Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

4 Januari 2013

Saat Ngangkang Jadi Urusan Negara

Ada berita yang sedang mengusik kuping saya belakangan ini. Datangnya dari bumi kita tercinta, dari sebuah kota di provinsi paling barat Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam. Di Kota Lhokseumawe, sang walikota dengan dukungan DPRD, mengeluarkan surat edaran yang menghimbau perempuan untuk duduk tidak mengangkang saat dibonceng di atas sepeda motor. Rencananya, himbauan ini akan  dibakukan menjadi aturan walikota dalam sebulan ke depan. Alasan dari munculnya surat edaran ini adalah, katanya, untuk melindungi perempuan. Perempuan yang duduk mengangkang saat dibonceng dianggap dapat memprovokasi syahwat para laki-laki heteroseksual. Juga alasan kalau duduk mengangkang itu sangat tidak perempuan dan bukan budaya Aceh.

Sejenak kita pindah channel ke India. Di sana sedang marak dengan kasus perkosaan dan penganiayaan terhadap seorang mahasiswi yang dilakukan oleh sekelompok laki-laki yang berakhir pada meninggalnya sang mahasiswi akibat luka serius. Kasus ini telah memicu gelombang protes besar-besaran di India, bahkan asosiasi pengacara di negara tersebut menyatakan tidak akan membela enam orang pelaku yang sudah ditangkap oleh polisi setempat.

Sasaran dari aksi demonstrasi di Negeri Bollywood tersebut adalah sikap pemerintah lewat tangan kepolisian yang dianggap sering mengabaikan para korban. Mereka menuntut pemerintah lebih serius menangani kasus-kasus perkosaan dan kekerasan terhadap perempuan. Perlindungan terhadap perempuan adalah hal yang sangat mendesak.

Walikota Lhokseumawe mungkin tersenyum-senyum bangga karena merasa dirinya sudah mengeluarkan edaran yang berusaha melindungi perempuan di kotanya. Aturan berpakaian tertutup sudah diterapkan di provinsi yang memberlakukan syariat Islam, pasti termasuk juga Kota Lhokseumawe di dalamnya. Sekarang ditambah lagi dengan aturan dilarang mengangkang saat dibonceng motor. Ckckck... Pak Walikota dan Pak Marzuki Ali yang dulu komentar soal rok mini ternyata selain sama-sama pejabat, juga masih cetek dalam melihat isu seperti ini.

Coba kita kembali terbang ke Hindustan, kita bisa melihat bagaimana masyarakat di sana sudah mulai terbuka cara berpikirnya. Bahwa kasus perkosaan, dan kekerasan terhadap perempuan lainnya, tidak datang dari bagaimana perempuan-perempuan ini bersikap atau berpakaian. Tidak. Toh, banyak kasus perkosaan yang menimpa perempuan berpakaian sangat tertutup. Banyak kasus perkosaan yang dilakukan oleh orang-orang yang dikenal. Jadi, aturan macam 'tutup seluruh badan kecuali muka' dan 'bonceng motor duduk nyamping ya' itu nggak akan ngaruh untuk nasib perempuan selama otak laki-laki heteroseksnya nggak dicuci bersih.

Niat Pak Walikota mungkin mulia ya. Cuma agak keliru saja. Beribu maaf kalau saya bilang agama yang dinarasikan seperti sekarang ini tidak berhasil membawa manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Jadi lain mungkin kondisinya jika agama yang seringkali dibawa-bawa Pak Walikota dan jajarannya tersebut, ditelaah lebih dalam, kenapa aturan-aturan lawas yang katanya melindungi perempuan itu ada, tidakkah aturan-aturan itu bersifat afirmatif untuk kondisi di masa dulu? Relevankah diterapkan di masa kini? Ups! Ngerti apa saya soal agama. Stop ngomongin agama deh.

Kekeliruan cara pikir itu tampak dari perkara bagaimana per-ngaceng-an para laki-laki dilihat. Apakah ngacengnya laki-laki heteroseks itu karena hanya melihat perempuan berposisi tertentu, seperti mengangkang? Atau karena perempuan berpakaian mini? Oke, memang betul, dorongan seksual bisa muncul karena adanya rangsangan dari luar. Tapi ya kalo setiap ngaceng terus bawaannya harus disalurkan tanpa pandang siapa, kapan dan dimana, nggak malu masih mengaku sebagai makhluk dengan tingkat kecerdasan paling tinggi di muka bumi? Tidak bisa mengelola dorongan seksual? Makanya, belajar pendidikan seks donk!

Lalu soal mengangkangnya. Jika ya memang duduk mengangkang perempuan yang dibonceng di atas motor itu dapat mengundang hasrat seksual laki-laki heteroseksual yang melihatnya, apakah tidak berlaku bagi perempuan yang duduk mengangkang yang mengemudikan motor, atau duduk mengangkang karena alasan lain, naik kuda? Beda ngangkangnya itu dimana? Perempuan yang duduk menyamping juga bisa saja dianggap menggoda bagi beberapa laki-laki heteroseks yang lebih senang melihat perempuan feminin. Makin feminin perempuan, makin bernafsu laki-laki. Matilah aturan itu.

Kekeliruan lainnya adalah soal keselamatan perempuan. Untuk hal ini, YLKI angkat bicara. beritanya bisa disimak di sini. Intinya, dibonceng menyamping itu tidak aman bagi keselamatan saat berkendara. Menariknya, Malaysia yang juga menerapkan syariat Islam, justru mewajibkan duduk mengangkang saat dibonceng. Alasannya ya keselamatan itu tadi. Ya iyalah, ngapain nyelametin laki-laki dari godaan syahwat kalau keselamatan perempuan menjadi taruhannya? 

Yuk, ibu bapak pejabat, coba cermati lagi sebelum bikin surat edaran atau bikin aturan a-i-u-e-o, apakah niat baik kita akan berdampak baik bagi orang-orang yang dikenai aturan tersebut atau tidak? Apakah sudah menyentuh akar permasalahannya? Mirip-miriplah seperti berita-berita di televisi yang menayangkan kasus-kasus perkosaan kemudian ditutup dengan saran kepada para perempuan untuk lebih menjaga diri, lengkap dengah tips ini itu. Bukannya meminta para laki-laki untuk menghentikan aksi umbar syahwatnya, bisa juga lho dikasih tips.

Mengutip slogan yang sering digaungkan para feminis di penjuru dunia terhadap kekeliruan kebijakan macam ini:








baca selengkapnya

23 Februari 2012

Kelamin Bahasa

Sudah agak lama sebetulnya ingin menulis tentang ini, tapi seringnya muncul ide lain yang tak kalah menarik. Barulah saat saya mengintip status teman-teman saya di jejaring sosial, saya menemukan salah satu kawan memasang landscape Jakarta di sore hari. Fotonya memang bagus, tapi yang lebih menarik perhatian saya adalah status teman saya untuk mengomentari foto tersebut, "senja yang ganteng". Saya tidak tahu alasan sang pemilik status tidak mengikuti arus yang memadankankan senja dengan kata cantik atau indah, kata-kata yang sebetulnya bermakna mirip dengan ganteng, namun dianggap lebih feminin, tapi ini menggelitik saya untuk menulis tentang kaitan isu gender dan bahasa.


Saya memang bukan pakar di isu gender, tapi ada beberapa hal menarik yang saya pelajari terkait isu ini. Salah satunya adalah bahasa dan makna yang punya peran penting dalam sosialisasi peran gender dalam masyarakat (ah, saya juga bukan ahli semiotika, saya tidak tahu apa istilah untuk ini). Dalam isu gerakan sosial, bahasa adalah salah satu alat yang digunakan untuk mereproduksi nilai-nilai. Bahasa bisa menunjukkan perspektif kita dan atau bagaimana kita menyusun strategi yang sesuai dengan idealisme yang diusung. Contohnya, kalau langsung dikaitkan dengan isu gender, adalah penggunaan istilah untuk perempuan yang ada dalam prostitusi. Bagi mereka yang melihat perempuan-perempuan tersebut sebagai manusia asusila dan semacamnya istilah yang dipakai biasanya WTS (Wanita Tuna Susila). Sementara bagi mereka yang ingin menunjukkan keberpihakannya kepada perempuan-perempuan ini, ada dua istilah yang dipakai, perempuan pekerja seks (dengan perspektif bahwa setiap orang memiliki kedaulatan penuh atas tubuh dan seksualitasnya) atau perempuan yang dilacurkan (berangkat dari fakta bahwa perempuan-perempuan ini 'dilacurkan' oleh sistem yang tidak berpihak). Subjeknya tetap sama, perempuan dalam prostitusi, tapi bahasa yang digunakan berbeda untuk menunjukkan cara pandang dan sikap kita terhadap mereka.


