18 Juli 2010

Pendidikan Oh Pendidikan


Campur-campur rasanya baca berita kemarin tentang beberapa siswa dan orang tua siswa yang mendatangi sebuah kantor bantuan hukum untuk meminta bantuan terkait masalah yang muncul di sekolah. Satu kasus, sekelompok siswa yang (di)tidak naik kelas(kan) mengadu mereka tidak naik kelas gara-gara memprotes tidak transparannya sekolah soal biaya pendidikan. Kasus lain, orang tua murid meneriakkan biaya tak masuk akal sebesar hampir 2 juta rupiah hanya untuk seragam sekolah yang bermacam-macam plus tetek bengeknya.


Soal siswa naik kelas (dan tidak lulus) di Indonesia menjadi masalah yang serius memang. Syarat naik atau lulus tidaknya siswa ternyata tidak cukup hanya dari nilai akademik yang bagus. Aspek moral dan kepribadian menjadi pertimbangan juga. Masalahnya, sudahkah pendidikan kita membentuk moral dan pribadi positif? Maaf, pendidikan agama yang saya tahu yang diajarkan di sekolah-sekolah tak lebih dari menghapal cara praktek beribadah. Pendidikan moral pancasila (atau kewarganegaraan dsb yang bahkan saya tidak tahu sekarang namanya apa), juga tidak jauh beda. Pasal, ayat, undang-undang, peraturan abcd, tidak memberikan efek juga bagi berkembangnya kualitas kepribadian. Mungkin benar kata ayah saya, dulu ada pendidikan budi pekerti yang beliau rasa telah memberikan nilai lain dalam dunia pendidikan.


Seragamisasi. Diawali dari seragam sekolah yang dalam satu minggu bisa 3-4 macam jenisnya. Di sekolah kejuruan, ditambah pula dengan seragam praktek ini itu. Belum jas almamater. Belum jilbab bagi siswi muslim. Saya pribadi masih setuju dengan penyeragaman pakaian sekolah, asal disediakan dengan harga murah oleh negara dan jenis bahan juga ditentukan secara nasional. Ya, kita tau sendiri kan, dengan mudah kita bisa mengidentifikasi mana siswa yang orang tuanya berkecukupan hanya dari jenis bahannya saja, meskipun dengan warna dan model yang serupa dengan kawan-kawan lainnya. Tidak habis pikir saya kalau satu sekolah bisa punya seragam sampai 4 stel! Kalau bahasa gaulnya, lebay...


Penyeragaman ini juga berlanjut pada bagaimana semua siswa harus seragam dalam cara berpikir dan berperilaku. Semoga sekolah sekarang tidak seperti saat saya sekolah dulu dimana sulit sekali mendapatkan jawaban dari guru jika kita mengajukan pertanyaan yang agak nyeleneh. Cara belajar juga masih 1 arah. "Ada pertanyaan?" seakan-akan hanya jadi formalitas agar proses belajar terkesan lebih hidup. Atau jangankan buat bertanya, melihat tampang gurunya yang agak seram aja langsung jiper.


Satu hal lagi tentang pendidikan. Yang ini saya dapat dari cerita kawan saya dari Uganda. Di sana, guru bisa kena skors, atau bahkan ditarik ijin mengajarnya, jika ketahuan memberikan materi tambahan di luar jam sekolah alias les! Bukan karena mencemarkan nama baik sekolah atau video pribadinya terakses siswa! Sistem ini dibuat oleh pemerintah Uganda agar semua siswa yang bersekolah mendapatkan informasi dan pengetahuan yang sama rata. Saya ingat waktu sekolah dulu, ada guru yang menawarkan les juga. Saya tidak ikut, dengan alasan biaya dan malas hehehe... Hasilnya, ajaib, kawan saya punya teknik jitu dan cepat untuk menjawab satu soal. Rupanya ada rumus rahasia yang sang guru hanya berikan untuk siswa-siswa yang dengan rela hati telah memberinya gaji tambahan. Jomplang sangat pengetahuan siswa yang les dan yang tidak.


Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan atau les privat semacamnya, mengindikasikan ada sesuatu yang keliru dalam sistem pendidikan nasional kita. Pertama, monitoring standar pendidikan di seluruh sekolah di Indonesia, tentang apa saja yang sudah diajarkan, sudahkah semua siswa mendapatkannya. Dengan sistem yang ada sekarang, apakah siswa di Papua juga terjamin mendapatkan pengetahuan yang sama dengan siswa di Jawa? Apakah siswa di sekolah negeri mendapatkan pengetahuan yang sama dengan siswa sekolah swasta. Jika karena alasan setiap daerah punya kebutuhan masing-masing, jawabannya jelas: sudah ada pendidikan muatan lokal. Kedua, lagi-lagi, soal gaji guru yang mengkhawatirkan (itu alasan kenapa saat SMP saya mengganti cita-cita saya dari guru menjadi arsitek, walaupun yang terakhir pun tidak tercapai).


Kalau yang terakhir ini unek-unek saya yang baru saja saya alami, tapi masih nyambung dengan dunia pendidikan. Ceritanya, saya ambil kursus bahasa inggris. Enam tahun diajarkan di sekolah lanjutan ternyata tidak punya pengaruh besar pada kualitas cas cis cus saya berbahasa inggris (kualitas pendidikannya yang cetek, lingkungan yang tidak memungkinkan berkembangnya kemampuan berbahasa, atau karena malas saja, saya tidak tahu pasti). Nah di kursus itu saya kaget karena dalam satu kelas ternyata kemampuannya bisa dikata tidak rata. Heran, padahal ada placement test. Untuk ukuran lembaga yang sudah punya nama malang melintang dalam urusan bahasa internasional, lagi-lagi saya heran karena isinya gitu-gitu aja. Boleh dibilang saya cuma refresh memori, bisa ditebaklah hasil akhirnya gimana, yang memang udah rada pinter ya nambah dikit, yang agak nggak pinter nambah dikit juga, hasilnya.. sama juga nggak rata. Nah, ini yang lebih heran, di akhir les, semua murid bisa lulus dan melanjutkan ke level selanjutnya! Alamak... Insting kritis (alias suudzon hehehe...) langsung bekerja, hmmm... tentu saja, dengan meluluskan siswa-siswa, harapannya mereka bakal terus ke level selanjutnya. Dengan kata lain, bertambahlah pemasukannya.


Astaga... saya tidak boleh berburuk sangka.
baca selengkapnya

14 Juni 2010

Siapa yang Porno?


Gatal juga rasanya tidak ikut mengomentari berita yang sedang panas belakangan ini. Video pribadi mirip Ariel, Luna dan Cut Tari yang dipublikasikan secara sembarangan oleh oknum tak bertanggung jawab telah menggeser sejumlah berita lain yang, sejujurnya, jauh lebih penting.


Dalam pemberitaan sejumlah media, seringkali disebutkan "Video porno yang dibintangi...". Menarik karena kata porno lantas menjadi tagline sendiri untuk menambah sensasi berita. Saya kok merasa agak gimana ya dengan istilah "video porno" dalam kasus Ariel. Saya bongkar ulang file UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi yang diskriminatif itu dan dapat jawaban soal perasaan saya yang agak-gimana-ya itu tadi. Masalahnya ternyata di definisi porno (grafi). Perlu digarisbawahi, ini menurut saya lho...


Saya kutipkan definisinya di pasal 1: Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.


Pertama, dalam pasal itu dijelaskan "... atau bentuk komunikasi lain..." artinya pornografi dikaitkan dengan sebuah proses komunikasi. Ada pengirim pesan, ada media, ada pesan, dan ada penerima pesan. Kalau itu koleksi saya pribadi yang saya contohkan di atas, saya rasa itu bukan bentuk komunikasi karena niat saya memang tidak ingin menyampaikan pada orang lain, tidak menargetkan siapa penerima pesannya. Tulisan yang saya buat tidak akan menjadi bentuk komunikasi jika saya hanya menyimpannya di hard disk. Kembali ke soal video adegan berhubungan seks, video tersebut menurut saya di-'porno'-kan oleh orang yang menyebar, membuatnya menjadi dapat dilihat oleh orang lain, menjadi ada penerima pesannya. Berarti, apanya atau siapanya yang porno?


