10 Maret 2010

Perempuan di Satu Senja


Perempuan itu mengajak aku berbicara di satu senja. Tidak. Tidak di senja dengan lembayung mentari, juga tidak dengan gerimis hujan meruapkan bau tanah. Hanya senja biasa yang ramai oleh lalu lintas manusia. Tak ada kesan senyap membangkit nostalgi, apalagi romansa.


"Sudah kau dengar ada kabar tak sedap tentang suamiku?" tanyanya setengah berbisik. Aku tidak menjawab, hanya mengerutkan kening tanda tanya dan melihat wajahnya. Matanya memang tak sehitam dulu. Rambutnya yang ikal lebat kini mulai memutih. Flek-flek coklat tua sudah memberikan tanda usiaya tidak muda lagi. Separuh abad, namun masih menyisakan kecantikan.


"Tapi kau sudah tahu, bukan, bagaimana tabiat laki-laki itu di masa lalu?" tanyanya lagi. Aku mengangguk lemas. Enggan mengimajikan penderitaan yang aku sendiri sebenarnya tak pernah terlibat. Ia menghela nafas.


"Suamiku menikah lagi. Tidak... tidak... sekarang ia sudah menceraikan perempuan itu," katanya tanpa basa-basi. Sesak rasanya bagi aku yang sehari-hari bekerja di isu perempuan mendengar kisah seperti ini.


"Anak pertamaku mengamuk saat mendengar berita ini. Entah darimana. Si tengah memang lebih kalem, ia tidak bereaksi seperti kakaknya. Tapi ia mengatakan akan berdiri untukku jika suamiku tak menceraikan istri barunya. Si bungsu... Akh... Sepertinya ia memang tidak tahu, aku tak sampai hati memberitahunya. Kasihan kalau sampai dia tahu. Dari semua anak-anakku, hanya si bungsu ini yang aku lihat dekat dan menaruh hormat pada ayahnya. Berjanjilah kau juga tak akan memberitahunya!"


"Ya, aku berjanji," kataku setengah terpaksa. Rasa hormatku pada perempuan ini mengalahkan keinginanku untuk membukakan kotak hitam pada anak bungsunya. "Siapa perempuan itu? Kalau aku boleh tahu," tanyaku.


"Kau tidak mengenalnya dan tak perlu juga rasanya kau tahu siapa dia," ia melirik ke belakang. Mungkin untuk memastikan tak ada orang lain yang pasang kuping pada cerita ini. "Dia masih muda, mungkin hanya terpaut beberapa tahun di atas usia anak pertamaku. Sikapnya sok ramah. Tapi aku tahu bagaimana busuk hatinya!" nadanya mulai meninggi. Tunggu. Bukankah seharusnya yang ia salahkan adalah suaminya? Lupakah sang suami pada sumpah setia saat menikah tiga puluh tahun lalu, pada tiga anaknya yang beranjak dewasa, pada istrinya yang sabar?


"Entah apa pula yang ada dalam pikiran suamiku sampai menikah lagi," ia menjawab pertanyaan yang tertahan di benakku. "Aku mendengar kabar ini dari seorang kawan. Aku pikir hanya kabar burung. Dua tiga kawan lalu memberi kabar yang sama hingga aku memutuskan untuk menemui perempuan itu. Aku tanyakan kebenaran berita itu. Ia tak menutupi. Aku jelaskan bagaimana kondisi keluarga kami. Aku suruh dia melupakan angannya mendapatkan harta dari suamiku karena memang kini keluarga kami tak lagi seperti dulu. Perempuan itu, dengan sikap dibuat-buat yang membuatku muak, mengatakan bukan harta yang dia cari. Cih! Pembual!" aku tertegun mendengar luapan emosinya. Kesabaran yang selama ini ia agungkan rupanya tak mampu menahan geram amarahnya.


Aku tahu sejarah keluarga ini. Dulu mereka orang terpandang. Bahkan sisa kejayaannya masih nampak dari bagaimana orang lain memperlakukan mereka. Sang suami dulu adalah pejabat. Untuk ukuran kota kecil, menjadi pejabat adalah posisi yang membuat seisi kota menaruh hormat. Apalagi sang suami tidak memiliki jejak korupsi atau kejahatan lain yang lazim dilakukan pejabat di negeri ini. Pejabat bersih. Kekayaan yang ia miliki bukan dari uang rakyat, tapi dari usahanya sendiri. Adalah sang istri yang awalnya hanya mencatatkan nama sebagai pemilik perusahaan mereka yang lantas justru berperan besar dalam memutarkan roda-roda perusahaan menuju kesuksesan. 


Terdengar kabar di jabatan terakhirnya, sang suami sibuk mengorek kasus korupsi yang terjadi di lembaganya, sisa peninggalan pejabat sebelumnya. Dia juga menolak menerima fasilitas yang diberikan negara atas posisinya, kecuali mobil dinas karena ia tak lagi berkendaraan setelah krisis menerpa keluarganya. Dari si perempuan jugalah aku tahu krisis itu muncul karena sang suami tak pandai berhemat dan keliru berinvestasi.


