Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

5 Juli 2011

Orientasi Seksual dalam Kacamata Psikologi

Orientasi seksual adalah pilihan sosioerotis seseorang untuk menentukan jenis kelamin partner seksualnya apakah dari jenis kelamin yang berbeda atau jenis kelamin yang sama (Galliano, 2003; Lips, 2005). Perlu ditambahkan bahwa pilihan ini tidak melulu berbicara soal hubungan seks, namun juga menyangkut misalnya emosi, perasaan, dan keinginan untuk memiliki pasangan hidup, serta aspek seksualitas yang lebih luas. Orientasi seksual secara garis besar dapat dibedakan menjadi:
  • Heteroseksual, yaitu orang dengan pilihan partner seksual dari jenis kelamin yang berlawanan.
  • Homoseksual, yaitu orang dengan pilihan partner seksual dari jenis kelaminnya sendiri (Masters, 1992)
  • Biseksual, yaitu orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan (Masters, 1992)
Kinsey memperkenalkan skala rating 7 point untuk menjelaskan tentang pengalaman seksual yang tampak dan reaksi dalam individu termasuk fantasi (Masters, 1992).

Sementara teori lain juga mencoba menjelaskan model dari orientasi seksual ini, diantaranya adalah model psikoanalitik klasik yang menyatakan bahwa semua orang adalah biseksual atau model yang ditawarkan oleh Storm, yaitu Two-Dimensional-Orthogonal, yang menyatakan bahwa homoerotisme dan heteroertisme dalam diri individu adalah dua hal yang independen. Dalam model ini, homoseksual adalah orang yang memiliki tingkat homoerotisme yang tinggi dan tingkat heteroerotisme yang rendah (McWhirter, 1990).

Penelitian-penelitian telah banyak dilakukan untuk mencari tahu faktor-faktor penyebab mengapa seseorang memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan yang lainnya. Secara garis besar, terdapat dua teori yang mencoba menjelaskan fenomena tersebut yaitu teori biologis dan teori psikologis.

a. Teori Biologis

Teori ini mempercayai bahwa orientasi seksual dipengaruhi oleh faktor genetik atau faktor hormonal. Kallman, dalam Masters (1992), telah melakukan penelitian terhadap orang-orang kembar dimana salah satunya diidentifikasi sebagai seorang homoseksual. Asumsinya adalah lingkungan prenatal dan postnatal dari dua orang kembar adalah sama sehingga faktor genetik yang menyebabkan homoseksual juga sama sehingga kemungkinan dua orang kembar sama-sama memiliki orientasi seksual homoseksual lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan salah satunya homoseksual sementara yang lain heteroseksual. Kallman juga memaparkan bahwa kemungkinan tersebut lebih besar terjadi pada kembar monozygotic (identik secara genetis) dibandingkan pada kembar dizygotic, yaitu kembar yang tidak identik secara genetis (Allgeier, 1991). Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Zuger dan Heston & Shields ternyata tidak menunjukkan hasil yang sama sehingga teori ini tidak digunakan lagi (Masters, 1992).

Beberapa tipe penelitian yang berbeda telah mengarahkan banyak ahli untuk membuat spekulasi dari kemungkinan adanya faktor hormonal yang menyebabkan homoseksualitas (Masters, 1992). Pertama, dokumentasi dari penelitian yang dilakukan oleh Dorner, Money dan Ehrhardt, dan Htchison, mengungkapkan bahwa pemberian treatmen hormonal pada saat prenatal dapat mengarahkan kepada pola perilaku homoseksual pada beberapa spesies binatang (Masters, 1992). Kedua, beberapa temuan menunjukkan bahwa kekurangan hormon seks pada saat prenatal mungkin dapat diasosiasikan dengan homoseksualitas. Contoh kasusnya adalah penelitian (Ehrhardt, Evers, dan Money; Money dan Schwartz) terhadap perempuan dengan adrenogenital syndrome -yaitu kekurangan hormon androgen pada masa prenatal- mengindikasikan bahwa individu tersebut memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi seorang lesbian. Ketiga, perhatian yang sangat besar difokuskan pada perbandingan jumlah hormon pada orang dewasa yang homoseksual dan heteroseksual. Sementara beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Meyer-Bahlburg dan Tourney menunjukkan bahwa laki-laki homoseksual memiliki testoterone yang lebih sedikit dan estrogen yang lebih banyak, dan satu penelitian lain menemukan bahwa kadar testosterone yang tinggi pada perempuan lesbian dibandingkan pada perempuan heteroseks, penelitian-penelitian lainnya justru gagal menunjukkan asumsi ini (Masters, 1992). Salah satu keterbatasan teori ini dicontohkan pada pemberian treatment hormon seks pada homoseksual dewasa yang ternyata tidak mengubah orientasi seksual mereka.

Penelitian terakhir mengenai faktor biologis dalam pembentukan orientasi seksual dilakukan oleh Simon LeVay (Rice, 2002) yang menemukan sekumpulan syaraf dalam hypothalamus laki-laki heteroseksual ukurannya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki oleh laki-laki homoseksual dan perempuan heteroseksual. Namun, hasil penelitian ini menimbulkan pertanyaan: Apakah kumpulan syaraf yang lebih kecil itu yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual atau justru sebaliknya, kehomoseksualan seseorang yang menyebabkan ukurannya mengecil? Penelitian yang lain menunjukkan bahwa syaraf-syaraf berubah dalam merespon suatu pengalaman. Hipotesis lain menyatakan mungkin ada faktor lain yang tidak diketahui yang menyebabkan baik itu homoseksualitas maupun perbedaan ukuran syaraf.


b. Teori Psikologis

Berbeda dengan teori biologis, teori psikologis mencoba menerangkan faktor penyebab homoseksualitas bukan dari aspek fisiologis. Freud percaya bahwa homoseksualitas adalah hasil perkembangan dari predisposisi biseksual yang terdapat dalam diri semua individu. Freud memiliki pemikiran bahwa setiap orang memiliki kecenderungan homoseksual yang bersifat laten, dan Freud percaya, bahwa dalam kondisi tertentu, misalnya saja continuing castration anxiety pada laki-laki, perilaku homoseksual mungkin akan muncul pada usia dewasa (Masters, 1992).

Bibier meneliti fenomena homoseksual ini dari sisi latar belakang keluarga. Penelitiannya menemukan bahwa kebanyakan dari homoseksual laki-laki memiliki ibu yang overprotective dan dominan, serta ayah yang lemah atau pasif. Pola keluarga seperti ini tidak ditemukan pada subjek heteroseksual (Masters, 1992). Bibier menamakan teorinya dengan triangular system, yaitu seorang homoseksual laki-laki secara tipikal adalah anak yang kelebihan intimasi, adanya ibu yang mengontrol, dan ayah yang ditolak (Allgeier, 1991). Sementara Wolf menemukan bahwa diantara 100 lesbian yang dibandingkan dengan perempuan heteroseksual, karakteristik orangtua mereka yang menonjol adalah penolakan terhadap ibu dan kurang atau tidak adanya peran ayah. Wolf mempercayai bahwa homoseksualitas dalam perempuan muncul karena penerimaan kasih sayang yang tidak adekuat dari ibu kepada anak perempuannya, yang mengarahkan anak perempuannya untuk mencari kasih sayang dari perempuan lain (Masters, 1992). Penelitian lain yang dilakukan oleh Robinson, Skeen, Flake-Hobson, dan Herman pada tahun 1982 dan melibatkan 322 orang homoseksual laki-laki dan perempuan menunjukkan hasil bahwa 2/3 responden menyatakan bahwa hubungan mereka dengan ayah adalah sangat memuaskan atau memuaskan. Tiga per empat responden menyatakan bahwa hubungan mereka dengan ibu sangat memuaskan atau memuaskan. Sekitar 64% responden merasa bahwa mereka selalu disayangi oleh ibunya, namun hanya 36% yang merasakan bahwa mereka selalu disayangi ayah mereka. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa hubungan dalam keluarga mungkin merupakan latar belakang dari orientasi seksual seseorang, namun tidak bisa digeneralisir pada semua kasus (Rice, 2002).

