24 Agustus 2013

Dua Perempuan di Pinggir Jalan

Seperti biasa, saya bersepeda hari itu menuju kantor. Tapi karena harus mampir kampus dulu, jalur saya agak memutar dari yang biasanya. Mendekati perempatan terakhir, saya melihat pemandangan yang tidak hanya membuat kepala saya berputar seratus delapan puluh derajat menandingi kecepatan sepeda, namun membuat hati saya tersentuh.

Di dekat perempatan, duduk seorang perempuan yang sudah sangat tua di atas trotoar. Saya payah urusan naksir umur, tapi sepertinya sudah di atas 70 tahun. Di depannya tergelar sapu lidi, sapu ijuk dan beberapa barang lain. Ya, dia berjualan di sana. Hal pertama yang membuat saya tersentuh adalah setua itu dia masih harus berjualan. Perasaan yang selalu datang setiap kali melihat orang-orang tua yang seakan tak kenal letih mencari sesuap nasi. Dulu saya pernah berpikir, kemana para anak dari orang-orang tua ini? Atau saudaranya yang lain? Tapi kemudian, saya pernah sedikit mengobrol, karena keterbatasan bahasa, dengan satu orang tua yang dengan lembut memberi tahu alasannya tetap bekerja di usia senja, "Saya tidak mau membebani anak." Deg!

Hal kedua yang membuat saya takjub siang itu adalah saat seorang ibu yang membonceng anaknya di atas sepeda yang hanya beberapa meter di depan saya, berhenti dekat si perempuan tua. Saya pikir si ibu hendak membeli sapunya. Ternyata ia datang dengan satu plastik putih berisi beras. "Ini buat ibu...," katanya. 

Mungkin perkiraan saya ini tidak benar. Tapi melihat penampilan si ibu dengan kaos entah-event-apa, celana pendek dan sepedaan, saya menduga, dan kemungkinan salahnya bisa jadi besar sekali, si ibu bukanlah orang kaya yang kebetulan murah hati. Justru itu yang membuat hati saya terketuk. Dibandingkan orang-orang lain yang seliweran di jalan dalam mobil mereka, sekiloan beras itu bisa jadi barang yang juga berharga bagi si ibu. Dibandingkan orang-orang yang mengantri bensin di pom tak jauh dari sana, sekantung beras itu bisa saja dia tukarkan dengan barang lain yang dia atau keluarganya butuhkan. Mungkin tepatnya saya merasa tertampar alih-alih takjub.

Seringnya saya menunggu dulu sampai saya merasa lebih saat hendak memberikan sesuatu pada orang lain. Padahal merasa lebih itu yang jarang saya rasakan. Jadilah saya ngasihnya juga kapan-kapan. Itu kalau sedang ingat. Kalau tidak ya sudah. Malu saya pada diri sendiri.

Pemandangan yang hanya beberapa detik itu membuat memori saya sibuk mengeluarkan kembali kata-kata bijak yang pernah saya dengar. Dua orang perempuan di pinggir jalan yang tidak saya kenal itu telah memberi saya pelajaran. Dari perempuan tua penjual sapu, saya diingatkan untuk bekerja keras dan tak kenal menyerah. Dari ibu pemberi beras, saya diingatkan bahwa tak perlu menunggu untuk berbuat sesuatu bagi orang lain.
baca selengkapnya

6 Juli 2013

Belajar dari Launching SRRC

Akhirnya... Terwujud juga resolusi saya (beberapa) tahun lalu: nulis buku! Ya! Akhirnya saya rampung menulis satu buku: Seksualitas Rasa Rainbow Cake (SSRC), Memahami Keberagaman Orientasi Seksual Manusia, diterbitkan oleh PKBI DIY dan hari Jumat (5/7) kemarin di-launch di Kedai Kebun Forum, Jogja. Seorang teman saya bertanya bagaimana perasaan saya setelah buku saya dirilis. Saya jawab,

"Plong. Deg-degan luar biasa menjelang prosesnya, tapi setelah semua selesai, rasanya ya.. plong. Tenang. Dan ada dorongan buat lagi... lagi... Kayak make love lah. Hehehe..."