Bagaimana menurunnya gemilang keluarga ini bisa terlihat dari tempat aku ada sekarang, sebuah rumah sempit di pinggir jalan raya. Bagian depan rumah difungsikan menjadi toko kecil-kecilan, sama seperti rumah-rumah di sekitarnya. Rumah Cina kalau orang sini bilang. Kontras dengan rumah mereka dulu yang besar bertingkat dua, dengan dua kolam luas di samping dan belakang rumah. Halaman depan tak kalah luasnya. Bersanding dengan rumah-rumah di kiri kanannya, ia tampak seperti istana.


"Aku mengatakan pada perempuan itu, jika sampai ia muncul di rumahku atau anak-anakku tahu berita ini dari mulutnya atau mereka menjadi sengsara karena apa yang sudah dilakukan oleh ayahnya, aku tidak akan tinggal diam. Ia berjanji tak akan melakukannya. Segera aku tahu perempuan ini bukan perempuan baik-baik, ia tak bisa memegang janjinya sendiri," kata perempuan itu membuyarkan lamunanku. Matanya mulai basah. "Perempuan mana yang ikhlas suaminya menikah lagi?" pertanyaannya tak perlu kujawab. 


Aku justru tersenyum simpul mengingat perempuan ini senang sekali mendengarkan khotbah Aa Gym yang belakangan mendeklarasikan perpoligamiannya.


"Aku ucapkan selamat pada suamiku atas pernikahannya," katanya lagi. Aku tercekat. Luar biasa perempuan ini. "Ya... aku melakukannya. Dan aku menyuruh suamiku memilih, aku atau dia. Ha... suamiku lantas berlutut dan memohon ampun. Ia mengatakan akan menceraikan istri barunya," air matanya kini menetes. Mungkin ia teringat pada keberanian yang ia kumpulkan untuk melakukan itu harus diperas dari sakitnya menahan rasa. 


"Kakakku meneleponku tidak lama kemudian. Ternyata meski tinggal di kota lain, berita itu sudah pula sampai ke telinganya. Ia sedikit menyalahkanku karena aku tidak berterus terang atas apa yang terjadi pada keluargaku. Aku katakan saja, ini adalah urusan keluargaku, sekarang masalahnya sudah selesai. Dan lagi apa yang akan ia atau saudara-saudaraku lakukan untuk membantuku? Menjadi bahan guncingan sudah pasti," lelehan air mata kembali menyeruak dari sudut matanya.


"Sekarang... tak kau lihat perubahan berarti dalam keluarga kami, bukan?" katanya sambil menyeka air matanya. Perempuan ini. Sendiri menghadapi masalahnya. Entah karena keikhlasan hidupnya pada Tuhan yang ia sembah setiap hari atau hanya demi melihat keluarganya tak tercerai berai, ia mampu memaafkan suaminya. Sang suami mungkin lega, tapi sadarkah ia telah menumbuhkan benih tidak percaya pada anak-anaknya? Tak tahukah ia sudah melakukan kekerasan psikis pada istrinya? Bagaimana jika justru si istri yang menikah lagi? Adakah ia memiliki hati sebesar si istri?


Perempuan itu lalu berdiri menyambut seorang bocah laki-laki yang baru pulang sekolah. Menyapa hangat dan menebarkan senyum. Tak tampak ia baru saja menceritakan kisahnya yang justru kini membuat aku berusaha menahan jatuhnya air mata. "Sini, Nak, Nenek kenalkan dengan tamu nenek," ujar perempuan itu sambil membantu melepaskan tas punggung si bocah.


(*tulisan ini saya persembahkan untuk perempuan-perempuan di peringatan International Women's Day 2010. Hentikan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun!)
baca selengkapnya

12 Februari 2010

KTP Oh KTP


Sekitar dua mingguan lalu, saya mengikuti launching sebuah  laporan mengenai kehidupan keberagamaan di Indonesia. Satu hal  yang menarik adalah ketika salah satu pembicara menjelaskan bahwa  Undang-undang Administrasi Kependudukan No. 23 tahun 2006  membolehkan warga Negara Indonesia untuk mengosongkan alias tidak  mengisi kolom agama di KTP. Kemajuan nih, pikir saya. Pasalnya,  selama ini beberapa penganut keyakinan di luar agama resmi di  Indonesia (Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu)  dan juga penganut agama selain yang resmi-resmi itu, biasanya  mengisi kolom ini asal saja, yang penting terisi. Buat Negara,  jelas ini berkontibusi pada tidak akuratnya data kependudukan di  Indonesia. Bagi warga negara,ini bentuk pemaksaan halus yang  dilakukan Negara karena Negara seakan-akan tidak mau mengakui  bahwa ada penganut agama selain yang dianggap resmi.

Indonesia, seperti kita tahu, bukan Negara agama. Apalagi Negara  Islam. Namun, secara bijaksana, para pendiri Negara telah  mendasarkan pondasi-pondasi Negara pada nilai-nilai keagamaan.  Niat mulia, memang. Karena toh, ruh agama yang sebenarnya juga  mulia. Sayangnya, beberapa pihak, mungkin yang terlalu agamis  sampai melupakan ketuhanan dan kemanusiaan atau yang meraup  untung dari affair antara agama dan kebijakan Negara, mencoba  membuat daftar agama resmi yang diakui di Indonesia. Di luar  agama itu berarti tidak diakui. Bisa dibayangkan jika Yahudi  kemudian diakui sebagai agama resmi di Indonesia yang mayoritas  penduduknya Muslim dan kebanyakan sudah diracuni ayat-ayat yang  mengibarkan bendera perang terhadap Yahudi. Politik juga yang  menempatkan Konghucu, misalnya, awalnya diakui, kemudian tidak, dan pada era Gus Dur kembali diangkat sebagai sebuah identitas dan dijamin hak-haknya untuk beribadah.

Saya tidak mau panjang lebar lagi membahas soal agama dan kuasa  Negara. Ceritanya, minggu lalu saya pulang untuk mengurus KTP.  Masalahnya, saya hendak membuat passport dan gawatnya, KTP saya  masih ikut orang tua kemudian orang tua saya pindah rumah, alamat  saya di KTP dan di Kartu Keluarga berbeda. Beginilah nasib warga  negara Indonesia, kebanyakan kartu identitas! Belum ngurusnya  yang ribet minta ampun. Sempat saya update status facebook  tentang KTP ini dan banyak kawan berpendapat serupa dengan saya:  ribet!

Singkat cerita, saya sampai ke kantor kelurahan dengan niat  membuat KTP dan mencoba bisa tidak mengosongkan kolom agama saya.  Ketika saya bilang mau bikin KTP, pegawai di sana meminta saya  membawa KK. Saya pulang lagi membawa KK. Setelah catat ini itu  (pegawainya hanya menyalin dari KK saya), dapat tanda tangan,  saya diminta mengurusnya di kantor kecamatan. Sesampainya di  kecamatan, saya serahkan fotocopy KK dan surat sakti dari  kelurahan, tanpa ditanyai apapun. Sekitar satu jam saya menunggu.  Saya pikir sedang diproses, ternyata saya keliru. Meskipun tidak  banyak yang mengantri, rupanya bagian per-KTP-an sudah disibukan  dari pagi. Saya bunuh waktu dengan membaca harian lokal, sebuah  berita tentang pembuatan KTP yang seharusnya gratis ternyata  tetap dipungut biaya di suatu daerah di kota saya. Dasar, pegawai  pemerintah.. Nama saya lalu dipanggil.

“Mas pernah buat KTP di sini?”
“Iya, tapi alamatnya sudah pindah, Pak,” kata saya.
“Saya bisa minta KTP lamanya?”

Lalu saya serahkan KTP saya yang usianya masih 2 tahun lagi dan  saya kembali disuruh menunggu. Hanya selang kurang dari lima  menit, saya tiba-tiba dipanggil lagi. Hah? KTP saya sudah jadi?  Sial.. saya tidak punya kesempatan untuk mengetes aplikasi UU  Adminduk. Semua kolom terisi sesuai dengan yang tertera di KK  yang diisi oleh ibu saya. Saya lihat di kantor kecamatan juga  tidak ada pengumuman tentang UU Adminduk itu (di ruang tunggu  hanya ada sofa, meja, koran, tivi, penampang peta kota, dan  penampang jumlah pajak daerah). Bagaimana ini.. sudah tidak ada  sosialisasi, pegawainya juga bersikap yang-penting-beres.

Terinspirasi dari koran yang saya baca, kali ini saya ngetes  pegawainya soal gratisan KTP. Saya harap sang pegawai dengan  bijak akan mengatakan, “gratis kok” yang menegaskan bahwa aturan  itu memang demikian, alih-alih malah menjawab dengan nada lemas:

“Seikhlasnya saja...”

Jawaban tidak pasti yang bagi beberapa orang yang tidak tahu soal  aturan KTP gratis atau tahu tapi kurang cukup tega melihat  pegawai yang notabene sudah digaji untuk pekerjaannya itu,  akhirnya memberikan uang ala kadarnya. Huh, mentalnya ini...
baca selengkapnya

23 November 2009

Kinarya Lan Makarya Sesarengan: "Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan" ala PKBI DIY


Kinarya lan Makarya Sesarengan adalah sebuah pekan seni budaya yang mengusung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan - 25 November, Hari AIDS Sedunia - 1 Desember, Hari Hak Azasi Manusia Sedunia - 10 Desember).
Menggandeng komunitas seni tradisi, Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Yogyakarta, serta lembaga-lembaga lain memiliki kepedulian pada isu tersebut, PKBI DIY mengadakan serangkaian acara:


1. Opening Carnival “Stop AIDS: Akses Untuk Semua”
Tanggal : 1 Desember 2009
Jam : 14.00 - 16.00 WIB
Tempat : Taman Parkir Abu Bakar Ali Monumen SO 1 Maret
Peserta : 500 orang (LSM, organisasi masyarakat, institusi pendidikan, kelompok seni, dan masyarakat umum)

Opening carnival adalah pembuka dari Pekan Seni Budaya. Selain sebagai media sosialisasi adanya Pekan Seni Budaya, acara ini juga mengikuti tradisi longmarch Hari AIDS Sedunia yang biasa diadakan oleh lembaga-lembaga yang peduli pada isu HIV & AIDS di Yogyakarta, namun dengan format carnival sehingga peserta dapat mengekspresikan dirinya melalui kostum atau atribut lainnya.


2. Jogja Update “Diskusi Publik: Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi”
Tanggal : 2 Desember 2009
Jam : 14.00 - 17.00 WIB
Tempat : Gedung Radyo Suyoso, Kompleks Kepatihan

Adalah sebuah diskusi publik yang akan membahas isu-isu terkini seputar Kesehatan Reproduksi dengan pembicara dari instansi-instansi terkait seperti BKKBN, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan lembaga lain yang bergelut di isu tersebut.


3. Pertunjukan Teater dan Gamelan Kontemporer 'Bukan Aku yang...'
Tanggal : 5 Desember 2009
Jam : 19.00 - 23.00 WIB
Tempat : Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta

Kepedulian remaja sekolah terhadap isu HIV & AIDS ditampilkan oleh siswa-siswa SMA TMIP yang tergabung dalam TeMA melalui pertunjukan teater dan gamelan kontemporer.


4. Festival Seni
Tanggal : 4 - 6 Desember 2009
Jam : 15.00 - 23.00 WIB
Tempat : Monumen SO 1 Maret

Mengambil tempat di Monumen SO 1 Maret, Festival Seni Budaya ini adalah inti acara Pekan Seni Budaya. Acara ini akan diisi oleh penampilan dari pekerja seni-pekerja seni lokal Yogyakarta, terutama yang berbasis budaya tradisional seperti tari, ketoprak, gamelan, wayang. Festival akan dibuka oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 4 Desember 2009 pukul 18.30 WIB dengan pertunjukan tari dari UKM Swagayugama UGM dan Sanggar Seni Waria Kotagede, dilanjutkan dengan penampilan seni tradisi dari Kulon Progo dan Sleman. Pada 5 Desember 2009, 19.00, komunitas seni tradisi dari Kabupaten Gunung Kidul dan Kota Yogyakarta akan mengambil bagian. Kemudian ditutup pada 6 Desember 2009 dengan penampilan dari Kabupaten Bantul dan penampilan seni tradisi dari KNPI DIY.
Selain seni tradisi, Pekan Seni Budaya juga tetap mengakomodir komunitas-komunitas seni non-tradisi seperti band, paduan suara, musikalisasi puisi, teater, dan sebagainya di pukul 15.00 – 18.00


5. Family Day
Tanggal : 6 Desember 2009
Jam : 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Monumen Serangan Oemoem 1 Maret
Peserta : Masyarakat umum

Family Day adalah sebuah hari yang dikhususkan untuk keluarga. Beberapa acara akan digelar pada satu hari penuh, yaitu:

  • Lomba lukis dan mewarnai (usia TK dan SD)
  • Penampilan seni oleh anak-anak
  • Dolanan anak
  • Diskusi Santai ”Kesehatan Reproduksi dan Seksual [HIV & AIDS] dan Keluarga”
  • Klinik gratis



6. Pameran Foto “Nyawang”
Tanggal : 30 November - 6 Desember 2009
Jam : 10.00 - 19.00 WIB
Tempat : Griya Lentera [Jl. Gandekan Lor No. 42 B]
Peserta : Komunitas remaja jalanan, gay, waria, perempuan pekerja seks

Griya Lentera sebagai bagian dari PKBI DIY akan melaunching sebuah ruang budaya yang terbuka bagi siapapun. Pameran Seni dan Foto digelar selain untuk sosialisasi awal, juga untuk menunjukkan kreativitas komunitas-komunitas yang selama ini termarginalkan.


7. Movie Screening
Tanggal : 30 November - 6 Desember 2009
Jam : 15.00 - 18.00 WIB
Tempat : Griya Lentera [Jl. Gandekan Lor No. 42 B]

Movie screening adalah ruang untuk memutar film dan berdiskusi mengenai film-film yang berkaitan dengan isu-isu kesehatan reproduksi dan seksual (HIV & AIDS), gender, dan HAM. Film yang diputar adalah film pendek, dokumenter, dan karya komunitas. Setiap harinya akan diangkat 1 tema besar yaitu: remaja, HIV & AIDS, LGBTIQ, gender, kesehatan reproduksi, dan perjuangan identitas
baca selengkapnya

29 September 2009

Kondom Sang Kontroversi


KONDOM2


Kondom. Tidak sulit menemukannya di apotek, toko, bahkan warung pinggir jalan. Benda berbahan latex -beberapa terbuat dari polyurethane- itu kini tersedia juga dengan warna beragam, aroma buah, bahkan dengan aneka aksesoris. Kelebihan lainnya adalah mudah digunakan, efek samping yang sedikit, murah harganya, juga tidak hanya efektif sebagai alat kontrasepsi namun juga ampuh dalam mencegah penularan beberapa infeksi menular seksual, termasuk HIV.
Namun, kehebatan alat yang sudah digunakan manusia sejak 400 SM itu ternyata memicu kontroversi tiada henti karena beberapa pihak menganggap kondom justru dapat meningkatkan angka hubungan seksual di luar nikah. Masih hangat di ingatan kita bagaimana Paus Benediktus XVI mengecam pemakaian kondom saat berkunjung ke Afrika, Maret 2009 silam. Paus mengatakan bahwa kondom bukan solusi untuk kasus HIV & AIDS tapi justru akan menambah persoalan. Tak ayal, pernyataannya ini menuai kritik tidak hanya dari para aktivis yang giat mengkampanyekan penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV, tapi juga dari petinggi negara-negara Eropa.

Kondom dan HIV & AIDS
Saat ini kondom memang menjadi alternatif pencegahan penularan HIV, jika memang seseorang tidak bisa tidak aktif secara seksual, plus tidak bisa melakukan hubungan seksual hanya setia dengan satu pasangan. Efektivitas kondom dalam pencegahan transmisi HIV ini mencapai 60.0 sampai 95.8% (Family Planning Perspectives, 1999). Pun demikian WHO dan UNAIDS melaporkan bahwa kondom efektif memberikan perlindungan dari penularan HIV sebesar 90%, tentu dengan syarat digunakan secara benar dan konsisten.

Pihak yang tidak menyetujui kampanye kondom biasanya datang dari kaum fundamentalis agama yang menganggap kondom adalah alat yang bisa disalahgunakan untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama: zina. Mereka yang lebih fanatik bahkan meyakini penggunaan kondom, pada fungsi kontrasepsi, adalah haram sama seperti penggunaan alat kontrasepsi lain karena dianggap menolak berkah dari Tuhan. Pola pikir magis ini juga terkait dengan persepsi bahwa HIV & AIDS adalah kutukan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap melakukan perbuatan dosa. Tidak heran memang, karena di awal sejarahnya, HIV & AIDS seringkali dikaitkan dengan isu homoseksual, pekerja seks, dan NAPZA yang tidak bisa ditolerir dalam agama.

Mereka melakukan serangan dengan memberikan alibi bahwa selain bisa merusak mental generasi muda, kondom juga dianggap tidak efektif mencegah penularan HIV karena pori-pori kondom yang bisa ditembus HIV dan kemungkinan kondom bocor. Aktivis HIV & AIDS tentu memberikan jawaban atas hal ini. Pertama, kampanye kondom jelas bukan solusi final dari pencegahan penularan HIV. Prinsip ABCDE menempatkan kondom di urutan ketiga (C = condom use). Ini mengindikasikan bahwa hal yang pertama kali didorong kepada masyarakat agar terhindar dari penularan HIV adalah dengan Abstinence (A) alias tidak melakukan hubungan seksual, yang tentu saja sejalan dengan apa yang diajarkan oleh agama. Prinsip Be Faithful (B), atau saling setia dengan pasangan, juga diyakini tidak keluar dari dogma agama. Namun kita tentu tidak bisa menutup mata berapa banyak orang yang dengan teguh menjalankan iman pada agamanya dan berapa yang tidak.

Isu bahwa kondom berpori dan mungkin saja bocor memang bukan sekadar mitos. Kondom berpori adalah kondom yang terbuat dari bahan alami (usus domba). Sementara kondom berbahan latex tetap mampu memberikan perlindungan terhadap mikroorganisme, seperti HIV dan sperma (Centers for Disease Control and Prevention, USA, 2000). Beberapa peneliti juga melaporkan bahwa HIV harus masuk melalui perantara cairan untuk bisa masuk ke tubuh orang lain. Sementara kebocoran kondom mungkin saja terjadi karena kesalahan penyimpanan dan penggunaan.

Tanpa mengesampingkan statistik kasus HIV & AIDS yang terus meningkat karena kemungkinan tumbuhnya kesadaran untuk melakukan VCT, sebenarnya sudah berhasilkah kampanye kondom di Indonesia mengingat jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor risiko hubungan seksual (heteroseksual, homo-biseksual) dari tahun ke tahun justru meningkat. Pada 2005, penularan karena hubungan seksual sebesar 44.2% menjadi 44.5% pada 2006, 45.8% pada 2007, 51.7% pada 2008, dan data terakhir sampai Maret 2009 mencapai 52.1%. Bandingkan dengan penularan karena penggunaan napza yang menunjukan penurunan dari 50.3% pada 2006 menjadi 42.1% pada Maret 2009 (Ditjen PPM & PL Depkes RI). Mungkin kesimpulan yang tergesa-gesa jika kita hanya melihat angka-angka tersebut, tanpa adanya analisa yang lebih dalam.

Kondom dan Perempuan
Program distribusi kondom kepada pekerja seks di Bali telah meningkatkan penggunaan kondom dari 18% hingga 75% di satu daerah studi dan dari 29% hingga 62% di daerah lain (Population Reports,1999). Sementara itu, bercermin dari negara tetangga, Program 100% Kondom di Thailand dianggap sebagai program kampanye kondom paling sukses di dunia. Dari 1989 hingga 1994, penggunaan kondom di kalangan pekerja seks telah meningkat 25-90% dan berhasil mengurangi angka penularan HIV hingga 83%. Pemerintah Thailand telah berhasil mendorong pekerja seks untuk mampu melakukan negosiasi kondom kepada klien, jika klien menolak maka pekerja seks berhak menolak dan mengembalikan uangnya. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah bahkan menutup tempat lokalisasi yang menolak program tersebut.

Setelah lebih dari dua dekade isu HIV & AIDS ramai diperbincangkan, kini banyak pihak yang mulai menyadari bahwa isu ini tidak hanya berkutat pada masalah medis-biologis, namun lebih luas meliputi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Keberhasilan kampanye kondom di Thailand perlu dilihat bukan hanya dari bagaimana sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga yang peduli pada isu HIV & AIDS, namun juga kemampuan negosiasi yang dilakukan oleh pekerja seks kepada kliennya. Memang belum ada temuan apakah hal tersebut dimudahkan oleh pola relasi gender ataukah ada intervensi lain kepada laki-laki di Negeri Gajah Putih tersebut?

Mitos yang berkembang di masyarakat, terutama di kelompok laki-laki, bahwa penggunaan kondom dapat mengurangi kenikmatan hubungan seksual membuat kampanye kondom seperti jalan di tempat. Iklan-iklan kondom kemudian dibuat sedemikian rupa untuk mendobrak secara halus mitos tersebut alih-alih mengkampanyekan secara tegas upaya pencegahan penularan HIV. Tapi, ketabuan masyarakat Indonesia mengenai seksualitas masih menjadi tembok bagi kampanye anti-mitos seputar kondom. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi masyarakat yang kontra terhadap kondom jika iklan yang ditayangkan lebih eksplisit menonjolkan efek nikmat dari penggunaan kondom walaupun tujuan sebenarnya untuk mendongkrak pemakaian kondom bagi upaya pencegahan penularan HIV.

Selain itu, program-program kampanye kondom seringkali menembak perempuan pekerja seks sebagai targetnya karena dianggap beresiko tinggi dari penularan HIV. Budaya patriarki jugalah yang akhirnya memainkan peran besar yang menyebabkan posisi tawar perempuan pekerja seks ini menjadi rendah untuk meminta kliennya memakai kondom. Kondisi-kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia dan karena itulah pada 1990 Badan Kesehatan Dunia, WHO, mengkampanyekan kondom perempuan (femidom) sebagai alternatif solusi bagi perlindungan terhadap tubuh perempuan dari penularan HIV.
Meskipun data yang dilaporkan sampai Maret 2009 jumlah kasus AIDS yang dialami oleh perempuan hanya sekitar 25%, namun trend dari tahun ke tahun ternyata menunjukkan adanya peningkatan. Pada 2005, perempuan AIDS sebanyak 18%, kemudian meningkat pada 2006 sebanyak 18.66%, pada 2007 sebanyak 19.88% dan pada 2008 sebanyak 24.64%.

Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mengatakan pada 2007 bahwa tingkat kerentanan remaja putri usia 15-19 tahun terhadap penularan HIV adalah empat sampai enam kali lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Nafsiah menuding peningkatan penularan HIV pada perempuan dan anak-anak disebabkan oleh ketimpangan gender dan faktor ekonomi. Beberapa pihak yang lain menganggap struktur tubuh biologis perempuan menjadikan mereka lebih rentan terhadap penularan HIV.
Perempuan memang seringkali diabaikan dalam sistem kesehatan sosial. Statistik kasus HIV & AIDS selama ini bisa saja merepresentasikan bahwa selama ini perempuan tidak mendapatkan akses, baik layanan maupun informasi mengenai HIV & AIDS, sehingga mereka tidak melakukan VCT. Lantas, apakah kondom perempuan memang bisa memperbaiki keadaan?

Kontroversi (Lagi): Kondom PerempuanKondom perempuan memang menawarkan solusi baik itu fungsinya sebagai pencegah penularan HIV maupun sebagai fungsi kontrasepsi. Gampangnya, ya jika laki-laki memang susah disuruh memakai kondom, perempuan juga bisa! Harganya yang mahal agaknya bisa menjadi alasan beberapa orang untuk tidak memilih kondom jenis ini selain cara pakainya yang dianggap lebih ribet dan ketersediaannya yang terbatas dibandingkan dengan kondom laki-laki.

Beberapa kalangan feminis lalu bersuara bahwa kondom perempuan menunjukkan adanya dan bisa memunculkan bentuk baru pola ketimpangan gender. Kondom perempuan dianggap sebagai alat kontrol agar perempuan tidak hanya bisa menjaga tubuhnya sendiri tapi juga tubuh pasangannya. Dampak pertama, tanggung jawab laki-laki akan semakin hilang. Pemakaian alat kontrasepsi selama ini lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Jika kita bandingkan alat-alat kontrasepsi seperti susuk, pil, IUD, tubektomi, vasektomi dari sisi ekonomi maupun cara pakai, kondomlah yang paling mudah dan murah tanpa kehilangan efektifitasnya. Untuk itu saja, laki-laki tetap enggan memakainya dan lebih memilih merogoh kocek lebih dalam agar pasangannya mendapatkan alat kontrasepsi lain sambil seakan-akan tidak mau tahu dampaknya pada perubahan hormon, alergi, dan sebagainya yang dialami perempuan.

Lebih jauh, jika kondom perempuan ini memang bisa didistribusikan secara luas dan merata, namun ternyata kasus HIV & AIDS tetap tinggi, kesalahan akan dituduhkan kepada perempuan. Laki-laki bisa melemparkan tanggung jawab jika terjadi penularan HIV dengan menuding perempuannya tidak mau memakai kondom. Kondisi saat ini saja masih sering memposisikan perempuan pekerja seks sebagai penular HIV padahal mereka sudah dibekali informasi HIV & AIDS, termasuk cara pemakaian kondom, namun harus mengalah karena posisi laki-laki.

Agaknya akan menjadi PR kita bersama agar kondom perempuan bisa berfungsi maksimal dalam upaya pencegahan penularan HIV namun tetap meminimalisir dampak sosial yang lebih besar bagi perempuan. Kondom perempuan bisa menjadi alternatif, pilihan dengan penuh kesadaran akan hak milik tubuh perempuan, jika ketimpangan gender dapat kita hancurkan terlebih dahulu.

Kondom, si karet kecil multi fungsi, masih akan menjadi kontroversi.
baca selengkapnya

8 September 2009

Gila!


Saya dikenalkan dengan seorang perempuan, pada suatu sore di kantor saya. Awalnya ia hanya ingin mencari informasi tentang seseorang yang kebetulan saya sedikit tahu track record-nya. Berbalut celana jeans dan kaos longgar, serta jaket jeans yang kebesaran membuat saya terbayang sosok Kugy di Perahu Kertas, hanya yang ini versi tinggi dan nyata. Gaya bicara dan penampilannya sangat santai, kalau tidak saya sebut gila. Sesekali ia menghisap rokok, yang membuat suaranya terdengar berat.


Ia sahabat lama kawan saya. Entah profesi atau hobby, dari ceritanya saya menyimpulkan ia tergila-gila melukis. Setelah urusan soal track-record seseorang itu selesai, mereka lalu terlibat perbincangan seru soal masa lalu mereka, kegilaan mereka. Otomatis, saya hanya jadi pendengar. Cerita-cerita menarik termasuk soal basecamp mereka, sebuah garasi yang disulap menjadi kamarnya, namun nuansa yang muncul malah seperti gudang, lengkap dengan kasur butut, botol-botol kosong, sepeda yang dipasang di dinding, dan lebih gila lagi, lengkap dengan peliharaan: kecoa, tikus, dan kawan-kawan.


Satu cerita yang membuat saya tertarik sekaligus tertegun adalah, karena keterbukaannya, banyak orang yang sering menginap di kamar-gudang nya itu. Teman atau saudara sudah biasa, bahkan sampai tinggal berbulan-bulan. Yang luar biasa adalah tukang becak dan orang (yang dianggap) gila juga sempat ikut-ikutan menghuni kamar itu. Gila!


“Eh, ternyata kalau diajak ngobrol ya masih nyambung tuh! Walau kadang-kadang sih... Malah kamarku dia bersihin, sambil ngenasehatin aku biar gak males hahaha...” katanya polos.


Saya segera paham, teman saya sama sekali tidak punya bekal pengetahuan soal gangguan psikis. Tapi justru itu membuat saya semakin miris. 


Perempuan ini luar biasa gila. Saya belajar gila-gilaan dan lulus dari psikologi, tapi tetap saja masih takut-takut jika berhadapan dengan orang yang karena entah mengalami gangguan psikis apa sampai orang lain menyebutnya gila. Mungkin teman-teman saya juga sebelas dua belas. Sementara teman saya itu, dia malah mendekati orang yang terganggu mentalnya (istilah ini walau agak panjang, tapi buat saya lebih sopan dibandingkan orang gila). Diajaknya mengobrol, sampai-sampai ia tahu sejarah singkat orang itu.


Kemanusiaan. Mungkin itu yang ia miliki dalam jumlah gila. Rasa kemanusiaan saya saat bertemu orang yang terganggu mentalnya paling menthok ya cuma rasa kasihan tho. Iba dengan keadaannya. Malah kadang agak memalingkan muka jika saya merasa jijik dengan penampilannya. Namun tak mampu menggiring saya untuk mendekatinya, bahkan mengajaknya berbicara.


Saya ingat betul saat mengambil mata kuliah psikiatri waktu kuliah dulu. Karena sang dosen adalah psikiater yang bekerja di rumah sakit, maka kuliah tersebut pun diadakan di rumah sakitnya, tepatnya di bangsal jiwa, selama satu semester. Pengalaman yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika seorang residen membawa salah satu pasiennya ke dalam kelas. Kemudian ia diminta menceritakan pengalamannya. Di tengah-tengah cerita, tiba-tiba sang residen memotong: “Stop! Ya, apa yang ia katakan barusan adalah gejala gangguan bla bla bla...”, yang intinya ingin menunjukan bahwa apa yang diceritakan pasien tidak sama dengan kenyataan yang ada. Gila! Apa-apaan ini? Pikir saya. Kok tidak manusiawi ya... bagaimana kalau si pasien bisa menangkap kata-kata sang residen? Bagaimana coba rasanya harus berdiri di depan sekian banyak kepala, diminta bercerita, lalu ceritanya dipatahkan begitu saja sambil dicap mengalami gangguan ini itu? Ternyata, tidak hanya saya yang merasakan itu, temen-teman saya juga mengatakan pendapatnya setelah kelas berakhir.


Saya memang tidak memiliki kemampuan untuk menangani gangguan mental seberat itu. Toh saya juga tidak ingin betul-betul punya kemampuan itu. Saya hanya ingin punya empati seperti teman perempuan saya. Empati yang juga bisa saya ungkapkan dalam tindakan. Tidak hanya kepada orang yang dianggap sehat mentalnya, seperti apa yang selama ini saya usahakan. Bisa nggak ya?
baca selengkapnya

8 April 2009

"Kemarin-kemarin Kemana Aja?"





