7 Agustus 2012

Dua Tahun Sudah

Dua tahun. Terasa seperti dua hari lalu. Saat kita saling menjelajahi isi kepala. Dan setiap jengkal tubuh. Namun dalam dua tahun itu, terkadang dua jam seperti dua minggu. Saat akut rindu sulit untuk diobati. Saat gejolak hasrat hanya mampu diredam lewat nada dan panorama.

......

Baik. Saya menyerah. Saya tidak mampu membuat lirik romantis. Beginilah nasib orang yang lebih banyak melongonya kalau liat pertunjukkan teater atau pembacaan puisi. Suka bingung sendiri. Saya cuma mau bilang kalau waktu itu relatif. Oh, maaf, tidak hanya waktu, keindahan juga relatif. Contohnya, puisi yang bagi beberapa orang terdengar indah,  bagi saya kadang tampak bak gunung menjulang yang diselimuti kabut. Indah, tapi indera tak mampu mencerna. Misterius.

Kenapa saya mau cerita soal waktu yang relatif? Bisa ditebak hari ini adalah sesuatu (saya benci harus mengakui kalau artis satu itu sudah berhasil meracuni otak saya dengan kata ini, tapi saya toh menyukainya hahaha...). Ya, dua tahun lalu saya punya rekaman dalam otak yang tidak akan dan tidak ingin saya hilangkan atau saya edit. Ehm... tunggu dua tahun? Oh iya, dua tahun masehi tepatnya. Dua tahun penanggalan kalender matahari. Yang dibulatkan. Apanya yang dibulatkan? Mataharinya sudah bulat (katanya). Pembulatan kalender masehi dibuat karena sebetulnya planet ini membutuhkan waktu 23 jam, 56 menit dan 4,09 detik untuk melakukan putaran 360 derajat, riweuhlah kalau dipaksa ngikutin itungan itu (belum lagi, menurut peneliti, setiap tahun putaran bumi bertambah atau berkurang satu milidetik, lengkapnya diklik di sini saja). Kalau hitungan hijriyah, mungkin lebih-lebih 1-2 bulan kali ya. Kalau hitungan Jawa dan Saka, paling meleset beberapa minggu. Kalau hitungan phitagoras, cari dulu derajat sudut-sudutnya.

Itu baru relativitas waktu dari sisi teknik itung-itungan. Belum dari sisi yang lebih humanis: perasaan. Kalau lagi nunggu orang, apalagi janjian mau makan dan perut kita sudah berdendang sementara yang ditunggu-tunggu nggak nongol-nongol juga, jalannya jarum detik seperti di-slow motion. Beda banget sama kalau lagi nongkrong di cafe, hahahihi gosipin orang, pesan satu gelas kopi hanya buat gratis internetan, nggak sadar udah mejeng dari mulai pelayannya pasang tulisan 'open' sampai mereka pasang muka jutek berasa pengen nyambit pake sapu. Kalau lagi naik motor ketahan lampu merah yang pake count down (apa sih namanya itu?), padahal nggak sampai 5 menit tapi berasa 5 hari, apalagi di tengah hari bolong, berasa lagi sunbathing. Beda deh sama 5 jam perjalanan naik bus doyong tapi ditemenin orang yang lagi kita taksir.

Bagaimanapun terasanya, ada yang lebih penting soal waktu ini. Kecuali, Doraemon berbaik hati meminjamkan laci meja belajar Nobita, kita tak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki apa yang sudah kita lakukan. Waktu yang akan menjawab itu cuma judul lagu, sampai kapan juga, ditanya berulang-ulang juga, naga-naganya waktu nggak bakal jawab-jawab. Perubahan dan kebaikan yang kita impikan ya hanya kita sendiri yang bisa mengusahakannya. Cepat atau lambat tidak akan ada artinya lagi kalau kita bisa mengisi setiap hari, jam, menit dan detik yang kita punya dengan hal-hal positif. Soal yang seperti apa itu hal-hal positif? Lagi, relatif...

.....

"Too bad we can't really celebrate together today. Luckily, every day with you is wonderful already."

Hmmmm...


baca selengkapnya

31 Juli 2012

Membantu Karena Apa?

Ada satu pemandangan baru di kantor saya hari ini. Saya melihat satu kotak di lobby kantor saya. Kotak besar transparan dengan tulisan  ‘Sumbangan untuk Muslim Rohingya’. Sudah ada satu lembar seratus ribu dan dua lembar lima puluh ribuan. Karyawan front office dengan tersenyum berkata, “Silakan, Mas, kalau mau bantu!” Saya melewatinya sambil tersenyum. Beberapa langkah kemudian saya menggeleng-gelengkan kepala.

Ya. Silakan saja kata-katai saya tidak manusiawi, pelit, tidak punya perasaan, sok-sokan atau apapun karena bukannya buka dompet-ambil uang-masukkan ke kotak, saya malah geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk menulis blog ini. Saya punya alasan, tentu saja yang, daripada saya katakan pada petugas front office yang kemudian akan mengganti lengkung senyumnya dengan lengkung cemberut, akan coba saya tuliskan di sini.