Bagaimana tidak deg-degan, prosesnya saya mulai setelah rampung skripsi. Itu sekitar 6 tahun lalu (Apaaah?). Karena tema skripsi yang saya angkat dianggap cukup menarik beberapa orang, tentang lesbian, ada satu dua orang yang menganjurkan saya untuk membukukan skripsi saya, tentu dengan beberapa perubahan agar tidak terlalu terkesan akademis. Termotivasilah saya. Singkat cerita, sudah beberapa bagian saya format ulang dan karena suatu kecerobohan, file-file-nya hilang lang. Menguap seperti kentut. Saya lalu disibukkan dengan aktivitas saya dan sama sekali tak menyentuhnya lagi. Sampai akhirnya saya kembali ke Jogja dan atmosfirnya tepat sekali untuk memulai kembali proyek pribadi saya tersebut.

Hasil akhirnya cukup jauh dari apa yang saya rencanakan. Buku saya lebih mirip kumpulan kliping. Ya, banyak sekali informasi yang ingin saya sampaikan. Sudah saya pilih-pilih, tetap saja tidak berkurang banyak. Tapi saya puas dengan apa yang saya lakukan. Saya coba bahasakan ulang wacana tentang orientasi seksual dengan bahasa tutur sehari-hari yang lebih ringan dan menyenangkan. Saya kemas ala-ala chef biar lebih renyah, sesuai juga lah sama judulnya.

Yang bikin deg-degan lagi adalah saat menjelang launching buku. Satu 'pembedah'nya adalah seorang peneliti dari kajian Islam yang saya tidak pernah bertemu sebelumnya. Saya bahkan tidak tahu bagaimana pandangannya tentang seksualitas. Saya cuma dikasih tahu pihak penerbit kalo beliau cukup open-minded. Kekhawatiran saya adalah, berapa banyak orang yang tampak open-minded masih bisa mempertahankan keterbukaan pikirnya saat membahas orientasi seksual? Isu ini masih sangat sensitif dibahas dalam kajian agama.

Beruntung saya. Walaupun saya tidak cukup bisa mendalami alam berpikir si narasumber tentang isu orientasi seksual, tapi dia bisa menunjukkan keberpihakan bahwa LGBT adalah manusia yang sudah seharusnya mendapatkan hak yang sama dengan para heteroseksual. Lebih lagi, bagaimana masukan-masukan yang dia berikan, semacam strategi, untuk menyebarkan isu sensitif ini ke lebih banyak orang. Misalnya, dari yang paling dasar dulu adalah soal pengemasan. Buku saya dianggap cukup mampu menjawab persoalan selama ini dimana isu seksualitas lebih sering didiskusikan dengan bahasa-bahasa 'tinggi' yang cukup sulit dipahami banyak orang. Sementara para 'pesaing' isu gerakan hak asasi manusia, alias kelompok fundamentalis, sudah bergerak dengan lebih cerdik: menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dicerna dengan kemasan ngepop, tapi isinya tetep aja doktrin. So, don't judge a book by its cover itu memang masih kata-kata manis semu. Nyatanya tidak demikian. Saya jadi tidak sabar menantikan pihak penerbit menghubungi saya dan bilang, "Cetakan berikutnyaaa..." jadi saya bisa kemas ulang buku saya lebih menarik lagi. 

Komentar lain dari yang hadir di launching dan diskusi buku saya adalah,

"Kok saya lebih suka tulisan Galink di blog ya dibandingkan di buku?"

Nah ini. Pe-eR banget! Dulu saya sempat terinspirasi dari Raditya Dika untuk membukukan blog saya. Tapi setelah saya tengok lagi isi blog saya, isinya kayak gado-gado campur es teler. Apa-apa masuk. Yang penting menarik untuk saya tulis. Kadang isinya tidak tajam. Cuma cuap-cuap saja. Katarsis lah istilahnya. Beda dengan buku yang saya susun, sesuatu banget prosesnya. Milih kata aja gak cuma yang enak didenger tapi juga pertimbangan pantas atau tidak, terlalu begini begitu atau tidak.

