8 November 2011

Happiness vs Roller Coaster

What is happiness? A simple question with complicated and confusing answers. One of my colleagues asked me this evening. It took a few minutes before I answered, "it is... something that set you free?" It was absolutely not a good answer!

He and two other colleagues were discussing the difference between love and fall in love. My colleague said that love brings happiness and fall in love brings joyful. I do agree with his idea. When you fall in love, you are like riding a roller coaster, up and down, full of fun and your adrenaline is pumped. Exciting. But when you are in love, you feel like you are in the prairie with the blue sky and the songs of the birds, peaceful and... you feel free.

Happiness comes from the fulfillment of our needs, not our desires or wants. The problem is that many people are trapped in the last one. We think that what we want is always what we need. And what is the difference between needs and wants? It is also not an easy question to be answered. Frankly, I don't have enough competency to define them. But since I'm writing this on my personal blog, I can say whatever I want (or I need?? hehe..) 

Needs are natural. I could say that everybody on this earth have the similar needs as Abraham Maslow showed them on the hierarchy of needs. Freud called it id. We need to eat, to love, to be loved, to be appreciated, etc. They come from inside. 

And what about wants? Wants are more socially constructed. When someone says that she is hungry, she needs to eat (yes, we can say she wants to eat, but still, she needs to wipe her hunger). If she is Javanese, her parents maybe tell her to eat rice (Freudian defined it as ego for her want to eat rice, and super ego because she doesn't prefer to eat the stolen rice, bread, or even shoes, hehe..) And when she needs someone to be her partner, her society maybe tell her to find a good looking, mature and prosper man (super ego has controlled her to create an ideal partner and mostly, heterosexual, therefore she has to reduce her same sex sexual desire if she feels it). So,
it seems that the wants are actually the way to fulfill the needs. 

Back to our topic that many people trapped in their wants instead of focus on their needs. We try to fulfill our wants with the aim to reach the happiness. And what happen then? We may feel joy, fun, and define it as a happiness. I can't say that it is wrong. The definition of the happiness itself may vary from one person to another. But in my opinion, that kind of 'happiness' will not be long-lasting, so I will call it 'the pseudo of the happiness' or in another word, it is an ecstasy. We have only fulfilled our wants, not our needs. Once you don't want it anymore, you will loose all of the feeling. Some parts inside you are still empty and need to be completed.

Ya, sometimes it's hard to find what do we really need since we belong to a society. What I can suggest is we maybe need to do a little reflection: "What do we feel after we have reached what we think we need? Do we feel like in the peaceful prairie? Or we feel like we are riding a roller coaster?"
baca selengkapnya

25 Oktober 2011

Serumit Membalik Telapak Tangan

Beberapa teman saya belum menikah, banyak diantaranya yang berusia di atas saya. Sebagian memang seperti tidak berminat dengan pernikahan, bahkan mungkin juga tidak dengan berpasangan. Tapi sebagian yang lain tampak sekali mendambakan pernikahan, cuma saja 'belum ketemu yang cocok' atau 'belum diberi jodoh'.

Untuk alasan pertama, yang 'belum ketemu yang cocok', di telinga saya terdengar lebih baik daripada yang alasan kedua. Mungkin karena saya berprasangka kalau alasan kedua itu sebetulnya sebelas dua belas dengan yang pertama, cuma dibungkus 'diberi' yang lebih terkesan ada kaitannya dengan yang namanya nasib, dengan takdir, dengan Sang Pengatur Hidup, dengan yang sampai saat ini masih saya ragukan. Mereka percaya kalau Ia belum berkehendak, mau dicari sampai tujuh samudera juga si jodoh itu tidak akan ketemu. Saya melihatnya, urusan mencari pasangan ini jadi begitu rumit, berkelindan dengan roda takdir.

