Tampilkan postingan dengan label keadilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keadilan. Tampilkan semua postingan

18 Juni 2011

Harus Sama Dulu, Baru Bahagia?


Kemarin malam saya nonton Kick Andy. Kali itu yang dibahas soal orang-orang berbibir sumbing (agak berat saya menulis kata itu, tapi saya tidak menemukan kata lain). Campur aduk pikiran saya saat nonton tayangan tersebut. Pertama, senang melihat Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen bikin film lagi yang dibintangi pendatang baru, seorang anak berbibir sumbing. Film bermutu yang menjadi alternatif di tengah gempuran setan-setan di bioskop. Saya turut bahagia juga ketika beberapa orang berbibir sumbing bisa meraih mimpi mereka dan melakukan operasi bibirnya.


Nah, perkara operasi ini memang bikin saya bahagia, tapi seperti ada yang mengganjal di pikiran saya. Apalagi ketika Bung Andy bilang kebanyakan orang berbibir sumbing dilahirkan dari keluarga menengah ke bawah. Penyebabnya kebanyakan kurangnya gizi ibu saat bayi dalam kandungan. Nah lho... Saya membayangkan diri saya sendiri jika berbibir sumbing dan terlahir dalam keluarga kurang mampu. Nggak sanggup rasanya...


Saya hanya berpikir betapa sistem yang ada di dunia ini sungguh tidak adil. Dalam hal ini, skema sosial telah menempatkan orang-orang berbibir sumbing sebagai orang yang harus 'diperbaiki' alih-alih ada sistem lain yang bisa mengakomodir cara mereka berbicara. Dunia seakan tidak mau repot-repot belajar bagaimana agar bisa berkomunikasi secara baik dengan orang berbibir sumbing, yang ada justru orang-orang yang berbibir sumbing yang dibikin repot: kumpulkan uang sebanyak mungkin (atau cari donatur), lalu operasi bibir. Jangan lupakan segala cibiran dan ejekan yang diarahkan pada mereka sebelum mereka operasi. Gejala manusia yang terbiasa merendahkan orang yang secara fisik berbeda dengan kebanyakan orang.


"Kami tidak cacat. Kami juga tidak berbeda. Kami melakukan hal yang sama dengan yang orang lain lakukan, hanya caranya saja yang tidak sama," kata seorang kawan difabel dulu ketika saya menjadi host sebuah acara di radio tentang difabilitas. Saya tertegun mendengarnya dan membenarkan apa yang ia katakan. Jika saya berjalan dengan dua kaki, dia berjalan dengan satu kaki dibantu kreuk. Pun demikian dengan orang dengan low vision. Jika saya membaca dengan dua mata saya, mereka membaca dengan jari-jari mereka. Atau orang yang kesulitan berbicara akan berkomunikasi dengan tangan mereka, tidak dengan bantuan lidah seperti yang biasa saya gunakan.


Difabel mainstreming mulai menjadi isu sekarang. Bahagianya saya ketika berkunjung ke kantor lama saya di Jogja, akses masuk kantor sudah lebih friendly buat teman-teman difabel. Kamar mandi pun dipindahkan ke area yang lebih luas sehingga teman-teman difabel yang menggunakan kursi roda tidak harus meninggalkan kursinya di depan pintu kamar mandi. Begitupun di kantor saya sekarang yang sedang ada sedikit renovasi. Satu jalur dibuat khusus untuk pengguna kursi roda. Beberapa pihak sudah mulai sadar bahwa memperlakukan mereka bukan dengan cara memaksakan mereka agar bisa mengikuti 'aturan' arus utama, tapi bagaimana arus utama bisa mengakomodir kebutuhan khusus mereka.


Apakah pengarusutamaan difabel ini tidak termasuk bibir sumbing di dalamnya?Atau mungkin sama seperti pengarusutamaan lainnya yang menjadi wacana, dipraktekkan oleh segelintir pihak saja, sementara kebanyakan masih saja memicingkan mata?


Saya agak bingung saat semua orang bertepuk tangan saat beberapa tamu di Kick Andy menceritakan bagaimana mereka setelah operasi. Saya merasa tepukan tangan itu bak, "Bagus, sekarang kamu sama seperti kami!" Saya mungkin yang akan bertepuk tangan paling keras jika justru ada seorang berbibir sumbing yang memutuskan untuk tidak melakukan operasi dan tetap bisa sukses. Applause untuknya dan untuk orang-orang yang memberikan dukungan.


