2 Mei 2010

S.E.K.S


Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang kawan di sebuah coffee shop. Sengaja janjian di tempat yang agak elit bukan karena gaya, tapi karena kawan saya butuh tempat yang nyaman untuk bercerita. Ya, dia mau curhat. Selesai memesan lattee irish, sang kawan tanpa babibu langsung bertanya, “menurut lo, dalam sebuah hubungan seks penting gak sih?”


“Tergantung,” saya jawab singkat. Jawaban yang sebetulnya juga menggantung.


Kemudian dia bercerita tentang kehidupan asmaranya dengan pasangan yang sudah berlangsung hampir 4 tahun. Dia tidak menutupi kalau dalam hubungan mereka, hubungan seks juga hal yang biasa mereka lakukan. Yang menjadi masalah, ia merasa akhir-akhir ini hubungan seks mereka terasa hambar.


“Kayaknya gue terus yang minta,” katanya. Selama ini, ia mengaku lebih sering ia yang menginisiasi perilaku seks. Saya katakan mungkin pasangannya memang tipe pasif dalam urusan bercinta. Dia mengangguk setuju. “Tapi lo masih sayang dia?” tanya saya. Dia lagi-lagi mengangguk.


Ada kalanya sang pasangan bisa memberinya tidak hanya orgasme, namun kenikmatan. Sebuah kualitas. Subjektif. Setiap orang mungkin punya kriteria sendiri soal seks yang berkualitas seperti apa. Apakah karena variasinya, romantisme yang dibangun, foreplaynya, dan bla bla bla.


“Lo bayangin aja, gue udah nafsu, tapi dianya adem ayem. Foreplay aja kayak basa-basi. Seringnya sih gitu. Ya pernah sih yang gue ngerasa puas banget. Nah gue pengen kayak gitu terus,” jelasnya panjang lebar. Jika kawan saya ini mendapatkan kualitas yang dia inginkan, dia merasa bertambah rasa sayangnya. Tapi kalau tidak... “bikin males.”


Kualitas hubungan seks tak jauh-jauh dari bagaimana kita mengkomunikasikannya dengan pasangan. Itu saya dapat dari bahan bacaan saat saya masih sering cuap-cuap di radio. Terdengar mudah, tapi mungkin sulit untuk dilakukan karena alasan tidak enak dengan pasangan, merasa terlalu banyak menuntut, takut dikira macem-macem, dan sejuta alasan lain.


Dari kisah kawan saya, saya jadi tahu kalau kualitas hubungan seks sedikit banyak punya peran dalam memupuk rasa sayang. Kawan saya juga cerita kalau seks bisa jadi obat kangen mujarab. Maksudnya?


“Kadang kalau lama nggak ketemu kan garing-garing gimana gitu. Atau pas lagi ada masalah yang boro-boro pengen ketemu. Tapi setelah melakukan hubungan seks, kayaknya jadi plong aja. Dan biasanya dia ‘hot’ kalau lagi pas kayak gitu. Masak iya gue mesti nyari-nyari masalah dulu?”


Saya hanya mengangguk-angguk. Lagi, saya ingat bacaan saya dulu. Kepuasan yang dirasakan saat orgasme dipicu oleh aliran hormon –yang sayang sekali saya lupa namanya- yang meningkat. Hormon ini juga yang punya peran pada munculnya mood positif. Wajar kalau setelah berhubungan seks, kawan saya merasa plong. Tapi apa menyelesaikan masalah? “Ya nggaklah! Cuma kan habis itu kita bisa jadi ngobrol dalam kondisi relaks.”


Setelah mendengar cerita kawan saya, saya bisa menjawab kalau seks penting dalam sebuah hubungan. Bagi pasangan yang seksual aktif, kualitas seks punya andil dalam hubungan. Kualitasnya baik, hubungannya juga mungkin akan tambah baik (kecuali ada masalah lain seperti lupa janji, selingkuh, kebiasaan pasangan yang sering bikin ilfil, dan masalah lainnya). Apalagi jika seperti kawan saya, seks bisa menjadi ‘pintu’ untuk mengkomunikasikan masalah dengan pasangan. Sex after war mungkin istilahnya ya. Nah, bagi pasangan yang tidak seksual aktif, pentingnya seks berarti bagaimana saling menjaga komitmennya masing-masing untuk tidak berhubungan seks. Kalau ada pasangan yang tiba-tiba melanggar komitmen, kualitas hubungan mungkin juga akan renggang.