"Lho, gak pulang, Ga?" tanya teman kost saya ketika kami berpapasan di parkiran, Rabu malam.
"Nggak," jawab saya pendek.
"Nggak nyontreng donk?" tanyanya lagi.
"Hehehe.. aku doain aja deh!" jawab saya kemudian yang lalu disambut tawa.

golput
Ya.. saya memutuskan golput di pemilu kali ini, alasannya? Pertama, saya tidak dapat undangan karena KTP saya bukan Jogja, sementara sudah hampir 7 tahun ini saya menetap di kota gudeg ini. Ya ya ya.. undangannya mungkin sampai ke rumah saya di Majalengka sana, tapi ya iya masak saya harus merelakan minimal 250 ribu buat ongkos perjalanan hanya untuk memberikan suara saya (yang saya aja nggak tahu siapa-siapa, apa programnya, apa caleg di sana). Ya ya ya.. kalau emang niat dan merasa sebagai warga negara yang baik ya diurus lah gimana caranya biar bisa ikut berpartisipasi di pesta demokrasi (pesta? masak... demokrasi?? yang bener aja!). Pemilu 2004, saya gak urus sana sini , KTP juga masih sama, tapi saya dapet kartu pemilu. Heran, kok sekarang nggak ada ya? Ternyata saya tak sendiri. Ada yang niat mau ikutan nyontreng, eh udah kelewatan tanggalnya. Yang lain dari saya juga ada. Udah almarhum, tapi masih terdaftar sebagai pemilih. Dimana lagi pemilu macam gini kalau nggak di Indonesia? Negara ku cihuy banget. Nah itu alasan pertama...

Alasan kedua, yang lebih idealis (atau maksa) adalah karena dari sekian caleg, parpol, dan tetek bengeknya, belum ada yang sreg tuh. Masak tetep dipaksa milih? Haram mana gak milih atau milih tapi gak ikhlas? Parpolnya buanyaaak betul, sampai saya kadang-kadang masih kaget kalau nemu media kampanye (yang bikin polusi mata) dari partai kecil nyelip di antara spanduk dan banner yang guede-guede, "Eh ada partai itu tho?" Selama ini kemana aja tuh partai? Jangankan yang masih bau kencur itu, partai-partai gede aja kalau pas lagi gak kampanye ya gak keliatan tuh. Mana yang katanya ngasih pendidikan politik buat rakyat sebagai tugas utama partai politik? Ya gak heran kalo kata ahli-ahli neh, golput di 2009 ini bakal mencapai 40-50% atau mungkin lebih. Buseeet.. Bikin partai baru bisa juara tuh! Alasannya ya paling karena rakyat udah muak sama janji-janji politik, udah gak ada yang percaya. Hayo, siapa yang gak bete kalau ada orang yang ngingkari janjinya ke kita? Giliran ada bencana, rame bikin tenda dan tak lupa mengibarkan bendera masing-masing. Terus juga soal sosialisasi, heboh dari coblos ke contreng aja gak kelar-kelar. Saya nggak tahu nih kok kesannya KPU tidak siap dengan pemilu tahun ini. Ketularan parpol kali ya hebohnya cuma pas menjelang pemilu. Empat tahun lebih sedikitnya dilupakan begitu saja.

Saya ingat betul beberapa hari sebelum parpol-parpol heboh kampanye, datang ke kantor saya seorang kader partai X pada Sabtu sore. Mencari direktur buat dimintain opininya soal politik. Saya bilang aja kalau direkturnya tidak berkantor yang sama dengan saya, jadi salah alamat. Salah jadwal jelas, Sabtu sore gitu lho.. Nggak dapet direkturnya, sang kader masih minta siapa aja orang yang ada yang bisa mewakili lembaga untuk berbicara. Kesan terburu-buru ngejar deadline langsung bisa saya baca. Sebentar... meskipun lembaga kami pra pemilu ini juga ikut heboh dengan kontrak politik, pendidikan politik untuk pemula, pelatihan ini itu buat caleg dan parpol, tapi kami tidak berafiliasi dengan salah satu partai pun. Saya akhirnya bilang, 

"Lho, kemarin-kemarin kemana aja?" Dia langsung pamit deh hehehe..

Selain spanduk yang ganggu mata, dengan tingkah caleg yang macem-macem (saya dikirimkan by email foto kampanye caleg dari yang mulai gaya artis, artis beneran, bawa-bawa anaknya yang artis, bawa silsilah keluarganya, berfoto bersama hewan kesayangan: macan, monyet, gaya pahlawan, gaya Obama, gaya petinju, sampai yang sok-sok an bilang: Jangan Pilih Saya.. huh, capek deh), segala jurus digunakan para caleg dan parpol buat menggaet massa. Tengok facebook, dipikirnya masyarakat kita yang terkoneksi internet berapa banyak sih, dari yang terkoneksi itu, berapa banyak yang punya dan rajin buka facebook, dan yang punya plus rajin facebookan itu berapa banyak juga yang tertarik. Gak tanggung-tanggung, sekitar 7-8 trilyun rupiah berputar dalam bisnis perkampanyean ini (buat auditnya aja ngabisin 1 trilyun, duit semua) Tadi siang lain lagi, saya dapat kampanye via SMS! Saya pikir cuma KPU yang punya modal sosialisasi macam itu. SMS yang saya terima bernada pantun mengajak memilih partai yang iklannya pernah dikritik karena bawa-bawa tokoh panutan partai lain, dan terakhir dianggap munafik oleh kawan-kawan di milis karena menampilkan pluralisme tapi banyak yang curiga partai itu punya hidden agenda menjadikan Indonesia negara dengan landasan satu agama. Saya bales aja (kurang kerjaan juga sih): 

"Emang partai anda bisa ngasih apa?"
baca selengkapnya