17 Maret 2013

Remaja Itu Masa Storm & Stress, Mitos?

Pernah dengar teori yang bilang kalau masa remaja adalah fase penuh stres dan badai (storm and stress)? Kalau masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang sering menyebabkan individu menjadi labil? Masa penuh tekanan dari teman sebaya?

Ya, silakan cari teori-teori psikologi tentang itu. Beberapa dari anda mungkin menyetujui teori tersebut dengan berkaca dari diri sendiri atau orang-orang di sekitar, termasuk anda yang sekarang masih berada di rentang remaja. Tapi bagi beberapa orang, termasuk saya, terutama yang sudah melewati masa remaja (beraaaat sekali mengakui ini hahaha...), mungkin akan berpikir lagi tentang benar tidaknya teori tersebut. Karena sebagai orang yang sedang berada di jenjang dewasa awal, stres dan badai tersebut saya rasakan lebih kencang dibandingkan dengan saat saya remaja. Dan bukan hanya saya, belakangan saya bertemu dengan beberapa kawan yang intinya sepakat dengan hal ini: masa remaja adalah masa storm and stress itu cuma mitos!

Kenapa saya dan kawan-kawan saya itu berkeputusan demikian? Karena pengalaman yang kami rasakan ya memang demikian. 

"Sekarang kita mesti mikir hidup kita sendiri. Padahal masih bingung juga apa yang sebenarnya ingin kita lakukan," kata seorang kawan.

"Kayaknya, yang kita lakukan itu ya hanya bekerja untuk menunjukkan kepada orang lain kalau kita bisa. Bukan untuk diri sendiri," kata kawan yang lain.

Tuntutan dari lingkungan sekitar juga bukannya semakin hilang, justru semakin kuat. Tentang bagaimana kita menjadi manusia ideal, hmm uhuk.. yang mainstream. Tuntutan untuk menikah, tuntutan untuk bekerja, tuntutan untuk dewasa. Tuntutan-tuntutan dengan cabang tuntutan yang lebih banyak: tuntutan untuk menikah bercabang menjadi menikahi orang yang seagama, menikahi orang yang mapan, menikahi orang satu bangsa, menikahi anak pejabat, menikahi orang yang berbeda jenis, yang segera diikuti dengan tuntutan untuk memiliki anak, tuntutan untuk memiliki anak lagi, dan seterusnya. Tuntutan bekerja pun bercabang menjadi tuntutan untuk kerja kantoran, tuntutan untuk kerja dengan gaji tinggi, tuntutan untuk kerja di kota yang nggak jauh-jauh dari orang tua, dan seterusnya.

Dengan gegabah, saya membuat kesimpulan kalau para penyusun teori perkembangan itu adalah mereka yang di usia dewasanya tunduk pada pakem-pakem sosial yang ada. Jadi ketika tuntutan beruntun itu datang, mereka mungkin nyantei-nyantei saja, ngikutin arus, leha-leha di teras minum kopi sambil bikin-bikin teori. 

Praduga ngawur saya yang lain adalah lebih mudah menyoroti dunia remaja, menganggap mereka sedang berada di atas jembatan rapuh menuju sisi kedewasaan. Mana ada orang (yang umurnya cukup) dewasa yang mau dicap labil, kan? Ini juga yang akhirnya memunculkan istilah 'kenakalan remaja' atau 'juvenile delinquency' sementara orang-orang dewasa yang kelakuannya nakal gak dikasih istilah macam ini (masuknya kategori kriminal, tapi kriminalitas juga berlaku buat remaja, gimana tuh?)

Back to the topic, kegalauan para manusia dewasa muda ditambah lagi dengan semakin menciutnya lingkaran pertemanan. Kalau waktu remaja, galau dikit, tinggal kontak teman-teman, happy-happy deh. Begitu masuk usia dewasa, kita sibuk dengan kehidupan pribadi kita. Yang serius kerja sibuk dengan kerjaan, yang serius bikin anak juga sibuk ngurus ini itu. Mengumpulkan teman-teman dalam satu waktu harus siap dengan balasan: 'aduh, sorry, tanggal itu aku tugas ke luar kota', 'maaf nih, itu pas aku mau antar anak nonton badut', bla bla... 

Di usia remaja kita lebih bebas pula berekspresi. Nangis sesenggukan tiga hari tiga malam gara-gara patah hati, menjadi hal yang bisa dimaklumi, teman-teman bahkan datang dan memberikan dukungan (termasuk ikut ngumpat-ngumpati). Lihat artis idola bisa teriak-teriak histeris, teman kita juga ikut loncat-loncat (walaupun nggak ngefans). Begitu masuk usia dewasa, teman-teman yang tadinya ikut melonjak kegirangan atau ikut mengumpat itu  akan disibukkan dengan urusan mereka masing-masing.

