengantri. Dalam bis juga tidak ada penumpang yang berdiri, bahkan masih ada beberapa bangku kosong. Maklum, halte pertama dari blok M. Namun ketika saya masuk bersama beberapa penumpang lain, saya memilih berdiri, biar lebih dekat AC. Hehe...  Sampai di halte Polda, mulai tampak kerumunan penumpang menanti bis. Penumpang yang keluar hanya 1-2 orang, tapi yang masuk bisa lebih dari satu tim basket jumlahnya, begitu terus sampai saya tiba di Bank Indonesia.


Satu hal yang membuat saya tergeleng-geleng adalah saat di halte Senayan, pasangan istri suami masuk dengan bayi mereka dalam gendongan ibunya. Karena sudah sesak, si istri berdiri di dekat saya sementara sang suami di belakangnya. Saya sempat tengak tengok mencoba mencarikan tempat duduk untuk si ibu. Mana tega lah melihat perempuan harus menggendong bayinya dalam bus yang penuh sesak. Beruntung ada laki-laki yang melihat ke arah saya dan menunjuk si perempuan yang sedang menggendong bayi. Ia menawarkan tempat duduknya. Saya bilang saja pada si perempuan kalau di belakang ada tempat duduk.


Cukup lama saya sibuk dengan SMS dari kawan lalu saya terkaget karena menemukan si perempuan masih saja berdiri dekat saya. Penasaran, saya tengok bangku yang tadi ditawarkan si laki-laki. Ternyata sudah diisi seorang perempuan lain yang sebelumnya berdiri di depan tempat duduk itu. Mungkin perempuan ini mengira si laki-laki sudah akan turun dari bis dan bangkunya bisa ia kuasai. Mungkin dia tidak meihat kalau sebelumnya sudah ada kode-kode yang disampaikan antara si laki-laki, saya dan perempuan yang menggendong bayi.


Yang membuat saya bingung adalah, deretan bangku di samping saya diisi oleh perempuan-perempuan remaja. Mungkin berusia 16-18 tahunan. Salah satunya yang duduk paling ujung, langsung berhadapan dengan si perempuan yang menggendong bayi. Sama sekali tak ada di antara mereka yang tergerak untuk memberikan ruang pada ibu dan bayi itu mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Saya benar-benar bingung. Selama ini saya, yang laki-laki, berusaha untuk berempati pada perempuan: bagaimana rasanya jika saya harus mengalami menstruasi setiap bulan yang kadang-kadang disertai kram, bagaimana rasanya saya harus hamil dan membawa perut buncit saya kemana-mana, bagaimana rasanya melahirkan, bagaimana rasanya harus mengasuh bayi dan menggendongnya setiap hari. Sampai kapanpun, saya tidak akan bisa merasakan itu, tapi bukan berarti saya tidak bisa memahaminya.


Saya bisa saja menyalahkan sang suami yang dengan entengnya membawakan tas bayi dan botol susunya, bukan si bayi yang bobotnya jelas lebih berat. Tapi di sisi lain, saya paham dengan budaya yang sudah terkonstruksi di masyarakat soal siapa yang (dibentuk) untuk menjaga dan mengasuh bayi. Laki-laki dalam hal ini juga korban. Korban dari sebuah sistem yang lebih besar dan mengglobal. Ataukah mungkin juga perempuan-perempuan muda itu juga sudah terkonstruksi dalam melihat bahwa perempuan yang menjadi ibu itu ya memang sudah seharusnya menggendong bayi. Seakan-akan itu adalah beban yang tanpa bisa kompromi lagi harus diterima oleh setiap perempuan yang memutuskan untuk melahirkan dan memiliki bayi.


Soal laki-laki yang menawarkan tempat duduknya pada si perempuan, saya juga tidak bisa bilang dia laki-laki yang sensitif gender.  Bukan tidak mungkin juga jika si laki-laki ini juga terkonstruksi oleh budaya yang ada, sebagai laki-laki yang harus menampilkan citra kuat dan mengayomi perempuan. Memberikan tempat duduk pada perempuan adalah salah satu cara yang bisa dilakukan, secara tidak sadar, untuk menunjukkan ke'lelaki'an seseorang. Tapi bisa jadi juga, dia punya perasaan yang lebih sensitif. Mencoba merefleksikan atau mengasumsikan perempuan itu adalah ibunya, atau jika dia heteroseksual, mengasumsikan si perempuan itu sebagai pasangannya atau anaknya.


Nah, lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan muda yang sama sekali tidak tergerak hatinya? Saya rasa, untuk kasus ini bukan soal sensitif tidak sensitif gender, dengan beberapa alasan mengacu pada kemungkinan si laki-laki yang tidak sensitif gender tapi ada hal lain yang menggerakkannya untuk melakukan sesuatu kebaikan bagi perempuan. Mungkin ini hanya soal rasa. Matinya rasa kita sebagai manusia yang mencoba memahami bagaimana rasanya berada di posisi lain. Nah kalau sudah begini, Pendidikan Moral Pancasila, Pancasila dan Kewarganegaraan, atau apapunlah bungkusnya dengan isi yang itu-itu juga, agaknya tak ada gunanya. Saya ingat betul dulu ada satu soal dalam tes di sekolah dasar yang menanyakan: "Jika kamu sedang berada di dalam angkutan umum lalu ada nenek yang tidak mendapat tempat duduk, apa yang akan kamu lakukan?" Orang paling bodoh yang akan menjawab: "Membiarkan si nenek bergelantungan dan kena jambret"


Bagaimana dengan pendidikan agama? Maaf harus saya katakan, perempuan-perempuan muda yang duduk manis di bis itu separuhnya memakai atribut agama. Jadi pendidikan agama telah sangat berhasil mendoktrin siswa untuk percaya pada atribut dan ritual ketimbang soal hubungan antar manusia yang, bagi saya, justru disitulah esensi hidup manusia: menghargai dan menghormati manusia yang, kalau anda percaya Tuhan, adalah berarti menghargai dan menghormati Tuhan yang menciptakan manusia.


Saya lalu ingat berbincang-bincang dengan seorang kawan di kantor soal pendidikan di Indonesia. Sistemnya memang sudah hancur duluan. Mencoba menghasilkan sumber daya manusia yang tahu segala tapi tidak profesional. Kurikulumnya saja sudah dibongkar berulang kali, tapi hasilnya justru seperti sekarang. Mau menyalahkan arus informasi dari luar? Eits, kalau pondasinya sudah kuat, sudah mantap, mau angin sekencang apapun, tak akan tumbang saya rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar