15 September 2010

Mudik Lebaran dan SPG


Mudik lebaran ini sepi sekali. Bukan arus mudik yang saya maksud. Kereta masih saja dijejali penumpang, jalanan juga terus dipadati motor dan mobil. Entah kapan pemerintah mau serius menggarap PR tahunan ini. Mungkin bukan waktunya juga yang jadi soal, tapi perkara alat dan pendukung transportasi yang manusiawi masih pula menjadi mimpi di negara ini.
Karena saya kebelet pulang ke Jogja, saya putuskan ambil kereta bisnis, menghindari kejadian setahun sebelumnya naik ekonomi dan walhasil harus berdiri dari Bandung sampai Jogja. Taruh pantat saja tidak bisa. Rencananya saya akan reservasi di stasiun Cirebon untuk mendapatkan tiket balik, tapi ternyata ada masalah dengan jaringan internet antara Senen dan Cirebon. Tiga hari berturut-turut kemudian saya hubungi stasiun bisakah saya reservasi online. Ternyata untuk kereta bisnis yang saya pilih tetap tidak bisa. Mereka menyarankan saya ambil yang eksekutif. Mbahmu... Tapi akhirnya denga berat hati saya ambil juga haha... Miris! Saya kedinginan di dalam kereta (ini bukan soal kampungan atau tidak, tapi banyak penumpang juga mengeluh AC nya terlalu dingin), padahal saudara-saudara saya di kelas ekonomi mungkin hampir tak bisa bernapas. Saya temukan juga dua gerbong terakhir kosong melompong tanpa penumpang, padahal kawan-kawan saya di kelas ekonomi bahkan sampai duduk di dalam toilet berbau pesing atau di atas gerbong dengan taruhan nyawa. Oya, saya juga harus menunggu kereta yang terlambat satu setengah jam di stasiun yang penuh sesak. Ah negara ini...


Nah, sebetulnya saya tak ingin menulis soal transportasi mudik, tapi masih nyambung dengan tradisi tahunan ini. Saya pulang dan tak menemukan kawan-kawan saya, hanya satu dua orang. Biasanya saya dan beberapa kawan mendatangi rumah beberapa kawan lainnya di malam takbiran, bukan sekedar silaturahmi tapi juga membantu menghabiskan makanan sisa buka puasa terakhir hehe.. Tahun ini, beberapa kawan saya yang sudah menikah memilih berlebaran di kampung sang istri. Beberapa kawan saya yang lain jadi sulit ditemui karena harus ikut suami. Wedeh! Nah satu kawan lagi yang biasanya sudah datang beberapa hari sebelum lebaran, kali ini belum juga terlihat batang hidungnya bahkan sampai di satu hari sebelum lebaran. Saya kirim pesan, dia jawab tak serius. Persis gaya kami waktu SMA.


Di hari lebaran, pulang saya dari ziarah, bertemulah saya dengan orangtua kawan saya itu. Sang ibu bilang anaknya masih di perjalanan dari Bogor. Wah wah... sibuk betul kawan saya rupanya. Barulah di malam pertama lebaran, saya bertemu dengan sang kawan. Alkisah, sekarang dia bekerja di sebuah department store. Tak heran saya kalau dia baru dapat ijin cuti pas hari lebaran. Toko mana yang tak mau kehilangan untung besar menjelang lebaran?


Pembicaraan kami lantas bergulir soal posisinya di sana. Ia menjadi HRD di sana. Ialah yang bertanggung jawab pada proses rekruitmen karyawan. Kawan saya yang lain yang sepertinya sudah kebelet ingin kawin, langsung cerah ceria saat kawan HRD ini cerita soal SPG-SPG di tempat kerjanya. Saya maklum. Saya sendiri lebih tertarik dengan proses rekruitmennya.


"Ya, kami kerjasama dengan lembaga outsourcing. Tinggal pilih lagi aja," ucapnya bangga. Degh! Waduh lembaga outsourcing yang katanya seringkali melakukan pelanggaran hak pekerja!


"Terus yang kamu pilih yang gimana?" tanya saya.


"Ya yang sesuai kriteria. Termasuk tinggi badan. Kemarin baru aja kutolak seorang pelamar yang tingginya tak memenuhi. Daripada aku yang kena semprot pimpinan!" Dia tersenyum.


"Lho, kalau misalnya yang tinggi badannya tidak memenuhi tapi dia pekerja keras, ramah?" pancing saya. Kawan saya yang lain manggut-manggut, seperti sepakat dengan saya.