Ah ah... ini baru secuil tentang seks. Problem seks masih banyak di luar sana. Yang gara-gara seks ada orang bunuh pacarnya, gara-gara seks ada kerajaan yang siap berperang dengan kerajaan lain, gara-gara seks ada pejabat yang kehilangan mukanya. Seks juga yang menjadikan bumi ini padat penghuninya. Seks tidak hanya penting dalam sebuah hubungan, tapi jelas pentingnya dalam kehidupan manusia. Sayang, masih suka ditutup-tutupi!
baca selengkapnya

29 April 2010

Berawal dari Mimpi



Lima huruf: M-I-M-P-I

Hanya dari lima huruf itu, hidup manusia mungkin bisa berubah 180 derajat. Sering saya dengar orang sukses lantaran berani bermimpi. Bukan hanya mimpi di siang bolong, tapi mimpi yang berkeringat.

Saya seorang pemimpi. Sampai sekarang, belum selesai juga mimpi saya untuk menjadi seorang komikus. Tidak mau berusaha? Mungkin iya. Pertama, karena bakat gambar saya tidak terlalu mengagumkan, saya harus memiliki waktu ekstra untuk mengasahnya. Kedua, kegiatan saya yang lain harus saya kesampingkan, mengingat pengalaman membuat komik 2-3 halaman saja sudah cukup mencerabut saya dari realita kehidupan. "Ya sudah, jangan bermimpi!" teriak hati kecil saya. Untunglah, itu bukan mimpi saya yang menjadi prioritas. Masih ada mimpi lain yang ingin saya gapai dan sedang pelan-pelan saya wujudkan.

Saya ingat dulu saat lulus SMA, saya bermimpi ingin menjadi psikolog. Akan menyenangkan rasanya jika saya bisa membantu orang lain mencari solusi masalah (dan informasi tambahan dari sang ayah kalau pekerjaan itu juga menghasilkan uang yang cukup banyak, tapi untunglah itu hanya saya anggap bonus). Tidak tanggung-tanggung, saat ujian masuk universitas (saat itu masih berjudul UMPTN) saya daftar di dua universitas berbeda dengan fakultas yang sama: psikologi. Bimbingan belajar ekstra dua bulan sebelum seleksi pun saya ambil. Hasilnya? Tidak satupun diterima.

Saya lantas banting stir. Desain grafis. Sekalian menyalurkan hobi. Mendaftarlah saya di fakultas desain ITB. Hasilnya setali tiga uang, gagal. Beruntung ada universitas swasta yang bersedia menampung (dengan judul "kerjasama" ITB dengan beberapa universitas swasta). Ayah saya sempat memanggil saya di meja makan (hal yang jarang sekali dilakukan, kecuali ada kelakuan anak-anaknya yang perlu untuk ditegur). "Yakin kamu dengan pilihan kamu?" Bukan tanpa alasan beliau bertanya seperti itu, pertama, kuliah desain jelas butuh dana lebih besar. Kedua, soal masa depan yang mungkin bagi beliau kurang menjanjikan. Ketiga, beliau mungkin bisa membaca apa yang sebetulnya saya impikan. Saya jawab saja hanya untuk meyakinkan beliau, "Yakin!"

Semester pertama saya kuliah. Serius. Semua tugas saya kerjakan maksimal. Segera saya sadar, usaha saya ternyata masih jauh jika dibandingkan karya kawan-kawan saya yang lain. Mendaratlah keyakinan saya. Saya semakin merasa meskipun dunia itu saya suka, tapi bukan benar-benar yang ingin saya seriusi. Masuk semester dua, saya bilang pada ibu, "semester ini mama nggak usah bayar uang kuliahku. Aku nggak ngelanjutin." Beruntung sekali punya ibu bijak, bukannya diceramahi, beliau hanya bertanya rencana apa yang akan saya lakukan. "Daftar psikologi lagi!" kata saya. Beliau mengangguk.

Semester kedua di desain grafis hanya saya isi dengan kunjungan kampus. Datang ke kampus, membuat tugas seenak udel, kadang malah tidak mengerjakan sama sekali. Sisanya, saya habiskan untuk membuka kembali buku-buku pelajaran saya dan buku-buku contoh soal ujian seleksi masuk. Saya enggan mengambil bimbingan belajar lagi karena tahun lalu sudah terbukti tidak membantu saya.