Para aktivis dan lembaga yang peduli dan berpihak pada hak-hak perempuan, biasanya menggunakan kata perempuan alih-alih wanita apalagi betina. Bagi beberapa orang, mungkin ini perkara sepele, tapi tidak bagi sebagian lain yang menganggap istilah perempuan dan wanita punya nilai politis dan historis di dalamnya. Anda bisa googling dan menemukan banyak artikel dan blog yang menjelaskan tentang ini (saya link-kan satu yang singkat tapi padat). Itu baru contoh istilah-istilah. Kalau kembali ke status teman saya itu, yang saya ingat adalah saat saya ikut diskusi dengan seorang aktivis gender dan saat saya berguru sambil membuat panduan membuat tulisan berperspektif gender.


Pembakuan peran gender disosialisasikan juga lewat bahasa, selain melalui alat budaya lain, dimulai bahkan saat kita pertama kali diajarkan membaca di sekolah dasar. Ya, pelajaran Bahasa Indonesia telah cukup sukses menanamkan nilai-nilai keperempuanan dan kelelakian (semoga kurikulum sekarang sudah lebih baik). Masih ingatkah kalimat-kalimat ini: "Bapak pergi ke kantor", "Ibu memasak di dapur"? Ada yang salah dengan kalimat ini? Salah mungkin tidak, tapi secara tidak langsung telah berhasil mengajarkan kepada kita kalau bapak -yang notabene laki-laki- itu tempatnya di kantor, bekerja di luar rumah. Sedangkan ibu, yang perempuan, ya memasak di dapur. Demikian saat kita diajarkan tentang macam-macam pekerjaan, masih ingat bagaimana gambar yang ditampilkan untuk orang yang bekerja sebagai suster, insinyur, pilot?


Kemudian soal penempatan urutan. Mungkin ini sepele bagi sebagian orang, tapi tidak bagi yang lain. Contoh yang paling sering ditemukan adalah dalam istilah suami-istri. Kenapa suami selalu diletakkan di awal? Juga saat menyebutkan dalam kalimat "...laki-laki dan perempuan..." Kalau kita berpendapat 'toh tidak ada bedanya menulis mana yang pertama duluan', tidak sulit untuk sedikit mengubah kebiasaan tersebut, bukan?


Ada juga istilah-istilah terkait profesi dengan akhiran -wan atau -wati atau akhiran -a dan -i pada kata-kata benda tertentu. Seperti sudah kita ketahui, akhiran-akhiran tersebut menunjukkan jenis kelamin si empunya. Ada wartawan dan karyawan, ada wartawati dan karyawati. Ada mahasiswa dan pemuda, ada mahasiswi dan pemudi. Sayangnya, yang berakhiran -wati dan -i lebih sering tidak digunakan. Bahkan untuk beberapa istilah tertentu terdengar tidak lazim (atau memang tidak ada?), seperti hartawati, bangsawati, jutawati, seniwati? Istilah jurnalis kemudian digunakan oleh beberapa orang untuk lebih menetralkan istilah yang menunjukkan orang yang bekerja mencari dan menulis berita. Istilah pekerja seni juga digunakan untuk menggeser istilah seniman. Apa lagi ya contohnya? Di Bahasa Inggris, penetralan istilah juga mulai digunakan seperti mengganti istilah cameraman dengan camera person, stewardess dengan flight attendant, bellboy dengan bellhop atau room service (bisa klik di sini untuk lebih banyak istilah)