Sementara McGuire, Gagnon dan Simon, Masters dan Johnson, berpegang pada teori psikososial yang mengungkapkan bahwa homoseksualitas adalah fenomena yang dipelajari (Masters, 1992). Pengkondisian psikologis diasosiasikan dengan reinforcement atau punishment pada awal perilaku seksual (dan juga pikiran dan perasaan yang menyangkut seksualitas) yang mengontrol proses terbentuknya orientasi seksual. Pandangan behavioral ini juga menjelaskan mengapa beberapa orang heteroseksual menjadi homoseksual pada masa dewasa mereka, yaitu jika seseorang mendapatkan pengalaman heteroseksual yang tidak menyenangkan kemudian dikombinasikan dengan pengalaman homoseksual yang bersifat menyenangkan, dapat mengarahkan seseorang menjadi homoseksual. Observasi yang dilakukan Grundlach terhadap perempuan korban perkosaan laki-laki yang akhirnya menjadi lesbian, mendukung pendapat ini (Masters, 1992).

Penelitian yang melibatkan 686 laki-laki homoseksual, 293 perempuan homoseksual, 337 laki-laki heteroseksual, dan 140 perempuan heteroseksual, tidak dapat menemukan pendukung yang kuat bagi teori-teori psikoanalisis, teori belajar sosial, atau teori sosiologis lainnya, sehingga mereka membuat kesimpulan bahwa homoseksualitas pasti memiliki dasar biologis. Kesimpulan lainnya adalah bahwa tidak ada yang mengetahui secara pasti faktor-faktor yang menyebabkan homoseksualitas (Rice, 2002).

Tentu saja, bukan hanya psikologi yang mencoba menggali homoseksualitas ini, teori-teori sosial lain juga banyak yang mencoba mengkaji homoseksualitas dengan cara mereka masing-masing. Untuk mengetahui jawaban mengapa seseorang (menjadi) homoseksual, kita harus menemukan jawaban, mengapa seseorang (menjadi) heteroseksual, tentu dengan metode ilmiah, karena jika menggunakan alibi “kodrat”, selsesai sudah. Yang menjadi catatan penting adalah bahwa American Psychiatric Assosiation telah menghapuskan homoseksual dari daftar gangguan kejiwaan pada tahun 1974 dengan tidak mencantumkannya dalam DSM III dan diamini oleh WHO pada tahun 1992. Demikian juga dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa yang menjadi pegangan psikiater dan psikolog di Indonesia.
baca selengkapnya

17 Juni 2011

Lupa


Urusan lupa sudah jamak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami kelupaan. Saya bilang hampir karena saya belum yakin anak-anak 'cerdas' yang bisa menghapal nama-nama pemimpin negara seluruh dunia, bisa menghapal rumus fisika dan kimia,  juga bisa lupa menaruh kaos kakinya dimana.


Saya sendiri boleh dibilang pelupa. Saya hampir (lagi-lagi hampir, karena kadang saya ingat) tidak bisa mengingat kata per kata buku yang baru saja saya baca. Sering takjub saya, jika ada teman yang bisa dengan lancar menceritakan cerita film komplit dari awal sampai akhir bahkan sambil mengutip beberapa dialog. Saya tidak mampu! Jangan ditanya berapa kali saya bertemu orang yang mukanya saya ingat tapi sampai akhir perbincangan saya tidak ingat siapa namanya. Tapi saya bersyukur karena masih ada ikan mas yang, katanya, daya ingatnya cuma 3 detik. Saya nggak parah-parah banget...


Perkara ingat-mengingat mungkin jadi kocak kalau misalnya ada orang yang memberikan kejutan ulang tahun pada kawan di hari yang bukan ulang tahunnya. Namun bisa juga jadi bencana kalau ada orang lupa mematikan api kompor dan berujung pada kebakaran satu kampung. Bisa juga jadinya biasa-biasa saja kalau lupa password email saking banyaknya akun. Ada juga orang yang pura-pura lupa sudah ambil uang rakyat lalu pergi ke luar negeri dengan alasan berobat, entah mengobati lupanya, hatinya atau hidung yang terlalu pesek.


Nah, yang ingin saya ceritakan ini soal lupa yang lain. Lupa yang dipaksakan. Meskipun seringnya kita tak ingin melupakan sesuatu: mandi, makan, dapat gaji dan sebagainya, namun ada kondisi tertentu yang membuat kita ingin sekali melupakan sesuatu.


"Kenapa orang seringnya justru tidak bisa melupakan sesuatu yang ingin dia lupakan? Saat sakit hati misalnya?" kata seorang kawan, sore ini, di akhir jam kantor. 