Ya masukan dan komentar yang saya dapat selama diskusi banyak mencerahkan saya. Selain soal bagaimana memperbaiki beberapa hal dalam buku yang sudah diterbitkan. Saya jadi tidak sabar untuk memulai proyek selanjutnya... #wink! Dan tentu saja, semakin perhatian lagi sama blog yang belakangan lebih banyak dianggurin #snap!

Oya, ada yang tertarik untuk memiliki dan membaca bukunya? Tetep ya promo hehehe... Bisa dipesan di perpustakaanpkbidiy@yahoo.com. Harganya 45 ribu, belum termasuk ongkos kirim.



baca selengkapnya

8 Mei 2013

Lang Leve de Liefde: Pendidikan Seks Model Belanda


Masa depan suatu bangsa ada di pundak generasi muda. 

Ok, saya minta maaf kalau kalimat pembuka tulisan ini lebih mirip pidato Pak Camat. Tapi saya serius ingin menunjukkan kalau kata-kata itu bukan cuma basa-basi di upacara bendera atau sambutan untuk mahasiswa KKN. 

Beberapa negara, terutama negara maju, telah menunjukkan komitmen untuk mewujudkan slogan tersebut dengan menyediakan sistem pendidikan yang baik, lingkungan yang mendukung, ruang kreatif bagi orang-orang muda, bahkan hal-hal lain yang bagi sebagian orang masih dianggap tidak penting. Pendidikan seksualitas bagi remaja, misalnya. Alih-alih dianggap mampu menopang kualitas generasi muda, banyak orang yang justru masih berpandangan miring terhadap pendidikan macam ini. Pendidikan seks dituduh akan menjerumuskan remaja pada perilaku seks lebih dini. Benarkah?

Negara-negara yang berpikiran terbuka dan menganggap pendidikan seks itu penting, menyadari tidak mungkin negaranya bisa maju jika generasi mudanya disibukkan dengan dampak-dampak perilaku seksual yang tidak sehat seperti kehamilan di usia dini, infeksi HIV dan sebagainya. 

Belanda, salah satunya. Negeri kincir angin ini bahkan menjadi pionir dalam pendidikan seks karena telah memulainya sejak tahun 80-an. Tidak tanggung-tanggung, program yang diberi nama Lang Leve de Liefde (Long Live Love) ini bahkan diapresiasi oleh UNESCO sehingga muncul istilah pendidikan seks dengan model Belanda (Dutch model). Artinya, model pendidikan ini telah menjadi rujukan banyak negara lain di dunia!


Homepage Lang Leve de Liefde
http://www.langlevedeliefde.nl/
Kenapa program ini begitu menarik perhatian? Keberhasilan adalah jawabannya. Angka kehamilan pada remaja di Belanda paling rendah se-Eropa, yaitu 8,4/1000. Bandingkan dengan di Inggris, yang masih tabu soal seksualitas, angkanya 63/1000. Menariknya, remaja Belanda melakukan hubungan seks pertama kali rata-rata pada usia 17 tahun, setahun di atas rata-rata remaja Inggris. So, anggapan kalau pendidikan seks akan mendorong remaja untuk mencoba berhubungan seks, menjadi tidak terbukti.

Meskipun bukan kewajiban, Lang Leve de Liefde ini telah diterapkan di hampir seluruh sekolah menengah dan lebih dari separuh sekolah dasar di Belanda. Beberapa murid bahkan telah mendapatkan pendidikan ini sejak usia 6 tahun. Selain bahasan biologis, pendidikan ini juga membahas hal-hal lain yang justru terpenting dan sangat dibutuhkan remaja terkait seksualitasnya, seperti nilai-nilai, sikap, kemampuan komunikasi, pengambilan keputusan dan bernegosiasi.

Pemerintah memberikan dukungan dengan mengadakan penelitian-penelitian mengenai perencanaan keluarga, termasuk pendidikan seks. Buku-buku pelajaran direvisi dan sekarang telah dirancang sehingga memiliki pendekatan yang lebih komprehensif terkait seksualitas.