Beruntung, Bahasa Indonesia bisa dibilang lebih netral gender dibandingkan bahasa lain. Misalnya, kita punya kata penunjuk orang ketiga tunggal tanpa spesifikasi gender: dia atau ia. Bandingkan dengan Bahasa Inggris dengan she dan he (jika subjeknya tidak pasti, beberapa pengguna Bahasa Inggris yang kritis pada isu gender kadang menggunakan s/he). Pun kita menyebut manusia dan orang, yang juga netral. Sementara dalam Bahasa Inggris, seringkali kata man digunakan untuk menunjuk manusia secara umum. Sekarang, beberapa orang mulai menggunakan istilah yang lebih netral: human, person, human being. Bahasa Perancis agaknya yang paling ribet soal gender ini karena mereka punya genderisasi kata benda bukan hanya karena jenis kelamin yang ditunjuk oleh kata tersebut namun semata karena pelekatan sifat maskulin dan femininpada kata-kata benda tersebut. (Silakan yang jago Bahasa Perancis mungkin bisa lebih menjelaskan hal ini hehe...)


Terakhir yang menjadi sorotan saya adalah di media massa paling sering kita temukan dalam pemberitaan kriminal perkosaan terhadap perempuan yang mengaliaskan korban dengan nama Mawar, Melati atau nama bunga lainnya. Kesan yang muncul adalah, bunga itu identik dengan perempuan. Beberapa feminis bahkan mengkritisi bahwa hal ini bisa menimbulkan persepsi lebih lanjut: karena perempuan itu bunga, menjadi maklum untuk 'menikmati'nya, memaklumkan tindak perkosaan yang terjadi.

Mungkin itu baru sedikit hubungan antara bahasa dan gender. Ya, mungkin juga kita menganggap ini adalah hal yang sepele. Tapi bagi yang percaya bahwa bahasa itu adalah kesepakatan umum, sementara kita menggugat beberapa kesepakatan umum yang cenderung bias dan merugikan pihak tertentu, maka mengubah kebiasaan kita berbahasa adalah juga merupakan alat untuk menunjukkan gugatan kita pada kesepakatan umum tersebut.


Bacaan menarik:
Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki? Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia
baca selengkapnya

11 Desember 2011

Melawan Mitos HIV & AIDS

Dua orang perempuan masuk ke dalam ruangan dimana saya dan beberapa teman sedang mendengarkan pengalaman sebuah organisasi yang bergelut di isu HIV & AIDS di Bali. Seorang staf organisasi tersebut lantas meminta keduanya untuk duduk di bangku depan dan memperkenalkan diri mereka, termasuk statusnya sebagai orang yang terinfeksi HIV. Sang staf lalu mempersilakan kami untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Saya salah tingkah. Tak bertanya satu pun, hanya kening berkerut-kerut.

Bukan hanya sekali dua saya bertemu orang yang terinfeksi HIV. Beberapa kawan saya juga HIV positif, sebagian perempuan. Namun bukan itu yang menjadi alasan saya memilih bungkam. Jika kawan-kawan saya yang positif HIV bisa dengan tenang dan percaya diri menceritakan statusnya di depan umum karena sudah terbiasa, saya menangkap ketidaknyamanan pada wajah dua perempuan ini. Wajah yang mengajak memori saya kembali ke beberapa tahun lalu, saat saya pertama kali bertemu dengan perempuan yang HIV positif yang bukan berasal dari komunitas pengguna napza suntik dan pekerja seks, komunitas-komunitas yang selama ini dianggap beresiko tinggi dalam penularan HIV. Saat itu saya sedang membantu memfasilitasi pertemuan orang-orang yang terinfeksi HIV dari berbagai komunitas. Ia adalah salah satu pesertanya.

“Aku dapat dari suamiku.” Kalimat itu begitu saja keluar dari mulutnya tanpa saya tanya. Saya masih ingat, saat itu kami sedang menikmati kopi di sela acara. Saya langsung paham yang dia maksud ‘dapat’ artinya adalah terinfeksi HIV. Yang membuat saya agak terkejut adalah karena selama sesi pertemuan, dia tidak banyak bicara. Lebih sering duduk diam dan mendengarkan. Wajahnya yang lugu sangat serius mencerna setiap informasi yang didapat dan saat berbicara terdengar agak ragu karena masih harus bergelut dengan emosinya sendiri. Saya mungkin terdengar mendramatisir, tapi anda mungkin juga akan menyimpulkan hal yang sama jika melihat genangan air matanya nyaris tumpah saat dia melanjutkan kisahnya, “Suamiku sudah meninggal. Saat itulah aku baru tahu ia meninggal karena AIDS. Dan pada hari itu juga aku tahu aku HIV positif”.