Ayah saya, punya teorinya soal takdir -yang belakangan saya percaya teori tersebut- termasuk urusan jodoh perjodohan. Beliau bilang seperti ini kira-kira, "Takdir itu turun saat kita sudah memilih, jadi kalau kita tidak mencari dan memilih jodoh, tak akan ada juga takdir berjodoh bagi kita". Dulu saya anggap ide itu gila karena keyakinan buta saya saat itu. Sekarang saya tahu darimana otak liar ini saya dapatkan.

Terus terang saya bingung memberi jawaban saat ada orang yang bertanya bagaimana cara mendapatkan pasangan. Apalagi kalau orang yang bertanya bisa dengan mudah menarik perhatian orang lain. Ya ya... saya tahu berpasangan itu berbeda dengan berhubungan seks. Meskipun dua-duanya kadang tak bisa dipisahkan, tapi pada beberapa kasus ada yang berpasangan dan memilih untuk menunda berhubungan seks karena alasan nilai-nilai individu, dan ada juga yang bisa melakukan hubungan seks dengan orang yang baru dikenal satu atau dua jam lalu, tanpa terikat oleh kata "pasangan".

Biasanya saya jawab dengan kalimat klise, "Mungkin kamu belum benar-benar membuka hati?", "Mungkin kamu butuh bersosialisasi di lingkungan lain?", "Mungkin kamu punya kriteria yang belum bisa kamu temukan dari orang-orang yang ada di sekitar kamu sekarang?". Mungkin... Selalu banyak kemungkinan, tapi saya hampir selalu mencoba menghindari mengatakan, "Mungkin bukan takdirmu..."

Bagi beberapa orang, berpasangan bukan perkara yang mudah. Pertama, kadang kita terikat dengan kriteria-kriteria yang terlalu sempurna mengenai seperti apa pasangan yang kita inginkan. Ini salah satu mungkin lain dari sulitnya orang mendapatkan pasangan atau menjadi begitu mudahnya orang memutuskan hubungan dengan pasangannya karena ada sesuatu yang sangat tidak kita suka, mengupil di depan banyak orang, misalnya.

Saya tidak sengaja menemukan buku Erich Fromm, The Art of Loving, di rumah teman saya. Saya cuma baca satu halaman (saya harus mendapatkan buku itu!) dan ya... dia mengatakan, banyak orang seringkali hanya terfokus bagaimana agar diri kita dicintai. Menganggap itu sebagai kebutuhan. Butuh memiliki pasangan yang mencintai dan bisa menerima diri kita alih-alih sebaliknya. Kita sendiri menekan kebutuhan kita yang lain, kebutuhan untuk mencintai. Bahkan untuk urusan cinta mencintai, kita masih saja egois.

Apakah egois soal cinta itu salah? Tentu tidak. Dalam kadar tertentu, cinta itu memang egois. Jika ada dua orang yang memenuhi kriteria kita datang bersamaan menyatakan cinta kepada kita, apa kita akan lantas menerima dua-duanya sekaligus? Mungkin. Tapi jika kita termasuk penganut monogami, yang menekankan kita untuk memlih satu saja pasangan, siapa yang akan kita pilih? Sama seperti ketika kita meninggalkan orang yang sudah menjadi pasangan selama bertahun-tahun karena tanpa sengaja kita mendapatkan kenyamanan yang lebih dari orang yang kita temui di suatu senja dan hati kita mengatakan, "Ya, dia orangnya!". Mungkin kita memikirkan perasaan orang yang tidak kita pilih, orang yang kita tinggalkan, tapi saat kita memilih yang lain dan meninggalkan yang lainnya, kita tak lebih dari seorang egois, bukan?

Perkara lain dalam berpasangan adalah saling memahami satu sama lain. Beruntung jika dua orang yang berpasangan bisa meraih mimpinya masing-masing dan masih terikat pada sebuah komitmen. Namun tak jarang, salah satu atau mungkin dua-duanya, harus mengalah. Kita harus mengubur mimpi kita sebelumnya lalu memupuk mimpi yang baru bersama pasangan. Bagi saya, inilah saat-saat ujian. Ujian bagi kadar keegoisan kita. Saat kita bertanya, apakah jika kita lupakan mimpi pribadi kita demi bisa berpasangan akan membuat kita tetap bahagia?

Maaf, saya tidak sedang bicara tentang cinta buta yang artinya kita menurut begitu saja apa yang dikehendaki pasangan kita. Kata kuncinya ada di negosiasi. Apakah kita dan pasangan sama-sama menawarkan alternatif pilihan? Ada proses dialog bagaimana untuk meminimalisir kerugian di masing-masing pihak. Win and win solution bagi saya itu fatamorgana. Pasti selalu ada yang harus mengalah. Mengalah bukan pada pasangan, tapi pada kondisi yang memaksa kita untuk mencari alternatif solusi terbaik bagi diri kita dan pasangan.

Nah, saya malah seperti sedang tambah menakut-nakuti orang yang sedang mencari pasangan. Hehehe... tidak, tidak. Cinta bisa begitu kompleks jika kita membuatnya seperti itu, demikian juga sebaliknya, karena bagi saya, cinta itu energi yang luar biasa, kita bisa membuat prosesnya menjadi sederhana dan mudah. As easy as one, two, three... (Plain White T's - 1234)



baca selengkapnya

9 Oktober 2011

Ideal dan Realita: Saya

Bagi saya, mengunjungi Jogja adalah berarti pulang. Saya tidak punya keluarga di sana, jika yang dimaksud dengan keluarga adalah orang tua atau kakak adik kandung atau orang-orang yang berhubungan darah. Tidak pula ada rumah di sana, jika yang dipahami rumah sebagai sebuah bangunan berpintu dan berdaun jendela. Keterikatan saya dengan Kota Gudeg itu tidak sebatas hanya karena saya pernah kuliah di salah satu universitasnya. Lebih dari itu, sebagian proses penting dalam hidup saya dimulai di antara keramaian Malioboro dan heningnya Kaliurang di malam hari.

Bagaimana saya memandang konsep keluarga dan rumah yang berbeda hanya satu dari sekian banyak proses perubahan dalam diri saya. Toh saya lahir dan dibesarkan, sangat beruntung, dalam keluarga yang utuh, lengkap dengan rumah -dalam arti yang sebenarnya. Yogyakarta telah memberikan banyak pelajaran tentang hidup, cinta dan perjuangan. Dan sekali lagi, saat kemarin saya menghabiskan waktu hampir satu minggu di sana, Yogyakarta dengan nyata memberikan satu lagi pelajaran: bahwa materi bukan segalanya.

Bekerja di Jakarta tentu saja menjanjikan isi dompet lebih tebal, walaupun terkikis juga oleh pengeluaran sehari-hari yang selangit dan gaya hidup. Saya mendapatkan gaji berkali-kali lipat dibandingkan saat saya bekerja di Yogyakarta. Itu patut saya syukuri. Tapi tentu saja ada tebusannya. Awalnya saya pikir, kekalutan saya hidup dan bekerja di ibukota hanya sebuah proses saja. Toh banyak teman dan orang lain yang bisa menikmati hiruk pikuknya kota Jakarta. Saya mengira saya akan juga bisa seperti mereka. Tapi ternyata tidak.

Saya masih bisa tertawa di sini. Tapi tawanya terasa lain. Beberapa kali saya merasa ada sesak dalam tawa saya. Saat saya di Jogja kemarin, saya bisa tertawa lepas. Segar dan menyenangkan.

Saya bertemu banyak orang di sini. Beberapa yang sebelumnya hanya saya dengar saja nama mereka karena posisi dan kehebatan mereka. Siapa saya di depan mereka? Saat saya di Jogja kemarin, saya bertemu kenalan-kenalan lama yang mengakui keberadaan saya. Bangga dan melegakan.

Saya juga memiliki teman di sini. Sebagian besar hanya saya temui saat jam kantor. Saya akui saya yang membuat pagar karena merasa cara berpikir saya dengan mereka dalam beberapa hal agak berbeda. Saat saya di Jogja kemarin, kawan-kawan saya biarkan bebas bermain di halaman saya. Nyaman dan membuat saya hidup.


Dari yang hanya teori bahwa materi bukan segalanya, saya mengalami sendiri bagaimana kehidupan yang membuat segar, bangga dan nyaman itu tidak saya dapatkan dari materi. Hampir satu minggu saya hidup dalam dunia ideal saya: membuat desain dengan santai, mengobrol sampai larut malam ditemani kopi dua ribu lima ratus rupiah, mengata-ngatai dan dikata-katai kawan tanpa ada sakit hati, tidak mengalami lalu lintas macet berjam-jam.

Sekarang saya kembali ke realita yang sebetulnya saya sendiri yang menciptakan. Awalnya ada rasa sesal, tapi saat saya sadar bahwa apa yang sedang saya lakukan adalah juga untuk mendapatkan kehidupan ideal yang saya inginkan, saya berusaha menghidupkan kembali diri saya. Setidaknya, saya tahu kemana saya harus pulang saat saya nanti sudah merasa letih.
baca selengkapnya

23 September 2011

Makan Siang dan Hitam Putih Keyakinan

Sebuah percakapan saat makan siang antara seorang perempuan dan seorang laki-laki yang usianya separuh usia si perempuan.

P : Tidak sholat?
 

L : Tidak.
 

P : Oh, anda Kristen? Atau Katholik?
 

L : Bukan keduanya. Saya tidak punya agama.

Si perempuan terdiam sebentar. Dia berpikir dan ingin mengatakan mana ada orang yang tidak punya agama. Tapi laki-laki yang sedang duduk di depannya ini menjawab tanpa ada tanda ia sedang bergurau.


P : Kenapa?
 

Si laki-laki tahu si perempuan punya agama, tampak dari atribut yang dikenakan. Agama yang sama dengan agama yang ia tinggalkan. Mustahil tak akan ada debat kusir jika ia mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya merasa lebih tenang hidupnya setelah tak lagi menganut agama itu. Maka ia hanya menjawab:
 

L : Tidak apa-apa. Yang pasti melalui proses.
 

P : Ah... proses. Usia anda masih muda. Mungkin anda sedang kebingungan. Tidak masalah.
 

Si laki-laki hanya tersenyum. Ya, kebingungan. Tapi ia merasa beruntung dengan kebingungan yang ia rasakan yang mungkin tak pernah dialami oleh kebanyakan orang lain yang bak kerbau dicocok hidung menerima begitu saja doktrin yang diturunkan dari ibu dan ayah mereka.
 

Si perempuan memandang si laki-laki, ada rasa khawatir. Laki-laki itu mungkin seusia anaknya yang paling tua. Ia bersyukur bisa memberikan pendidikan agama yang cukup untuk anaknya. Lebih dari itu, ia bersyukur ia masih memiliki agama. Seperti apa hidup anak muda itu tanpa agama. Dengan agama, si perempuan merasa berjalan di jalan terang, membuatnya merasa aman dan tenang.
 

P : Janganlah tidak beragama. Lebih baik pindah agama daripada tidak memiliki satupun karena agama itu pegangan hidup.
 

L : Maaf, saya punya pegangan hidup sendiri. Saya tahu nilai yang baik dan buruk.
 

P : Ya, tapi tanpa pemimpin... ah, nanti juga anda akan merasakan saat anda berkeluarga nanti.
 

Si perempuan sekali lagi melirik dengan khawatir laki-laki muda yang duduk di depannya, sibuk menghabiskan jus jeruk dari gelasnya. Kini ia teringat pada kakak laki-lakinya.
 

P : Kakak saya pindah agama saat usinya tak lagi muda. Dan itu menyulitkan anak-anaknya.
 

L : Menyulitkan anaknya?
 