Membantu sesama memang tidak ada salahnya. Mulia sekali, justru. Tapi menolong dengan bijaksana itu menurut saya lebih penting. Saya memang bukan orang bijak, bukan cita-cita juga menjadi orang bijak (cita-cita saya adalah punya usaha sendiri, ongkang-ongkang kaki di rumah dan uang mengalir dengan sendirinya, okay, itu mimpi, bukan cita-cita). Untuk kasus Kotak Sumbangan Muslim Rohingya itu, bagi saya akan lebih bijak kalau diganti Kotak Amal Muslim Ahmadiyah Indonesia atau Kotak Sumbangan untuk Anak Jalanan Jatinegara. Kenapa? Apalagi jika kita langsung memberikan pada orangnya, isi kotak-kotak amal yang saya sebutkan belakangan akan sampai di tujuan dengan jumlah yang relatif tetap. Saya bilang relatif karena mungkin di perjalanan kita perlu beli bensin atau membayar orang yang mengangkut uang-uang kita (ya kali, mau nyumbang berapa truk gitu). Ok, sekarang jaman modern, tinggal transfer dan tak perlu truk. Oya, dan tak perlu berburuk sangka juga kalau sekian persen uang-uang itu akan berakhir di kantong siapa, maka saya perlu mengajukan alasan yang lebih logis.

Alasan yang saya maksud ini adalah justru akan diawali dengan sebuah pertanyaan. Kenapa orang harus membantu orang lain? Jawabannya akan sederhana dan cenderung PMP (atau PPKn) banget: karena sebagai manusia berkewajiban untuk menolong sesama manusia! Oh, kurang terasa PMP (atau PPKn)-nya ya? Karena sila kedua Pancasila berbunyi: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Baik… baik… Itu yang dikatakan oleh orang tua kita di rumah, guru kita di sekolah, pendeta kita di gereja, ustadz kita di mesjid dan teman kita yang sedang merayu dapat pinjaman uang di akhir bulan.

Apa kita membuat prioritas saat akan membantu orang lain? Tentu. Terdengar lebih masuk akal bukan kalau kita memberikan uang kita pada adik tercinta yang mungkin akan menghabiskannya untuk beli pulsa agar bisa bermesra-mesraan dengan pacarnya lewat telepon dibandingkan dengan memberikannya kepada seorang ibu yang tak kita kenal yang kita temui di pasar yang mungkin sedang kebingungan karena uangnya tak cukup untuk beli susu sang anak. Kotak amal yang saya lihat siang tadi pun paham dengan prioritas tersebut. Makanya perlu ditulis: Muslim Rohingya . Lupakan Rohingyanya dan tiba-tiba anda (yang muslim) akan merasa punya ikatan yang sangat kuat sebagai satu umat besar satu agama yang mewajibkan anda untuk menolong sesamanya.

Tidak ada yang salah, (biasanya akan berlanjut dengan kata: tapi…) tapi (nah kan!) karena kotaknya berjudul Muslim Ronghiya maka saya ambil Muslim saja sebagai contohnya, apa anda tidak merasa punya ikatan juga dengan mereka yang tinggal di gubuk-gubuk kardus dan mereka juga sholat dan puasa sebagaimana anda beribadah? Apakah kita tidak merasa punya ikatan saat orang-orang Ahmadiyah itu dibakar rumahnya, diusir, bahkan dihajar dan dibunuh padahal mereka merasa sebagai orang Islam juga? Ataukah memang jika diruntut garis keturunan, kita ternyata masih sepupuan dengan orang-orang muslim di Rohingya sana dan tak ada garis penyambung dengan orang-orang di Kuningan pengikut Ahmadiyah? Buat saya, ini tidak logis.

Apalagi lalu kita berteriak-teriak kalau pemerintah Myanmar tidak becus menegakkan demokrasi, pemerintah Myanmar tidak mampu melindungi warganya dan Pemerintah Republik Indonesia tercinta akan mengangkat isu ini dipertemuan OIC (Organization of Islamic Cooperation), Agustus nanti di Mekkah (Pak Beye, seperti biasa, merasa prihatin dengan situasi di sana). Bravo!! Apa kabar korban lumpur Lapindo? Sorry to say, kalau saya jadi pemerintah Myanmar, saya akan bilang: Talk to my hand! Ngaca! Apalagi kita (kita? gw aja kali) tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, ada yang bilang orang-orang Rohingya itu imigran dari Bangladesh yang masuk ke wilayah Rakhine yang mayoritas Buddha, beberapa sumber menuturkan bahwa korban tidak hanya jatuh dari pihak Rokhingya saja, Rohingya bakar vihara Rakhine, Rakhine hancurkan masjid Rohingya. Agenda untuk menjatuhkan citra pemerintahan Suu Kyi? Atau perang antar etnis berebut wilayah atas nama agama? Terserahlah. Yang pasti, di sana ada anak-anak yang tak berdosa yang ikut-ikutan menderita dan jadi korban (aaah, masih juga pilih-pilih mau bantu anak yang Islam, Buddha atau Kristen?).

Saya jadi bertanya-tanya, memang begitukah yang diajarkan? Mendahulukan membantu orang yang satu agama atau satu etnis dulu dan yang lain belakangan atau kalau perlu kita ikut-ikutan memusuhi?

Well, biar tidak terlalu buta-buta amat soal Rohingya versus Rakhine, saya cari kronologisnya seperti apa. Ada yang tertarik? Silakan buka:

Saya hanya coba sekadar membaca saja untuk menetralkan otak saya dari bombardir foto-foto korban kerusuhan di Myanmar yang menghiasi facebook saya. Terlalu serius juga belum tentu benar. Malu aja kalau udah mati-matian bela salah satu pihak sampai urat leher mau putus, eh ternyata pihak itu justru kompor masalahnya. Lagipula, kalaupun saya merasa terikat dengan orang-orang di Myanmar itu karena saya dan mereka sama-sama manusia. Sama seperti saya merasa terikat dengan orang Ahmadiyah di Kuningan dan anak jalanan di Jatinegara. Perbedaan-perbedaan itu tak lebih dari kotoran mata yang menghalangi penglihatan saya saat bangun tidur. Sekian.
baca selengkapnya

22 Juli 2012

Sok Tahu Saya Soal Membesarkan Anak


Kemarin malam saya nonton Batman the Dark Knight Rises di salah satu mall yang menurut saya paling wah di Jakarta. Alasannya bukan buat gaya-gayaan, apalagi nyambi shopping di sana. Kawan saya merekomendasikan tempat nongkrong yang asyik di lantai 3, cafĂ© di sebuah toko buku terkenal dengan pemandangan langsung ke Bundaran HI. Saya yang sedang belajar motret, tertarik juga buat menjajal kamera saya (bukan kemampuan saya hehe…). Dan karena saya dan kawan saya itu adalah partner buat ke bioskop, jadilah agenda menonton masuk dalam list weekend kami.


Tak heran kalau malam minggu bioskop pasti penuh. Saya dan kawan saya mendapatkan tempat duduk terpisah. Lebih baik daripada mengambil kursi di deret paling depan, dengan resiko pegal leher. Kebetulan di samping kanan saya adalah pasangan muda istri suami dengan anak mereka yang umurnya belum ada 1 tahun. Ya! Benar sekali. Kenapa tidak sekalian saja si orang tua ngajak anaknya nonton The Raid, Hannibal atau Sex and the City? Di tengah-tengah film yang durasinya seakan menyaingi film Bollywood itu, si anak merengek-rengek, mungkin bosan, sang ayah lalu mengeluarkan handphonenya dan membiarkan si anak bermain-main dengan handphonenya tersebut. Sang orang tua tenang melanjutkan menonton aksi Batman.


Betul, kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang isu anak. Saya memang belum punya anak. Niat ada, tapi belum kesampaian. Punya anak itu sepertinya menyenangkan (dan merepotkan ya, bapak dan ibu?). Hanya saja, saya memperhatikan orang-orang di sekitar saya bagaimana mereka mendidik dan memperlakukan mereka. Masih di mall yang sama, saat saya makan malam, di meja depan saya, seorang bapak memarahi anak perempuannya yang berumur 5 atau 6 tahun yang tidak mau membagi rotinya kepada sang adik. Cara memarahinya seperti orang yang berbisik mengajak tinju, sampai si anak dengan diam takut-takut akhirnya merelakan juga rotinya dibagi dengan si adik. Juga, seorang ibu yang tangannya ditarik-tarik oleh anak lelakinya yang meskipun si ibu terus-terusan bilang, “Nggak, jangan ke sana… Nggak, jangan ke sana…” tapi kakinya menurut juga mengikuti kehendak si anak. Juga, saat saya menghentikan niat untuk merokok karena ada anak kecil di sekitar saya, justru seorang bapak dengan giat membakar tembakau di depan anak bayinya. Dan… setiap hari tetangga saya tak pernah alpa membentak anak-anaknya, kadang dengan kata-kata ‘Goblok’, ‘Bego’. Saya cuma bisa elus dada.


Sebagai orang yang belum punya anak, saya tidak bisa memberikan saran bagaimana cara memperlakukan anak. Pelajaran hanya saya dapat dari bagaimana orang tua mengasuh saya dan saat kuliah Psikologi Perkembangan. Saya juga bukan hakim yang bisa menyalahkan perlakuan orang tua di bioskop, di tempat makan dan yang tetangga saya itu. Kalau saya mengharapkan anak saya nanti akan menjadi orang yang cerdas, kritis dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, mungkin harapan orang tua-orang tua itu berbeda dengan saya. 