Kejadian itu baru dia alami beberapa bulan sebelum kami bertemu. Wajar rasanya jika saat itu kondisinya belum stabil, apalagi usianya hanya terpaut beberapa tahun di bawah saya. Harus menerima sekian kenyataan yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apalagi dengan bayi yang belum genap setahun, kekhawatiran akan masa depan masih terbayang di wajahnya kala itu. “Syukurlah, anakku negatif,” katanya sambil tersenyum.

Sikap dan cara bicaranya sangat berbeda saat dia berbicara dengan saya dan saat dia berada dalam forum. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh dua perempuan yang saya lihat siang itu. Sayang, saya kehilangan kesempatan untuk mengobrol santai dengan mereka. Walaupun saya juga tidak tahu apa yang akan saya tanyakan, tapi saya merasa lebih nyaman berbicara secara personal. Dalam hal ini, saya memposisikan bagaimana jika saya adalah mereka. Saya tidak akan melakukan hal yang saya tidak suka orang lain memperlakukan saya. Jika saya adalah mereka, mungkin saya akan merasa khawatir orang-orang akan mencap saya ini itu saat saya memberi tahu status saya, menganggap saya yang tidak-tidak karena bicara HIV & AIDS seringkali sulit bebas nilai.

Sejak ditemukannya, HIV & AIDS tak pernah lepas dari mitos dan isu moralitas. Ini juga yang dialami oleh kawan saya itu. Keluarganya sendiri menolak dia setelah diketahui statusnya. Tak disebutkan apa alasannya kepada saya, tapi saya duga itu karena keluarganya tak punya informasi yang benar soal HIV & AIDS. Tak sedikit keluarga yang melalukan tindakan seperti ini kepada mereka yang terinfeksi HIV, takut tertularlah atau karena mereka yang HIV positif itu dianggap telah melakukan perbuatan-perbuatan melanggar nilai dan norma. Bahkan, orang yang meninggal karena AIDS pun masih saja mendapatkan perlakuan seperti ini. Di Bali misalnya, beberapa kali terjadi jenazah orang yang meninggal karena AIDS ditolak olah warga adat. Padahal menurut kepercayaan Hindu Bali, jenazah harus dimandikan oleh seluruh warga.

Selain mitos bagaimana mudahnya HIV ditularkan, mitos lain yang berkembang juga misalnya HIV & AIDS adalah wabah orang asing, yang padahal, sebagai contoh saja di Bali, turis-turis asing memiliki informasi dan kesadaran yang lebih tinggi tentang HIV & AIDS, terbukti dari kondom yang senantiasa mereka siapkan dan tidak ragu-ragu mengakses layanan terapi rumatan metadhon yang disediakan layanan-layanan kesehatan di Bali. Selain sebagai wabah orang asing, masyarakat masih juga memandang HIV & AIDS sebagai wabah para pekerja seks, terutama pekerja seks perempuan. Perempuan yang terinfeksi HIV, apapun penyebabnya, kemudian mendapatkan cap negatif sebagai perempuan ‘nakal’, sementara perempuan yang dianggap ‘baik-baik’ tidak mungkin tertular HIV. Padahal menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional tahun 2010, dari 5.210 kasus AIDS kumulatif pada perempuan, sebanyak 41,4 persennya adalah ibu rumah tangga, sedangkan jumlah kasus pada perempuan pekerja seks sebesar 8,7 persen. Tentu saja, perempuan yang terpaksa menjadi pekerja seks jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang menjadi ibu rumah tangga. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa jumlah laki-laki yang menjadi pelanggan pekerja seks jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pekerja seksnya sendiri, yang justru jarang sekali mendapatkan cap negatif karena perilakunya itu dianggap lebih ‘lumrah’ dalam masyarakat.