Sebagai cadangan, saya juga ikut seleksi fakultas psikologi di universitas swasta di Bandung. Lolos. Tapi saya tetap fokus di seleksi negeri.
Saya belajar sendiri mati-matian. Saking niatnya, di hari terakhir seleksi, saya sempat mendengarkan siaran radio yang khusus membahas jawaban soal ujian masuk sekaligus menghitung hasilnya. Dari hitungan kasar, saya mungkin akan lolos di pilihan kedua saya: psikologi UGM.

Benar saja, saat pengumuman, tidak seperti tahun sebelumnya yang saya dan teman-teman seperjuangan rela bangun pagi untuk hunting koran, saya justru mendapatkan kabar dari sepupu kalau saya lolos. Lega.

Namun keinginan saya menjadi psikolog justru runtuh saat saya masih kuliah di psikologi. Saya suka psikologi, tapi tidak menjadi psikolog. Ayah saya lagi-lagi bingung dengan keinginan saya yang berubah-ubah. Tapi sepertinya beliau tahu kalau anaknya yang satu ini sekalinya memiliki sebuah keinginan sulit sekali untuk dibelokan. Sepertinya beliau juga tahu, saya tidak main-main dengan mimpi lain saya ini. Hanya bertahan tidak sampai 3 bulan beliau bertanya lamaran kerja kemana saja yang sudah saya kirim dan selalu saya jawab, "saya di LSM juga kerja."

Sekarang, saya sedang berusaha membuat nyata mimpi saya tersebut. Pelan-pelan saya persiapkan. Kegagalan sudah beberapa kali saya rasakan, justru membuat saya harus lebih mematangkan diri saya. Saya pernah gagal. Tapi saya juga pernah berhasil. Semua saya awali dengan bermimpi dan saya coba wujudkan dengan usaha.

"Saya tidak akan mengejar mimpi. Saya akan menciptakannya!"
baca selengkapnya

13 April 2010

Rasa Manusia


Hampir setiap rabu saya pergi ke Solo, sayangnya bukan untuk plesir. Singkatnya saya diminta kantor saya yang bekerja dengan sebuah lembaga di Jakarta untuk melakukan monitoring pendidikan kesehatan reproduksi bagi siswa SLB. Lain kali saja mungkin saya ceritakan begitu semangatnya mereka ikut kelas tersebut.


Pulang dari sekolah, sekitar pukul setengah 4 sore. Berbarengan dengan pekerja-pekerja pabrik yang hendak kembali ke rumah setelah seharian bekerja. Ketika saya hendak menyeberangkan motor dari pagar sekolah, saya melihat dua siswi SLB juga akan menyeberang. Karena penglihatan mereka terganggu, urusan menyeberang menjadi cukup sulit. Beberapa kali kaki mereka sudah menyentuh aspal, namun segera ditarik lagi karena mendengar derum kendaraan yang lalai sopan santun. Saya perhatikan beberapa pekerja pabrik yang baru pulang hanya melewati mereka begitu saja tanpa ada keinginan membantu, entah karena pemandangan itu hal yang lumrah bagi mereka, terlalu capai bekerja, atau memang sudah tumpul nuraninya.


Saya baru saja akan turun dari motor ketika salah seorang pekerja menggaet tangan salah satu siswi itu lalu membantunya menyeberang jalan. Entah kenapa saya merinding. Ternyata masih ada manusia yang ingin membantu. Masih ada manusia yang memiliki rasa manusia.


...


Perjalanan dari Solo menuju Jogja saya tempuh dengan susah payah karena hujan di sepanjang jalan. Hujan sempat berhenti saat saya keluar dari Kota Klaten. Segera saya melipat kembali mantel hujan saya. Namun menjelang perbatasan Klaten-Jogja, lagi hujan turun. Saya pun menepi di sebuah bangunan tak terawat. Saya tak sendiri. Tiga pengendara motor juga menepi di bawah atap seng itu, menyiapkan diri menembus hujan: menggulung ujung celana dan jaket, mengamankan beberapa barang yang tak tahan air, dan memakai mantel.


Belum sempat mantel dibuka, tiba-tiba terdengar suara tabrakan dari arah belakang kami. Saya lihat dua motor jatuh, satu orang pengendara berjalan menepi sambil terseok, sementara yang satunya terkapar di atas aspal.