P : Ya, mereka diminta memberikan ucapan hari raya yang dirayakan anak-anaknya tapi tidak oleh ayah mereka.
 

Si laki-laki hampir tersedak. Tampak persoalan yang serumit menyelesaikan 1 x 1 x 3.
 

P : Saya dulu sekolah di sekolah berbasis agama C yang berbeda dengan agama yang saya anut. Jadi saya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Ah, tapi sayang, kakak saya pindah ke A, bukan C.
 

Si laki-laki kali ini hampir menelan gelas jusnya. Sungguh dia tidak paham dengan cara berpikir si perempuan itu, kontra diksi dalam waktu sepersekian detik.
 

Si perempuan berputar-putar dalam pikirannya sendiri. Apa yang terjadi pada anak muda ini hingga ia memutuskan tidak beragama? Tidakkah ia takut pada tuhan? Pada surga dan neraka?
 

L : Maaf, saya permisi duluan. Saya mau merokok.
 

P : Oh, silakan. Oya, Anda juga harus memikirkan bagaimana nanti saat anda menikah dan punya anak, mungkin itu akan menjadi pertimbangan soal agama anda.

Si laki-laki tersenyum mengangguk.
 

Si perempuan memandang punggung laki-laki muda yang beranjak menuju ruang merokok. Kilatan memori kembali menghinggapi benaknya. Ah ya, ibunya. Ibunya pun meski mengaku beragama tapi tak pernah beribadah. Lalu ia ingat ayah si ibu, kakeknya, yang menyebut nama tuhan di tarikan nafas terakhirnya padahal ia tahu sang kakek adalah penganut aliran keyakinan yang tak pernah menyebut nama tuhan dengan sebutan itu.
 

Si laki-laki teringat pada ayahnya yang sudah tak lagi menanyakan kapan akan menikah karena sepertinya sudah mulai paham kalau pernikahan bukan suatu kewajiban dan tujuan hidup bagi anaknya. Ia menyalakan sebatang rokok, menengok sebentar ke belakang, melihat si perempuan, lalu bergumam, 'Kasihan...'
baca selengkapnya

6 September 2011

Kehilangan

Pagi ini saya bangun pagi dengan kabar yang menyesakkan. Sebuah berita kematian. Seseorang yang baru satu tahun saya kenal, bertemu hanya sekali saat Natal tahun lalu dan hanya berkirim sapa lewat email. Sedih sudah pasti, sampai menangis juga. Tapi apa mau dikata jika sang waktu sudah menginginkan demikian.

Kehilangan saya pertama kali yang paling membekas adalah saat kakek saya meninggal. Masih duduk di SMP kelas 1 saya waktu itu. Kakek saya memang sangat dekat dengan cucu-cucunya, terutama lima cucu pertamanya yang kebetulan lelaki semua. Saat liburan sekolah, dia mengantar saya dan dua kakak saya mengunjungi sepupu kami di Bandung. Saya juga sering diantarnya ke pasar untuk membeli balon tiup yang hadiahnya bermacam-macam (saya bisa mendapatkan semua hadiahnya karena kakek saya membelikan satu tenteng utuh balon yang ditiup dengan sedotan mini itu).

Saat kakek hendak menutup usia, kami semua berkumpul di dekat tubuhnya yang sakitnya tak bisa menutupi gagah tegap di masa lalunya. Seingat saya, dari empat anak perempuannya, hanya satu orang yang datang belakangan saat kakek sudah benar-benar tidak bernafas lagi. Jerit tangisnya meledak lebih kencang dibandingkan kami yang sudah beberapa waktu menemaninya, mendaraskan doa-doa agar ia diberikan keselamatan. Ibu saya, anak kedua kakek, tampak lebih tenang. Entah karena hampir setiap hari sebelum kakek meninggal ibu saya selalu menyempatkan berkunjung jadi sudah lebih bisa menerima saat itu datang, atau memang karena bawaannya ibu saya demikian. Saya mungkin mirip ibu, berusaha untuk tetap tenang, meskipun tidak dipungkiri air mata tidak bisa berhenti mengalir.

