23 April 2022

Pulang


Minggu siang, 17 April 2022. Saya sedang lari di Krommerijnpark ketika handphone saya bergetar. Nama adik saya tampil di layar, terbersit untuk mengacuhkan saja dan meneleponnya kembali ketika saya sudah di rumah. Tapi ada dorongan untuk menekan tombol hijau. Di ujung sana, sambil terisak adik saya berkata, “Papap pingsan, tapi udah nggak ada respon. Dede (panggilan saya di rumah) doain aja ya.”

Saya memintanya untuk menelpon ambulans agar ayah kami bisa dibawa ke rumah sakit, tapi dia bilang sedang menunggu kedua kakak saya sampai di rumah. Rumah mereka berdua hanya berjarak 200-300 meter dari rumah orang tua kami. Saya melanjutkan lari ke rumah walaupun pikiran saya sudah tidak karuan. Satu kilometer menjelang rumah, saya telepon kakak saya untuk menanyakan kondisi ayah. Jawabannya singkat, mengabarkan ayah sudah berpulang, baru saja. Kakak lalu menyerahkan handphone-nya ke ibu saya. Terbata-bata ibu bilang, “Kamu nggak usah pulang, nggak apa-apa, jauh...”. Seketika itu juga air mata saya pecah.

*

Sudah beberapa bulan belakangan kondisi ayah saya memburuk. Sejak terserang stroke dua puluh tahun lalu, kondisi kesehatannya memang tidak pernah seratus persen stabil, walaupun tidak pernah parah atau sampai harus dirawat di rumah sakit. Awal tahun ini ibu saya mengabarkan kondisi ayah yang kesulitan menelan dan sering merasa kesakitan di punggungnya. Bukan ayah saya namanya kalau bisa dibujuk begitu mudah untuk diperika ke dokter. Kalau dia sampai mau diperiksa, berarti memang sakitnya sudah tak tertahankan (atau mungkin juga sudah menyerah mendengar omelan istri dan anak-anaknya).

Bulan Februari, ayah minta video call dengan menggunakan handphone ibu. Suaranya serak kering, tidak sampai separuh yang dia ucapkan bisa saya bisa pahami. Ibu saya yang mencoba menjembatani percakapan kami. Ayah meminta maaf kalau selama ini tidak bisa memberikan banyak untuk anak-anaknya, meminta saya tidak perlu pulang kalau ada apa-apa, hal-hal seperti itu. Jauh di lubuk hati, saya tersentuh dengan kata-katanya, namun karena kami tidak pernah berbicara hati ke hati dan lebih banyak guyonnya, saya tanggapi dengan gaya becanda saja.

“Periksa ke dokter sana. Kalau nggak diobatin, nanti aku pulang ngobrolnya sama siapa?”

Tentu saat itu saya tidak tahu kalau itu akan menjadi momen terakhir saya berkomunikasi dengannya.

*

Hubungan saya dengan ayah mungkin tidak seperti ayah-anak kebanyakan orang. Mungkin baru setelah saya lulus kuliah saya baru bisa bercakap-cakap dengannya. Saat saya kecil, impresi saya terhadap ayah adalah galak, keras, nyleneh. Kepribadiannya ini seperti berubah bila ia bertemu dengan teman-temannya atau orang yang bertamu ke rumah. Mereka bisa bercakap-cakap berjam-jam lamanya sambil tertawa terbahak-bahak. Saya ingat saat saya SD kelas 3 atau 4, ada PR (pekerjaan rumah) matematika yang tidak bisa saya kerjakan. Saya hampir tidak pernah meminta bantuan orang tua saya, pun orang tua juga tidak pernah menawarkan bantuan. “Kapan belajarnya kalau dibantuin terus,” begitu seloroh ayah yang selalu saya ingat. Tapi untuk PR satu ini saya benar-benar menyerah. Saya selonjoran di lantai menunggu ayah saya selesai menerima tamunya sehingga saya bisa minta tolong mengerjakan PR saya. Tapi sampai jam 9 malam, saya tidak dipedulikannya sama sekali. Saya tidak ingat bagaimana akhirnya nasib si PR, tapi saya ingat apa yang saya rasakan: merasa tidak diperhatikan. Saya baru paham kemudian kalau dia ingin menanamkan nilai untuk berusaha semaksimal mungkin demi mendapatkan sesuatu yang saya harapkan.

Saat saya kecil, komunikasi lebih banyak satu arah dari ayah. Seringkali dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, terutama soal agama, yang sulit dicerna oleh anak setingkat SD-SMP. Misalnya, tiba-tiba membagi pandangannya mengenai konsep surga dan neraka, yang tidak sama plek dengan pandangan banyak orang. Topik-topik yang memuat saya enggan berlama-lama di dekat dia.