Dukungan pun diberikan oleh orang tua yang secara aktif mendiskusikan isu ini dengan anak-anak mereka sejak dini agar mereka lebih bertanggung jawab. Media juga memainkan peran besar. Di awal 90-an, acara-acara talk show menyajikan diskusi tentang seksualitas dan menghadirkan selebriti-selebriti terkenal. Organisasi-organisasi memberikan dukungan dengan mengadakan pelatihan bagi guru-guru serta menyediakan materi-materi pendukung. Program-program lain di luar sekolah juga dikembangkan, misalnya dengan memasukkan isu ini dalam layanan remaja atau ruang publik lainnya.

Keterbukaan pola pikir adalah salah satu kunci yang dipegang oleh orang-orang Belanda untuk memastikan masyarakatnya hidup sehat dan sejahtera, tidak hanya untuk generasi kini tapi juga generasi yang akan datang. Sejalan dengan teori Maslow, kebutuhan seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya, termasuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki dan memberikan kontribusi bagi bangsanya, bisa dicapai setelah kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya terpenuhi. Seksualitas juga kebutuhan dasar manusia, bukan?


Remaja Indonesia menuntut hak mendapatkan pendidikan seks
(foto koleksi PKBI DIY)


Referensi:




baca selengkapnya

25 April 2013

Untitled

Semingguan lalu saya mendapatkan berita yang sangat mengejutkan. Saya baru saja sampai di kantor ketika saya menerima pesan singkat, "Si A meninggal tadi pagi". Segera saya telepon kawan saya untuk memastikan, ternyata benar. A adalah teman saya, tidak hanya satu kampus, tapi juga sempat satu organisasi. Kepergiannya mendadak, tak ada berita dia sakit sebelumnya. Teman yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan caranya sendiri.

Dua hari lalu, organisasi kami menggelar acara semacam pengajian untuk almarhum. Saya bilang itu semacam pengajian karena memang bukan tahlilan seperti yang biasa dilakukan umat muslim saat ada yang meninggal. Di awal acara, memang seorang ustadz memimpin kami berdoa dalam cara Islam, setelah itu salah satu senior di organisasi memimpin doa dengan cara Kristen. Indah rasanya kami bisa duduk bersamaan, berdoa dengan cara kami masing-masing. Selepas berdoa, kami dipersilakan untuk menceritakan kenangan yang diingat saat almarhum masih hidup. Tidak semua orang yang hadir melakukannya, mengingat waktu juga yang sangat terbatas. Tapi beruntung saya kebagian. Sedikit lega rasanya, bisa mengeluarkan apa yang saya simpan.

Saya ceritakan bagaimana saya dan almarhum bisa kenal lalu bekerja dalam satu tim. Saya belajar banyak darinya. Saya juga sampaikan penyesalan saya karena tidak melakukan apa yang bisa saya lakukan, meskipun sebetulnya saya mampu, kalau saya benar-benar mau. Ya, beberapa bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman lain melihat ada gelagat yang tidak biasa dari almarhum. Walau saya mengenalnya sebagai pribadi yang ceria dan penuh semangat, senang becanda dan kalau tertawa kencangnya minta ampun. Tapi energi yang ia keluarkan akhir-akhir itu terasa aneh. Bikin orang kelabakan, sekaligus bertanya-tanya, "Ada apa dengan dia?"

Saya dan beberapa teman pernah bertanya langsung padanya, tapi selalu ia jawab ia sedang bersemangat, sambil sesekali bilang, "Aku akan mati muda". Sungguh, saat itu saya hanya menganggap kalimatnya itu sebagai caranya mengekspresikan semangat yang ia sendiri tak bisa bendung. Karena kejadiannya bertepatan dengan masa menjelang pernikahannya, saya dan teman-teman mengambil kesimpulan, mungkin itu hanya stres pra pernikahan. Ya namanya nikah, pasti banyak kan yang mesti diurus. Apalagi setelah ia menikah, saya sempat bertemu sekali dan ia terlihat lebih tenang. Semakin saya yakin dengan kesimpulan itu. Ternyata saya keliru besar.