Kehilangan seseorang adalah konsekuensi dari kita hidup. Oh, mungkin lebih tepat kalau saya bilang kehilangan adalah risiko dari rasa memiliki, dan karena rasa memiliki adalah manusiawi sehingga demikian pun dengan rasa kehilangan. Ayah saya menyebut orang yang sudah tidak bisa merasakan rasa kehilangan sebagai orang yang kurang waras, mungkin maksudnya kurang manusiawi. Meskipun ayah saya bilang, justru itulah obat panjang umur (teorinya agak berbelit, bisa jadi satu blog sendiri nanti), tapi saya sama sekali tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa merasakan kehilangan. Namun saya tentu juga tidak ingin berkubang dalam kesakitan dan kesedihan melulu. Kehilangan adalah, sama seperti emosi lainnya, sesuatu yang saya harus kontrol. Artinya, saya mungkin sedih, tapi bukan berarti saya jadi tidak makan tiga hari tiga malam.

Tentu saja saya paham tidak semua orang sepemikiran dengan saya, atau mungkin ada yang awalnya sependapat tapi saat dihadapkan dengan suatu kejadian luar biasa, hilang kontrol menjadi diwajarkan. Tak ada yang salah dan benar. Setiap orang toh punya cara masing-masing mengelola emosinya. Setiap orang punya pilihannya sendiri-sendiri untuk bergerak atau hanya duduk di sudut ruangan. 

Pilihan dan cara menghadapi kehilangan juga terbentuk dari nilai-nilai yang kita yakini. Meyakini bahwa orang yang meninggalkan kita akan masuk surga, mungkin manjur bagi beberapa orang untuk bisa sedikit berpasrah. Bagi yang percaya reinkarnasi, tentu harapan kehidupan baru yang jauh lebih baik bagi si mati. Saya tidak mau ambil pusing kemana akan perginya jiwa setelah mati. Itu jawaban yang saya belum menemukan jawabannya. Yang saya inginkan adalah saya mampu mengenang kebaikan-kebaikan orang-orang yang meninggalkan saya, seperti orang yang baru saja 'pergi' tadi pagi. Masih ingat rasanya saat ia tersenyum dan bermimik jenaka saat mengenakan peci hadiah Natal dari saya. Beruntung ukurannya pas dengan ukuran kepalanya. Saya tidak akan lupa saat saya online, tiba-tiba dia datang hanya bertanya kabar. Saya tentu juga tidak akan pernah lupa meskipun tubuhnya sedang digerogoti kanker, ia mau mengantarkan saya ke hutan tempat istrinya dibesarkan.

Jika surga memang ada, yang artinya tuhan juga ada, saya minta tuhan menempatkannya ia di tempat indah itu. Jika jiwa manusia hanya sekumpulan energi, saya berharap energinya tetap berada di sekitar orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya. Setidaknya, saat ini, energi itu tak merasakan sakit lagi. Damai. Thanks for your love and kindness, you will always be in our hearts, Henk!
baca selengkapnya

27 Agustus 2011

Dicari: Buku Anak Berkualitas

Ini kali kedua saya akan pulang ke rumah orang tua saya setelah saya pindah ke Jakarta. Pulang ke rumah orang tua yang tidak pernah lebih dari 3 kali dalam setahun adalah berarti siap-siap membeli oleh-oleh untuk sanak saudara di sana, apalagi untuk keponakan-keponakan saya. Saat saya tinggal di Jogja, membeli oleh-oleh tidak terlalu membingungkan, cukup jalan di Malioboro dan tinggal memilih barang. Beragam, harga murah dan khas Jogjanya juga dapat. Di Jakarta?

