5 November 2013

Satu Siang di Amersfoort

Perut saya yang keroncongan menggiring saya ke De Blauw Engel, Malaikat Biru. Satu restoran di pojok sebuah square di pusat Amersfoort. Tak perlu waktu lama bagi segelas Heineken dan setumpuk roti dengan keju dan ham tersaji di meja saya, di teras restoran. Tiga perempuan dan satu lelaki paruh baya serta dua perempuan muda duduk di sisi lain teras. Hampir semua pengunjung restoran memilih menyantap makan siangnya di luar. Meskipun angin di Belanda sedang kurang ramah, usaha keras matahari menyelinap dari balik awan dimanfaatkan betul oleh pengunjung restoran ini.

Ini musim gugur pertama yang saya alami. Saya yang besar di negeri tropis berlimpah sinar matahari sepanjang tahun. Sejauh ini saya masih bisa menikmatinya. Jauh lebih baik dibandingkan tumpukan salju yang menyulap landscape negeri kincir angin ini menjadi putih. Semua putih. Sekarang saya masih bisa menikmati alam yang lebih indah. Pepohonan mewarnai daun-daunnya dengan warna-warni menakjubkan. Kuning kecoklatan. Beberapa merah. Sebagian telah menjatuhkan dedaunannya dan menjadi sarana bermain bocah-bocah. 

Dari teras di samping sebuah Gereja Protestan, sambil menikmati makan siang, mata saya disuguhi bangunan-bangunan tua yang difungsikan menjadi restoran-restoran, kebanyakan masih tertidur karena hanya menyediakan menu makan malam. Dari kejauhan, menjulang menara gereja lain dengan jam dan lonceng di atasnya. Gumpalan awan besar berarak di belakangnya. Tampak buncit, siap menurunkan air hujan sore ini. Begitu kata ramalan cuaca. Bagi orang Belanda, ramalan cuaca sangat penting, terutama di musim yang kurang jelas seperti ini. Bisa jadi siang hari kau rasakan hangatnya matahari, namun menjelang sore awan-awan hitam menendang begitu saja sang raja siang, menyerbu daratan dengan jutaan kubik air.

Beberapa pasangan usia senja tampak berjalan santai di antara bangunan-bangunan itu. Dari cara mereka memperhatikan dengan penuh seksama setiap bangunan dan tentengan kameranya, bisa saya pastikan mereka turis juga. Seperti saya. 

Tiba-tiba saya didera rasa cemburu. Cemburu pada kemesraan yang mereka tunjukkan. Saya ingin seperti mereka. Ah, betapa menyenangkannya jika kau bisa bersama orang yang kau kasihi dan juga mengasihimu, bahkan sampai bersama-sama menghabiskan masa tua. Tentu saja itu bukan hal yang tidak mungkin bagi saya. Tapi membayangkan langkah demi langkah yang harus saya lalui untuk sampai pada kebersamaan itu kadang membuat saya menciut. Bagaimana tidak, ada sekian banyak proses administrasi yang harus kami terjang. Belum lagi urusan pribadi soal biaya hidup bersama dan sebagainya.

Ah tunggu... mereka, pasangan-pasangan usia senja itu, yang mungkin telah bertahun-tahun bersama, pasti juga sudah mencecap tidak hanya manisnya sebuah relasi, tapi juga asam dan pahitnya. Siapa yang tahu, salah satunya mungkin dulu tidak direstui oleh orang tuanya menjalin komitmen dengan orang yang ia pilih sendiri. Siapa yang bisa mengira, salah satunya mungkin juga harus urus pindah negara plus kewarganegaraannya. Siapa yang tahu dan siapa yang bisa mengira?

Sama saja seperti orang yang sedang kesepian melihat orang lain yang berpasangan itu mengasyikan. Tidak pernahkah terpikirkan bahwa terkadang ada insting merasa diri ingin bebas bisa mengusik sebuah hubungan? Bahwa indahnya hubungan itu tak akan nyata tanpa dialog terus menerus yang mungkin saja melelahkan? Bahwa kompromi itu bisa berarti mengubur ego sedalam-dalamnya?

Segelas Heineken sudah berpindah ke dalam perut saya. Saya jelajahi sekali lagi sajian bangunan tua dan meresapi dengan penuh ikhlas angin kencang yang menerpa tubuh tipis ini. Sudah saatnya saya mulai belajar dengan alam baru. Karena besar kemungkinkan, angin dan pemandangan ini yang akan menjadi kawan masa depan saya. Bersama orang yang saya kasihi, yang saya tinggal di kamarnya di Havikshorts.

Amersfoort, 17 Oktober 2013

6 komentar:

  1. Tumben postingannya galau. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini setengah manusianya lagi keluar, mat =P

      Hapus
  2. meski nggak baca semua paragrafnya, tetapi saya jadi terperangah begitu tau sisi kaks galink yg lain :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... masih banyak sisi lainnya juga lho... *bakar kemenyan*

      Hapus
  3. dan iseng baca lagi sampai tulisan terakhir jadi makin terperangah.. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. terperangah kagum apa terperangah mual nih? =P

      Hapus