Segera saya dan dua orang pengendara motor lain berlari hendak berusaha membantu. Saya kebagian mengangkat korban ke tepi bersama seorang laki-laki. Beberapa orang lain membantu menyingkirkan motor dari tengah jalan.
Kami mengangkat laki-laki tersebut ke sebuah rumah yang segera disambut oleh pemiliknya. Si pemilik rumah segera membawakan air putih hangat. Beruntung, korban tidak mengalami luka parah namun jelas shock terpancar dari raut mukanya. Melihat sudah cukup banyak orang membantu, saya mengundurkan diri dan kembali ke motor saya, kemudian melanjutkan perjalanan.


...


Apa yang hendak saya sampaikan? Begini, ibu saya mengajarkan saya untuk selalu menolong orang yang kesusahan. Tanpa pamrih. Namun lantas, doktrin-doktrin agama memberi tahu saya jika saya menolong orang lain, saya akan mendapatkan pahala. Saya rasa, hampir semua agama memiliki konsep yang sama soal ini.


Saya sebetulnya ingin mengajukan pertanyaan pada pekerja pabrik yang menolong menyeberangkan siswi yang penglihatannya terganggu atau pada laki-laki yang membantu orang yang baru saja mengalami kecelakaan, apakah mereka melakukannya karena termotivasi oleh doktrin dan konsep pahala itu?
Saat saya melakukannya, saya hanya ingat satu hal, bagaimana jika justru saya berada di posisi orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Mungkin saya percaya karma.


Saya merasa, ketika melakukan kebaikan, lebih banyak orang tergerak karena kemanusiaan mereka. Urusan pahala, baru ikut-ikut di belakangnya. Hubungan horizontal antar manusia, yang setiap hari kita geluti, nyata, mau tidak mau membuat kita semakin akrab dengan manusia lain, dengan diri kita sendiri. Sementara konsep tuhan yang saking abstraknya sepertinya menjadi mudah terlupakan oleh mereka yang justru mengaku memiliki agama, yang jelas-jelas mengajarkan prinsip ketuhanan. Ya mungkin itu jawaban mengapa banyak kekerasan terjadi atas nama agama. Mereka mungkin sudah tidak menginginkan pahala. Atau mungkin sudah mulai tidak percaya dengan konsep pahala. Parahnya, mungkin sudah lupa dengan tuhan yang secara lisan mereka yakini. Lantas untuk apa beragama? Satu yang pasti, mereka tidak berhasil mengakrabi dan menjadi diri mereka sendiri: manusia.
baca selengkapnya

10 Maret 2010

Perempuan di Satu Senja


Perempuan itu mengajak aku berbicara di satu senja. Tidak. Tidak di senja dengan lembayung mentari, juga tidak dengan gerimis hujan meruapkan bau tanah. Hanya senja biasa yang ramai oleh lalu lintas manusia. Tak ada kesan senyap membangkit nostalgi, apalagi romansa.


"Sudah kau dengar ada kabar tak sedap tentang suamiku?" tanyanya setengah berbisik. Aku tidak menjawab, hanya mengerutkan kening tanda tanya dan melihat wajahnya. Matanya memang tak sehitam dulu. Rambutnya yang ikal lebat kini mulai memutih. Flek-flek coklat tua sudah memberikan tanda usiaya tidak muda lagi. Separuh abad, namun masih menyisakan kecantikan.


"Tapi kau sudah tahu, bukan, bagaimana tabiat laki-laki itu di masa lalu?" tanyanya lagi. Aku mengangguk lemas. Enggan mengimajikan penderitaan yang aku sendiri sebenarnya tak pernah terlibat. Ia menghela nafas.


"Suamiku menikah lagi. Tidak... tidak... sekarang ia sudah menceraikan perempuan itu," katanya tanpa basa-basi. Sesak rasanya bagi aku yang sehari-hari bekerja di isu perempuan mendengar kisah seperti ini.


"Anak pertamaku mengamuk saat mendengar berita ini. Entah darimana. Si tengah memang lebih kalem, ia tidak bereaksi seperti kakaknya. Tapi ia mengatakan akan berdiri untukku jika suamiku tak menceraikan istri barunya. Si bungsu... Akh... Sepertinya ia memang tidak tahu, aku tak sampai hati memberitahunya. Kasihan kalau sampai dia tahu. Dari semua anak-anakku, hanya si bungsu ini yang aku lihat dekat dan menaruh hormat pada ayahnya. Berjanjilah kau juga tak akan memberitahunya!"