Pulang pertama beberapa bulan kemarin, saya belikan saja dua keponakan laki-laki saya buku bacaan. Sementara untuk keponakan
perempuan saya belikan boneka kepiting. Bukan alasan gender, tapi karena si keponakan perempuan ini umurnya belum ada 1 tahun, dan ternyata, keponakan perempuan saya tidak suka boneka hehe..

Kali ini, awalnya mau saya belikan saja keponakan-keponakan saya yang laki-laki baju baru. Ya, itung-itung baju lebaran. Untung saja tidak jadi, karena selain saya bingung dengan ukuran dan kesukaan mereka (warna, gambar, dan sebagainya), keponakan saya yang paling besar mengirimi saya pesan singkat untuk tidak dibelikan baju lebaran karena sudah punya. Hahaha... anak jaman sekarang. Akhirnya, saya kembali membelikan mereka buku. Berharap keponakan-keponakan saya jadi punya minat baca, plus tambahan pengetahuan. Maka pergilah saya ke toko buku terdekat.

Butuh waktu berjam-jam bagi saya untuk memilih buku yang tepat. Pertama, saya harus yakin kalau buku yang akan saya berikan sudah sesuai dengan kemampuan mereka, usia mereka. Kedua, saya ingin membeli buku yang tentu saja berkualitas baik dari segi isi maupun tampilannya. Tentu, saya menghindari buku yang bias gender dan terlalu penuh dengan doktrin.

Terus terang saya bingung dengan buku-buku anak-anak yang ada di pasaran. Saya merasa anak-anak jaman sekarang dituntut lebih dari anak-anak di jaman saya dulu (atau dulu saya tidak diperlakukan begitu ya?). Buktinya, dari sekian banyak buku, kebanyakan lebih fokus pada peningkatan kemampuan anak, yang menurut saya terlalu memaksa. Mengenal huruf dan angka untuk anak di bawah 5 tahun, masih masuk akal lah. Tapi sampai juga dikenalkan bahasa Inggris, Mandarin, Arab apalagi Korea? Saya ngelus-elus dada. Saya sampai harus berpikir beribu kali membelikan keponakan saya buku bilingual, apalagi trilingual. Apa para penerbit itu memang menangkap kebutuhan pasar (yaitu orang tua) yang menginginkan anak-anaknya bisa lancar cas cis cus bahasa asing?

Bukannya saya tidak ingin keponakan saya bisa juga lancar bicara bahasa asing, cuma saya pikir, itu ada waktunya sendiri. Toh di keluarga saya tidak ada yang bicara Mandarin, Arab atau Korea. Yang saya pentingkan lebih dulu adalah bagaimana agar bisa menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini, yang tentu saja tidak bisa didapat dengan berlatih menulis rapi, menghitung perkalian atau menghapalkan beberapa kata Mandarin.

Saya lalu mencoba mencari buku-buku terjemahan. Ada satu buku yang cukup menarik dengan gambar yang sederhana dan sangat anak-anak. Saya tertarik karena judulnya adalah bagaimana agar anak bisa mengenal dan hidup dalam keberagaman. Tapi setelah saya baca sekilas, di dalamnya ada beberapa bagian yang kurang cocok diterapkan untuk keponakan saya dalam budayanya dimana dia hidup. Saya ingat, saya juga pernah berniat membelikan keponakan saya sebuah buku tentang bagaimana menghadapi lingkungan sosial di sekolah. Bagus bukunya, cuma sayang, lagi-lagi konteks budaya. Misalnya ada bagian saat sang tokoh juga harus berhadapan dengan pacar ibunya, dan sebagainya. Untuk anak umur 8 tahun yang tinggal di kota kecil di Indonesia, konsep-konsep seperti itu mungkin akan membingungkan, walau tidak mungkin ada beberapa anak yang harus menghadapi kondisi tersebut, tapi tidak dengan keponakan saya.

Ah semoga saja buku anak-anak yang bermutu dan mendidik tidak akan menjadi langka seperti lagu dan tontonan untuk anak-anak.
baca selengkapnya