"Tak mau aku ambil resikolah! Aturannya sudah jelas!" kata kawan HRD saya.


"Aturan kan bisa diubah tho? Kamu dari bagian HRD bisa pula ikut kasih saran soal perubahan aturan. Atau mungkin aturan itu juga bagian kalian yang harus menyusun?" tanya saya. Kawan saya diam. Tak bisa saya terjemahkan maksud diamnya. Entah tak tahu jawabannya karena dia tergolong orang baru atau berpikir kenapa mesti repot-repot mengurus soal sepele seperti itu. Sepele buat dia tapi tidak buat orang-orang yang ditolak kerja gara-gara sentian.


Kalaupun penampilan pendukung, bekerja sebagai SPG tentu bukan hal mudah. Tahu sendiri bagaimana pandangan orang pada perempuan yang senang berdandan dan berok mini walaupun itu demi tuntutan kerja. Belum lagi harus berdiri berjam-jam dengan sepatu hak tinggi. Selalu pasang muka ramah walau hati mungkin sedang gundah gulana. Soal gaji? Ya tengoklah saat jam makan siang kemana mereka pergi. Mungkin untuk membeli barang-barang yang dijual di tokonya sendiri pun mereka harus berpikir beribu kali. Belum lagi harus menghadapi oom-oom usil tukang goda. Saya tanyakan pula soal cuti haid buat para SPG. Ternyata tak ada. Fuh!


Lalu bagaimana mereka mudik saat lebaran ya? Adakah THR untuk mereka? Cukupkah untuk membeli tiket pulang pergi dan sekedar oleh-oleh untuk keluarga di kampung? Haruskah mereka lagi-lagi berdiri selama berjam-jam walau kali ini tanpa high heels dan rok mini, tapi juga AC dan alunan musik digantikan gerah bau keringat dan tangis isak bayi yang berjejal di antara orang-orang?
baca selengkapnya

4 September 2010

Sama Rata itu Tidak Adil


Alkisah saya sedang berusaha sekuat tenaga menyelesaikan penelitian, sialnya proyek saya bikin tulisan juga dikejar deadline. Maka terdamparlah kembali saya di kotak wordpress ini hehe.. Tapi tenang, saya tidak akan curhat soal penelitian atau tulisan saya.


Dua hari lalu saya bertemu seorang kawan (yang menginisiasi update status saya juga). Seperti saya, dia juga memilih untuk  bekerja tidak di sektor formal karena alasan yang juga sama: boring! Dia bekerja di sebuah lembaga yang (katanya) hidup dengan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Perbedaan dan keberagaman bukan jadi soal lagi baginya, tapi ternyata tidak di tempat kerjanya. Apa pasal?


"Masak di bulan puasa, kami staf yang non muslim tidak mendapatkan jatah makan siang seperti biasanya? Uang makan pun tak ada!" ujarnya. Awalnya saya pikir itu cuma gerutuan tak penting seorang staf yang kelaparan di jam makan siang. Saya bilang, mungkin itu salah satu cara untuk menghargai staf lain yang berpuasa. Menurut dia tidak begitu. Dia dan kawan-kawan yang tidak puasa cukup tahu diri.


"Kalaupun kami makan di depan mereka yang berpuasa, kami minta ijin dulu lah. Toh, nyatanya, niat mereka kan memang untuk berpuasa, kenapa menjadikan godaan itu beban? Jadikan saja cobaan menambah pahala! Lebih sopan lagi, kami mau kok cari makan di luar buat makan siang, tapi ya gimana, uang makan aja nggak ada!" ucapnya gemas. Saya tersenyum. Saya jadi ingat, di bulan puasa banyak restoran yang harus menutup jendelanya dengan kain. Bahkan, tak segan-segan beberapa ormas yang katanya religius mendatangi dan mengancam restoran atau warung makan yang tetap buka di bulan puasa. Lha, yang puasa siapa yang menderita siapa. "Yang puasa sih enak dapat pahala, kita dapat laparnya doang! Sama saja dengan memaksa orang lain untuk berpuasa juga, bukan?" lanjut kawan saya.


Itu baru satu perkara. Perkara lainnya soal THR dan parcel yang diberikan kepada staf di kantornya menjelang lebaran. Memang, THR dan parcel ini diberikan kepada semua staf, tidak peduli muslim atau bukan. Saya bilang, itu berarti bagus karena mereka mencoba berbagi kebahagiaan dengan orang yang tidak merayakan lebaran. Lagi-lagi, menurut dia tidak seperti itu.