Akan seperti apa anak kita nanti tergantung dari bagaimana kita membesarkan mereka. Menurut cerita kawan-kawan saya, anak lebih mudah belajar dengan cara melihat dan meniru. Buang-buang waktu jika kita meminta anak kita berbicara pelan kalau tiap kali kita bicara seperti pakai toa. Satu hal lagi, penerapan hukuman dan penghargaan. Hukuman bukan berarti memarahi atau memotong uang jajan anak, ada banyak cara untuk melakukannya seperti mendudukannya di kursi dan mengajaknya bicara, mendiskusikan apa konsekuensi dari perbuatannya. Penghargaan juga bukan berarti permen dan video game terbaru. Anak kita bukan robot. Sentuhan, pelukan dan kata-kata pujian jauh lebih berharga bagi mereka kelak.


Tanggung jawab membesarkan anak memang tanggung jawab orang tua. Tapi prakteknya, lingkungan sosial juga memberikan kontribusi tidak sedikit pada perkembangan anak. Kawan saya di kantor misalnya, menceritakan anak perempuan 5 tahunnya tahu-tahu sudah bergaya bak tokoh antagonis remaja SMA yang suka mengina orang lain. Ya, korban sinetron. Itu baru satu faktor: televisi. Untuk hal-hal seperti televisi, majalah, internet atau sekolah, orang tua memang dituntut untuk selalu melakukan pengawasan. Tapi bagaimana jika yang ‘salah’ adalah program-program yang secara sembrono ditawarkan media massa untuk anak hanya karena filmnya animasi dengan melupakan esensi, atau anak-anak ‘dipaksa’ menonton dan akhirnya hapal lagu-lagu tentang jatuh cinta dan patah hati? Aturan dari pemerintah soal jam tayang televisi dan muatan program, sepertinya belum serius dilakukan. Bagaimana juga jika sistem pendidikan yang ada sekarang justru hanya mendorong siswa-siswanya untuk mampu bersaing dan berprestasi di bidang akademik saja? Banyaknya kasus tawuran yang dilakukan pelajar, misalnya, mungkin bisa menjadi satu pertanyaan besar: siapa/ apa yang bertanggung jawab?


Baiklah, untuk menutup tulisan saya kali ini, saya ingin sedikit berandai-andai jika saya menjadi seorang konsultan untuk orang tua yang menginginkan anak-anaknya seperti apa. Sengaja, tidak saya tuliskan harapan saya pribadi. Saya hanya merefleksikan dan mendramatisir apa yang saya lihat. Kalau yang ingin serius dan betulan, silakan googling, sudah banyak sumber tersedia tentang bagaimana cara mendidik dan membesarkan anak. Sok-sokan saja saya, toh di luar sana juga banyak yang sok-sokan punya anak tapi nyatanya tampak tidak siap secara mental. Berikut saran-saran saya kalau anda ingin anak anda seperti:





  • Giant. Tahu tokoh ini dalam Doraemon kan? Nah, kalau kita ingin anak anda seperti Giant yang tidak bisa mengendalikan amarahnya dan senang mengintimidasi kawan-kawannya, belajarlah dari ibunya yang tidak pernah tersenyum, selalu berteriak dan selalu siaga gagang sapu di tangannya untuk memukul Giant. Masih kurang? Suguhkan film-film dan video game berbau kekerasan.
  • Barbie dan Ken. Siapa yang tak ingin anaknya tumbuh menjadi sosok yang menawan secara fisik dan populer? Kalau memang ‘hanya’ itu yang anda inginkan dari anak anda, segera masukan mereka ke kelas model. Sudah banyak kursus model untuk anak-anak. Ikutsertakan dalam setiap perlombaan. Belikan mereka baju-baju bagus setiap hari dan larang untuk bermain di tanah atau bergaul dengan anak-anak yang menurut anda tidak pantas menjadi teman mereka. Usahakan anda juga selalu tampil modis kapan dan dimanapun.
  • Garfield. Antar jemput anak anda setiap hari, ingat, jangan sampai terlambat. Berikan apapun yang dia inginkan. Pastikan persediaan makanan selalu berlimpah, karena cukup saja tidak cukup. Mungkin perlu juga dua orang babysitter yang mengganti baju dan sepatunya, juga mengerjakan PR sekolah. Jika perlu, pindahkan Timezone ke kamar anak anda sehingga ia tidak perlu capek-capek keluar rumah. Garfield yang bulat dan pemalas memang menggemaskan, tapi dia kucing.


Mau mencoba atau menambahkan berdasarkan pengalaman? Silakan!



baca selengkapnya

20 Juli 2012

Salah Kaprah Soal Anarkisme


Baru kemarin saya pulang dari pertemuan tiga hari di sebuah hotel di Jakarta. Entah karena menjelang Ramadhan atau alasan lain, di lobby hotel ada pemandangan yang tidak biasa (saya beberapa kali ikut acara yang diadakan di hotel yang sama). Banyak buku-buku yang disusun rapih, plus kasir. Ya, ada booth penerbit buku. Kebetulan, buku-buku karya Dee juga dijual di sana, termasuk Supernova, yang setelah ganti cover, saya jadi berniat mengoleksinya (sebelumnya saya hanya mengandalkan rental buku dekat kost-kostan, jaman masih mahasiswa).