"Ya, aku berjanji," kataku setengah terpaksa. Rasa hormatku pada perempuan ini mengalahkan keinginanku untuk membukakan kotak hitam pada anak bungsunya. "Siapa perempuan itu? Kalau aku boleh tahu," tanyaku.


"Kau tidak mengenalnya dan tak perlu juga rasanya kau tahu siapa dia," ia melirik ke belakang. Mungkin untuk memastikan tak ada orang lain yang pasang kuping pada cerita ini. "Dia masih muda, mungkin hanya terpaut beberapa tahun di atas usia anak pertamaku. Sikapnya sok ramah. Tapi aku tahu bagaimana busuk hatinya!" nadanya mulai meninggi. Tunggu. Bukankah seharusnya yang ia salahkan adalah suaminya? Lupakah sang suami pada sumpah setia saat menikah tiga puluh tahun lalu, pada tiga anaknya yang beranjak dewasa, pada istrinya yang sabar?


"Entah apa pula yang ada dalam pikiran suamiku sampai menikah lagi," ia menjawab pertanyaan yang tertahan di benakku. "Aku mendengar kabar ini dari seorang kawan. Aku pikir hanya kabar burung. Dua tiga kawan lalu memberi kabar yang sama hingga aku memutuskan untuk menemui perempuan itu. Aku tanyakan kebenaran berita itu. Ia tak menutupi. Aku jelaskan bagaimana kondisi keluarga kami. Aku suruh dia melupakan angannya mendapatkan harta dari suamiku karena memang kini keluarga kami tak lagi seperti dulu. Perempuan itu, dengan sikap dibuat-buat yang membuatku muak, mengatakan bukan harta yang dia cari. Cih! Pembual!" aku tertegun mendengar luapan emosinya. Kesabaran yang selama ini ia agungkan rupanya tak mampu menahan geram amarahnya.


Aku tahu sejarah keluarga ini. Dulu mereka orang terpandang. Bahkan sisa kejayaannya masih nampak dari bagaimana orang lain memperlakukan mereka. Sang suami dulu adalah pejabat. Untuk ukuran kota kecil, menjadi pejabat adalah posisi yang membuat seisi kota menaruh hormat. Apalagi sang suami tidak memiliki jejak korupsi atau kejahatan lain yang lazim dilakukan pejabat di negeri ini. Pejabat bersih. Kekayaan yang ia miliki bukan dari uang rakyat, tapi dari usahanya sendiri. Adalah sang istri yang awalnya hanya mencatatkan nama sebagai pemilik perusahaan mereka yang lantas justru berperan besar dalam memutarkan roda-roda perusahaan menuju kesuksesan. 


Terdengar kabar di jabatan terakhirnya, sang suami sibuk mengorek kasus korupsi yang terjadi di lembaganya, sisa peninggalan pejabat sebelumnya. Dia juga menolak menerima fasilitas yang diberikan negara atas posisinya, kecuali mobil dinas karena ia tak lagi berkendaraan setelah krisis menerpa keluarganya. Dari si perempuan jugalah aku tahu krisis itu muncul karena sang suami tak pandai berhemat dan keliru berinvestasi.


Bagaimana menurunnya gemilang keluarga ini bisa terlihat dari tempat aku ada sekarang, sebuah rumah sempit di pinggir jalan raya. Bagian depan rumah difungsikan menjadi toko kecil-kecilan, sama seperti rumah-rumah di sekitarnya. Rumah Cina kalau orang sini bilang. Kontras dengan rumah mereka dulu yang besar bertingkat dua, dengan dua kolam luas di samping dan belakang rumah. Halaman depan tak kalah luasnya. Bersanding dengan rumah-rumah di kiri kanannya, ia tampak seperti istana.


"Aku mengatakan pada perempuan itu, jika sampai ia muncul di rumahku atau anak-anakku tahu berita ini dari mulutnya atau mereka menjadi sengsara karena apa yang sudah dilakukan oleh ayahnya, aku tidak akan tinggal diam. Ia berjanji tak akan melakukannya. Segera aku tahu perempuan ini bukan perempuan baik-baik, ia tak bisa memegang janjinya sendiri," kata perempuan itu membuyarkan lamunanku. Matanya mulai basah. "Perempuan mana yang ikhlas suaminya menikah lagi?" pertanyaannya tak perlu kujawab. 


Aku justru tersenyum simpul mengingat perempuan ini senang sekali mendengarkan khotbah Aa Gym yang belakangan mendeklarasikan perpoligamiannya.