Tapi kadang emosinya tidak dapat diduga. Pernah suatu kali saat saya SMA dan belajar menyetir, saya menjerembabkan mobil dinas ayah ke kubangan besar depan rumah. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, 90% badan mobil berada di dalam kubangan. Untung sedang musim kemarau. Saya sudah panik, habis ini pasti saya didamprat ayah. Ketika ayah saya bangun dan mengetahui kondisi mobilnya, dia minta supirnya untuk memanggil mobil derek dan mengabari kantor kalau dia akan telat. Dia sama sekali tidak menengok ke arah saya --yang saya yakin sedang berkeringat dingin sebesar-besar biji jagung, justru kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan tidur. Lha…

Mungkin baru sekitar 10 tahunan ke belakang hubungan kami agak dekat. Saya semakin paham pola berpikir ayah saya yang tidak biasa, yang lebih banyak miripnya dengan pola berpikir saya hehehe… Saya sudah bisa menjadi mitra diskusinya, duduk berjam-jam, berbicara tentang politik, agama, mistis dan banyak hal lain. Saya bisa menyampaikan pandangan-pandangan saya, kadang dia meresponnya dengan diam sebentar, mencoba memahami. Dia pun semakin banyak terbuka tentang masa lalunya, tidak hanya apa yang sudah dia lakukan, tapi juga apa yang dia rasakan, membuat saya lebih paham mengapa dia berperilaku seperti ini dan itu.

Butuh waktu dan penjelasan berulang-ulang untuk meyakinkan dia mengenai beberapa pilihan hidup saya, seperti tidak bekerja sebagai PNS (yang dia harapkan) dan tidak menikah. Saya ingat pada awal-awal, dia masih berusaha menunjukkan kalau keputusan-keputusan saya tidak benar di matanya. Saya juga menjelaskan dengan malas-malas kenapa saya memutuskan ABCD. Tapi makin lama, dia mulai menjelaskan secara logika mengapa dia memojokkan saya terus dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dan dia juga mulai mendengarkan. Sampai ketika saya pamit untuk pindah ke Belanda, dia memberikan restunya. Sambil merokok dan mencondongka badan ke arah saya, dia bilang, “Kalau kamu sudah yakin, ya sudah. Papap cuma tidak ingin kamu nantinya menyesal. Itu hak kamu untuk memutuskan jalan hidup kamu.” Dia melepas saya dengan air mata, hal yang jarang sekali saya lihat darinya. Karena pada saat bersamaan adik saya juga memutuskan pindah ke Bogor, saya pikir mungkin dia sedihnya karena kepindahan adik, yang saya selalu menganggapnya sebagai anak kesayangan ayah saya.

*

Setelah tahu kondisi ayah yang semakin memburuk, saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia bulan Juni depan. Sekalian liburan. Sejak saya pindah ke Belanda, saya belum pernah pulang karena banyak alasan, terutama COVID-19. Saya merasa sudah waktunya pulang dan mengunjungi kedua orang tua dan saudara. Hanya kepada adik saya mengatakan rencana saya itu karena saya khawatir jika terjadi sesuatu yang membatalkan rencana saya, ayah dan ibu tidak akan terlalu kecewa.

*

Setelah mendengar kabar meninggalnya ayah, saya bergumul dengan apakah saya harus pulang saat itu juga atau tidak sama sekali, mengikuti kata-katanya dan ibu saya. Jelas tidak mungkin saya bisa mengikuti proses pemakaman karena saya tahu keluarga saya, sesuai keyakinan, tidak akan menunda pemakaman. Toh pulang saat itu juga tidak mungkin karena protokol COVID-19, saya harus melakukan tes PCR terlebih dulu dan hasilnya baru keluar 24 jam kemudian. Kepada adik, saya berpesan untuk tidak perlu menjadikan saya sebagai pertimbangan untuk proses jenazah selanjutnya. Saya mengatakan pada diri sendiri, mungkin setelah menyaksikan proses pemakaman, saya bisa memutuskan apakah saya harus pulang atau tidak. Pemakaman dilakukan Senin pagi dan saya hanya bisa melihat melalui video call.

Selasa, 19 April 2022, saya pulang. Kepulangan dengan perasaan asing. Ada satu sisi saya yang mengatakan kalau ini semua tidak benar-benar terjadi. Kalau saya pulang, ayah masih akan ada di sana, mengundang saya duduk di depan televisi dan mengajak saya bercakap-cakap, menertawakan politisi, berteori ini itu tentang COVID-19, perang Rusia-Ukraina, dan mungkin juga dia akan bercerita tentang kakak kandungnya yang baru meninggal tahun lalu. Ada bagian dalam diri saya yang menolak kalau saat saya pulang, ayah ternyata sudah “pulang”.

Pap, terima kasih atas didikannya, ajarannya, kasihnya dan keterbukaannya. Pulanglah dengan tenang.

baca selengkapnya

15 Agustus 2019

Mainnya Kurang Jauh (?)