Oh oh... tulisan ini bukan untuk menginspirasi pembaca untuk menghindari masa dewasa lho. Ini hanya gambaran soal tantangan yang akan dihadapi pembaca sekalian yang masih remaja, terutama yang akan segera memasuki gerbang usia dewasa. Expect the best and be prepared for the worst lah istilahnya, jangan lihat enaknya saja dari kehidupan dewasa.

That's all. Bye
baca selengkapnya

25 Februari 2013

Imlek Jogja: Kita Bisa Hidup Bersama


Tahun baru Cina kali ini saya berniat mengambil beberapa foto di titik-titik perayaan. Agak telat memang karena mestinya saya sudah siap sejak tiga hari sebelum pergantian tahun, saat masyarakat keturunan Tionghoa mendatangi klenteng untuk sembahyang, mengucap syukur dan meminta berkah di tahun yang baru. Saya baru sempat keliling tepat di tahun baru Imlek, 10 Februari 2013.

Kauw Lang Teng to Kauw Lang Teng

Saya mulai dengan mendatangi dua klenteng besar di Kota Yogyakarta. Klenteng pertama terletak di daerah Poncowinatan, utara Tugu Jogja. Segera saya menemui petugas di sana yang lalu menyambut saya dengan ramah dan sepertinya sudah tahu maksud kedatangan saya (menenteng kamera dan tidak berciri fisik keturunan),

"Mau ambil foto ya, Mas? Silakan! Dari kemarin juga ramai wartawan ke sini," katanya.

Saya merasa perlu menjelaskan kalau saya bukan jurnalis, tapi hanya untuk koleksi dan blog. Dia tetap mempersilakan dan sedikit memberikan penjelasan tentang denah klenteng tersebut.

Klenteng Poncowinatan adalah klenteng tertua di Jogja yang berdiri pada 1881. Klenteng dengan nama asli Zhen Ling Gong berdiri di atas area yang diberikan Sultan Hamengkubuwono VII kepada penduduk Tionghoa. Mungkin inilah yang bisa disebut China Town di Yogyakarta. Bedanya, jika di negara-negara lain kawasan seperti ini bisa berkembang dengan identitas orientalnya tak peduli dimana ia berada, di Indonesia kondisinya berbeda, terkait dengan sejarah politik bangsa ini yang boleh dikata cukup pahit bagi warga keturunan Tionghoa.

Di bangunan utama, wangi dupa menyambut setiap pengunjung yang hari itu tidak begitu ramai. Belakangan saya baru tahu kalau kebanyakan umat datang ke klenteng pada malam tahun barunya. Yang menarik dari klenteng yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini adalah, selain lampion dan ornamen merah-emas, adalah dupa yang melingkar mirip obat nyamuk yang digantung di langit-langit. Di belakang bangunan utama, terdapat bangunan lain, yang dari lantai duanya kita bisa menikmati indahnya atap klenteng yang kaya ornamen, kontras dengan langit yang saat itu cukup cerah.

Dupa Melingkar
Dupa Altar
Atap Klenteng Poncowinatan

Perjalanan saya lanjutkan ke klenteng lain yang terletak di daerah Gondomanan. Imlek tahun lalu saya sempat ke klenteng yang berdiri sejak 1900 ini, tapi tidak sempat foto-foto.  Berbeda dengan klenteng Poncowinatan, klenteng bernama asli Hok Tik BIo ini lebih banyak dikunjungi warga untuk memohon berkah. Mungkin itu juga yang membuat saya menemukan satu pemandangan yang tidak saya temukan di klenteng sebelumnya: beberapa orang pengemis tampak duduk-duduk di undakan depan dan lampion-lampion yang digantungi label-label perusahaan yang mengharapkan rejeki lebih banyak di tahun baru.

Lampion "Titipan Berkah"
Meskipun ukurannya lebih kecil dibandingkan klenteng Poncowinatan, saya lebih menyukai  klenteng Gondomanan ini. Detail-detailnya lebih banyak dan menarik. Sayangnya, di pelataran depan, tenda besar masih berdiri yang digunakan untuk umat yang ingin bersembahyang bersama tapi tidak mendapatkan ruang di dalam klenteng, membuat landscape indah klenteng tertutupi. Tapi tak masalah, pemandangan di dalam klenteng tetap sedap memanjakan mata.

Atap Altar Utama
Lampion dan  Beduk
Sembahyang

Selamat Datang di Kampoeng Ketandan!


Jogja: Pertemuan Tradisi dan Modernitas,
Perjumpaan Budaya-budaya
Perayaan Imlek belum rampung. Masih ada puncaknya Cap Go Meh yang justru lebih meriah. Ya, pada hari kelima belas di tahun yang baru adalah perayaan yang sebenarnya dari Tahun Baru Cina. Cap Go Meh sendiri berarti Sepuluh (Cap), Lima (Go) dan Malam (Meh) dalam bahasa Hokkien. Di Yogyakarta, perayaan ini biasa dilakukan selama lima hari atau seminggu menjelang Cap Go Meh dan dipusatkan di daerah sekitar Malioboro, sentra dan ikon Kota Jogja yang dihuni oleh banyak warga keturunan Cina. Ketandan adalah salah satu kampung yang berada di sana.