Kedua, "...yang dapat membangkitkan hasrat seksual ...". Video yang tersebar itu ternyata tidak membangkitkan hasrat seksual saya, dan mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama. Mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu atau lebih fokus pada hal lain hehe... Soal nilai-nilai kesusilaan, mari pikirkan bersama, kalau melanggarnya tidak mengganggu orang lain apa ya tidak boleh? Orang bebas memilih mau berhubungan seks dengan siapa, dan beberapa orang tidak lagi menyekat diri kalau berhubungan seks harus dalam bingkai pernikahan saja. Asal tidak ada pemaksaan, dilakukan bertanggung jawab dan mempertimbangkan aspek kesehatan. Toh kita tidak akan bermimpi buruk di malam hari atau lantas tidak bisa bekerja hanya karena ada tetangga kita yang berhubungan seks di luar nikah.


Adegan hubungan seksnya juga dilakukan di dalam kamar tertutup. Melanggar nilai kesusilaan? Merekamnya sama saja seperti kita mendokumentasikan sedang plesir dimana, apa juga melanggar kesusilaan? Yang melanggar kesusilaan jelas yang menyebarkan video tersebut. Katakanlah saya seorang terkenal sedang bertelanjang di dalam rumah lalu iseng merekam kehidupan sehari-hari saya untuk koleksi saya pribadi, lalu ada orang iseng mengambil rekaman tersebut, itu sudah melanggar kesusilaan karena jelas mencuri. Apalagi sampai disebarkan di internet.


Saya berani bilang, media massa juga porno. Dengan pemberitaan yang berulang-ulang dan seakan tanpa henti, media massa telah memberikan akses kepada masyakarat bahwa ada video tersebut. Yang tadinya tidak tahu jadi tahu, yang awalnya biasa saja lama-lama jadi penasaran. Seakan-akan media massa menyapa "Hei, pemirsa, ada video anu lho..."


Latah 'porno' ini tidak hanya dilakukan media massa. Beberapa kalangan masyarakat yang merasa bertanggung jawab atas rusaknya tidaknya moral bangsa ini lantas melakukan aksi. Ada yang mengecam videonya. Ada pula yang menghujat artis-artis yang disinyalir ada dalam video. Kok ya tidak ada aksi yang mengecam penyebar videonya ya? Terakhir saya dengar berita beberapa sekolah sampai melakukan razia hp siswa-siswanya untuk memastikan video tersebut tidak ada dalam koleksi mereka. Beruntung Komnas Anak merespon bahwa hal tersebut melanggar hak siswa. Saat razia napza juga polisi sempat memeriksa hp orang-orang yang terkena razia. Walah... Coba dicek hp ibu bapak gurunya, ibu bapak polisinya ada videonya juga tidak?


Semua orang menjadi paranoid, moral bangsa ini akan rusak karena tiga video yang menyebar (bu, pak, coba koneksi internet... ada berapa banyak dan sudah dari kapan mendownload video apapun begitu mudahnya dilakukan). Mungkin ibu dan bapak yang lebih punya pengalaman soal seks ini merasa terangsang secara seksual saat melihat video tersebut, akhirnya mengategorikan video itu porno. Terus siapa dan apanya yang porno?


Racikan kisah selebritis dicampur dengan isu seksualitas yang meskipun banyak orang mencerca namun diam-diam menikmati, menjadi menu sempurna untuk ditayangkan di televisi atau dicetak sebagai headline di surat kabar. Semakin banyak orang menonton dan membaca, semakin laku medianya, semakin banyak orang ingin menaruh iklan, semakin banyak keuntungan. Menyenangkan. Kasus apapun, siapapun, jika dicampur dengan bumbu seksualitas pastilah diminati banyak orang. Ditambah dengan pro kontra yang kemudian muncul, jadilah kasus yang terus menerus menguntungkan untuk digali. Sudah lewat dari seminggu sejak video Ariel, Luna dan Cut Tari menyebar di internet, sampai sekarang beritanya masih saja hangat. Kalau hal berbau seksualitas dianggap porno oleh masyarakat, namun media massa menyajikan berita macam itu berulang-ulang karena tahu dapat menarik banyak peminat, lantas siapa yang porno?
baca selengkapnya