Beberapa waktu lalu, seorang kawan menulis status di akun sosial medianya tentang temannya yang gemar menyebar hoax. Kawan saya merasa miris karena temannya itu tampak berpendidikan dan pergaulannya tingkat internasional, tapi berita yang disebarkan seringkali tak dapat dibuktikan kebenarannya dan diperparah dengan nada-nada kebencian. Agak mirip, kawan saya yang lain juga pernah update status, soal temannya yang tinggal di luar negeri bertahun-tahun tapi ya sebelas dua belas, hobi sebar hoax. Lha katanya yang pola pikirnya gitu-gitu aja itu karena mainnya kurang jauh? Kurang jauh apa itu Amerika? Masa iya harus sampe Saturnus?

Satu hal yang perlu digarisbawahi, Mbak, Mas, hoax itu aja istilahnya dari sono, yang artinya ya di Amerika, Inggris, Brazil, Spanyol, Jepang, India, sampai Haiti, yang percaya dan doyan sebar hoax ya banyak juga. Tapi saya nggak akan bahas soal dunia per-hoax-an ini, ada hal lain yang mencolek memori saya, yaitu saat saya tinggal di Jogja dan Belanda. 

Sebagai pelajar dari Indonesia, saat saya melanjutkan kuliah master di Belanda, saya juga bergabung di grup PPI. Tapi sebatas whatsapp group hahaha… Kegiatan lain macam jalan-jalan (menu utamanya kan ye?), diskusi, atau pengajian bagi yang muslim, tidak pernah saya ikuti. Selain alasan bedanya jadwal kuliah saya dengan jadwal kuliah kampus lain, saya juga merasa, “Lha di sini cuma kuliah setaun doang, masak ya ketemunya Indonesia melulu.” Bagi saya, tiga teman dari Indonesia yang kuliah bareng sudah cukup untuk tidak benar-benar tercerabut dari perindonesiaan (terutama kalo udah gatel banget pengen casciscus bahasa Indonesia!).

Adalah ayah saya yang agaknya punya peran soal sikap saya ini. Saya lahir dan besar di Majalengka, kota kecil di Jawa Barat. Karena letaknya lebih dekat ke Cirebon dan perbatasan Jawa Tengah, budaya Sundanya memang tak sekental di wilayah lain, seperti Bandung atau Cianjur. Bahasa Sunda yang kami pakai sehari-hari pun tergolong bukan bahasa halus, meskipun dari SD sampai SMP diajari tingkatan-tingkatan bahasa ini. Toh itu tidak melunturkan identitas saya sebagai orang Sunda. Kemudian saya mengikuti jejak ayah saya, kuliah di Yogyakarta. Saya ingat di awal-awal masa kuliah, teman SMA yang kuliah di UGM juga beberapa kali mengajak saya ikut kegiatan mahasiswa-mahasiswi Majalengka yang ada di Yogyakarta. Teman kuliah saya yang asal Ciamis juga pernah mengajak saya ke Asrama Kujang, asrama untuk pelajar yang datang dari Jawa Barat. Tapi saya tidak pernah tertarik untuk bergabung.

“Ya kalau kamu gaulnya sama orang Majalengka, kuliah di Unma* aja sana!” begitu seloroh ayah saya waktu saya pertama kali cerita tentang ajakan dari teman saya (sekedar informasi, Unma adalah Universitas Majalengka. Iya ada!). And I got the point! Kalau orang bilang kuliah jauh-jauh itu bisa memperluas wacana, itu benar. Tapi dengan syarat: otak sama hati juga disiapkan.

Tahun kedua saya kuliah di Jogja, saya memilih berkegiatan di luar kampus, jadi relawan di sebuah organisasi. Selain berjuang mengunyah informasi-informasi yang relatif baru buat saya, saya juga harus berjuang memahami bahasa Jawa. Saya bersyukur sekali karena kawan-kawan saya di sana tidak pernah menyerah berbicara dan bercanda dengan saya dalam bahasa Jawa. Dan ya, belajar bahasa itu tidak cukup soal perbendaharaan kata atau struktur kalimat, tapi lebih dari itu: konteks! Hasilnya memang tidak lantas saya jadi mahir berbahasa Jawa ya (apalagi kromo. Saya nyerah. Bahasa Sunda halus aja saya gelagepan haha…), tapi setidaknya saya merasa tidak terasing saat saya berkumpul dengan teman-teman saya yang asli Jogja atau Jawa. 