Tahun 2013 ini menjadi lebih istimewa bagi warga Jogja karena tepat di pintu masuk Jalan Ketandan berdiri gerbang megah dengan gaya oriental tentu saja. Gapura yang diresmikan Sultan Hamengkubuwono X pada pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini semakin mengukuhkan pengakuan Yogyakarta terhadap keberagaman warganya.

Selama lima hari, warga Jogja bisa mengunjungi Festival yang diadakan Kampung Ketandan. Aneka panganan, aksesoris dan hiburan khas Tionghoa bisa ditemukan di sana. Saya dan beberapa kawan datang di hari kedua. Luar biasa ramainya! Beruntung, pas di malam itu ada pemilihan Cici dan Koko Jogja dengan pembuka sebuah tarian menarik dari Mongol, salah satu suku bangsa yang ada di Cina. 


Dipilih-dipilih...

Kue Keranjang
Wayang Poo Tee Hie
Tarian Menunggang Kuda dari Mongol

Kue Keranjang dan Naga Raksasa

Sejak pukul 4 sore, ribuan warga Jogja sudah memadati Malioboro, mencari tempat strategis. Ya, ini dia malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Jogja. Tepat di malam Cap Go Meh, karnaval naga dan barongsai diadakan di sepanjang jalan terpadat di kota gudeg ini. Banyaknya penonton yang datang ini membuat saya semakin yakin bahwa perbedaan-perbedaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sejatinya tak akan berujung pada konflik jika kita bisa menyikapinya dengan lebih positif.

Iring-iringan karnaval dikawal oleh pasukan berbeskap, menunjukkan bahwa Kasultanan memberikan perlindungan bagi setiap aktivitas yang dilakukan oleh warganya yang keturunan Tionghoa. 

Pasukan Pengawal
Kue Keranjang Raksas
Kemudian muncul sebuah mobil bak terbuka mengangkut tumpukan besar kue keranjang yang disusun menyerupai tumpeng. Betul, ini dia kue keranjang raksasa setinggi dua setengah meter yang tercatat di MURI. Tumpeng dan kue keranjang. Ide keren untuk menyatukan dua budaya, bukan?

Pengunjung kemudian dihibur dengan atraksi naga dan barongsai yang rupa-rupa warna dan ukuran, juga penampilan dari peserta karnaval yang memakai dan membawa atribut-atribut oriental.




Iring-iringan terakhir adalah yang paling ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, pasukan AU, lengkap dengan drumb band nya, mengusung naga terpanjang di Asia! Ya, naga liong sepanjang 134 meter tersebut harus dibawa oleh 150 an personil!


Well, perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2013 memang telah usai. Tapi semangat kebersamaan warga Jogja akan terus terpelihara. Semoga Tahun Ular Air membawa berkah dan kedamaian bagi kita semua! 
baca selengkapnya

1 Februari 2013

Thanks, Universe!

Dua jam lalu saya dapat email dari organisasi yang saya ingin bekerja di sana. Alasannya, organisasi itu ada di Jogja, bekerja untuk isu kemanusiaan dan sedang membutuhkan orang yang berpengalaman dan terampil dalam urusan media kampanye. Surga rasanya menemukan lowongan macam itu bagi saya yang sangat pemilih untuk urusan kerja. Bukannya sombong, tapi keterampilan saya yang paling saya jagoin di situ, pengalaman yang saya punya juga cuma kerja di organisasi kemanusiaan. Apalagi ini di Jogja! Wah! Tes tulis dan wawancara pun sudah saya lalui. Tapi email dua jam lalu itu langsung membenamkan angan saya.

Ya, saya tidak diterima.

Sedih, kecewa, campur aduk lah rasanya. Tapi ya mau gimana lagi? Bukan sekali ini saja saya merasa sedih, bukan sekali ini juga saya pernah merasa kecewa. Dan saya harus membuktikan pada diri saya sendiri kalau saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya segera sadar, ada tumpukan proyek pribadi saya yang masih menunggu untuk diselesaikan, yang, kalau saya diterima di tempat kerja yang saya inginkan itu, kemungkinan akan berakhir tanpa pernah mencicipi lahir.