Saya yang sedang buru-buru menyelesaikan pekerjaan karena ada undangan makan-makan sepulang kantor, menjawab, "mungkin karena dia sebetulnya menikmati mengingat sakit hatinya itu." Anda geleng-geleng kepala? Saya juga. Tapi saya bicara karena ada kasus seorang kawan yang saya kira seperti itu. Sisi melankolisnya justru menjebak dia pada situasi dimana dia menikmati atmosfer saat dia sakit hati (bukan menikmati sakit hatinya lho).


"Atau mungkin karena memang sebenarnya dia tidak benar-benar ingin melupakan," tambah saya.


"Atau karena masih ada dendam," kawan saya yang lain menimpali, ketika ada seorang kawan yang dengan lantang memprotes kalau dia benar-benar ingin melupakan bayangan mantannya tapi masih saja ingat.


Masih ada "atau-atau" lainnya karena kemungkinan-kemungkinan seseorang gagal untuk melupakan sesuatu dalam hidupnya terentang mungkin melebihi Sabang sampai Merauke. Lalu ketika saya sampai rumah, saya baru ingat pada satu kemungkinan yang selama ini cukup saya percaya tapi sayangnya penyakit lupa saya kambuh saat percakapan dengan kawan-kawan, yaitu: tidak bisa melupakan justru karena kita terlalu berusaha untuk melupakan.


Begini teorinya: ketika kita berusaha untuk melupakan sesuatu, sebetulnya secara tidak langsung, otak kita memunculkan sesuatu tersebut, dan dengan bantuan jembatan keledai, merembet ke ingatan-ingatan lain yang berkaitan dengan sesuatu tersebut. Dan begitu terus dan begitu terus. Saya contohkan, saya ingin melupakan seorang DIA. Ketika saya berusaha sekuat tenaga, menanamkan dalam otak saya, "Saya harus lupakan DIA... saya harus lupakan DIA." Apa yang terjadi? Dua kali DIA muncul lagi di otak saya. Bukan hanya kata DIA, sosok dan bentuk DIA juga digambarkan oleh otak, pun dengan memori ketika saya disakiti DIA, ketika saya belum disakiti DIA, ketika saya nonton konser bareng DIA, ketika saya pertama bertemu DIA, terus dan terus. Lalu bagaimana saya bisa melupakan DIA?


Karena itu, sebagai seorang yang mudah melupakan, saya bisa sarankan untuk just let move on. Lanjutkan kehidupan dan membuka hati. Tampak klise. Ya memang. Tapi kunci untuk tidak lagi terlalu berusaha sekuat tenaga melupakan bisa jadi mujarab jika, ini kata kawan saya, kita bisa dengan lapang dada menerima keadaan, yang bagi saya, bisa tercapai kalau segala urusan sudah diselesaikan. No more unfinished business. Katakan apa yang ingin terakhir kali dikatakan. Urusan pantas atau tidak, balik lagi ke nilai-nilai yang kita miliki.


Terus terang, saran saya cenderung menggampangkan. Selain kawan saya yang melankolis yang saya ceritakan di atas, saya juga pernah berhubungan dengan orang yang pendendam luar biasa. Untuk orang seperti ini, melupakan kesalahan yang telah orang lain lakukan terhadapnya bisa jadi mustahil. Masalah melupakan akhirnya bukan menjadi masalah kunci yang harus diselesaikan. Ada faktor X yang harus dibenahi dulu dalam dirinya. Oh, tunggu, kenapa lama-lama saya kayak motivator?


Satu yang pasti, bagi saya, melupakan secara total masa-masa suram adalah satu kerugian. Saya bisa belajar untuk memperbaiki diri dari masa-masa sulit itu, saya bisa bersyukur dengan keadaan saya yang lebih baik dari masa-masa itu dan mungkin, saya bisa menceritakan pengalaman bagaimana saya menghadapi masa-masa penuh kerikil itu pada orang yang sedang menghadapi masa-masa yang serupa dengan yang pernah saya alami.
baca selengkapnya

8 September 2009

Gila!


Saya dikenalkan dengan seorang perempuan, pada suatu sore di kantor saya. Awalnya ia hanya ingin mencari informasi tentang seseorang yang kebetulan saya sedikit tahu track record-nya. Berbalut celana jeans dan kaos longgar, serta jaket jeans yang kebesaran membuat saya terbayang sosok Kugy di Perahu Kertas, hanya yang ini versi tinggi dan nyata. Gaya bicara dan penampilannya sangat santai, kalau tidak saya sebut gila. Sesekali ia menghisap rokok, yang membuat suaranya terdengar berat.