Saya sadar satu hari setelah saya pergi melayat, saya whatsapp-an dengan seorang teman yang bilang kalau justru kalau seseorang yang biasanya bersemangat, sangat bersemangat, tiba-tiba tampak begitu tenang, mungkin ada sesuatu yang sedang ia pendam sendiri. Sial! saya lalai! Saya merasa bodoh, belajar ilmu kejiwaan tapi tidak bisa mempraktekkan. Saya merasa jahat, karena tidak menjadi teman baik untuknya. Itu penyesalan saya.

Niat saya untuk mengajaknya bicara secara serius, sekedar menanyakan apa yang sebetulnya sedang ia rasakan dan mungkin bisa saya bantu, tidak pernah saya lakukan. Alasan saya selalu saja karena belum ada moment yang pas, padahal moment itu sebetulnya bisa saya ciptakan. Setelah ia menikah, semakin saya mengurungkan niat untuk mengajaknya bicara.

Penyesalan memang tidak ada gunanya. Teman saya tidak akan pernah kembali. Tapi saya telah mengambil pelajaran yang luar biasa besar dari kejadian itu. Tidak ada salahnya menjadi lebih peka pada kondisi teman-teman kita. Mungkin kita tidak bisa menolong banyak, namun menyediakan telinga kita untuk mendengarkan keluh-kesah seorang teman bisa membantu mengurangi bebannya sedikit.

Selamat tinggal, kawan! Terima kasih telah mengajarkan saya sebuah arti ketulusan.
baca selengkapnya

23 April 2013

Karena Kita Punya Peran Masing-Masing

Sudah satu bulan saya bergabung dengan sekelompok orang muda kreatif di bisnis branding. Ya, saya bilang sekelompok orang muda karena tiba-tiba saya merasa tua di sana haha... Dan ya, kali ini saya 'beneran' menyelam di dunia bisnis, yang dikelola dengan cukup profesional. Wuis... kata terakhirnya ngeri ya? Profesional! Profesionalitas di mata saya bukan soal berbaju rapi, lengkap dengan dasi dan sepatu kulit mengkilap, menenteng macbook dan bicara bahasa alien. Karena kalau itu yang dimaksud, terima kasih selamat malam. Saya masih enggan meninggalkan kaos-kaos dan kets butut saya.

Saya mengartikan profesional di sini adalah saat apa yang kita kerjakan mendapatkan penghargaan dan kita melakukan apa yang memang sanggup kita lakukan, sesuai dengan posisi kita. Sesuai dengan peran kita.

Nah, ruang saya untuk berkreasi yang baru itu punya suasana yang asyik. Selain sering makan bersama (paling sering makan soto yang lewat tiap siang), kami juga sering ngobrol ngalor-ngidul. Dari mulai proyek, desain, perklenikan, hal-hal pribadi, sampai ngomongin seleb politikus dan seleb dunia maya. Kebetulan juga, kami memiliki titik-titik perjumpaan lain seperti rewo-rewo di aktivitas sosial yang sama, ternyata temannya atau saudaranya teman, dan sebagainya. Beberapa obrolan, atau tepatnya rumpian, membuat saya semakin yakin soal dimana saya sebaiknya berada.

Bukan sekali dua kali saya bertemu dan kadang harus bekerja dengan orang yang tidak paham dengan perannya. Bahkan saya juga pernah ada di posisi itu. Saya sendiri sih ngerasanya gak karuan. Saat saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan akhirnya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan. Kalau di dunia kerja, ya istilahnya tidak sesuai job desk (atau memang job desk-nya yang nggak jelas?). Saya boleh bangga pada diri saya sendiri karena saya berani memutuskan untuk berhenti. Risikonya jelas ada, saya tahu dan luar biasa khawatir melihat masa depan saya. Tapi toh, saya kembali berbincang dengan diri saya sendiri, soal apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup.