Berbaur dengan orang Jawa di tanah Jawa mengajarkan saya untuk menghormati dan menghargai mereka. Segala stigma negatif soal orang Jawa yang saya dengar selama saya tinggal di wilayah Sunda pun meluntur. Saya merasa ada lebih banyak kesamaan di antara kami, dibandingkan perbedaan. Menariknya, di sisi lain, saya justru merasa kadar kesundaan saya (jika memang ada), naik beberapa level. Dari yang dulunya sama sekali tidak pernah secara sadar dan penuh niat memutar lagu-lagu Sunda, eh lha pas di Jogja saya malah suka dengerin lagu-lagu Sunda, bahkan nyari-nyari di Youtube. Pengalaman yang mirip saya alami saat saya melanjutkan kuliah ke Belanda. Saya merasa saya lebih ngendonesia dibandingkan saat saya tinggal di Indonesia. Salah satu buktinya adalah saya lebih sering makan Indomie saat saya tinggal di sini dibandingkan saat saya di Indonesia (tolong, bedakan nasionalis dengan mahasiswa kurang duit dan kurang kreatif).

baca selengkapnya

31 Agustus 2018

Nepotisme?

Saya sudah menerima hasil basisexamen inburgering. Hasilnya? Memuaskan donk. Yang penting sih lulus jadi nggak harus tes ulang. Maka perjuangan untuk pindah Belanda pun berlanjut. Selain formulir dari IND yang harus diisi, saya juga harus menyiapkan beberapa dokumen yang harus diterjemahkan dan dilegalisir. Dokumen pertama adalah akte lahir, yang akan saya butuhkan saat saya lapor diri di gementee di Belanda. Tapi pengalaman saya saat kuliah di sana, pihak gementee di Diemen tidak meminta akte lahir. Nyesek juga sih soalnya udah bayar translasi dan legalisir eh taunya gak dipake. Untunglah untuk legalisir dokumen yang satu ini masih bisa dipakai tanpa ada validity period, tidak seperti surat keterangan belum kawin yang legalisirnya hanya diakui jika dibuat tidak lebih dari 6 bulan.

Nah, ngomong-ngomong soal surat keterangan belum kawin, hari Senin kemarin saya ngurus dokumen ini. Karena Kartu Keluarga saya masih jadi satu dengan orang tua, maka saya harus pulang kampung. Hasil browsing di internet memberikan saya informasi kalau surat ini bisa didapatkan dengan mengajukan permintaan dulu ke RT/RW lalu diproses di Kantor Kelurahan dan dilegalisir di Kantor Urusan Agama, jika pemohon tercatat beragama Islam (untuk agama lain bisa diurus di Kantor Catatan Sipil). Dari pengalaman beberapa orang yang bisa langsung ke Kantor Kelurahan, saya juga memutuskan untuk langsung ke Kantor Kelurahan yang hanya berjarak 300 meter dari rumah. Ibu saya ikut menemani. Bener, bukan saya yang minta lho! (gak mau banget dianggap anak mami). Alasan beliau, biar urusannya cepet, yang terbukti benar.

Sampai di Kantor Kelurahan, ibu saya langsung disapa oleh beberapa pegawai, tampaknya ibu saya cukup dikenal. Lalu ditanyakan ada keperluan apa. Salah satu pegawainya mengonfirmasi bahwa surat keterangan belum kawin bisa dibuatkan di sana, tanpa harus melewati RT/RW. Dengan sigap, sang pegawai langsung mengerjakan surat tersebut, dengan sebelumnya meminta fotokopi Kartu Keluarga. Saya dan ibu saya menunggu sekitar 10 menitan. Tidak ada biaya sama sekali untuk mengurus surat ini, tapi ibu saya merasa harus memberikan amplop terima kasih kepada pegawai yang telah membantu. Mungkin kebiasaan dari jaman dulu ya. 

Dari Kantor Kelurahan, kami meluncur ke Kantor Urusan Agama (lebih tepat disebut Kantor Urusan Agama Islam, nggak sih?). Di ruang depan kantor tersebut, seorang warga sedang berbincang dengan petugas perempuan, dalam Bahasa Sunda, tentu saja. Saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira seperti ini:

“Jadi gimana? Gimana?” tanya sang petugas.

“Saya udah mendaftar untuk menikah bulan depan. Tapi saya mau pinjam dulu dokumennya untuk difotokopi karena tempat kerja saya minta,” terang si warga.

“Jadi udah daftar? Tapi mau fotokopi?” sang petugas sepertinya belum yakin dengan apa yang diinginkan si warga.

“Iya, surat keterangannya mau saya pinjam untuk difotokopi,” kata si warga.

Saya dan ibu saya hanya berpandang-pandangan. Walaupun saya tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan, dan saya yakin ibu saya juga demikian, tapi sepertinya kami sama-sama merasakan kalau urusan di KUA ini akan sedikit ribet.

“Iya, Ibu ada urusannya apa?” kata sang pegawai kepada ibu saya, setelah menyuruh si warga untuk menunggu hingga ada pegawai lain yang bisa memahami maksudnya.

“Ini anak saya butuh legalisir surat,” jawab ibu saya sambal menyerahkan map yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Sang petugas menerima map tersebut dan membaca sekilas isinya.

“Memangnya ini harus dilegalisir di sini ya, Bu?” tanya si petugas.