Ya, ini juga soal tanggung jawab. Tanggung jawab saya pada diri saya sendiri. Saya berangan-angan ini itu, sudah beberapa langkah saya lalui untuk mewujudkannya, tapi di tengah jalan mesti berpaling demi urusan lain yang lebih mendesak (baca: perut dan isi dompet). Saya yang mengusulkan ide ini pada diri saya sendiri lalu menyepakatinya, maka saya yang harus menyelesaikan. Hahaha... saya jadi ingat pengalaman saya dulu bersama kawan-kawan di organisasi. Ada kebiasaan kami, "Yang punya ide yang tanggung jawab!" Agak menyebalkan memang. Karena kadang ide yang kita punya hanya bisa diwujudkan jika orang lain juga urun tangan. Dan kadang, ada hal-hal di luar dugaan yang menghambat terwujudnya ide itu tapi tanggung jawab tetap mesti kita yang tanggung. 

Beruntung, saya bukan orang yang cepat euforia pada sebuah ide. Terima kasih, oh otak dodol yang butuh waktu lebih lama untuk berproses! Saya butuh waktu untuk mencerna informasi baru, apalagi wacana, dan mempertimbangkan ABCDEFGH-nya. Saya suka heran dengan orang yang bisa dengan cepat menanggapi ide orang lain, sampai memberikan dukungan. Heran dengan kecepatannya yang tidak saya miliki. Tidak cepat euforia ini juga saya pertahankan saat saya mencoba mewujudkan impian saya. Saya tidak mau melahirkan anak prematur. Bakal repot belakangan. 

Dan kali ini, saya mesti berterima kasih kepada semesta yang saat ini belum memberi saya kesempatan untuk bekerja di tempat yang saya inginkan! Memberi saya waktu ekstra untuk menyelesaikan tanggung jawab saya terlebih dulu. Thanks, Universe!

Well, ini cuma tulisan curhat. Mutar-muter nggak jelas kemana. Ya lumayanlah, menyalurkan energi negatif, daripada dipake buat mentungin anak orang.


baca selengkapnya

30 Januari 2013

Jam Biologis Acakadut dan Balas Dendam


Saya bangun kesiangan lagi hari ini. Kelewat siang malah, menjelang tengah hari. Gara-garanya kemarin-kemarin, karena harus menyelesaikan pekerjaan, saya terpaksa tidur dekat-dekat subuh, itupun hanya 3-4 jam. Bangun lagi melanjutkan kerjaan sampai pagi lagi. Untung rutinitas tidak sehat itu cuma semingguan, nggak kebayang deh kalau sampai ada berita: 'Tukang grafis ditemukan tinggal kulit membungkus tulang di depan laptopnya' (by the way, emang sekarang di balik kulit saya ada isinya?)

Soal saya yang sekarang sulit memejamkan mata di waktunya tidur dan akhirnya bangun kesiangan, mungkin itu adalah mekanisme balas dendam badan dan mata saya yang pengen istirahat tapi belakangan nggak kesampaian. Tapi, apakah dengan mekanisme itu badan saya terus jadi segar? Jreng.. jreng.. ternyata tidak, sodara-sodara. Bangun siang itu dampaknya nggak enak di kepala, pusing-pusing nggak jelas. Udah gitu seharian bawaannya ngantuk terus. Lemes. Makan nggak selera. Kopi yang biasanya nambah semangat, tidak ada lagi efeknya. Ibarat orang patah hati lah (lho?)

Saya lalu dapat saran untuk mengatasi ini, yaitu: jangan ikuti maunya mata. Alias, saya harus melawan dia datang di waktu-waktu yang saya seharusnya bisa produktif, dan memaksanya untuk datang kepada saya saat saya seharusnya beristirahat (alamak, bisa pakai jelangkung nggak?). Dengan cara ini, saya akan bisa mengembalikan jam biologis saya yang belakangan acakadut. Berhasil? Jangan tanya itu dulu. Ini baru hari pertama saya mencoba. Susah juga. Saya tetap ambruk di sore hari, terbangun dengan tidak hanya kepala pusing (lagi) tapi juga perasaan yang tidak mengenakkan. Entah, apa cuma saya atau dialami oleh orang lain juga ya, tertidur saat matahari akan tenggelam dan bangun saat hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya.. (halaaah) itu rasanya nggak enak, macam depresi.

Saya memang masih mencoba trik mengembalikan waktu tidur saya, tapi saya belajar satu hal dari itu. Bahwa balas dendam macam apapun itu efeknya nggak enak. Saya sendiri bukan orang yang senang mendendam. Tidak melupakan apa yang pernah orang lakukan pada saya yang sifatnya negatif  sih iya, tapi kalau sampai kebayang-kebayang terus bahkan ingin melakukan sesuatu yang setimpal pada mereka, hmmm... sepertinya tidak (sepertinya lho...). Mungkin karena saya orangnya nggak mau ribet ya. Lha ya iyalah, nggak ribet apa mikirin enaknya orang yang udah nyakitin kita ini dibikin rujak atau dijadiin oseng-oseng padahal ngurusin hidup sekarang aja loncat sana sini? Pernah juga sih saya benci pada seseorang sampai bertahun-tahun, dan rasanya tidak enak. Sampai di satu titik, saya merasa harus melepaskan perasaan itu, saya merasa bebas.