Sekarang saya sedang kembali membaca Akar. Tokoh Bong dalam buku itu mengingatkan pada saat saya masih menjadi relawan di sebuah organisasi di Yogyakarta. Pindah-pindah divisi, akhirnya saya menjajal Divisi Radio. Kerjaannya siaran di radio-radio kerjasama, mengusung isu-isu yang sedang diperjuangkan oleh lembaga kami. Tapi ada satu radio yang agak unik. Pihak radio mendesain programnya dengan nama Lifestyle, mencoba menyampaikan isu-isu tersebut dengan fenomena-fenomena sosial yang nyata ada di lingkungan kita. Sialnya, selama beberapa bulan, saya yang ditugaskan mengawal program tersebut. Artinya, tidak seperti program di radio lain yang kalau mentok ide bisa ambil tema beberapa bulan sebelumnya atau menaruh dokter sebagai narasumber, saya ditantang untuk terus menggali fenomena-fenomena sosial, plus mendatangkan narasumber orang-orang yang mencair dalam fenomena tersebut.


Punk. Satu tema yang saya pernah usulkan dan kesanalah Akar membawa memori saya kembali. Sebelum siaran, saya buka-buka internet dulu cari referensi. Penelusuran membawa saya pada satu pengetahuan tentang anarkisme. Paham ini memang erat sekali dengan punk sehingga lahir gerakan punk mengusung ideologi anarkisme, Anarko-punk. Saya tidak akan membicarakan soal anarkisme secara luas atau mendalam, saya hanya ingin membagi hal yang sangat dangkal saja namun justru di situlah titik persoalannya: penggunaan istilah anarkisme. 




Istilah anarkis atau anarkisme yang sering kita dengar, bukanlah kata yang tepat untuk merujuk apa yang disangkakan kebanyakan orang namun terus diproduksi oleh media massa secara salah kaprah yang ujung-ujungnya masyarakat juga ikut tersesat. Saya coba ambil beberapa judul berita dari media online yang cukup sering saya buka: 

  • Ramadan, Kapolri Tindak Tegas Ormas yang Anarkis (tempo.co, 16/07)
  • Aksi Anarkis Buat Distribusi LPG Terhambat (vivanews.com, 19/06) 
  • SBY Minta Polri Tindak Tegas Kelompok Anarkis (kompas.com, 01/07) 

Dari judul beritanya, kita sudah digiring pada pemahaman bahwa anarkis itu satu dua dengan tindakan kekerasan, tindakan sewenang-senang, melanggar aturan hukum, atau dalam bahasanya bapak presiden kita: “yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat”. Benarkah demikian nilai-nilai anarkisme?


Saya kutipkan dari http://ind.anarchopedia.org/Anarkisme:


"anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia” (Peter Kropotkin)


Masih sumber yang sama, anarkisme secara keseluruhan dapat diartikan sebagai suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan.


Lihat baik-baik, adakah kekerasan dalam definisi tersebut? Walaupun pada prakteknya, ada beberapa anarkis yang mengijinkan tindakan penyerangan dan kekerasan, namun perlu dicermati bahwa bukan tindakan kekerasan atau penyerangan tersebut yang menjadi titik tekan anarkisme. Penyerangan dan kekerasan diperbolehkan selama sasarannya adalah negara, pemerintahan dan kapitalisme, sebagai sistem yang dipercayai telah melakukan penindasan terhadap manusia. Toh, beberapa anarkis bahkan dengan terang-terangan tidak sepakat dengan metode penyerangan dan kekerasan untuk menyampaikan ide dan meraih tujuannya.


Anarkisme tidak bisa begitu saja dianalogikan sebagai tindakan kekerasan. Jika ya begitu, sama saja dengan menganalogikan Islam dengan kegiatan terorisme. Semua orang tahu, beberapa teroris itu mengatasnamakan Islam. Tapi tidak semua muslim sepakat dengan metode teror itu untuk menegakkan kejayaan Islam, beberapa bahkan mengutuk tindakan terorisme. Plus, tidak semua tindakan penyerangan dan kekerasan dilakukan atas nama anarkisme, sama seperti tidak semua tindakan teror dilakukan melulu oleh orang Islam. Menyebut anarkisme untuk merujuk pada tindakan penyerangan atau kekerasan hanya agar terdengar lebih intelek, justru menunjukkan kurangnya pemahaman tentang anarkisme itu sendiri.