"Itu namanya rata tapi diskriminatif. Sama rata itu tidak adil. THR dan parcel kan maksudnya agar lebaran jadi nggak garing. THR bisa dipakai buat ongkos mudik juga. Parcelnya bisa dipake untuk menjamu tamu. Cara pandang mereka masih dengan kacamata orang Islam. Buat kami, parcel dan THR akan lebih berharga diberikan nanti menjelang hari raya kami." Saya sempat bertanya, lalu yang tidak punya hari raya, bagaimana? "Ah, tanya saja satu per satu, kalau mau diberikan pas ulang tahun mereka... ya berikan saja," jawabnya. Saya bilang, bukannya jadi merepotkan? Misalnya, lebih mudah, dan murah, membeli parcel-parcel itu dan membagikannya di saat yang sama, bukan?. "Judulnya nggak mau repot aja kan? Menghargai perbedaan itu emang repot kok, masalahnya kita mau apa nggak. Itu aja."


Sebagai minoritas baru (karena pilihannya), tak jarang ia mendapatkan pertanyaan biasa namun dengan nada tak sedap dari seorang kawan kerjanya seperti, "kenapa kamu jadi seperti ini?", "apa kamu salah bergaul?". Kawan saya bukan orang yang tak mau menjawab hal-hal seperti itu. Oh, dia sangat senang sekali berdiskusi tentang itu, namun tentu saja, bukan dengan orang yang bertanya dengan tatapan sinis.


Dia benar-benar kecewa dengan lembaganya karena urusan-urusan seperti itu dianggap sepele. Memang benar sepele, ia akui. Tapi justru dari hal-hal kecil lah perubahan dimulai. Untuk apa berkoar-koar soal ide besar perdamaian jika kebutuhan kecil seperti itu saja luput dari perhatian. Sebuah kelompok akan dinilai bukan dari apa yang ia berikan untuk kelompok atau orang lain, tapi juga dari bagaimana ia memperlakukan anggota kelompoknya. Boleh saja lembaganya memperjuangkan adanya dunia yang lebih indah tapi kesejukannya ternyata bahkan belum bisa dinikmati orang-orang yang berada di dalamnya. Miris.


Saya sempat berkomentar dengan nada canda. Selama ini kelompok minoritas sering berteriak-teriak agar kebutuhan mereka terakomodasi. Berharap agar kelompok mayoritas bisa memperlakukan minoritas dengan penuh penghargaan. Lalu bagaimana dengan kelompok minoritas sendiri, sudahkah menghargai mayoritas? Ataukah mayoritas memang tidak membutuhkan penghargaan semacam itu karena dengan kekuatan massa yang mereka miliki, secara otomatis semua kebutuhan mereka terpenuhi?


"Kami menghargai mereka. Itu jelas. Mereka pikir tak terganggu tidur kami dengan suara adzan di pagi hari dari tiga buah toa masjid samping rumah dengan volume maksimal. Mereka pikir tak tersinggung perasaan kami saat mereka menyebut kami 'non', padahal identitas kami beragam dan tak bisa disederhanakan begitu saja. Kami ucapkan selamat atas hari raya mereka, tapi sebagian dari mereka melarang umatnya mengirim hal yang sama kepada kami. Kami menerima semua itu dengan lapang, bukan karena kami takut, tapi kami mencoba menghargai mayoritas."


Saya paham maksud kawan saya. Yang dia harapkan adalah bukan hanya pengakuan dan penerimaan bahwa kelompok minoritas ini ada, namun diperlakukan dengan adil. Bukan pukul rata sama rasa. Teringat saya kata guru saya, "Adil itu bukan berarti semua orang mendapatkan porsi yang sama besar, namun ia adalah ketika semua orang mendapatkan porsi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan."


Nah, saya jadi berpikir lagi. Apakah yang sudah dan sedang saya lakukan selama ini sudah adil? Bukan sekali dua kali saya anggap orang lain akan dengan senang hati menerima tangan saya. Merancang ini itu, melakukan ini itu atas nama kepentingan orang lain dan menganggap itu kebutuhan mereka. Toh saya pikir, saya juga akan senang jika diperlakukan demikian. Saya. Kacamata saya. Egois sekali saya.