Saya teringat satu bagian di bukunya Bikhu Parekh tentang seorang yang harus menggunakan alat bantu dengar. Ia menolak operasi telinga, yang sangat mungkin dilakukan pada kasusnya. Alasannya adalah jika ia melakukan operasi itu, ia merasa ia akan kehilangan identitasnya sebagai IA. Ia merasa tidak akan lagi menjadi dirinya. Lebih dari itu, ia tidak akan bisa lagi menyuarakan kepentingan kawan-kawannya yang difabel dari sisi seorang yang difabel juga.


Bukan, bukan berarti saya akan berteriak menolak adanya operasi bibir sumbing. Setiap orang berhak memilih. Jika orang akan mendapatkan kebahagiaan melalui operasi, silakan dilakukan. Tapi masalahnya kemudian menjadi pelik saat ada orang yang memutuskan untuk tidak melakukan operasi, entah alasannya apa, kemudian mendapatkan perlakuan diskriminatif dan cenderung berujung pada kekerasan psikis: dicemooh, diejek, tidak diterima bekerja dan sebagainya. Saya membayangkan satu dunia ideal dimana setiap orang menaruh penghargaan atas perbedaan. Urusan memilih tidak lagi dicampuri oleh indikator-indikator tentang kebahagiaan yang diciptakan oleh sistem sosial, namun muncul dari bukan hanya keinginan, tapi juga disesuaikan dengan kemampuan setiap individu. Seorang berbibir sumbing yang mungkin tidak mempunyai uang untuk melakukan operasi, tidak perlu lagi merasa rendah diri.
baca selengkapnya

4 September 2010

Sama Rata itu Tidak Adil


Alkisah saya sedang berusaha sekuat tenaga menyelesaikan penelitian, sialnya proyek saya bikin tulisan juga dikejar deadline. Maka terdamparlah kembali saya di kotak wordpress ini hehe.. Tapi tenang, saya tidak akan curhat soal penelitian atau tulisan saya.


Dua hari lalu saya bertemu seorang kawan (yang menginisiasi update status saya juga). Seperti saya, dia juga memilih untuk  bekerja tidak di sektor formal karena alasan yang juga sama: boring! Dia bekerja di sebuah lembaga yang (katanya) hidup dengan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Perbedaan dan keberagaman bukan jadi soal lagi baginya, tapi ternyata tidak di tempat kerjanya. Apa pasal?


"Masak di bulan puasa, kami staf yang non muslim tidak mendapatkan jatah makan siang seperti biasanya? Uang makan pun tak ada!" ujarnya. Awalnya saya pikir itu cuma gerutuan tak penting seorang staf yang kelaparan di jam makan siang. Saya bilang, mungkin itu salah satu cara untuk menghargai staf lain yang berpuasa. Menurut dia tidak begitu. Dia dan kawan-kawan yang tidak puasa cukup tahu diri.


"Kalaupun kami makan di depan mereka yang berpuasa, kami minta ijin dulu lah. Toh, nyatanya, niat mereka kan memang untuk berpuasa, kenapa menjadikan godaan itu beban? Jadikan saja cobaan menambah pahala! Lebih sopan lagi, kami mau kok cari makan di luar buat makan siang, tapi ya gimana, uang makan aja nggak ada!" ucapnya gemas. Saya tersenyum. Saya jadi ingat, di bulan puasa banyak restoran yang harus menutup jendelanya dengan kain. Bahkan, tak segan-segan beberapa ormas yang katanya religius mendatangi dan mengancam restoran atau warung makan yang tetap buka di bulan puasa. Lha, yang puasa siapa yang menderita siapa. "Yang puasa sih enak dapat pahala, kita dapat laparnya doang! Sama saja dengan memaksa orang lain untuk berpuasa juga, bukan?" lanjut kawan saya.


Itu baru satu perkara. Perkara lainnya soal THR dan parcel yang diberikan kepada staf di kantornya menjelang lebaran. Memang, THR dan parcel ini diberikan kepada semua staf, tidak peduli muslim atau bukan. Saya bilang, itu berarti bagus karena mereka mencoba berbagi kebahagiaan dengan orang yang tidak merayakan lebaran. Lagi-lagi, menurut dia tidak seperti itu.