Balas dendam itu butuh energi. Memikirkan strategi yang efektif untuk membalaskan dendam kita mungkin menyerap energi lebih banyak dibandingkan dengan saat mengeksekusinya. Hasilnya apa? Selain rasa puas kalau rencana kita berhasil, ya kita juga sudah menyalurkan energi dan mengisi waktu luang kita haha... Duh! Sama seperti urusan jam biologis itu, kalau saya teruskan keinginan mendendam badan saya, mungkin si mata merasa senang ya. Ooo... itu cuma sementara, jangan terperdaya nafsumu, duhai Mata... Gimana dengan pusing dan lemasnya? Badan saya sedang tidak sadar kalau kebiasaan barunya ini, dalam jangka panjang, justru bakal memberikan lebih banyak lagi kerugian bagi dirinya.

Jadi ingat saya pada episode Oprah dimana dia menceritakan kalau dia juga pernah membenci seseorang dalam waktu lama dan sosok orang itu terus membayanginya. Suatu saat, Oprah bertemu lagi dengan orang tersebut yang menyapanya dengan santai tanpa beban, dan pastinya itu bikin Oprah gondok. Iyalah, Oprah sudah meluangkan waktu dan pikirannya untuk membenci orang itu, eh si oknum boro-boro inget apa yang sudah dia lakukan, mikirin Oprah juga mungkin nggak! Tambah akutlah kekesalan Oprah. Tapi, Oprah belajar dari kejadian itu. Dia sadar, lha ya apa untungnya pikiran kita tersedot untuk seseorang yang bahkan sudah tidak punya pengaruhnya lagi pada kehidupan kita?

Well, tipe orang memang berbeda-beda. Kadang justru ada orang yang senang dengan kebiasaan memendam dan mendendam ini. Walaupun drama kehidupan bisa datang tanpa skenario dan sementara orang-orang tertentu menghindari drama ini, tapi bagi orang-orang tertentu, hidup rasanya hampa kalau nggak ada drama. Cocoklah buat yang punya banyak waktu luang. Sama seperti meluangkan waktu ngikutin sinetron sampai tamat. Padahal, Tersanjung atau Cinta Fitri saja sampai sekuel berapa tau.

baca selengkapnya

29 Januari 2013

Facebookan Sehat


Hari-hari (dan juga malam) bercinta dengan corel dan photoshop akhirnya menghasilkan anak juga. Empat anak dalam waktu berdekatan. Pekerjaan saya yang satu itu akhirnya selesai. Dengan deadline yang kemunculannya bak kuntilanak, menyita waktu saya beberapa hari ini, termasuk menenggelamkan ide-ide yang ingin saya tulis. Beberapa benar-benar tenggelam, tapi yang satu ini yang terus mondar-mandir di kepala saya.

Pemantiknya adalah gara-gara saya iseng ngasih komentar di status salah satu akun di jejaring sosial. Saya terima saja permintaan pertemanannya karena mutual friends-nya cukup banyak. Lagipula, nama yang dipakai di akun adalah nama perkumpulan atau organisasi, jadi saya confirm saja.

Nah, di hari Daming Sunusi harus mempertanggungjawabkan leluconnya saat dia diwawancarai sebagai calon hakim MA, yang sama sekali tidak lucu dan sangat melecehkan perempuan, beberapa orang langsung nulis status, ngetwit, ngeblog atau goblok-goblokin sang calon hakim lewat media lain. Termasuk akun tersebut. Statusnya berisi cacian pada sang calon hakim. Biasanya saya tidak ambil pusing orang mau bikin status atau ngetwit apa, toh itu akun mereka pribadi, dan kalau saya tidak suka, saya bisa hide. Jika sudah sangat mengganggu, bisa saya unfollow atau remove dari pertemanan. Yang jadi masalah buat saya adalah, akun tersebut tidak menunjukkan identitas pribadi si pemilik, tapi identitas kelompoknya, termasuk kelompok remaja yang tercantum di akhir nama akun tersebut. Saya khawatir saja kalau status tersebut tidak mewakili si kelompok, tapi hanya opini sang admin.