Kalimat terakhir yang diucapkan teman saya ketika kami akan berpisah dan perlu beberapa waktu bagi saya memikirkannya karena cekaknya otak saya adalah, "Ya, mayoritas dan minoritas memang cuma masalah posisi. Namun juga, saya mungkin minoritas dalam hal ini, tapi dalam hal lain bisa jadi saya mayoritas."
baca selengkapnya

21 Juli 2010

Bahasa Cinta


Saya punya kawan, seorang India. Cerdas. Dia terpilih sebagai ‘National Talent Search Scholar' dari pemerintah India dari 2001-2008. Tapi bukan soal kecerdasan intelektualnya yang ingin saya ceritakan. Selain otaknya encer, dia juga cerdas secara sosial.


Suatu sore, setelah penatnya mendapatkan materi ini itu soal pluralisme dan tetek bengeknya di sebuah acara, saya dan beberapa kawan, termasuk kawan saya itu, lantas memutuskan untuk mojok di sebuah warung kopi. Kebetulan sang bapak yang punya warung sedang sibuk mengecat pagar di belakang warungnya. Untunglah, mungkin karena melihat muka kami yang bagai musafir tersesat di padang pasir kehabisan persediaan air,dengan baik hati dia menghentikan kegiatannya dan membuka warung yang bahkan masih gembokan.


Ternyata, kawan India saya itu sudah pernah nangkring di sana juga sehari sebelumnya. Kata kawan saya, kemarin mereka sempat mengobrol. Cuma... sang bapak tidak bisa berbahasa Inggris dan kawan saya tidak bisa bicara Indonesia! Saya membayangkan kalau mereka berkomunikasi ala Tarzan. Kehadiran saya di sana ternyata dibutuhkan untuk mereview obrolan mereka kemarin. Yang membuat saya kagum adalah ternyata kawan saya bisa menangkap apa yang dibicarakan si bapak, tanpa paham arti per katanya. Dengan santai, kawan saya bilang,"Yang kita butuhkan adalah bahasa cinta."


Bahasa cinta. Klasik rasanya mendengar soal ini, namun entah kenapa, saya merinding saat mendengarnya (merinding sering saya rasakan bukan saat merasakan kehadiran makhluk halus, lebih sering karena terharu). Tapi, ya seperti biasa, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Padahal modalnya ternyata cuma satu: kesabaran. Tanpa kata-kata, kita bisa paham apa yang ingin diutarakan orang lain. Beruntung, potensi ini dimiliki oleh bangsa kita yang seringkali enggan untuk mengatakan hal yang sebenarnya di muka umum, merasa apa yang hendak dikatakan kurang pantas atau bisa menyinggung perasaan orang lain (setidaknya begitu kata kawan saya dari Amerika). Masalahnya, kadang modalnya kita gak punya, kurang sabar.


Tapi tenang saja, urusan sabar nggak sabar nggak ada hubungannya dengan etnis atau suku bangsa tertentu. Buktinya,kawan saya yang lain yang datang dari negara yang sama dengan kawan yang saya ceritakan di awal, ternyata ya sama aja kurang sabarannya. Bukan apa-apa, bagi saya yang kemampuan bahasa inggrisnya cuma beda selapis sama anak kelas 3 SD, membutuhkan waktu agak lama untuk mencerna omongan bahasa inggris ala India yang super cepat.


Bahasa cinta ini adalah mungkin satu-satunya bahasa yang tidak punya grammar, berlaku universal (setidaknya secara geografis, saya belum tahu kalau secara historis). Tak perlu kamus atau kursus ini itu untuk bisa lancar berbahasa ini, karena pada dasarnya kita sudah punya kemampuan itu. Boleh saja orang di Amerika sarapannya roti, orang Afrika kulitnya gelap, orang Hindu percaya pada karma, namun bagaimanapun kita semua pada dasarnya sama: manusia. Makhluk paling egois yang ada di muka bumi ini, bahkan antara sesamanya. Gawatnya, egoisme ini lalu menjadi terkolektif dan digunakan untuk menyerang yang lain yang kita anggap berbeda: agama lain, bangsa lain, etnis lain, keyakinan politik lain, spesies lain bahkan bumi yang kita tinggali sendiri. (Lho malah jadi ceramah...).