Mitos-mitos seperti ini juga acapkali diperkuat oleh pemberitaan yang kurang berimbang dan penyajian data tanpa penjelasan lebih dalam. Misalnya saja, banyaknya kasus HIV di kalangan orang muda yang disajikan ‘seadanya’ tanpa keterangan lebih jelas, dapat membentuk opini masyarakat bahwa HIV & AIDS adalah hanya masalah orang muda, yang seringkali dianggap berjiwa ‘pemberontak’, suka mendobrak tabu-tabu sosial. Padahal jika kita telusuri, angka tersebut mungkin justru menggambarkan kesadaran orang-orang muda ini untuk melakukan tes HIV dan bagaimana program-program HIV & AIDS yang ada selama ini lebih banyak menyasar kelompok usia ini.

Usia muda, perempuan dan HIV positif. Secara parsial saja sudah dipenuhi label-label tak mengenakkan. Bayangkan jika ketiganya tersandang pada diri kita. Kawan saya, ia perempuan dan terinfeksi HIV pada usia yang masih sangat muda, lalu mendedikasikan dirinya pada isu HIV & AIDS dengan mengaktifkan kelompok dukungan sebaya bagi perempuan-perempuan yang terinfeksi HIV bersama kawan-kawan lain. Ada rasa bahagia saat saya melihat banyaknya kelompok-kelompok dukungan sebaya seperti itu, apalagi ada pula yang diinisiasi justru oleh keluarga orang yang terinfeksi HIV seperti yang ada di Singaraja, dan ada yang mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat sekitar seperti yang ada di Jembrana. Meskipun keduanya berada di Bali, saya percaya masih ada dan akan lebih banyak lagi kelompok-kelompok seperti itu dari Sabang hingga Merauke. Juga hal yang sangat menggembirakan ketika lebih banyak anak muda yang peduli pada isu HIV & AIDS, tidak menelan mentah-mentah mitos yang beredar di masyarakat dan tak ragu berkawan dengan orang-orang yang terinfeksi HIV.

Kita tak mungkin hanya menunggu waktu untuk menjawab persoalan HIV & AIDS sekarang ini. Membutuhkan proses dan usaha keras agar masyarakat terbebas dari mitos-mitos menyesatkan, mendapatkan informasi yang benar dan bersikap serta berperilaku dengan tepat. Proses dan usaha keras telah dilakukan kawan saya itu, yang perempuan dan terinfeksi HIV pada usia muda, yang berhasil melawan mitos yang terinternalisasi dalam dirinya, yang menjadikannya seperti sekarang. Proses yang mungkin masih sedang dilalui oleh dua perempuan yang masuk ke ruangan di siang itu.

baca selengkapnya

31 Januari 2009

Masih tentang Isu Perempuan

Saya baru pulang dari Jakarta, mengikuti sebuah workshop. Tapi bukan  workshopnya yang ingin saya ceritakan. Pada malam terakhir saya di Jakarta, kawan-kawan mengajak makan di daerah Kemang. Karena background kami semua dari NGO, obrolan pun tidak lepas dari topik hak azasi manusia, isu universal yang mengaitkan perbedaan ranah juang masing-masing lembaga. Perbincangan bergulir dari isu orang (di)hilang(kan), homoseksualitas, layanan kesehatan, dan macam-macam. Sampai pada topik yang sangat menarik, karena bagi beberapa orang, termasuk saya, informasi tersebut tergolong baru.


Seorang kawan dari Stigma, lembaga yang concern pada isu harm reduction NAPZA, menceritakan pengalamannya saat bekerja di lembaga lain. Job desc nya adalah mengunjungi lapas-lapas yang ada di Jakarta. Sudah rahasia umum (atau hanya beberapa gelintir orang saja yang tahu?) peredaran NAPZA di dalam penjara justru didukung oknum sipir yang mencari keuntungan dari para tahanan.


"Temen gw sampai ada yang nyolong sendal jepit terus ngotot minta dikasusin. Setelah gw tanya, alasan dia adalah: kan lebih enak di penjara, nyari barangnya gampang!" Penjara akhirnya menjadi solusi dari pengguna NAPZA untuk mendapatkan 'barang' dengan cara yang mudah! Gila! Itu alasan mengapa penjara memang tidak menjadi solusi bagi para korban pengguna NAPZA.