Saling komentar pun terjadi antara saya dan si admin akun tersebut (admin atau bukan, terserah, intinya ya orang yang memakai akun itu hehe...), termasuk temannya yang lain yang manas-manasi. Hahaha... sudah lewat masa-masa emosi saya mudah terpancing ya. Saya tanggapi santai saja. Semakin santai karena belakangan mereka tahu saya ternyata satu suku dengan mereka (agak sukuisme juga nih hehe...). Interaksi saya dengan si akun tersebut memang selesai dalam satu malam, tapi ternyata masih ada buntutnya. Seorang kawan yang saya temui esok harinya bilang kalau dia baru chatting dengan admin akun itu. Si admin bertanya tentang saya, dan kawan saya mengambil kesempatan itu untuk memberikan masukan tentang status-status akun tersebut yang ternyata memang sering kali lebih bersifat personal, tidak mewakili kelompok yang tertera sebagai nama akunnya. Tidak terima, si admin bilang ya itu hak nya dia mau pakai nama akun apa, nulis status apa. Toh tidak ada aturannya, katanya. Belakangan, nama akunnya diganti. Hmmm... Lagi, bukan sekali ini urusan etis tidak etis di dunia jejaring sosial jadi masalah.

Ya, berapa kali kita pernah kesal saat berseluncur di jejaring sosial? Berapa kali kita pernah bergumam dalam hati 'kok gitu sih?' saat melihat status atau postingan teman maya? Berapa orang yang pernah kita unfollow postingannya? Berapa orang yang pernah kita remove dari pertemanan? Atau bahkan, berapa orang yang pernah kita block? (yang terakhir sih saya belum pernah me- tapi sudah pernah di- hahaha..). Pengelola jejaring sosial macam Facebook atau Twitter, memang menuliskan (seringnya tidak kita baca), soal aturan atau etika berkomunikasi dalam situs mereka. Tidak spesifik memang, tapi bukan berarti kita bisa bebas-bebas saja melakukan apa yang tidak tercantum di sana. Masak iya Facebook mesti bikin poin: "Jangan menggunakan tulisan alay karena tidak ramah mata", atau "Jangan curhat terus karena teman-teman anda bosan lihatnya".

Sama saja sih seperti kita berinteraksi dengan orang di dunia nyata. Tidak ada kan aturan macam "Jangan bertanya sesuatu pada orang kalau anda tidak mendengarkan apa jawabannya",  "Jangan mengepulkan asap rokok anda ke depan muka orang lain", atau "Jangan kentut saat anda di kerumunan". Tapi kita tahu kalau kita 'melanggarnya' kita bisa bikin orang lain kesal, marah atau sedih dan ujung-ujungnya jadi bahan gosip. Etika ini soal kesepakatan mana yang baik atau tidak. Baik atau tidaknya ini memang bisa saja berbeda di setiap tempat dan waktu, tapi ada juga yang bersifat universal macam mengatakan maaf kalau kita berbuat salah dan mengucapkan terima kasih pada orang yang berbuat sesuatu untuk kita. Baik atau tidaknya ini bukan didasari motif apakah berdosa atau berpahala, mendatangkan profit atau membuat pailit, tapi lebih kepada bagaimana agar hubungan antar manusia bisa berjalan mulus.

Nah, soal etika berjejaring sosial ini, ada beberapa hal yang sering jadi bahan omongan teman-teman saya (baca: gosip) karena kebiasaan-kebiasaan orang di Facebook yang bikin gerah, 'zoooong', bahkan ada yang berujung konflik. Nah, kalau kita tidak ingin jadi bahan gosip tak sedap, mungkin poin-poin ini bisa membantu:


  • First of all, nama akun kita menggambarkan siapa kita. Memang tidak seratus persen sih. Banyak juga yang  nama akunnya ke-alay-alay-an (alias nama kelewat panjang tanpa spasi dengan ramuan ajaib antara huruf kapital, angka dan suasana hati), tapi statusnya mengkritisi kebijakan atau berfilosofi. Ada juga yang nama akunnya sangat resmi lengkap dengan gelar, statusnya curhat-curhatan. Nah, kalau kita memakai atau menyelipkan nama kelompok atau organisasi tertentu, orang lain otomatis akan melihat akun tersebut 'bernyawa' kelompok atau organisasi tersebut. Nanti kasusnya seperti contoh saya di atas. Kalau memang kita ingin lebih personal, ya pakai nama sendiri atau nama panggilan. Kalau memang harus mengurus akun kelompok atau organisasi, ya buat baru saja.
  • Kirim permintaan pertemanan pada orang yang kita kenal atau memang kita benar-benar ingin mengenalnya, bukan untuk mencapai target jumlah teman. Kalau yang kita kirim itu belum kenal dengan kita, kita bisa kirim pesan terlebih dulu 'kan? Semudah membuat teman, gampang juga untuk memutus pertemanan. Kalau kita terganggu dengan postingan-postingan teman kita, kenapa harus dilanjutkan pertemanannya? Tapi ya, kita juga mesti siap kalau ada orang yang melakukan hal yang sama pada kita.
  • Setiap orang punya kebiasaan sendiri-sendiri dalam nulis status. Ada yang nulis status seminggu sekali, setiap hari, ada juga yang tiap menit. Ada yang nulis tentang kondisi sosial yang dilihat, kasih tahu sedang ada di mana, dengan siapa dan berbuat apa, ada juga yang meluapkan ekspresinya: senang pas gajian atau sedih karena pacarnya nggak ada kabar, atau cuma colek teman-temannya. Sah-sah saja. Itu hak kita. Tapi ingat, teman-teman kita juga punya hak untuk tidak ketularan aura negatif yang kita pampang di status. Teman-teman kita juga seringnya tidak butuh tahu kita sedang apa, dimana dan apa yang sedang kita rasakan, apalagi kalau kita  sedang ada di kamar dan memandang bintang dari balik jendela. Kecuali kita selebritis dengan ribuan fans yang haus informasi detail tentang kita. Soal status yang melecehkan pihak tertentu, itu tidak hanya di Facebook kali ya ada kesepakatan bersama kalau hal itu tidak pantas.
  • Saya pernah kesal karena saat saya upload foto terus ada teman yang komentar, eh ada temannya ikut-ikutan menulis di kolom comment. Mending kalau isinya ikutan ngasih komentar foto saya, ini malah reunian. Tolong ya, bisa bikin lapak baru kan? Intinya, kalau mau komentar itu ya yang nyambung sama konteksnya, walaupun sering juga kita punya status apa, teman-teman kita komentarnya nggak nyambung, tapi toh masih bisa kita lacak atau paham dengan ketidaknyambungannya. Berantem dengan saling lempar komentar juga nggak jelas maksudnya apa. Kalau mau adu argumen personal, ya pakailah fasilitas chatting. Kecuali memang topiknya sengaja dilempar untuk jadi bahan diskusi rame-rame.
  • Meng-upload foto korban kecelakaan, bencana atau perang sama sekali tidak etis. Saya pernah nulis status tentang ini. Dan ini juga berlaku dalam dunia jurnalisme. Apa gunanya coba nunjukkin foto mayat berjejer atau anak yang berdarah-darah? Dan tak perlu sungkan bagi kita untuk melaporkan akun-akun yang kerap berbau SARA atau pornografi.
  • Beriklan lewat jejaring sosial memang diperbolehkan. Tapi men-tag semua teman di foto produk kita kadang bisa bikin teman kita sebal, belum lagi setelah itu komentar bermunculan. Notifikasi jadi kayak pasar malam, rame nggak jelas. Juga kalau kita mengundang mereka ke grup yang tidak ada hubungannya dengan mereka atau mengajak mereka untuk main games. Bikin sajalah page khusus untuk produk-produk kita, undang teman-teman tertentu saja ke dalam grup dan percayalah, kalau teman kita memang suka nge-game, nggak perlu diajak juga dia bisa main sendiri.

Jejaring sosial memang menawarkan banyak hal: komunikasi dengan orang dari tempat bermil-mil jauhnya dalam waktu hitungan detik, menemukan teman lama yang terpisahkan oleh jalan hidup dan memberi ruang untuk berkespresi. Tapi seringkali, kita lupa bahwa di balik foto profil, status dan kicauan adalah juga orang-orang seperti kita, yang bisa terusik dan mengernyitkan dahi karena sesuatu yang dianggap tidak pantas, tidak etis dan semacamnya.
baca selengkapnya

14 Januari 2013

Indoktrinasi

Beberapa hari lalu, saya bersama dua orang teman makan di restoran vegetarian. Bagi pecinta daging seperti saya, restoran tersebut cukup membawa angin surga karena kehadiran 'daging-dagingan' dari kedelai atau jamur, bisa membantu saya menyuapkan lebih banyak sayuran untuk tubuh saya.

Walaupun saya belum merasa pengen jadi seorang vegetarian (atau gak bakal pernah), saya mengagumi beberapa orang vegetarian, bahkan vegan, yang saya tahu. Entah mungkin memang bawaannya sudah seperti itu, atau karena bawaannya seperti itu yang membuat mereka memutuskan menjadi vegetarian atau vegan, atau memang benar teori yang mengatakan daging merah itu juga punya pengaruh besar pada emosi seseorang, saya menemukan orang-orang vegetarian dan vegan itu lebih tenang dan kalem (atau karena perbandingannya saya? Entah). Ya, konsep vegetarian dan vegan mau tak mau membawa saya pada pandangan terhadap agama tertentu yang salah satu ajarannya adalah berpantang makan daging dan melihat para pemuka agama tersebut tampak lebih tenang dan lebih halus dibandingkan pemuka agama lain.