Sebagai penulis, apalagi penulis berita (oya, termasuk juga editor), pengertian anarkisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kiranya bisa menjadi acuan untuk tidak menggunakannya secara salah kaprah lagi:
anar·kis·me n ajaran (paham) yg menentang setiap kekuatan negara; teori politik yg tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang
Apa susahnya menulis saja ‘tindakan pengrusakan’, ‘penyerangan’, ‘kekerasan’, atau kalau ingin lebih keren ‘destruktif’ atau ‘vandalisme’. Menarik, istilah vandalisme seringkali direduksi hanya untuk tindakan seperti merusak taman kota, membuat graffiti (karena dianggap merusak, padahal menurut saya justru memperindah –asalkan temanya jelas dan tidak dilakukan di dinding rumah orang- dibandingkan dengan jutaan banner iklan). Vandalisme dalam KBBI diartikan sebagai: 
va·ndal·is·me n 1 perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb); 2 perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas
Well, karena saya percaya bahwa media juga dikontrol oleh sebuah sistem yang lebih besar dan mapan, bisa jadi pemahaman salah tentang anarkisme dengan sengaja dibiarkan. Anarkisme dicitrakan sebagai paham dan tindakan yang menakutkan, karena itu harus diberantas. Tujuannya jelas, kita tidak akan membiarkan jika ada sesuatu yang mengancam kita, bukan? 

*Saya tidak sedang mempromosikan anarkisme. Wong ngerti aja cuma setengah-setengah. Namun jika anda tertarik untuk mempelajarinya, alamat-alamat ini mungkin bisa menjadi salah dua referensi: 
http://www.anarchism.net/
http://pustaka.otonomis.org
baca selengkapnya

18 Juli 2012

Kita Pernah Jatuh: Murni Curhat


Tahun ini saya punya rencana untuk melanjutkan studi. Tentu saja dengan mengharapkan beasiswa. Bayar kuliah sendiri terlalu mahal, apalagi saya ingin sekali melanjutkan kuliah tidak di dalam negeri. Persiapan sudah saya lakukan dari tahun kemarin, mulai dari cari-cari universitas yang punya pogram yang saya incar, tes bahasa inggris yang menjadi syarat untuk melamar ke universitas dan mengontak ini itu untuk mau memberikan referensi untuk saya. Hasil tes IELTS saya lumayan, tidak wow tapi cukup sebagai syarat. Itupun setelah ikut kursus intensifnya selama seminggu. Dekan saya di S1 dan dosen saya di summer school juga bersedia memberikan referensi. Girang bukan main saat dua universitas yang saya lamar, Groningen dan Tilburg, menerima aplikasi saya. Saya lalu memilih admission letter dari Tilburg untuk kelengkapan aplikasi beasiswa. Selang beberapa minggu, datang email yang menyatakan saya belum bisa menerima beasiswa.


Belum patah arang, saya cari lagi universitas lain yang masih buka lowongan. Ketemu satu, walaupun dengan jurusan yang tidak terlalu saya minati, tapi karena ada embel-embel beasiswa, maka melamarlah lagi saya. Baru beberapa hari kemarin, karena lama tak ada kabar, saya tanyakan pada universitas tersebut soal tanggal pengumuman dan jawabannya singkat sekali:


>>Dear Lingga Tri Utama
>>You have been admitted, a letter was sent.


Bukannya senang, saya malah bingung. Pasalnya, untuk melamar beasiswa, menurut informasi via email beberapa bulan lalu, saya cukup menuliskan di motivation letter soal beasiswa itu. Prosesnya sama seperti proses tanpa melamar beasiswa. Saya tanyakan soal ini dan mendapatkan jawaban bahwa tenggat waktu beasiswa sudah habis. Nah lho. Saya cari informasi lagi ke alamat email lain dan jawabannya adalah, ternyata saya harus mengirimkan motivation letter tersebut bersama beberapa dokumen kepada seorang profesor yang bertanggung jawab pada proses seleksi beasiswa tersebut. Kesal.


Pelajaran pertama untuk saya adalah cari informasi sebanyak dan sedetail mungkin tentang universitas dan program beasiswa. Saat saya mendaftar ke Tilburg, hampir saja saya tidak mengirimkan research proposal karena tidak ada informasi tersebut di websitenya, tapi belakangan saya temukan di form pendaftaran. Ok lah, ini tahun pertama saya serius sekali daftar kuliah. Sebelum-sebelumnya saya asal daftar saja. Tapi itu bukan alibi yang baik tentu saja.


Pelajaran kedua, saya merasa gagal. Saya tahu beberapa orang yang mendapatkan beasiswa karena pengalaman-pengalaman mereka yang seabrek atau prestasi mereka yang menjulang (ah ya, saya lupa, kawan saya mengingatkan ada juga yang dapat karena faktor “keberuntungan” sampai akhirnya kawan saya memutuskan untuk rehat sejenak dari pencarian beasiswa, tapi saya tidak mau mendiskusikannya di sini). Dari mereka-mereka saya seperti berhadapan dengan cermin, ya ya… pengalaman dan prestasi saya tidak banyak. Di situlah saya merasa gagal. Merasa jatuh. Merasa ingin bisa memutar waktu mengembalikan ke masa dimana saya bisa meraup pengalaman dan prestasi sebanyak mungkin yang saya yakin sebetulnya saya bisa kalau saya mau. 