Ya inti tulisan saya singkat aja, gak perlu repot-repot belajar apa itu pluralisme, multikulturalisme, human development dan sebagainya karena sejatinya bukan itu yang kita butuhkan. Kita hanya butuh satu hal untuk memahami yang kita anggap lain dengan kita: bahasa cinta.
baca selengkapnya

18 Juli 2010

Pendidikan Oh Pendidikan


Campur-campur rasanya baca berita kemarin tentang beberapa siswa dan orang tua siswa yang mendatangi sebuah kantor bantuan hukum untuk meminta bantuan terkait masalah yang muncul di sekolah. Satu kasus, sekelompok siswa yang (di)tidak naik kelas(kan) mengadu mereka tidak naik kelas gara-gara memprotes tidak transparannya sekolah soal biaya pendidikan. Kasus lain, orang tua murid meneriakkan biaya tak masuk akal sebesar hampir 2 juta rupiah hanya untuk seragam sekolah yang bermacam-macam plus tetek bengeknya.


Soal siswa naik kelas (dan tidak lulus) di Indonesia menjadi masalah yang serius memang. Syarat naik atau lulus tidaknya siswa ternyata tidak cukup hanya dari nilai akademik yang bagus. Aspek moral dan kepribadian menjadi pertimbangan juga. Masalahnya, sudahkah pendidikan kita membentuk moral dan pribadi positif? Maaf, pendidikan agama yang saya tahu yang diajarkan di sekolah-sekolah tak lebih dari menghapal cara praktek beribadah. Pendidikan moral pancasila (atau kewarganegaraan dsb yang bahkan saya tidak tahu sekarang namanya apa), juga tidak jauh beda. Pasal, ayat, undang-undang, peraturan abcd, tidak memberikan efek juga bagi berkembangnya kualitas kepribadian. Mungkin benar kata ayah saya, dulu ada pendidikan budi pekerti yang beliau rasa telah memberikan nilai lain dalam dunia pendidikan.


Seragamisasi. Diawali dari seragam sekolah yang dalam satu minggu bisa 3-4 macam jenisnya. Di sekolah kejuruan, ditambah pula dengan seragam praktek ini itu. Belum jas almamater. Belum jilbab bagi siswi muslim. Saya pribadi masih setuju dengan penyeragaman pakaian sekolah, asal disediakan dengan harga murah oleh negara dan jenis bahan juga ditentukan secara nasional. Ya, kita tau sendiri kan, dengan mudah kita bisa mengidentifikasi mana siswa yang orang tuanya berkecukupan hanya dari jenis bahannya saja, meskipun dengan warna dan model yang serupa dengan kawan-kawan lainnya. Tidak habis pikir saya kalau satu sekolah bisa punya seragam sampai 4 stel! Kalau bahasa gaulnya, lebay...


Penyeragaman ini juga berlanjut pada bagaimana semua siswa harus seragam dalam cara berpikir dan berperilaku. Semoga sekolah sekarang tidak seperti saat saya sekolah dulu dimana sulit sekali mendapatkan jawaban dari guru jika kita mengajukan pertanyaan yang agak nyeleneh. Cara belajar juga masih 1 arah. "Ada pertanyaan?" seakan-akan hanya jadi formalitas agar proses belajar terkesan lebih hidup. Atau jangankan buat bertanya, melihat tampang gurunya yang agak seram aja langsung jiper.


Satu hal lagi tentang pendidikan. Yang ini saya dapat dari cerita kawan saya dari Uganda. Di sana, guru bisa kena skors, atau bahkan ditarik ijin mengajarnya, jika ketahuan memberikan materi tambahan di luar jam sekolah alias les! Bukan karena mencemarkan nama baik sekolah atau video pribadinya terakses siswa! Sistem ini dibuat oleh pemerintah Uganda agar semua siswa yang bersekolah mendapatkan informasi dan pengetahuan yang sama rata. Saya ingat waktu sekolah dulu, ada guru yang menawarkan les juga. Saya tidak ikut, dengan alasan biaya dan malas hehehe... Hasilnya, ajaib, kawan saya punya teknik jitu dan cepat untuk menjawab satu soal. Rupanya ada rumus rahasia yang sang guru hanya berikan untuk siswa-siswa yang dengan rela hati telah memberinya gaji tambahan. Jomplang sangat pengetahuan siswa yang les dan yang tidak.


Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan atau les privat semacamnya, mengindikasikan ada sesuatu yang keliru dalam sistem pendidikan nasional kita. Pertama, monitoring standar pendidikan di seluruh sekolah di Indonesia, tentang apa saja yang sudah diajarkan, sudahkah semua siswa mendapatkannya. Dengan sistem yang ada sekarang, apakah siswa di Papua juga terjamin mendapatkan pengetahuan yang sama dengan siswa di Jawa? Apakah siswa di sekolah negeri mendapatkan pengetahuan yang sama dengan siswa sekolah swasta. Jika karena alasan setiap daerah punya kebutuhan masing-masing, jawabannya jelas: sudah ada pendidikan muatan lokal. Kedua, lagi-lagi, soal gaji guru yang mengkhawatirkan (itu alasan kenapa saat SMP saya mengganti cita-cita saya dari guru menjadi arsitek, walaupun yang terakhir pun tidak tercapai).


Kalau yang terakhir ini unek-unek saya yang baru saja saya alami, tapi masih nyambung dengan dunia pendidikan. Ceritanya, saya ambil kursus bahasa inggris. Enam tahun diajarkan di sekolah lanjutan ternyata tidak punya pengaruh besar pada kualitas cas cis cus saya berbahasa inggris (kualitas pendidikannya yang cetek, lingkungan yang tidak memungkinkan berkembangnya kemampuan berbahasa, atau karena malas saja, saya tidak tahu pasti). Nah di kursus itu saya kaget karena dalam satu kelas ternyata kemampuannya bisa dikata tidak rata. Heran, padahal ada placement test. Untuk ukuran lembaga yang sudah punya nama malang melintang dalam urusan bahasa internasional, lagi-lagi saya heran karena isinya gitu-gitu aja. Boleh dibilang saya cuma refresh memori, bisa ditebaklah hasil akhirnya gimana, yang memang udah rada pinter ya nambah dikit, yang agak nggak pinter nambah dikit juga, hasilnya.. sama juga nggak rata. Nah, ini yang lebih heran, di akhir les, semua murid bisa lulus dan melanjutkan ke level selanjutnya! Alamak... Insting kritis (alias suudzon hehehe...) langsung bekerja, hmmm... tentu saja, dengan meluluskan siswa-siswa, harapannya mereka bakal terus ke level selanjutnya. Dengan kata lain, bertambahlah pemasukannya.


Astaga... saya tidak boleh berburuk sangka.
baca selengkapnya

14 Juni 2010

Siapa yang Porno?


Gatal juga rasanya tidak ikut mengomentari berita yang sedang panas belakangan ini. Video pribadi mirip Ariel, Luna dan Cut Tari yang dipublikasikan secara sembarangan oleh oknum tak bertanggung jawab telah menggeser sejumlah berita lain yang, sejujurnya, jauh lebih penting.


Dalam pemberitaan sejumlah media, seringkali disebutkan "Video porno yang dibintangi...". Menarik karena kata porno lantas menjadi tagline sendiri untuk menambah sensasi berita. Saya kok merasa agak gimana ya dengan istilah "video porno" dalam kasus Ariel. Saya bongkar ulang file UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi yang diskriminatif itu dan dapat jawaban soal perasaan saya yang agak-gimana-ya itu tadi. Masalahnya ternyata di definisi porno (grafi). Perlu digarisbawahi, ini menurut saya lho...


Saya kutipkan definisinya di pasal 1: Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.


Pertama, dalam pasal itu dijelaskan "... atau bentuk komunikasi lain..." artinya pornografi dikaitkan dengan sebuah proses komunikasi. Ada pengirim pesan, ada media, ada pesan, dan ada penerima pesan. Kalau itu koleksi saya pribadi yang saya contohkan di atas, saya rasa itu bukan bentuk komunikasi karena niat saya memang tidak ingin menyampaikan pada orang lain, tidak menargetkan siapa penerima pesannya. Tulisan yang saya buat tidak akan menjadi bentuk komunikasi jika saya hanya menyimpannya di hard disk. Kembali ke soal video adegan berhubungan seks, video tersebut menurut saya di-'porno'-kan oleh orang yang menyebar, membuatnya menjadi dapat dilihat oleh orang lain, menjadi ada penerima pesannya. Berarti, apanya atau siapanya yang porno?


Kedua, "...yang dapat membangkitkan hasrat seksual ...". Video yang tersebar itu ternyata tidak membangkitkan hasrat seksual saya, dan mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama. Mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu atau lebih fokus pada hal lain hehe... Soal nilai-nilai kesusilaan, mari pikirkan bersama, kalau melanggarnya tidak mengganggu orang lain apa ya tidak boleh? Orang bebas memilih mau berhubungan seks dengan siapa, dan beberapa orang tidak lagi menyekat diri kalau berhubungan seks harus dalam bingkai pernikahan saja. Asal tidak ada pemaksaan, dilakukan bertanggung jawab dan mempertimbangkan aspek kesehatan. Toh kita tidak akan bermimpi buruk di malam hari atau lantas tidak bisa bekerja hanya karena ada tetangga kita yang berhubungan seks di luar nikah.