Jika beberapa orang menjalankan peran sesuai dengan posisinya, mungkin saya, saat ini, termasuk orang yang sedang mencoba kebalikannya. Mencari posisi yang sesuai dengan peran saya. Kemarin-kemarin saya sempat mengirim lamaran ke beberapa lembaga, saya sadar, saya sangat selektif. Ketemu satu saja job desk yang nggak-gue-banget, langsung saya drop. Beberapa posisi yang dulu-dulu saya inginkan tiba-tiba menjadi tidak menarik lagi buat saya (dan saya juga tidak menarik buat posisi itu hahaha...). Ada juga tawaran dari beberapa kenalan, posisi yang lumayan, tapi saya tolak dengan halus. Mungkin saya dikira nggaya atau apalah. Terserah. Yang pasti, saya mulai tahu kapasitas saya, saya mulai paham peran saya. Soal ternyata nantinya di luar apa yang saya kira, itu urusan lain. Yang penting, saya sudah, sedang dan masih akan belajar tentang diri saya.

Soal peran itu, saya menganalogikan dengan proses pembuatan film. Ada sutradara, ada camera-person, ada aktris dan aktor, ada produser, penulis naskah, penata lampu, casting director, editor, penata lampu, penata rias, kostum, dan sebagainya. Memang ada beberapa film yang sutradaranya merangkap produser, ngambil gambar plus ngedit pula. Atau nyutradarain tapi jadi pemain juga. Tergantung genre, kelas dan keseriusan filmnya. Tapi coba tengok film-film yang mendapat penghargaan, film-film yang nembus box-office dan film-film yang berkualitas. Ada berapa kepala manusia di belakangnya? Setiap kepala itu menjalankan peran sesuai dengan posisinya masing-masing. Camera-person ya perannya ambil gambar, nggak tau-tau jadi pemeran pembantu, lha terus siapa yang ngambil gambar? Penata lampu ya perannya ngatur cahaya, nggak ujug-ujug milihin kostum yang pas buat tokoh utama. Hasilnya? Ya kalaupun nggak dapat penghargaan, nggak nembus box-office dan kurang berkualitas, tapi setidaknya jadi film beneran tho?

Dalam cerita film pun demikian. Anne Hathaway yang kebagian peran sebagai Fantine dalam Les Miserables, misalnya, ya memainkan perannya sebagai Fantine secara maksimal, sampai rela potong rambut pendek. Sedangkan Hugh Jackman yang kebagian peran sebagai Jean Valjean, ya jungkir baliklah dia sampai bisa menjiwai tokohnya itu, nggak mlipir-mlipir jadi tokoh Javert yang diperankan Russell Crowe. Sekalipun Mbak Anne dan Mas Jackman ini, misalnya, sangat menyukai kegilaan dan kenyentrikan pasangan Thernadier (Sascha Baron dan Helena Bonham), nggak profesional namanya kalau mereka memasukan unsur nyentrik Thernadier dalam peran Fantine dan Jean Valjean. Karena mereka sudah punya perannya masing-masing.

baca selengkapnya

17 Maret 2013

Remaja Itu Masa Storm & Stress, Mitos?

Pernah dengar teori yang bilang kalau masa remaja adalah fase penuh stres dan badai (storm and stress)? Kalau masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang sering menyebabkan individu menjadi labil? Masa penuh tekanan dari teman sebaya?

Ya, silakan cari teori-teori psikologi tentang itu. Beberapa dari anda mungkin menyetujui teori tersebut dengan berkaca dari diri sendiri atau orang-orang di sekitar, termasuk anda yang sekarang masih berada di rentang remaja. Tapi bagi beberapa orang, termasuk saya, terutama yang sudah melewati masa remaja (beraaaat sekali mengakui ini hahaha...), mungkin akan berpikir lagi tentang benar tidaknya teori tersebut. Karena sebagai orang yang sedang berada di jenjang dewasa awal, stres dan badai tersebut saya rasakan lebih kencang dibandingkan dengan saat saya remaja. Dan bukan hanya saya, belakangan saya bertemu dengan beberapa kawan yang intinya sepakat dengan hal ini: masa remaja adalah masa storm and stress itu cuma mitos!