Saya pernah jatuh sebelumnya. Semua orang pernah. Mungkin jatuh dari pohon atau sepeda. Sakit. Ya terasa sakit. Luka di lutut atau memar di lengan mungkin tak sebanding dengan perasaan ternyata kita tidak berhasil memanjat pohon atau mengendarai sepeda dengan baik. Tapi itu tidak pernah menyurutkan kita untuk terus memanjat pohon dan bersepeda keliling kampung, bukan? Tak ada juga bayi yang tiba-tiba lancar berdiri, berjalan dan berlari-lari tanpa pernah jatuh (sayang saya tidak bisa mengingat, orangtua saya juga tidak pernah menceritakan proses jatuh bangun saat saya belajar berjalan).


Jika kita gagal, berarti kita tidak benar-benar berusaha. Saya lupa kalimat itu ada dalam film apa. Tapi saya mengamini, untuk kepentingan saya pribadi. Dengan begitu, saya terpacu untuk berusaha lebih keras lagi. Praktiknya memang tidak sesederhana itu karena ada hal-hal di luar kuasa kita yang sulit atau bahkan mungkin tidak mungkin kita ubah (menjadikan bumi ini tidak lagi bulat tapi prisma, misalnya). Toh sampai sejauh ini, keinginan saya masih masuk akal. Saya memang sesekali ingin punya sayap yang bisa membuat saya terbang lintas benua, ingin bisa membelah diri layaknya amoeba saat merasa terlalu banyak yang harus saya kerjakan atau ingin bisa menghilang dalam sekejap dari rapat-rapat membosankan. Selain itu, saya rasa saya masih waras. Ingin bisa kuliah, memiliki pekerjaan yang saya cintai dan hidup bersama pasangan yang saling mengisi.


Jika kita gagal, berarti kita tidak benar-benar berusaha. Bukan berarti akhir dunia atau lantas menghalalkan segala cara untuk mensukseskan keinginan kita. Saya melihat kehidupan saya seperti hamparan kertas dan saya tidak sedang membuat satu garis linier. Saya yakin saya bisa membuat banyak garis, juga kurva berkelok, menentukan tidak hanya satu titik tujuan dan bahkan mewarnainya. Itu cara saya memaknai kegagalan. Berhenti meneruskan satu garis karena sudah mentok bukan lantas menjadikan kita sebagai pengecut, tapi justru berpikir lebih realistis. Saya perlu membuat garis lain. Masih terlalu luas kertas yang saya miliki kalau hanya fokus hanya pada satu garis saja. Plan B, mungkin itu bahasa lainnya. Rencana kedua bukan hanya sebagai cadangan kalau rencana pertama kita tidak berhasil mendapatkan X, tapi juga rencana kedua untuk memungkinkan kita mendapatkan Y, Z dan yang lainnya.


Kita pernah jatuh. Saat belajar berjalan, naik sepeda, memanjat pohon. Dalam karir, akademik, mimpi, cinta. Tapi itu bukan akhir dunia. Ada tantangan baru. Ada kesempatan lain. Ada orang tua kita yang membantu kita kembali berdiri. Ada sahabat-sahabat baik yang memberikan dukungan. Dan terpenting bagi saya, ada orang yang saya sayangi yang memberikan energi luar biasa untuk saya. Thanks, honey! 


*Ini murni curhatan ngalor ngidul. Membacanya dengan terlalu bersungguh-sungguh sangat tidak disarankan hehehe..*


baca selengkapnya

12 Juli 2012

Pada Akhirnya, Kita Ini Makhluk Egois


Awal bulan ini saya mengumumkan kepada teman satu tim saya kalau saya tidak akan memperpanjang kontrak kerja. Artinya, di akhir bulan saya resmi cabut dari pekerjaan saya sekarang. Ada sekian alasan kenapa saya melakukan hal tersebut, termasuk ingin segera hengkang dari hiruk pikuk ibu kota. Teman-teman satu kantor, dan juga atasan saya tentu saja, menanyakan apakah saya sudah diterima bekerja di tempat lain sehingga memutuskan tidak memperpanjang kontrak. Saya bilang jujur: tidak. Jadilah beberapa dari mereka mendesak saya untuk memperpanjang kontrak lagi ya minimal tiga atau enam bulan. Tidak tahu mungkin kalau kepala saya ini agak mirip batu.


Ada yang kemudian mengatakan apa tidak kasihan dengan tim saya, yang memang sedang kekurangan personil. Saya bilang, pasti ada yang bisa menggantikan posisi saya, dan mungkin jauh lebih baik. Saya sebenarnya ingin mengatakan, apa tidak kasihan pada saya yang sudah ingin keluar tapi “dipaksa” tetap lanjut. Hehehe… Tapi tidak saya utarakan karena takutnya terkesan egois. Setelah dipikir-pikir, memang apa yang saya lakukan sekarang ini adalah demi memenuhi ego saya. Tapi bukankah kita ini makhluk egois?