Adegan hubungan seksnya juga dilakukan di dalam kamar tertutup. Melanggar nilai kesusilaan? Merekamnya sama saja seperti kita mendokumentasikan sedang plesir dimana, apa juga melanggar kesusilaan? Yang melanggar kesusilaan jelas yang menyebarkan video tersebut. Katakanlah saya seorang terkenal sedang bertelanjang di dalam rumah lalu iseng merekam kehidupan sehari-hari saya untuk koleksi saya pribadi, lalu ada orang iseng mengambil rekaman tersebut, itu sudah melanggar kesusilaan karena jelas mencuri. Apalagi sampai disebarkan di internet.


Saya berani bilang, media massa juga porno. Dengan pemberitaan yang berulang-ulang dan seakan tanpa henti, media massa telah memberikan akses kepada masyakarat bahwa ada video tersebut. Yang tadinya tidak tahu jadi tahu, yang awalnya biasa saja lama-lama jadi penasaran. Seakan-akan media massa menyapa "Hei, pemirsa, ada video anu lho..."


Latah 'porno' ini tidak hanya dilakukan media massa. Beberapa kalangan masyarakat yang merasa bertanggung jawab atas rusaknya tidaknya moral bangsa ini lantas melakukan aksi. Ada yang mengecam videonya. Ada pula yang menghujat artis-artis yang disinyalir ada dalam video. Kok ya tidak ada aksi yang mengecam penyebar videonya ya? Terakhir saya dengar berita beberapa sekolah sampai melakukan razia hp siswa-siswanya untuk memastikan video tersebut tidak ada dalam koleksi mereka. Beruntung Komnas Anak merespon bahwa hal tersebut melanggar hak siswa. Saat razia napza juga polisi sempat memeriksa hp orang-orang yang terkena razia. Walah... Coba dicek hp ibu bapak gurunya, ibu bapak polisinya ada videonya juga tidak?


Semua orang menjadi paranoid, moral bangsa ini akan rusak karena tiga video yang menyebar (bu, pak, coba koneksi internet... ada berapa banyak dan sudah dari kapan mendownload video apapun begitu mudahnya dilakukan). Mungkin ibu dan bapak yang lebih punya pengalaman soal seks ini merasa terangsang secara seksual saat melihat video tersebut, akhirnya mengategorikan video itu porno. Terus siapa dan apanya yang porno?


Racikan kisah selebritis dicampur dengan isu seksualitas yang meskipun banyak orang mencerca namun diam-diam menikmati, menjadi menu sempurna untuk ditayangkan di televisi atau dicetak sebagai headline di surat kabar. Semakin banyak orang menonton dan membaca, semakin laku medianya, semakin banyak orang ingin menaruh iklan, semakin banyak keuntungan. Menyenangkan. Kasus apapun, siapapun, jika dicampur dengan bumbu seksualitas pastilah diminati banyak orang. Ditambah dengan pro kontra yang kemudian muncul, jadilah kasus yang terus menerus menguntungkan untuk digali. Sudah lewat dari seminggu sejak video Ariel, Luna dan Cut Tari menyebar di internet, sampai sekarang beritanya masih saja hangat. Kalau hal berbau seksualitas dianggap porno oleh masyarakat, namun media massa menyajikan berita macam itu berulang-ulang karena tahu dapat menarik banyak peminat, lantas siapa yang porno?
baca selengkapnya

30 Mei 2010

Sendiri Tanpa Kesepian


Saya sedang duduk sendiri di sebuah kedai kopi. Entah, tiba-tiba haus latte. Jarang saya nongkrong sendiri cuma buat ngopi. Tapi apa boleh buat, pulang dari sebuah acara, di akhir long weekend, mengharapkan kawan seperti menangkap angin saja.
Beruntung, saya orang yang cukup bisa menikmati kesendirian. Bahkan saya sering dengan sengaja menciptakan kesendirian untuk saya sendiri, walaupun tak jarang pula saya tiba-tiba merasa sendirian. Misalnya, saya rela tidak pergi kemana-mana di akhir minggu hanya untuk menikmati sendiri. Berbuat apapun yang saya mau tanpa harus terikat orang lain. Nonton tv, film, obrak-abrik corel, ngetik ini itu, baca buku yang segelnya belum sempat terbuka sejak saya beli beberapa bulan lalu. Buat saya, selalu ada hal yang bisa saya lakukan saat sendiri. Membuat kesendirian tidak menjelma menjadi kesepian.
Saya jadi ingat kawan baik saya yang sering tidak bisa menikmati waktu sendiri yang sebetulnya sangat ia inginkan. Ceritanya, dia punya teman satu kos yang hampir tiap malam menyambangi kamarnya untuk bercerita ini itu. Kasihan... Dua-duanya saya kasihani.