Lha…

Kemudian datang petugas lain, seorang laki-laki, menghampiri kami. Si petugas perempuan bertanya kepada si petugas laki-laki soal legalisir surat tersebut. Yang ditanya tampaknya juga tidak punya jawaban dan memberikan solusi agar kami menunggu sampai kepala KUA-nya datang, yang saat itu sedang ke luar kantor untuk menikahkan warga. Si petugas laki-laki lalu mengajak ibu saya berbincang, rasa-rasa pernah kenal sebelumnya. Eh ternyata iya, petugas ini saudaranya temannya bla bla... ibu saya. Dan dimulailah percakapan si A dimana sekarang, si B dimana, sampai HIJKLMN. Si petugas pamit untuk urusan lain sambil mengatakan kalau legalisir surat aja bisa cepat kok.

Kini tinggal saya dan ibu saya duduk di ruang depan mengamati petugas yang hilir mudik dan serombongan orang yang akan melakukan akad nikah di KUA. Ibu saya tiba-tiba bilang, 

“Tenang aja, mama tau kok kepalanya ini. Dia itu saudaranya saudara mama dari bla… bla… bla…” Yang sekarang saya tidak bisa ingat lagi simpul-simpul keluarga mana yang mempertemukan ibu saya dengan sang kepala KUA.

Setelah sekitar setengah jam kami menunggu, sang kepala KUA akhirnya datang. Dengan gesit, ibu saya langsung menghampiri dan tak lupa mengeluarkan jurus ‘ingat-gak-sama-saya’. Sang kepala KUA mengenali ibu saya, menanyakan kabar dan maksudnya datang ke KUA. Setelah membaca surat dari Kantor Kelurahan, dia menggangguk,

“Ah ya, ini dilegalisir di sini,” katanya sambal menyerahkan suratnya ke bawahannya. Beberapa petugas yang ada di sana mengangguk-angguk ‘Oh-I-see’ yang membuat saya semakin yakin kalau mereka mungkin tidak pernah menerima permintaan untuk melegalisir surat keterangan belum kawin sebelumnnya.

Lega rasanya karena urusan selesai. Jasa besar lagi diberikan oleh ibu untuk saya. Membuat urusan perbirokrasian ini menjadi lebih cepat. Eh, tapi cara-cara seperti ini termasuk nepotisme nggak sih? Hahaha… 

Saya coba cek di KBBI, hasilnya:

nepotisme/ne·po·tis·me/ /népotisme/ n 1 perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat; 2 kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah; 3 tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan.

So, mungkin saya dan ibu saya mengambil keuntungan dari koneksi ibu saya di kantor-kantor pemerintahan untuk urusan surat ini. Kalau yang minta legalisir itu misalnya orang yang sama sekali tidak punya kenalan di KUA, apakah akan semudah kami mendapatkan legalisir? Tapi kok saya punya pembenaran ya. Toh para pegawai kantornya aja pada nggak paham apa yang diperlukan warganya. Jadi ya kita maen tembak aja prosedurnya gimana. Ya nggak? 
baca selengkapnya

9 Juli 2018

Saya dan Belanda

September 2016 saya ke Belanda. Itu memang bukan kali pertama saya menjejakkan kaki di negeri kincir angin tersebut. Tapi kali itu berbeda dengan perjalanan saya sebelumnya. Saya akan tinggal selama 1 tahun untuk kuliah. Akhirnya mimpi saya sejak kecil terwujud juga.

Adalah sepupu ibu saya yang pertama kali mengilhami saya untuk bisa ke Belanda. Saya lupa tepatnya, kira-kira saat saya masih kelas 2 atau 3 SD, ibu mengajak saya ke rumah salah satu tantenya yang anak pertamanya baru pulang dari Belanda. Saya tak yakin apakah sepupu ibu saya itu kuliah di sana untuk S1, S2 atau untuk short course, yang pasti saya terkesima dengan ceritanya tentang negeri di Eropa sana itu, dengan oleh-oleh keramik Blue Delft (ini baru saya tahu namanya bertahun-tahun kemudian). 

Cita-cita saya untuk kuliah ke Belanda sempat “terganggu” karena kecintaan saya terhadap manga dan anime. Ya saya pernah kepikiran untuk kuliah di Jepang. Bahkan, pilihan ketiga UMPTN (adek-adek, google lah apa itu UMPTN - saya ambil IPC yang 3 opsi) saya ambil Sastra Jepang. Gak jelas juga sebetulnya mimpi saya dulu itu apa. ‘Jepang kayaknya seru tuh’. Udah. Eh yang jebol justru pilihan pertama di Psikologi UGM. Tahun kedua saya kuliah di Jogja, saya bahkan ikut les Bahasa Jepang. Lumayan satu level doang, habis itu nyerah seiring dengan melunturnya hobi saya baca manga dan nonton anime. Plus, sepertinya psikologi dan isu-isu sosial yang semakin saya tekuni, agak kurang pas ya kalo dipelajari di Jepang. Mulai kembalilah saya pada mimpi saya dulu: Belanda. Lulus S1 tahun 2007, saya langsung hunting beasiswa sana-sini karena hal yang mustahil bagi saya untuk membiayai sendiri, atau minta orang tua. Beberapa kali saya ditolak, akhirnya males mau lanjut usaha. Ketahuilah saudara-saudara, buat apply beasiswa itu butuh energi dan waktu. Plus dana buat perbarui hasil IELTS atau TOEFL.