30 Mei 2010

Sendiri Tanpa Kesepian


Saya sedang duduk sendiri di sebuah kedai kopi. Entah, tiba-tiba haus latte. Jarang saya nongkrong sendiri cuma buat ngopi. Tapi apa boleh buat, pulang dari sebuah acara, di akhir long weekend, mengharapkan kawan seperti menangkap angin saja.
Beruntung, saya orang yang cukup bisa menikmati kesendirian. Bahkan saya sering dengan sengaja menciptakan kesendirian untuk saya sendiri, walaupun tak jarang pula saya tiba-tiba merasa sendirian. Misalnya, saya rela tidak pergi kemana-mana di akhir minggu hanya untuk menikmati sendiri. Berbuat apapun yang saya mau tanpa harus terikat orang lain. Nonton tv, film, obrak-abrik corel, ngetik ini itu, baca buku yang segelnya belum sempat terbuka sejak saya beli beberapa bulan lalu. Buat saya, selalu ada hal yang bisa saya lakukan saat sendiri. Membuat kesendirian tidak menjelma menjadi kesepian.
Saya jadi ingat kawan baik saya yang sering tidak bisa menikmati waktu sendiri yang sebetulnya sangat ia inginkan. Ceritanya, dia punya teman satu kos yang hampir tiap malam menyambangi kamarnya untuk bercerita ini itu. Kasihan... Dua-duanya saya kasihani.


Saya kasihan pada kawan saya karena meskipun dia sudah asertif mengatakan ia sedang ingin sendiri (dengan alibi ingin belajar, sudah ngantuk, dan sebagainya) nyatanya, sang teman tidak kunjung mengerti juga. Walaupun kawan saya bukan tipe orang yang tidak mau peduli pada urusan orang lain, tapi mendengarkan cerita yang itu-itu saja pastilah bosan juga. Gawatnya lagi, kawan saya ini, hampir mirip dengan saya, sering lebih nyaman saat sendiri dibandingkan ditemani orang lain.


Saya juga kasihan pada temannya. Mungkin (karena saya juga tidak tahu betul), dia tipe kebalikan kawan saya. Temannya ini mungkin justru orang yang lebih nyaman saat ada orang lain dibandingkan harus menghabiskan hari sendirian. Mungkin juga dia tidak punya hobi yang lebih seru dilakukan sendirian. Kedua orang ini punya kebutuhan yang berbeda karena karakteristik yang berbeda. Yang satu merasa tanpa orang lain adalah hanya kesendirian, sementara yang lain menganggapnya sebagai suatu kesepian.


Saya dulu juga pernah mengalami hal ini. Di kos saya dulu ada tetangga kamar yang rajin berkunjung ke kamar saya. Entah untuk bertanya ini itu, curhat, atau mengajak ngobrol biasa. Padahal, saya sendiri bukan orang dengan tingkat sosialisasi level advance. Tapi, untung saja, teman saya juga punya pengertian. Kalau saya bilang mau belajar atau mengantuk, dia segera undur diri (entah pindah ke kamar lain atau masuk kamarnya sendiri, setel musik kencang).


Di kantor, sekarang saya punya ruangan sendiri yang agak terpisah dengan ruangan lain. Membuat saya sangat nyaman berada di ruangan saya yang meskipun lebih cocok disebut gudang dibandingkan ruang kerja. Apalagi kalau saya sudah di depan komputer, kawan-kawan saya sering mengatai saya, yang saya sangat tidak suka karena cenderung melecehkan orang-orang tertentu.


Saat saya kecil, selain bermain dengan satu anak depan rumah, saya biasanya bermain sendiri. Bisa dihitung berapa kali teman sekolah yang main ke rumah saya secara bergerombol. Saat itu, luasnya rumah saya dan mainan yang diberikan orang tua, sudah cukup menghibur saya. Sementara dua kakak saya juga sudah punya dunia mereka sendiri. Ya sudah... Efek langsungnya, saat sekolah saya merasa kuper. Kadang minder juga. Tapi lagi-lagi, selalu ada komik, TV, games, yang menjadi 'teman' saya. Saya sendiri tapi tidak kesepian.