Saya kasihan pada kawan saya karena meskipun dia sudah asertif mengatakan ia sedang ingin sendiri (dengan alibi ingin belajar, sudah ngantuk, dan sebagainya) nyatanya, sang teman tidak kunjung mengerti juga. Walaupun kawan saya bukan tipe orang yang tidak mau peduli pada urusan orang lain, tapi mendengarkan cerita yang itu-itu saja pastilah bosan juga. Gawatnya lagi, kawan saya ini, hampir mirip dengan saya, sering lebih nyaman saat sendiri dibandingkan ditemani orang lain.


Saya juga kasihan pada temannya. Mungkin (karena saya juga tidak tahu betul), dia tipe kebalikan kawan saya. Temannya ini mungkin justru orang yang lebih nyaman saat ada orang lain dibandingkan harus menghabiskan hari sendirian. Mungkin juga dia tidak punya hobi yang lebih seru dilakukan sendirian. Kedua orang ini punya kebutuhan yang berbeda karena karakteristik yang berbeda. Yang satu merasa tanpa orang lain adalah hanya kesendirian, sementara yang lain menganggapnya sebagai suatu kesepian.


Saya dulu juga pernah mengalami hal ini. Di kos saya dulu ada tetangga kamar yang rajin berkunjung ke kamar saya. Entah untuk bertanya ini itu, curhat, atau mengajak ngobrol biasa. Padahal, saya sendiri bukan orang dengan tingkat sosialisasi level advance. Tapi, untung saja, teman saya juga punya pengertian. Kalau saya bilang mau belajar atau mengantuk, dia segera undur diri (entah pindah ke kamar lain atau masuk kamarnya sendiri, setel musik kencang).


Di kantor, sekarang saya punya ruangan sendiri yang agak terpisah dengan ruangan lain. Membuat saya sangat nyaman berada di ruangan saya yang meskipun lebih cocok disebut gudang dibandingkan ruang kerja. Apalagi kalau saya sudah di depan komputer, kawan-kawan saya sering mengatai saya, yang saya sangat tidak suka karena cenderung melecehkan orang-orang tertentu.


Saat saya kecil, selain bermain dengan satu anak depan rumah, saya biasanya bermain sendiri. Bisa dihitung berapa kali teman sekolah yang main ke rumah saya secara bergerombol. Saat itu, luasnya rumah saya dan mainan yang diberikan orang tua, sudah cukup menghibur saya. Sementara dua kakak saya juga sudah punya dunia mereka sendiri. Ya sudah... Efek langsungnya, saat sekolah saya merasa kuper. Kadang minder juga. Tapi lagi-lagi, selalu ada komik, TV, games, yang menjadi 'teman' saya. Saya sendiri tapi tidak kesepian.


Efek jangka panjangnya, ya saya sekarang ini. Mungkin agak sulit diterima orang lain, apalagi kultur di kita yang masih guyub. Ya mereka mungkin dari kecil merasakan keseruannya bermain bersama teman. Saya juga sadar, teman itu penting. Sering kok saya mengerem keinginan saya untuk sendiri demi bisa bersosialisasi dengan kawan karib. Mungkin karena saking seringnya, orang lain sampai tidak melihat sisi saya yang sesungguhnya ini. Buat saya tidak masalah, toh saya sering juga senang saat berada di antara teman-teman.


Yang jadi masalah, sekarang kesendirian saya yang merembet pada kesepian adalah saat saya akan tidur. Kok rasa-rasanya bakal lebih nyaman jika ada orang lain yang menemani tidur ya? Sindrom orang dewasakah? Semakin bertambah usia, teman dekat kita semakin sedikit, bukan? Atau naluri manusia untuk menemukan pasangannya? Entah... Tapi yang jelas, saya tidak kebelet ingin menikah (setidaknya dalam waktu dekat)
baca selengkapnya