Sepupu saya dari pihak ayah, yang dari jaman sekolah selalu juara kelas, aktif di kegiatan sekolah, dan bahkan dapet jalur khusus kuliah di UI, berangkat ke Belanda, kalau tidak salah tahun 2009, dengan beasiswa StuNed. Terbit kembalilah hasrat saya untuk melanjutkan kuliah. Saya mulai persiapan lagi. Kali ini jauh lebih serius. Apalagi mengingat prestasi saya itu ibarat remahan rengginang jika dibandingkan setoples rengginang sepupu saya. Bertambah pula motivasi saya untuk ke Belanda karena tahun 2010 saya bertemu dengan seorang Belanda.

Tahun 2011, saya dapat dua LoA dari dua universitas di Belanda. Saya juga ambil les Bahasa Belanda di Erasmus Taalcentruum di Kedutaan Belanda di Jakarta. Saya lulus level 1. Sayangnya, beasiswa untuk kuliah belum saya dapatkan. Tahun 2012 saya coba lagi. Dewi Fortuna belum juga mau nyapa saya. Kendor lagi lah semangatnya. Gitu ya saya mah hahaha… Tapi masih lanjut kursus lagi. Kali ini di Karta Pustaka Yogyakarta karena saya memutuskan untuk balik ke Jogja. Karena sistem belajarnya agak berbeda dengan di ETC, meskipun menggunakan bahan ajar yang sama, saya tidak bisa benar-benar lanjut ke level 2. Jadi kalau ditanya, udah level berapa Bahasa Belanda saya, saya selalu jawab: 1,5. Hehehe…

Tahun 2014 saya pindah ke Jakarta lagi dan saya memutuskan untuk fokus kerja aja dulu lah, merapikan CV biar lebih mantap kalau mau daftar beasiswa lagi.

Well, akhirnya aplikasi StuNed saya tahun 2016 diterima juga. Saya beruntung karena di fase baru mereka sedang coba saring penerima beasiswa hanya melalui satu tahap seleksi: administrasi saja. Gila juga. Tapi mereka mengurangi hampir separuh kuotanya, jadinya ya boleh dibilang sama aja ketatnya. Oya, setelah saya coba ambil psikologi beberapa kali dan gagal, kemudian menyadari kalau jalur karir saya gak ada psikologi-psikologinya (ada sih, tapi dikit), lalu tiba-tiba dapet email blast dari seorang rekan dari jaringan kerja tentang Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) yang punya program master’s degree in public health yang spesifik di isu sexual and reproductive health and rights dan saya daftar dan keterima, akhirnya saya masukkan KIT dalam aplikasi StuNed saya. Dan ya, berhasil! Keberuntungan saya yang lain adalah isu kesehatan sebetulnya bukan lagi prioritas untuk StuNed. Dan saat StuNed Day di Kedutaan Besar Indonesia tahun 2017, saya ngobrol dengan orang StuNed yang bilang kalau StuNed akan menghentikan kerja samanya dengan KIT karena, again, isu kesehatan tidak lagi menjadi prioritas mereka. Tapi jangan khawatir, handai taulan yang pengen kuliah di KIT dengan beasiswa, masih bisa coba curi kesempatan dari Orange Knowledge Programme (dulu bernama Netherlands Fellowship Programme) atau beasiswa dari KIT.

Satu tahun di Belanda saya tidak hanya belajar materi kuliah. Hmm… terdengar seperti promosi beasiswa-beasiswa luar negeri: Anda juga akan belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, belajar bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda, belajar mengembangkan sayap dan menempatkan diri dalam kancah internasional, bla bla… Ya itu memang benar, saya rasakan sendiri saat saya kuliah. Tapi yang paling saya rasakan saat saya kembali ke Indonesia adalah… sepertinya Belanda memang lebih cocok dengan pilihan hidup saya. Ayah saya sepertinya sudah mencium niat saya ini. Saat saya pulang ke rumah orang tua setelah menyelesaikan kuliah saya di Belanda, dia bilang, “Lho, kirain kamu nggak akan pulang ke Indonesia…” Saya cuma nyengir.