Efek jangka panjangnya, ya saya sekarang ini. Mungkin agak sulit diterima orang lain, apalagi kultur di kita yang masih guyub. Ya mereka mungkin dari kecil merasakan keseruannya bermain bersama teman. Saya juga sadar, teman itu penting. Sering kok saya mengerem keinginan saya untuk sendiri demi bisa bersosialisasi dengan kawan karib. Mungkin karena saking seringnya, orang lain sampai tidak melihat sisi saya yang sesungguhnya ini. Buat saya tidak masalah, toh saya sering juga senang saat berada di antara teman-teman.


Yang jadi masalah, sekarang kesendirian saya yang merembet pada kesepian adalah saat saya akan tidur. Kok rasa-rasanya bakal lebih nyaman jika ada orang lain yang menemani tidur ya? Sindrom orang dewasakah? Semakin bertambah usia, teman dekat kita semakin sedikit, bukan? Atau naluri manusia untuk menemukan pasangannya? Entah... Tapi yang jelas, saya tidak kebelet ingin menikah (setidaknya dalam waktu dekat)
baca selengkapnya

2 Mei 2010

S.E.K.S


Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang kawan di sebuah coffee shop. Sengaja janjian di tempat yang agak elit bukan karena gaya, tapi karena kawan saya butuh tempat yang nyaman untuk bercerita. Ya, dia mau curhat. Selesai memesan lattee irish, sang kawan tanpa babibu langsung bertanya, “menurut lo, dalam sebuah hubungan seks penting gak sih?”


“Tergantung,” saya jawab singkat. Jawaban yang sebetulnya juga menggantung.


Kemudian dia bercerita tentang kehidupan asmaranya dengan pasangan yang sudah berlangsung hampir 4 tahun. Dia tidak menutupi kalau dalam hubungan mereka, hubungan seks juga hal yang biasa mereka lakukan. Yang menjadi masalah, ia merasa akhir-akhir ini hubungan seks mereka terasa hambar.


“Kayaknya gue terus yang minta,” katanya. Selama ini, ia mengaku lebih sering ia yang menginisiasi perilaku seks. Saya katakan mungkin pasangannya memang tipe pasif dalam urusan bercinta. Dia mengangguk setuju. “Tapi lo masih sayang dia?” tanya saya. Dia lagi-lagi mengangguk.


Ada kalanya sang pasangan bisa memberinya tidak hanya orgasme, namun kenikmatan. Sebuah kualitas. Subjektif. Setiap orang mungkin punya kriteria sendiri soal seks yang berkualitas seperti apa. Apakah karena variasinya, romantisme yang dibangun, foreplaynya, dan bla bla bla.


“Lo bayangin aja, gue udah nafsu, tapi dianya adem ayem. Foreplay aja kayak basa-basi. Seringnya sih gitu. Ya pernah sih yang gue ngerasa puas banget. Nah gue pengen kayak gitu terus,” jelasnya panjang lebar. Jika kawan saya ini mendapatkan kualitas yang dia inginkan, dia merasa bertambah rasa sayangnya. Tapi kalau tidak... “bikin males.”


Kualitas hubungan seks tak jauh-jauh dari bagaimana kita mengkomunikasikannya dengan pasangan. Itu saya dapat dari bahan bacaan saat saya masih sering cuap-cuap di radio. Terdengar mudah, tapi mungkin sulit untuk dilakukan karena alasan tidak enak dengan pasangan, merasa terlalu banyak menuntut, takut dikira macem-macem, dan sejuta alasan lain.


Dari kisah kawan saya, saya jadi tahu kalau kualitas hubungan seks sedikit banyak punya peran dalam memupuk rasa sayang. Kawan saya juga cerita kalau seks bisa jadi obat kangen mujarab. Maksudnya?


“Kadang kalau lama nggak ketemu kan garing-garing gimana gitu. Atau pas lagi ada masalah yang boro-boro pengen ketemu. Tapi setelah melakukan hubungan seks, kayaknya jadi plong aja. Dan biasanya dia ‘hot’ kalau lagi pas kayak gitu. Masak iya gue mesti nyari-nyari masalah dulu?”