"Itu namanya rata tapi diskriminatif. Sama rata itu tidak adil. THR dan parcel kan maksudnya agar lebaran jadi nggak garing. THR bisa dipakai buat ongkos mudik juga. Parcelnya bisa dipake untuk menjamu tamu. Cara pandang mereka masih dengan kacamata orang Islam. Buat kami, parcel dan THR akan lebih berharga diberikan nanti menjelang hari raya kami." Saya sempat bertanya, lalu yang tidak punya hari raya, bagaimana? "Ah, tanya saja satu per satu, kalau mau diberikan pas ulang tahun mereka... ya berikan saja," jawabnya. Saya bilang, bukannya jadi merepotkan? Misalnya, lebih mudah, dan murah, membeli parcel-parcel itu dan membagikannya di saat yang sama, bukan?. "Judulnya nggak mau repot aja kan? Menghargai perbedaan itu emang repot kok, masalahnya kita mau apa nggak. Itu aja."


Sebagai minoritas baru (karena pilihannya), tak jarang ia mendapatkan pertanyaan biasa namun dengan nada tak sedap dari seorang kawan kerjanya seperti, "kenapa kamu jadi seperti ini?", "apa kamu salah bergaul?". Kawan saya bukan orang yang tak mau menjawab hal-hal seperti itu. Oh, dia sangat senang sekali berdiskusi tentang itu, namun tentu saja, bukan dengan orang yang bertanya dengan tatapan sinis.


Dia benar-benar kecewa dengan lembaganya karena urusan-urusan seperti itu dianggap sepele. Memang benar sepele, ia akui. Tapi justru dari hal-hal kecil lah perubahan dimulai. Untuk apa berkoar-koar soal ide besar perdamaian jika kebutuhan kecil seperti itu saja luput dari perhatian. Sebuah kelompok akan dinilai bukan dari apa yang ia berikan untuk kelompok atau orang lain, tapi juga dari bagaimana ia memperlakukan anggota kelompoknya. Boleh saja lembaganya memperjuangkan adanya dunia yang lebih indah tapi kesejukannya ternyata bahkan belum bisa dinikmati orang-orang yang berada di dalamnya. Miris.


Saya sempat berkomentar dengan nada canda. Selama ini kelompok minoritas sering berteriak-teriak agar kebutuhan mereka terakomodasi. Berharap agar kelompok mayoritas bisa memperlakukan minoritas dengan penuh penghargaan. Lalu bagaimana dengan kelompok minoritas sendiri, sudahkah menghargai mayoritas? Ataukah mayoritas memang tidak membutuhkan penghargaan semacam itu karena dengan kekuatan massa yang mereka miliki, secara otomatis semua kebutuhan mereka terpenuhi?


"Kami menghargai mereka. Itu jelas. Mereka pikir tak terganggu tidur kami dengan suara adzan di pagi hari dari tiga buah toa masjid samping rumah dengan volume maksimal. Mereka pikir tak tersinggung perasaan kami saat mereka menyebut kami 'non', padahal identitas kami beragam dan tak bisa disederhanakan begitu saja. Kami ucapkan selamat atas hari raya mereka, tapi sebagian dari mereka melarang umatnya mengirim hal yang sama kepada kami. Kami menerima semua itu dengan lapang, bukan karena kami takut, tapi kami mencoba menghargai mayoritas."


Saya paham maksud kawan saya. Yang dia harapkan adalah bukan hanya pengakuan dan penerimaan bahwa kelompok minoritas ini ada, namun diperlakukan dengan adil. Bukan pukul rata sama rasa. Teringat saya kata guru saya, "Adil itu bukan berarti semua orang mendapatkan porsi yang sama besar, namun ia adalah ketika semua orang mendapatkan porsi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan."


Nah, saya jadi berpikir lagi. Apakah yang sudah dan sedang saya lakukan selama ini sudah adil? Bukan sekali dua kali saya anggap orang lain akan dengan senang hati menerima tangan saya. Merancang ini itu, melakukan ini itu atas nama kepentingan orang lain dan menganggap itu kebutuhan mereka. Toh saya pikir, saya juga akan senang jika diperlakukan demikian. Saya. Kacamata saya. Egois sekali saya.


Kalimat terakhir yang diucapkan teman saya ketika kami akan berpisah dan perlu beberapa waktu bagi saya memikirkannya karena cekaknya otak saya adalah, "Ya, mayoritas dan minoritas memang cuma masalah posisi. Namun juga, saya mungkin minoritas dalam hal ini, tapi dalam hal lain bisa jadi saya mayoritas."
baca selengkapnya