"Aku ucapkan selamat pada suamiku atas pernikahannya," katanya lagi. Aku tercekat. Luar biasa perempuan ini. "Ya... aku melakukannya. Dan aku menyuruh suamiku memilih, aku atau dia. Ha... suamiku lantas berlutut dan memohon ampun. Ia mengatakan akan menceraikan istri barunya," air matanya kini menetes. Mungkin ia teringat pada keberanian yang ia kumpulkan untuk melakukan itu harus diperas dari sakitnya menahan rasa. 


"Kakakku meneleponku tidak lama kemudian. Ternyata meski tinggal di kota lain, berita itu sudah pula sampai ke telinganya. Ia sedikit menyalahkanku karena aku tidak berterus terang atas apa yang terjadi pada keluargaku. Aku katakan saja, ini adalah urusan keluargaku, sekarang masalahnya sudah selesai. Dan lagi apa yang akan ia atau saudara-saudaraku lakukan untuk membantuku? Menjadi bahan guncingan sudah pasti," lelehan air mata kembali menyeruak dari sudut matanya.


"Sekarang... tak kau lihat perubahan berarti dalam keluarga kami, bukan?" katanya sambil menyeka air matanya. Perempuan ini. Sendiri menghadapi masalahnya. Entah karena keikhlasan hidupnya pada Tuhan yang ia sembah setiap hari atau hanya demi melihat keluarganya tak tercerai berai, ia mampu memaafkan suaminya. Sang suami mungkin lega, tapi sadarkah ia telah menumbuhkan benih tidak percaya pada anak-anaknya? Tak tahukah ia sudah melakukan kekerasan psikis pada istrinya? Bagaimana jika justru si istri yang menikah lagi? Adakah ia memiliki hati sebesar si istri?


Perempuan itu lalu berdiri menyambut seorang bocah laki-laki yang baru pulang sekolah. Menyapa hangat dan menebarkan senyum. Tak tampak ia baru saja menceritakan kisahnya yang justru kini membuat aku berusaha menahan jatuhnya air mata. "Sini, Nak, Nenek kenalkan dengan tamu nenek," ujar perempuan itu sambil membantu melepaskan tas punggung si bocah.


(*tulisan ini saya persembahkan untuk perempuan-perempuan di peringatan International Women's Day 2010. Hentikan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun!)
baca selengkapnya

12 Februari 2010

KTP Oh KTP


Sekitar dua mingguan lalu, saya mengikuti launching sebuah  laporan mengenai kehidupan keberagamaan di Indonesia. Satu hal  yang menarik adalah ketika salah satu pembicara menjelaskan bahwa  Undang-undang Administrasi Kependudukan No. 23 tahun 2006  membolehkan warga Negara Indonesia untuk mengosongkan alias tidak  mengisi kolom agama di KTP. Kemajuan nih, pikir saya. Pasalnya,  selama ini beberapa penganut keyakinan di luar agama resmi di  Indonesia (Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu)  dan juga penganut agama selain yang resmi-resmi itu, biasanya  mengisi kolom ini asal saja, yang penting terisi. Buat Negara,  jelas ini berkontibusi pada tidak akuratnya data kependudukan di  Indonesia. Bagi warga negara,ini bentuk pemaksaan halus yang  dilakukan Negara karena Negara seakan-akan tidak mau mengakui  bahwa ada penganut agama selain yang dianggap resmi.

Indonesia, seperti kita tahu, bukan Negara agama. Apalagi Negara  Islam. Namun, secara bijaksana, para pendiri Negara telah  mendasarkan pondasi-pondasi Negara pada nilai-nilai keagamaan.  Niat mulia, memang. Karena toh, ruh agama yang sebenarnya juga  mulia. Sayangnya, beberapa pihak, mungkin yang terlalu agamis  sampai melupakan ketuhanan dan kemanusiaan atau yang meraup  untung dari affair antara agama dan kebijakan Negara, mencoba  membuat daftar agama resmi yang diakui di Indonesia. Di luar  agama itu berarti tidak diakui. Bisa dibayangkan jika Yahudi  kemudian diakui sebagai agama resmi di Indonesia yang mayoritas  penduduknya Muslim dan kebanyakan sudah diracuni ayat-ayat yang  mengibarkan bendera perang terhadap Yahudi. Politik juga yang  menempatkan Konghucu, misalnya, awalnya diakui, kemudian tidak, dan pada era Gus Dur kembali diangkat sebagai sebuah identitas dan dijamin hak-haknya untuk beribadah.