Perlakuan oknum polisi, yang katanya mengabdi pada masyarakat, jangan ditanya bagaimana bejatnya, terutama bagi para korban NAPZA. Korban NAPZA laki-laki (masih beruntung) mendapatkan kekerasan fisik dan verbal. Dipukul. Disulut rokok. Macem-macem..  Yang perempuan? Tragis.. Kawan saya menceritakan kisahnya sendiri ketika ia ditangkap polisi atas tuduhan pengguna NAPZA. Ia ditelanjangi di sebuah lapangan terbuka dan tidak boleh menutupi bagian tubuhnya. Selesai dipermalukan di depan banyak orang, ia digiring ke kantor polisi, ditelanjangi lagi!  Vaginanya dikorek-korek karena dianggap menjadi tempat menyembunyikan barang bukti. Punggungnya jadi asbak. Belum pukulan dan serangkaian kata-kata 'mutiara' dari mulut sang polisi. Polwan? Bukan. Polisi laki-laki. Polwan ada, hanya duduk-duduk. Dan tidak ada satupun yang mengenakan badge nama di bajunya, kecuali polisi yang bertugas membuat laporan. Aparat yang jelas-jelas perpanjangan tangan Negara kan seharunya menjamin hak azasi ya? Lha ini kok...


Kasus kawannya lebih parah lagi. Sang kawan tertangkap bersama pacar laki-lakinya. Sang polisi lalu menawarkan solusi: tukar badan alias, "lo mau cowok lo bebas,  lo harus berhubungan seks sama gw." Kasus ini kemudian dibawa ke Komnas Perempuan, yang kemudian hanya ditanggapi angin-anginan ("Malah diceramahi..") Perempuan rupanya masih dilihat parsial bahkan oleh orang atau lembaga yang mengaku peduli pada isu perempuan.


Masuk penjara, tahanan perempuan di lapas khusus perempuan nasibnya tambah ngenes. Contohnya untuk masalah pembalut. Di sebuah lapas, tahanan perempuan hanya mendapatkan handuk kecil (oya.. masih dipotong dibagi dua) sebagai pembalut saat mereka menstruasi. Handuk itu yang dipakai selama mereka dalam tahanan. Tidak diganti. Lho, memang tidak ada pembalut? Ada, harganya 3 kali lipat dari harga di luar lapas. Untuk urusan hubungan seksual, di lapas laki-laki biasanya diberikan waktu khusus bagi mereka yang sudah memiliki istri untuk melakukan hubungan seksual di dalam penjara. Di lapas perempuan? Tidak ada aturan itu. Perempuan masih dianggap aseksual, objek seksual.


Selipan aja, ada kasus juga belum lama ini di Jogja ketika seorang remaja jalanan perempuan yang hamil di luar nikah, meminta perlindungan hukum dari lembaga yang katanya concern pada isu perempuan. Hasilnya: ditolak karena dia tinggal di jalanan


Huff.. hanya ingin mengetuk orang-orang yang katanya pejuang isu perempuan.. Lesbian, korban NAPZA, perempuan jalanan, perempuan pekerja seks, perempuan difabel, transseksual male to female, buruh perempuan, perempuan Tionghoa, apakah harus dipisah-pisahkan jika memang terjadi kekerasan terhadap mereka?
baca selengkapnya