Sayang, jembatan keledai yang sudah terbangun di otak saya soal vegetarian dan kedamaian runtuh saat saya makan di restoran tersebut dan menonton film dokumenter (atau propaganda?) yang setiap saat diputar di sana. Sebelum-sebelumnya saya tidak pernah terlalu memperhatikan video tersebut. Tapi, terakhir saya ke sana, saya menyimak cukup lama dan sampailah pada satu tayangan dimana ada seorang perempuan yang menjadi Supreme Master dari entah ajaran apa yang sedang memberikan wejangan. Caranya dia berceramah memang menarik, tenang tapi tegas. Namun ada satu hal yang mengganggu pikiran saya. Yaitu saat dia menceritakan kisah jaman dulu dimana (katanya) Tuhan pernah memberikan hukuman bagi orang-orang yang memakan daging dengan cara menjatuhkan daging-daging dari langit kepada orang-orang tersebut! Maka, terkutuklah saya!

Kenapa pikiran saya terganggu oleh cerita si Supreme Master? Apa karena posisi saya sebagai omnivor? Bukan. Bukan tentang itu. Toh saya fine-fine saja dengan para herbivor. Saya terusik dengan caranya menyampaikan pesan dan mengajak pendengar untuk tidak makan daging. Terlalu... mengindoktrinasi. Lucunya, dua hari setelah itu, saat saya pindah-pindah channel TV, saya berhenti pada satu acara FTV yang menampilkan sekelompok laki-laki yang sedang mendengarkan ceramah yang berapi-api dari seseorang, kira-kira begini isinya:

"...kita jangan sampai terpengaruh oleh doktrin-doktrin karena bla bla..."

Untung itu cuma film. Kalau nyata, mungkin orang-orang yang mendengarkan itu langsung bubar jalan sambil bilang, "Ok, fine, saya pergi saja kalau begitu!" Lha yang dilakukan si penceramah bukannya juga indoktrinasi?

Doktrin. Dalam KBBI artinya adalah ajaran tentang asas suatu aliran politik atau agama. Terdengar netral. Awalnya saya pikir kalau diubah menjadi kata kerja cukup ditambahkan awalan me- jadi mendoktrin, tapi karena kata ini serapan dari bahasa asing, kata kerjanya diambil dari kata benda lain yang masih satu akar, indoktrinasi, jadilah mengindoktrinasi. (Lalu kenapa saya mengindoktrinasi dengan asas bahasa ini hahaha... belajar bersama lah ya). Indoktrinasi sendiri diartikan sebagai 'pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja'.

Urusan doktrin indoktrinasi ini bikin saya gerah. Sesuatu yang tidak saya sukai. Ow ow... tidak berkaca, Mas? Ya, saya ngakulah. Selain pernah diindoktrinasi pastinya (siapa manusia yang tidak pernah), saya juga pernah mengindoktrinasi nilai-nilai yang saya anggap ideal. Orang yang berlawanan pahamnya dengan saya, tidak saya anggap teman apalagi karib. Nah, apa bedanya dengan fundamentalis yang identik bersenjatakan doktrin?

Saya pernah berbincang dengan seorang teman yang dulu sama-sama tumbuh di sebuah organisasi. Setelah lepas dari organisasi tersebut, dengan cara berbeda (ia kemudian semakin larut dalam dunia akademisi, namun tetap bergelut dalam bidang sosial), kami sampai di satu titik kesadaran bahwa fundamentalis tidak hanya monopoli orang-orang berjubah agama atau berjas politik. Fundamentalis juga sedang akan, atau mungkin sudah, tumbuh dalam gerakan-gerakan sosial yang ironisnya sering berteriak soal kesetaraan, penghargaan atas keberagaman dan semacamnya. Pendidikan orang dewasa, pendidikan kritis, pendidikan partisipatif kemudian hanya menjadi buih. Entah karena alasan target atau kejemuan, indoktrinasi menjadi alat yang dianggap efektif untuk mempercepat perubahan. Kenyataan ini membuat saya dan teman saya pusing sendiri.

Sebagai manusia, kita memang dituntut untuk berada pada satu sisi saja. Berpihak. Berada di tengah-tengah bisa dianggap gak jelas, lemah, klemak-klemek. Kenyataan bahwa lebih banyak orang yang berdiri di tengah, bahwa kebenaran itu relatif, dihiraukan begitu saja. Biseksualitas adalah contoh dari bagaimana wilayah abu-abu tersebut lebih sering dilihat sebelah mata. Agnostisisme adalah contoh dari bagaimana area semu tersebut lebih sering dianggap tak berpendirian, bukan sebagai pilihan.

Well, memang tidak ada salahnya, bahkan diyakini oleh sebagian orang bahwa ini adalah keharusan, untuk menyiarkan kebenaran. Tapi indoktrinasi, menurut saya, bukan hal yang bijak untuk dilakukan, apalagi dengan cara ditakut-takuti macam hujan daging itu. Indoktrinasi seolah-olah menganggap otak manusia hanyalah gelas-gelas kosong yang harus terus diisi. Mengenyahkan kenyataan bahwa manusia punya potensi, untuk berpikir dan berproses.

Kenapa minggu-minggu begini saya jadi sok serius ya? Ah, sudahlah... Selamat menyambut Senin!

baca selengkapnya