Kalau kuliah ke Belanda sudah nongkrong di otak saya sejak kecil, pindah ke Belanda mungkin relatif baru. Seringnya juga keinginan itu datang dan pergi. Mungkin karena sebelum-sebelumnya otak saya masih mengategorikan rencana itu sebagai mimpi, perasaan yang muncul lebih ke excitement gak jelas. Sekarang saat saya benar-benar (ingin) membulatkan tekad untuk pindah ke sana, justru muncul keragu-raguan: siapkah saya meninggalkan Indonesia? Keluarga, teman, pekerjaan, gorengan pinggir jalan, ojek online? Sebetulnya saya ini kepedean terlalu dini. Sebelum bisa pindah ke sana, jalannya gak gampang. Pertama saya harus lulus inburgeringsexamen, alias tes Bahasa Belanda dasar (level A1) dan pengetahuan seputar Belanda. Untuk tes ini, saya masih sedang mempersiapkan sejak saya kembali ke tanah air. Walaupun belum pede, saya nekad aja daftar dulu untuk tes. Lima hari kemudian saya dapat konfirmasi, dan saya diminta untuk mengontak Kedutaan Belanda untuk membuat janji kapan akan tes. Dan keluarlah tanggal 9 Juli 2018! Dag dig dug kan…(**) Jika hasil tesnya memenuhi syarat, barulah saya bisa apply visa MVV untuk resident permit. Tentu saja ada sekian dokumen yang harus saya urus terlebih dulu, tidak seperti saat saya apply MVV untuk kuliah yang jauh lebih mudah. Setelah mendapatkan MVV dan terbang ke Belanda, saya harus ambil inburgeringsexamen A2 dalam waktu 3 tahun agar saya benar-benar bisa dianggap terintegrasi dengan masyarakat Belanda. Dan, tentu saja, saya harus cari pekerjaan di sana. Well, it is still hard to believe that in a few months, if I pass the exam and the visa is granted, I will start my new journey. It won’t be easy, indeed. But I’m preparing myself to be ready.


(**) Kabar gembira datangnya tidak hanya dari mastin. Saya baru aja selesai inburgeringsexamen! Cukup pede sih dengan ujiannya (ga tau juga hasilnya gimana tar haha…), berkat rajin latihan dan minum milo setiap hari. Buat kalian yang mau ikut ujian ini dan mau latihan, cek blog satu ini. Berguna banget, dan Mbak Geraldine-nya ramah dan suka menolong. Pengalaman saya pribadi tentang inburgeringsexamen ini? Tar aja deh kalo hasilnya udah keluar, gak enak sama tetangga.

baca selengkapnya

6 Februari 2018

Maaf dan Terima Kasih

Hari Minggu kemarin saya belanja untuk keperluan harian di supermarket yang ada di mall yang jaraknya hanya lima menit jalan kaki dari tempat saya tinggal (Ya Tuhan, berikan hamba-Mu ini kekuatan…). Salahnya saya sendiri tidak mempertimbangkan kalau hari Minggu itu pusat-pusat perbelanjaan pasti ramai, jadilah acara belanja yang harusnya singkat dan padat, acara kali ini tidak hanya memakan waktu lama tapi juga menguji mental. Ya elah, masak beli pisang, roti, sama susu aja pake ujian mental segala? Begini ceritanya.

Kejadian pertama, saat saya ngantri untuk minta ditimbangkan pisang, di depan saya adalah seorang ibu yang menerima buah yang sudah ditimbangkan dan diberi label harga oleh petugas supermarketnya. Sambil tersenyum, si petugas mengucapkan terima kasih. Yang diberi ucapan justru melengos aja gitu dengan muka judes. Kok saya agak gimana gitu ya?

Saya lalu ke bagian camilan. Saat saya sedang mempertimbangkan dengan penuh seksama wafer mana yang akan saya beli, jari kelingking kaki saya digilas roda baby stroller. Sadar kalau baby strollernya sudah tidak berada di jalan yang benar, saya rasakan si stroller ditarik balik. Otomatis saya lihat siapa oknumnya. Yang dipandang balik melihat saya dengan muka datar. Sungguh datar. Saya coba mengernyitkan dahi dan memberi kode, “Ada sesuatu yang seharusnya kamu katakan, bukan?” Tidak ada suara apapun, saudara-saudara. Santai aja gitu belokin strollernya.

Kejadian selanjutnya adalah saat saya antri di kasir. Di depan saya adalah seorang bapak usia paruh baya dengan kereta dorongan penuh belanjaan. Kemudian datang seorang perempuan usia SMA, menambahkan belanjaan ke dalam kereta, berbicara sesuatu kepada si bapak yang membuat saya mengambil kesimpulan kalau dia anaknya, lalu si perempuan itu pergi. Si bapak sudah berada di depan petugas kasir ketika si anak perempuan kembali dengan barang lain, lalu ia bergabung dengan perempuan lain, yang mungkin ibunya, yang menunggu di pintu masuk supermarket. Lalu mereka pergi entah kemana.

Si bapak sibuk sendiri memindahkan belanjaan ke counter kasir. Petugas kasir memberikan sehelai nota yang baru saja dia cap, “Pak, ini barangnya diambil lagi di counternya ya.”

“Ini barang apa ya, Mbak?”

“Ini kosmetik, Pak. Diambil di counter (menyebut merek).”