Saya tidak mau panjang lebar lagi membahas soal agama dan kuasa  Negara. Ceritanya, minggu lalu saya pulang untuk mengurus KTP.  Masalahnya, saya hendak membuat passport dan gawatnya, KTP saya  masih ikut orang tua kemudian orang tua saya pindah rumah, alamat  saya di KTP dan di Kartu Keluarga berbeda. Beginilah nasib warga  negara Indonesia, kebanyakan kartu identitas! Belum ngurusnya  yang ribet minta ampun. Sempat saya update status facebook  tentang KTP ini dan banyak kawan berpendapat serupa dengan saya:  ribet!

Singkat cerita, saya sampai ke kantor kelurahan dengan niat  membuat KTP dan mencoba bisa tidak mengosongkan kolom agama saya.  Ketika saya bilang mau bikin KTP, pegawai di sana meminta saya  membawa KK. Saya pulang lagi membawa KK. Setelah catat ini itu  (pegawainya hanya menyalin dari KK saya), dapat tanda tangan,  saya diminta mengurusnya di kantor kecamatan. Sesampainya di  kecamatan, saya serahkan fotocopy KK dan surat sakti dari  kelurahan, tanpa ditanyai apapun. Sekitar satu jam saya menunggu.  Saya pikir sedang diproses, ternyata saya keliru. Meskipun tidak  banyak yang mengantri, rupanya bagian per-KTP-an sudah disibukan  dari pagi. Saya bunuh waktu dengan membaca harian lokal, sebuah  berita tentang pembuatan KTP yang seharusnya gratis ternyata  tetap dipungut biaya di suatu daerah di kota saya. Dasar, pegawai  pemerintah.. Nama saya lalu dipanggil.

“Mas pernah buat KTP di sini?”
“Iya, tapi alamatnya sudah pindah, Pak,” kata saya.
“Saya bisa minta KTP lamanya?”

Lalu saya serahkan KTP saya yang usianya masih 2 tahun lagi dan  saya kembali disuruh menunggu. Hanya selang kurang dari lima  menit, saya tiba-tiba dipanggil lagi. Hah? KTP saya sudah jadi?  Sial.. saya tidak punya kesempatan untuk mengetes aplikasi UU  Adminduk. Semua kolom terisi sesuai dengan yang tertera di KK  yang diisi oleh ibu saya. Saya lihat di kantor kecamatan juga  tidak ada pengumuman tentang UU Adminduk itu (di ruang tunggu  hanya ada sofa, meja, koran, tivi, penampang peta kota, dan  penampang jumlah pajak daerah). Bagaimana ini.. sudah tidak ada  sosialisasi, pegawainya juga bersikap yang-penting-beres.

Terinspirasi dari koran yang saya baca, kali ini saya ngetes  pegawainya soal gratisan KTP. Saya harap sang pegawai dengan  bijak akan mengatakan, “gratis kok” yang menegaskan bahwa aturan  itu memang demikian, alih-alih malah menjawab dengan nada lemas:

“Seikhlasnya saja...”

Jawaban tidak pasti yang bagi beberapa orang yang tidak tahu soal  aturan KTP gratis atau tahu tapi kurang cukup tega melihat  pegawai yang notabene sudah digaji untuk pekerjaannya itu,  akhirnya memberikan uang ala kadarnya. Huh, mentalnya ini...
baca selengkapnya

23 November 2009

Kinarya Lan Makarya Sesarengan: "Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan" ala PKBI DIY


Kinarya lan Makarya Sesarengan adalah sebuah pekan seni budaya yang mengusung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan - 25 November, Hari AIDS Sedunia - 1 Desember, Hari Hak Azasi Manusia Sedunia - 10 Desember).
Menggandeng komunitas seni tradisi, Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Yogyakarta, serta lembaga-lembaga lain memiliki kepedulian pada isu tersebut, PKBI DIY mengadakan serangkaian acara:


1. Opening Carnival “Stop AIDS: Akses Untuk Semua”
Tanggal : 1 Desember 2009
Jam : 14.00 - 16.00 WIB
Tempat : Taman Parkir Abu Bakar Ali Monumen SO 1 Maret
Peserta : 500 orang (LSM, organisasi masyarakat, institusi pendidikan, kelompok seni, dan masyarakat umum)

Opening carnival adalah pembuka dari Pekan Seni Budaya. Selain sebagai media sosialisasi adanya Pekan Seni Budaya, acara ini juga mengikuti tradisi longmarch Hari AIDS Sedunia yang biasa diadakan oleh lembaga-lembaga yang peduli pada isu HIV & AIDS di Yogyakarta, namun dengan format carnival sehingga peserta dapat mengekspresikan dirinya melalui kostum atau atribut lainnya.