Di luar kisah saya yang segera akan menjadi pengangguran (mungkin), saya ingat beberapa minggu lalu seorang teman yang baru saya kenal tiba-tiba mengirim direct message di twitter. Isinya:


“Pacar matre enaknya diapain?”


Saya jawab:


“Putusin *anda orang kedua dalam minggu ini yang saya kasih saran yang sama*”


Jawaban saya itu serius. Sama saat saya memberikan saran pada kawan baik saya yang sedang bimbang (alias galau) dengan hubungan yang ia miliki sekarang. Ia merasa sudah tidak nyaman dengan pacarnya dengan sekian alasan. Saat saya tanya kenapa lantas masih saja dipertahankan lalu dia jawab karena kasihan, maka saya dengan nada sedikit dibijak-bijakan, menyarankan untuk segera memutuskan hubungannya. Ya, untuk hal ini, saya bukan konselor yang baik. Terlalu berkaca juga dari pengalaman pribadi. 


Saya melanjutkan direct message saya dengan teman di twitter, seperti ini:


“Well, saya mungkin terdengar jahat, tapi inti pacaran kan ‘saling’. Kalau kamu nyaman dengan kematreannya, silakan dilanjut.” 


Menurut saya, suatu hubungan itu harus didasari kenyamanan satu dengan yang lain. Ini bukan soal ‘pacar saya matre, pacar saya malu-maluin, pacar saya nggak perhatian dan bla bla bla’. Mau seperti apapun orang yang kita pilih sebagai pasangan kita, kalau kita merasa nyaman dengannya, tak perlu lagi dipersoalkan. Ya tentu saja tidak lantas asal main putus, toh dalam suatu hubungan ada yang namanya komunikasi. Dan menurut kesoktahuan saya, kalau ada teman yang bertanya pada saya, “sebaiknya apa yang dilakukan untuk hubungan kami?”, biasanya mereka sudah melewati fase mengkomunikasikan dengan pasangan. Jadi bertanya kepada saya adalah seperti meminta pertimbangan lebih lanjut. Hahaha… sesat pikir saya ini.


Begitupun juga dengan pekerjaan. Saya heran pada orang yang terus menerus mengeluh dengan pekerjaannya tapi tetap saja mengerjakan hal tersebut. Komitmen? Bukan saya rasa. Bagi saya, kalau sudah ada hal-hal yang kurang sreg dengan apa yang saya yakini, ya saya pertimbangkan untuk lanjut atau tidak. Kalau kira-kira kondisinya tidak memungkinkan bagi saya untuk mengubah hal-hal yang tidak sreg tersebut, naruni jiwa bebas saya langsung berteriak: KELUAR! Terserah mau saya dianggap cemen, tidak mau berusaha atau egois. Kalau sudah begitu, saya lalu berpikir soal orang-orang yang mengabdikan dirinya pada kehidupan orang banyak. Saya ambil contoh saja Mahatma Gandhi.


Tak perlu diragukan lagi bagaimana Mahatma Gandhi membaktikan seluruh hidupnya untuk mengangkat derajat orang-orang yang dimiskinkan, memperjuangkan kesetaraan dan perdamaian. Dimasukkanlah ia pada kriteria orang-orang yang tidak egois. Tapi tunggu dulu. Dia dianggap tidak egois oleh siapa? Bagaimana dengan keluarganya yang menginginkan Gandhi muda menjadi barrister yang bisa menolong karir ayahnya?


Kita, manusia, tidak akan pernan bisa memenuhi semua tuntutan orang-orang di sekitar kita. Bisa jadi alasannya karena keterbatasan kita atau memang kita memilih untuk tidak mengikuti keinginan-keinginan orang lain tersebut. Yang terakhir ini apa tidak bisa disebut egois? Ya betul, kata “egois” sudah kadung negatif, tapi bukan berarti melulu tidak positif. Karena apapun yang kita lakukan itu sedikit banyak akan berdampak pada orang di sekitar kita, baik dan buruk, maka bagi saya, egois yang negatif itu ya yang jauh lebih banyak dampak buruknya bagi sekeliling kita. 


Pada akhirnya, kita akan memilih sesuatu yang bisa membuat kita nyaman, entah pekerjaan, pasangan, bentuk hubungan, partai, pertemanan, bisnis, pakaian, makanan, keyakinan. Pada akhirnya kita sadar bahwa tuntutan-tuntutan orang itu adalah demi memenuhi keinginan atau kebutuhan mereka dan tak ada jaminan mereka juga akan mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan kita. Pada akhirnya, kita ini adalah makhluk egois yang di setiap waktunya bernegosiasi dengan ego-ego orang di sekitar kita.

baca selengkapnya