Saya hanya mengangguk-angguk. Lagi, saya ingat bacaan saya dulu. Kepuasan yang dirasakan saat orgasme dipicu oleh aliran hormon –yang sayang sekali saya lupa namanya- yang meningkat. Hormon ini juga yang punya peran pada munculnya mood positif. Wajar kalau setelah berhubungan seks, kawan saya merasa plong. Tapi apa menyelesaikan masalah? “Ya nggaklah! Cuma kan habis itu kita bisa jadi ngobrol dalam kondisi relaks.”


Setelah mendengar cerita kawan saya, saya bisa menjawab kalau seks penting dalam sebuah hubungan. Bagi pasangan yang seksual aktif, kualitas seks punya andil dalam hubungan. Kualitasnya baik, hubungannya juga mungkin akan tambah baik (kecuali ada masalah lain seperti lupa janji, selingkuh, kebiasaan pasangan yang sering bikin ilfil, dan masalah lainnya). Apalagi jika seperti kawan saya, seks bisa menjadi ‘pintu’ untuk mengkomunikasikan masalah dengan pasangan. Sex after war mungkin istilahnya ya. Nah, bagi pasangan yang tidak seksual aktif, pentingnya seks berarti bagaimana saling menjaga komitmennya masing-masing untuk tidak berhubungan seks. Kalau ada pasangan yang tiba-tiba melanggar komitmen, kualitas hubungan mungkin juga akan renggang.


Ah ah... ini baru secuil tentang seks. Problem seks masih banyak di luar sana. Yang gara-gara seks ada orang bunuh pacarnya, gara-gara seks ada kerajaan yang siap berperang dengan kerajaan lain, gara-gara seks ada pejabat yang kehilangan mukanya. Seks juga yang menjadikan bumi ini padat penghuninya. Seks tidak hanya penting dalam sebuah hubungan, tapi jelas pentingnya dalam kehidupan manusia. Sayang, masih suka ditutup-tutupi!
baca selengkapnya

29 April 2010

Berawal dari Mimpi



Lima huruf: M-I-M-P-I

Hanya dari lima huruf itu, hidup manusia mungkin bisa berubah 180 derajat. Sering saya dengar orang sukses lantaran berani bermimpi. Bukan hanya mimpi di siang bolong, tapi mimpi yang berkeringat.

Saya seorang pemimpi. Sampai sekarang, belum selesai juga mimpi saya untuk menjadi seorang komikus. Tidak mau berusaha? Mungkin iya. Pertama, karena bakat gambar saya tidak terlalu mengagumkan, saya harus memiliki waktu ekstra untuk mengasahnya. Kedua, kegiatan saya yang lain harus saya kesampingkan, mengingat pengalaman membuat komik 2-3 halaman saja sudah cukup mencerabut saya dari realita kehidupan. "Ya sudah, jangan bermimpi!" teriak hati kecil saya. Untunglah, itu bukan mimpi saya yang menjadi prioritas. Masih ada mimpi lain yang ingin saya gapai dan sedang pelan-pelan saya wujudkan.

Saya ingat dulu saat lulus SMA, saya bermimpi ingin menjadi psikolog. Akan menyenangkan rasanya jika saya bisa membantu orang lain mencari solusi masalah (dan informasi tambahan dari sang ayah kalau pekerjaan itu juga menghasilkan uang yang cukup banyak, tapi untunglah itu hanya saya anggap bonus). Tidak tanggung-tanggung, saat ujian masuk universitas (saat itu masih berjudul UMPTN) saya daftar di dua universitas berbeda dengan fakultas yang sama: psikologi. Bimbingan belajar ekstra dua bulan sebelum seleksi pun saya ambil. Hasilnya? Tidak satupun diterima.

Saya lantas banting stir. Desain grafis. Sekalian menyalurkan hobi. Mendaftarlah saya di fakultas desain ITB. Hasilnya setali tiga uang, gagal. Beruntung ada universitas swasta yang bersedia menampung (dengan judul "kerjasama" ITB dengan beberapa universitas swasta). Ayah saya sempat memanggil saya di meja makan (hal yang jarang sekali dilakukan, kecuali ada kelakuan anak-anaknya yang perlu untuk ditegur). "Yakin kamu dengan pilihan kamu?" Bukan tanpa alasan beliau bertanya seperti itu, pertama, kuliah desain jelas butuh dana lebih besar. Kedua, soal masa depan yang mungkin bagi beliau kurang menjanjikan. Ketiga, beliau mungkin bisa membaca apa yang sebetulnya saya impikan. Saya jawab saja hanya untuk meyakinkan beliau, "Yakin!"