2. Jogja Update “Diskusi Publik: Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi”
Tanggal : 2 Desember 2009
Jam : 14.00 - 17.00 WIB
Tempat : Gedung Radyo Suyoso, Kompleks Kepatihan

Adalah sebuah diskusi publik yang akan membahas isu-isu terkini seputar Kesehatan Reproduksi dengan pembicara dari instansi-instansi terkait seperti BKKBN, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan lembaga lain yang bergelut di isu tersebut.


3. Pertunjukan Teater dan Gamelan Kontemporer 'Bukan Aku yang...'
Tanggal : 5 Desember 2009
Jam : 19.00 - 23.00 WIB
Tempat : Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta

Kepedulian remaja sekolah terhadap isu HIV & AIDS ditampilkan oleh siswa-siswa SMA TMIP yang tergabung dalam TeMA melalui pertunjukan teater dan gamelan kontemporer.


4. Festival Seni
Tanggal : 4 - 6 Desember 2009
Jam : 15.00 - 23.00 WIB
Tempat : Monumen SO 1 Maret

Mengambil tempat di Monumen SO 1 Maret, Festival Seni Budaya ini adalah inti acara Pekan Seni Budaya. Acara ini akan diisi oleh penampilan dari pekerja seni-pekerja seni lokal Yogyakarta, terutama yang berbasis budaya tradisional seperti tari, ketoprak, gamelan, wayang. Festival akan dibuka oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 4 Desember 2009 pukul 18.30 WIB dengan pertunjukan tari dari UKM Swagayugama UGM dan Sanggar Seni Waria Kotagede, dilanjutkan dengan penampilan seni tradisi dari Kulon Progo dan Sleman. Pada 5 Desember 2009, 19.00, komunitas seni tradisi dari Kabupaten Gunung Kidul dan Kota Yogyakarta akan mengambil bagian. Kemudian ditutup pada 6 Desember 2009 dengan penampilan dari Kabupaten Bantul dan penampilan seni tradisi dari KNPI DIY.
Selain seni tradisi, Pekan Seni Budaya juga tetap mengakomodir komunitas-komunitas seni non-tradisi seperti band, paduan suara, musikalisasi puisi, teater, dan sebagainya di pukul 15.00 – 18.00


5. Family Day
Tanggal : 6 Desember 2009
Jam : 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Monumen Serangan Oemoem 1 Maret
Peserta : Masyarakat umum

Family Day adalah sebuah hari yang dikhususkan untuk keluarga. Beberapa acara akan digelar pada satu hari penuh, yaitu:

  • Lomba lukis dan mewarnai (usia TK dan SD)
  • Penampilan seni oleh anak-anak
  • Dolanan anak
  • Diskusi Santai ”Kesehatan Reproduksi dan Seksual [HIV & AIDS] dan Keluarga”
  • Klinik gratis



6. Pameran Foto “Nyawang”
Tanggal : 30 November - 6 Desember 2009
Jam : 10.00 - 19.00 WIB
Tempat : Griya Lentera [Jl. Gandekan Lor No. 42 B]
Peserta : Komunitas remaja jalanan, gay, waria, perempuan pekerja seks

Griya Lentera sebagai bagian dari PKBI DIY akan melaunching sebuah ruang budaya yang terbuka bagi siapapun. Pameran Seni dan Foto digelar selain untuk sosialisasi awal, juga untuk menunjukkan kreativitas komunitas-komunitas yang selama ini termarginalkan.


7. Movie Screening
Tanggal : 30 November - 6 Desember 2009
Jam : 15.00 - 18.00 WIB
Tempat : Griya Lentera [Jl. Gandekan Lor No. 42 B]

Movie screening adalah ruang untuk memutar film dan berdiskusi mengenai film-film yang berkaitan dengan isu-isu kesehatan reproduksi dan seksual (HIV & AIDS), gender, dan HAM. Film yang diputar adalah film pendek, dokumenter, dan karya komunitas. Setiap harinya akan diangkat 1 tema besar yaitu: remaja, HIV & AIDS, LGBTIQ, gender, kesehatan reproduksi, dan perjuangan identitas
baca selengkapnya