Ia sahabat lama kawan saya. Entah profesi atau hobby, dari ceritanya saya menyimpulkan ia tergila-gila melukis. Setelah urusan soal track-record seseorang itu selesai, mereka lalu terlibat perbincangan seru soal masa lalu mereka, kegilaan mereka. Otomatis, saya hanya jadi pendengar. Cerita-cerita menarik termasuk soal basecamp mereka, sebuah garasi yang disulap menjadi kamarnya, namun nuansa yang muncul malah seperti gudang, lengkap dengan kasur butut, botol-botol kosong, sepeda yang dipasang di dinding, dan lebih gila lagi, lengkap dengan peliharaan: kecoa, tikus, dan kawan-kawan.


Satu cerita yang membuat saya tertarik sekaligus tertegun adalah, karena keterbukaannya, banyak orang yang sering menginap di kamar-gudang nya itu. Teman atau saudara sudah biasa, bahkan sampai tinggal berbulan-bulan. Yang luar biasa adalah tukang becak dan orang (yang dianggap) gila juga sempat ikut-ikutan menghuni kamar itu. Gila!


“Eh, ternyata kalau diajak ngobrol ya masih nyambung tuh! Walau kadang-kadang sih... Malah kamarku dia bersihin, sambil ngenasehatin aku biar gak males hahaha...” katanya polos.


Saya segera paham, teman saya sama sekali tidak punya bekal pengetahuan soal gangguan psikis. Tapi justru itu membuat saya semakin miris. 


Perempuan ini luar biasa gila. Saya belajar gila-gilaan dan lulus dari psikologi, tapi tetap saja masih takut-takut jika berhadapan dengan orang yang karena entah mengalami gangguan psikis apa sampai orang lain menyebutnya gila. Mungkin teman-teman saya juga sebelas dua belas. Sementara teman saya itu, dia malah mendekati orang yang terganggu mentalnya (istilah ini walau agak panjang, tapi buat saya lebih sopan dibandingkan orang gila). Diajaknya mengobrol, sampai-sampai ia tahu sejarah singkat orang itu.


Kemanusiaan. Mungkin itu yang ia miliki dalam jumlah gila. Rasa kemanusiaan saya saat bertemu orang yang terganggu mentalnya paling menthok ya cuma rasa kasihan tho. Iba dengan keadaannya. Malah kadang agak memalingkan muka jika saya merasa jijik dengan penampilannya. Namun tak mampu menggiring saya untuk mendekatinya, bahkan mengajaknya berbicara.


Saya ingat betul saat mengambil mata kuliah psikiatri waktu kuliah dulu. Karena sang dosen adalah psikiater yang bekerja di rumah sakit, maka kuliah tersebut pun diadakan di rumah sakitnya, tepatnya di bangsal jiwa, selama satu semester. Pengalaman yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika seorang residen membawa salah satu pasiennya ke dalam kelas. Kemudian ia diminta menceritakan pengalamannya. Di tengah-tengah cerita, tiba-tiba sang residen memotong: “Stop! Ya, apa yang ia katakan barusan adalah gejala gangguan bla bla bla...”, yang intinya ingin menunjukan bahwa apa yang diceritakan pasien tidak sama dengan kenyataan yang ada. Gila! Apa-apaan ini? Pikir saya. Kok tidak manusiawi ya... bagaimana kalau si pasien bisa menangkap kata-kata sang residen? Bagaimana coba rasanya harus berdiri di depan sekian banyak kepala, diminta bercerita, lalu ceritanya dipatahkan begitu saja sambil dicap mengalami gangguan ini itu? Ternyata, tidak hanya saya yang merasakan itu, temen-teman saya juga mengatakan pendapatnya setelah kelas berakhir.


Saya memang tidak memiliki kemampuan untuk menangani gangguan mental seberat itu. Toh saya juga tidak ingin betul-betul punya kemampuan itu. Saya hanya ingin punya empati seperti teman perempuan saya. Empati yang juga bisa saya ungkapkan dalam tindakan. Tidak hanya kepada orang yang dianggap sehat mentalnya, seperti apa yang selama ini saya usahakan. Bisa nggak ya?
baca selengkapnya