Semester pertama saya kuliah. Serius. Semua tugas saya kerjakan maksimal. Segera saya sadar, usaha saya ternyata masih jauh jika dibandingkan karya kawan-kawan saya yang lain. Mendaratlah keyakinan saya. Saya semakin merasa meskipun dunia itu saya suka, tapi bukan benar-benar yang ingin saya seriusi. Masuk semester dua, saya bilang pada ibu, "semester ini mama nggak usah bayar uang kuliahku. Aku nggak ngelanjutin." Beruntung sekali punya ibu bijak, bukannya diceramahi, beliau hanya bertanya rencana apa yang akan saya lakukan. "Daftar psikologi lagi!" kata saya. Beliau mengangguk.

Semester kedua di desain grafis hanya saya isi dengan kunjungan kampus. Datang ke kampus, membuat tugas seenak udel, kadang malah tidak mengerjakan sama sekali. Sisanya, saya habiskan untuk membuka kembali buku-buku pelajaran saya dan buku-buku contoh soal ujian seleksi masuk. Saya enggan mengambil bimbingan belajar lagi karena tahun lalu sudah terbukti tidak membantu saya.

Sebagai cadangan, saya juga ikut seleksi fakultas psikologi di universitas swasta di Bandung. Lolos. Tapi saya tetap fokus di seleksi negeri.
Saya belajar sendiri mati-matian. Saking niatnya, di hari terakhir seleksi, saya sempat mendengarkan siaran radio yang khusus membahas jawaban soal ujian masuk sekaligus menghitung hasilnya. Dari hitungan kasar, saya mungkin akan lolos di pilihan kedua saya: psikologi UGM.

Benar saja, saat pengumuman, tidak seperti tahun sebelumnya yang saya dan teman-teman seperjuangan rela bangun pagi untuk hunting koran, saya justru mendapatkan kabar dari sepupu kalau saya lolos. Lega.

Namun keinginan saya menjadi psikolog justru runtuh saat saya masih kuliah di psikologi. Saya suka psikologi, tapi tidak menjadi psikolog. Ayah saya lagi-lagi bingung dengan keinginan saya yang berubah-ubah. Tapi sepertinya beliau tahu kalau anaknya yang satu ini sekalinya memiliki sebuah keinginan sulit sekali untuk dibelokan. Sepertinya beliau juga tahu, saya tidak main-main dengan mimpi lain saya ini. Hanya bertahan tidak sampai 3 bulan beliau bertanya lamaran kerja kemana saja yang sudah saya kirim dan selalu saya jawab, "saya di LSM juga kerja."

Sekarang, saya sedang berusaha membuat nyata mimpi saya tersebut. Pelan-pelan saya persiapkan. Kegagalan sudah beberapa kali saya rasakan, justru membuat saya harus lebih mematangkan diri saya. Saya pernah gagal. Tapi saya juga pernah berhasil. Semua saya awali dengan bermimpi dan saya coba wujudkan dengan usaha.

"Saya tidak akan mengejar mimpi. Saya akan menciptakannya!"
baca selengkapnya

13 April 2010

Rasa Manusia


Hampir setiap rabu saya pergi ke Solo, sayangnya bukan untuk plesir. Singkatnya saya diminta kantor saya yang bekerja dengan sebuah lembaga di Jakarta untuk melakukan monitoring pendidikan kesehatan reproduksi bagi siswa SLB. Lain kali saja mungkin saya ceritakan begitu semangatnya mereka ikut kelas tersebut.