Kenapa saya dan kawan-kawan saya itu berkeputusan demikian? Karena pengalaman yang kami rasakan ya memang demikian. 

"Sekarang kita mesti mikir hidup kita sendiri. Padahal masih bingung juga apa yang sebenarnya ingin kita lakukan," kata seorang kawan.

"Kayaknya, yang kita lakukan itu ya hanya bekerja untuk menunjukkan kepada orang lain kalau kita bisa. Bukan untuk diri sendiri," kata kawan yang lain.

Tuntutan dari lingkungan sekitar juga bukannya semakin hilang, justru semakin kuat. Tentang bagaimana kita menjadi manusia ideal, hmm uhuk.. yang mainstream. Tuntutan untuk menikah, tuntutan untuk bekerja, tuntutan untuk dewasa. Tuntutan-tuntutan dengan cabang tuntutan yang lebih banyak: tuntutan untuk menikah bercabang menjadi menikahi orang yang seagama, menikahi orang yang mapan, menikahi orang satu bangsa, menikahi anak pejabat, menikahi orang yang berbeda jenis, yang segera diikuti dengan tuntutan untuk memiliki anak, tuntutan untuk memiliki anak lagi, dan seterusnya. Tuntutan bekerja pun bercabang menjadi tuntutan untuk kerja kantoran, tuntutan untuk kerja dengan gaji tinggi, tuntutan untuk kerja di kota yang nggak jauh-jauh dari orang tua, dan seterusnya.

Dengan gegabah, saya membuat kesimpulan kalau para penyusun teori perkembangan itu adalah mereka yang di usia dewasanya tunduk pada pakem-pakem sosial yang ada. Jadi ketika tuntutan beruntun itu datang, mereka mungkin nyantei-nyantei saja, ngikutin arus, leha-leha di teras minum kopi sambil bikin-bikin teori. 

Praduga ngawur saya yang lain adalah lebih mudah menyoroti dunia remaja, menganggap mereka sedang berada di atas jembatan rapuh menuju sisi kedewasaan. Mana ada orang (yang umurnya cukup) dewasa yang mau dicap labil, kan? Ini juga yang akhirnya memunculkan istilah 'kenakalan remaja' atau 'juvenile delinquency' sementara orang-orang dewasa yang kelakuannya nakal gak dikasih istilah macam ini (masuknya kategori kriminal, tapi kriminalitas juga berlaku buat remaja, gimana tuh?)

Back to the topic, kegalauan para manusia dewasa muda ditambah lagi dengan semakin menciutnya lingkaran pertemanan. Kalau waktu remaja, galau dikit, tinggal kontak teman-teman, happy-happy deh. Begitu masuk usia dewasa, kita sibuk dengan kehidupan pribadi kita. Yang serius kerja sibuk dengan kerjaan, yang serius bikin anak juga sibuk ngurus ini itu. Mengumpulkan teman-teman dalam satu waktu harus siap dengan balasan: 'aduh, sorry, tanggal itu aku tugas ke luar kota', 'maaf nih, itu pas aku mau antar anak nonton badut', bla bla... 

Di usia remaja kita lebih bebas pula berekspresi. Nangis sesenggukan tiga hari tiga malam gara-gara patah hati, menjadi hal yang bisa dimaklumi, teman-teman bahkan datang dan memberikan dukungan (termasuk ikut ngumpat-ngumpati). Lihat artis idola bisa teriak-teriak histeris, teman kita juga ikut loncat-loncat (walaupun nggak ngefans). Begitu masuk usia dewasa, teman-teman yang tadinya ikut melonjak kegirangan atau ikut mengumpat itu  akan disibukkan dengan urusan mereka masing-masing.

Oh oh... tulisan ini bukan untuk menginspirasi pembaca untuk menghindari masa dewasa lho. Ini hanya gambaran soal tantangan yang akan dihadapi pembaca sekalian yang masih remaja, terutama yang akan segera memasuki gerbang usia dewasa. Expect the best and be prepared for the worst lah istilahnya, jangan lihat enaknya saja dari kehidupan dewasa.

That's all. Bye
baca selengkapnya