14 Maret 2008

the beginning.. tentang perempuan


Saya mendengarkan sebuah lagu yang dibawakan band (mungkin baru, mungkin juga tidak tapi saya belum pernah mendengar sebelumnya) The Cangcuter (entahlah cara menulisnya seperti apa, tidak penting). Miris.. dengan judul Racun Dunia, liriknya berteriak-teriak ...wanita racun dunia... Ya, mungkin si penulis lirik, sedang sakit hati terhadap perempuan, dan menjadi maklum untuk meneriakan sakit hatinya tersebut lewat musik. Memalukan saya rasa. Di saat banyak orang berteriak untuk mengangkat harga diri perempuan, eh si band satu ini seenaknya aja ngobrak-ngabrik dengan mengata-ngatai perempuan adalah racun dunia. Mirisnya, saat band tersebut perform di sebuah statsiun TV, banyak remaja yang ikut bernyanyi dengan penuh semangat. Benar-benar racun dunia, bukan.. bukan perempuan yang racun, tapi band nya yang racun. Bagaimana musik sebenarnya merupakan sebuah lifestyle yang akan diadopsi oleh para pendengarnya. Dan dengan gaya norak mereka, saya yakin lebih banyak remaja yang sudi mendengarkan lagunya, jadi akan lebih banyak lagi remaja yang te"racun"i. Herannya, kok ya para kaum perempuan santai-santai aja. Di sebuah radio, penyiar perempuannya dengan senang hati memutar lagu itu. Tanpa beban..
Saya ingin menawarkan personel band (kalau memang cukup pintar menggunakan teknologi internet dan mau meluangkan waktu untuk membaca bacaan-bacaan yang benar) untuk secepatnya mengganti liriknya, tapi saya rasa, labelnya akan marah besar karena produk penghasil uangnya harus dihilangkan dari pasaran yang menggiurkan (baca: remaja).


Dari kasus (sebenarnya tidak layak disebut kasus) The Cangcuter ini, sebenarnya kita bisa melihat banyak hal tentang konsep gender yang masih sangat bias di Indonesia. Sayangnya, konsep kesetaraan gender yang berusaha untuk mengangkat harga diri perempuan, belum didukung sepenuhnya bahkan oleh kaum perempuan sendiri. Banyak orang, laki-laki maupun perempuan atau bahkan transgender, merasa tidak dirugikan, atau mungkin diberikan keuntungan, oleh budaya yang selama ini ada di masyarakat (baca: patriarki). Beberapa hari lalu, contohnya, saya mengikuti sebuah diskusi panel tentang sinergitas gerakan HIV-AIDS, gerakan perempuan, dan gerakan HAM. Ada seorang ibu yang memberikan pendapat, untuk mengurangi penyebaran HIV-AIDS dan mengurangi kemungkinan si laki-laki berpaling ke lain vagina, si ibu menawarkan poligami, seperti yang disunahkan Nabi Muhammad SAW. Jelas si ibu belum paham penjabaran sunah nya seperti apa (tapi saya kaget juga karena si ibu sebenarnya mewakili sebuah organisasi keagamaan). Wah.. kalau kayak gini caranya, berarti perempuan lagi yang harus berkorban, memasrahkan hatinya untuk melepas sang suami mencari 3 vagina berikutnya.


Saya terus ingat ibu dan adik perempuan saya, apakah mereka juga tahu tentang konsep kesetaraan gender. Adik saya belum mau memakai jilbab di usia 19 tahun, padahal lingkungan tempat saya tinggal sangat menganjurkan perempuan untuk menutup auratnya. Entah, apakah adik saya tidak memakai jilbab karena malas, dianggap tidak gaul, atau sang adik sudah memiliki bibit pemikiran feminis yang lebih kritis terhadap pemakaian jilbab. Ibu saya? Beliau memakai jilbab karena begitulah yang beliau yakini dari agama yang dianutnya, tentu saja tanpa ada waktu mengkritisi soal perjilbaban itu karena terlalu sibuk mengurus empat anaknya dan membantu suaminya menambah penghasilan. Double burden kalau istilah kerennya. Dan anaknya yang di luar sana berteriak-teriak soal ketimpangan gender, tidak bisa berbuat banyak karena relasi orangtua-anak yang tidak setara. Bagaimanapun, saya sangat menghargai ibu saya. Bukan hanya karena beliau sudah mengijinkan rahimnya saya tempati selama 9 bulan, lalu melahirkan saya dan memberi saya air susunya (sayang sekali saya tidak pernah mendapatkan bukti nyata apakah saya benar-benar dikandung, dilahirkan, dan disusui oleh beliau, saya cukup percaya pada apa yang dikatakan keluarga saya),  tapi karena saya melihat beliau sebagai orang yang selalu berbuat baik, lebih mementingkan orang lain (termasuk anak dan suami) dibandingkan dirinya sendiri, mandiri, berjuang untuk hidupnya. Maka saya sangat tidak rela jika ada band kacangan yang dengan ringannya berteriak.. "wanita racun dunia.."
baca selengkapnya