Pulang dari sekolah, sekitar pukul setengah 4 sore. Berbarengan dengan pekerja-pekerja pabrik yang hendak kembali ke rumah setelah seharian bekerja. Ketika saya hendak menyeberangkan motor dari pagar sekolah, saya melihat dua siswi SLB juga akan menyeberang. Karena penglihatan mereka terganggu, urusan menyeberang menjadi cukup sulit. Beberapa kali kaki mereka sudah menyentuh aspal, namun segera ditarik lagi karena mendengar derum kendaraan yang lalai sopan santun. Saya perhatikan beberapa pekerja pabrik yang baru pulang hanya melewati mereka begitu saja tanpa ada keinginan membantu, entah karena pemandangan itu hal yang lumrah bagi mereka, terlalu capai bekerja, atau memang sudah tumpul nuraninya.


Saya baru saja akan turun dari motor ketika salah seorang pekerja menggaet tangan salah satu siswi itu lalu membantunya menyeberang jalan. Entah kenapa saya merinding. Ternyata masih ada manusia yang ingin membantu. Masih ada manusia yang memiliki rasa manusia.


...


Perjalanan dari Solo menuju Jogja saya tempuh dengan susah payah karena hujan di sepanjang jalan. Hujan sempat berhenti saat saya keluar dari Kota Klaten. Segera saya melipat kembali mantel hujan saya. Namun menjelang perbatasan Klaten-Jogja, lagi hujan turun. Saya pun menepi di sebuah bangunan tak terawat. Saya tak sendiri. Tiga pengendara motor juga menepi di bawah atap seng itu, menyiapkan diri menembus hujan: menggulung ujung celana dan jaket, mengamankan beberapa barang yang tak tahan air, dan memakai mantel.


Belum sempat mantel dibuka, tiba-tiba terdengar suara tabrakan dari arah belakang kami. Saya lihat dua motor jatuh, satu orang pengendara berjalan menepi sambil terseok, sementara yang satunya terkapar di atas aspal.


Segera saya dan dua orang pengendara motor lain berlari hendak berusaha membantu. Saya kebagian mengangkat korban ke tepi bersama seorang laki-laki. Beberapa orang lain membantu menyingkirkan motor dari tengah jalan.
Kami mengangkat laki-laki tersebut ke sebuah rumah yang segera disambut oleh pemiliknya. Si pemilik rumah segera membawakan air putih hangat. Beruntung, korban tidak mengalami luka parah namun jelas shock terpancar dari raut mukanya. Melihat sudah cukup banyak orang membantu, saya mengundurkan diri dan kembali ke motor saya, kemudian melanjutkan perjalanan.


...


Apa yang hendak saya sampaikan? Begini, ibu saya mengajarkan saya untuk selalu menolong orang yang kesusahan. Tanpa pamrih. Namun lantas, doktrin-doktrin agama memberi tahu saya jika saya menolong orang lain, saya akan mendapatkan pahala. Saya rasa, hampir semua agama memiliki konsep yang sama soal ini.


Saya sebetulnya ingin mengajukan pertanyaan pada pekerja pabrik yang menolong menyeberangkan siswi yang penglihatannya terganggu atau pada laki-laki yang membantu orang yang baru saja mengalami kecelakaan, apakah mereka melakukannya karena termotivasi oleh doktrin dan konsep pahala itu?
Saat saya melakukannya, saya hanya ingat satu hal, bagaimana jika justru saya berada di posisi orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Mungkin saya percaya karma.


Saya merasa, ketika melakukan kebaikan, lebih banyak orang tergerak karena kemanusiaan mereka. Urusan pahala, baru ikut-ikut di belakangnya. Hubungan horizontal antar manusia, yang setiap hari kita geluti, nyata, mau tidak mau membuat kita semakin akrab dengan manusia lain, dengan diri kita sendiri. Sementara konsep tuhan yang saking abstraknya sepertinya menjadi mudah terlupakan oleh mereka yang justru mengaku memiliki agama, yang jelas-jelas mengajarkan prinsip ketuhanan. Ya mungkin itu jawaban mengapa banyak kekerasan terjadi atas nama agama. Mereka mungkin sudah tidak menginginkan pahala. Atau mungkin sudah mulai tidak percaya dengan konsep pahala. Parahnya, mungkin sudah lupa dengan tuhan yang secara lisan mereka yakini. Lantas untuk apa beragama? Satu yang pasti, mereka tidak berhasil mengakrabi dan menjadi diri mereka sendiri: manusia.
baca selengkapnya