Saat si bapak itu membayar dengan kartu debitnya, seorang laki-laki muda, kira-kira usia SMA juga, muncul dari balik komputer kasir, menyodorkan deodorant roll-on kepada si bapak,

“Ini. Eh, masih bisa kan, Pak?” Tanpa melihat adanya beberapa orang yang sedang mengantri. Si bapak mengatakan kalau belanjaannya baru dibayar dengan kartu. Laki-laki muda itu lalu merangsek mendekati si bapak, “Jadi harus cash ya? Mama kemana?”

Ya, saudara-saudara, antrian harus terhenti karena si anak sibuk dengan hapenya mencoba menghubungi sang mama demi bisa membayar deodorant roll-on nya, sang mama nggak ngangkat-ngangkat telpon, dan akhirnya si bapak berkata kepada petugas kasir, “Dibatalkan saja, Mbak.” Dua orang yang mengantri di belakang saya tidak bisa menutup tawa nyinyir mereka. Sementara bapak-anak itu berlalu begitu saja dengan belanjaan mereka, tanpa rasa bersalah sudah membuat kami menunggu.

Ini orang-orang kok susah amat sih bilang maaf dan terima kasih?

*

Beberapa minggu lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat di Jogja. Sambil makan bakso yang pernah jadi idola banget karena dekat dengan kantor saya dulu, kami mengobrol ngalor-ngidul, sampai ke topik soal minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Saya bilang kalau saya dulu sebetulnya orang yang cukup kesulitan untuk minta maaf dan tidak terbiasa juga mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang saya anggap kecil, seperti saat tidak sengaja menabrakkan baby stroller, saat menerima buah yang baru ditimbangkan, atau membuat orang lain menunggu. Paling banter ya saya nyengir aja kalau bikin salah. Baru beberapa tahun belakangan saja kebiasaan minta maaf dan berterima kasih saya lakukan karena melihat orang yang paling dekat dengan saya melakukan hal tersebut dan saya melihatnya sebagai sesuatu yang memang layak untuk dicontoh.

Jujur, bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan ini. Di awal-awal, beberapa kali saya harusnya bilang terima kasih, yang keluar malah maaf. Serius lho! Sampai akhirnya saya sadar kalau saya harus melakukannya karena memang saya benar-benar ingin meminta maaf dan ingin mengatakan terima kasih. Bukan karena basa-basi. Saat saya minta maaf, saya mencoba memposisikan diri saya pada pihak yang dirugikan atas apa yang sudah saya lakukan. Nggak enak ‘kan kalau nunggu orang pake ATM lama banget kayak ATM punya dia sendiri? (Note: Tolong jangan dipraktekkan bayar gaji pekerja via ATM yang ada di lokasi dan waktu yang ramai ya).

Juga saat kita mengucapkan terima kasih. Kecuali Anda sudah mati rasa, ada perasaan senang ‘kan saat orang lain mengucapkan terima kasih kepada kita dengan ekspresi muka yang tidak dibuat-buat? Mungkin kita merasa kalau yang kita lakukan hanyalah hal yang kecil, tapi mungkin bagi orang lain perbuatan kita itu memberikan manfaat yang tidak sedikit.

Karena saya tidak percaya dengan konsep dosa dan pahala, bagi saya meminta maaf dan mengucapkan terima kasih melatih saya untuk lebih reflektif, sekaligus menyambung kembali rasa keterhubungan antara sesama. Jangan kemana-mana, tetap di…..!
baca selengkapnya

6 Desember 2017

Just Do It

Sudah hampir tiga bulan ini saya menganggur setelah saya kembali ke Indonesia di pertengahan September kemarin. Well, tidak benar-benar nganggur juga sih. Selain ada “bantu-bantu” teman (perlu pakai tanda kutip karena bantu-bantunya tetap dihargai secara profesional), pada beberapa masa saya cukup sibuk: nongkrong sana sini, jumpa teman ini itu, sambil tetap kirim lamaran ke sana kemari. Setelah kerjaan “bantu-bantu” selesai, teman-teman sibuk dengan pekerjaan mereka, dan tidak ada lowongan pekerjaan yang menarik untuk saya daftar, mulailah saya dilanda kebosanan. Mau ngapain lagi ya?

Tahun 2012 saya pernah juga mengalami masa-masa menganggur seperti ini. Tanpa pekerjaan dan tabungan yang ala kadar, saya nekad resign dari Jakarta dan kembali ke Jogja. Saya merasa saat itu saya lebih termotivasi untuk melakukan banyak hal. Saya beli sepeda dan kemana-mana dengan modal gowes. Walaupun pada akhirnya saya bergabung dengan teman saya di dunia per-branding-an, toh saya masih sempat dan punya energi untuk kegiatan lain-lainnya, bahkan sampai akhirnya bisa kecapaian juga menyusun buku. Sekarang rasanya lain. Entah apakah karena sekarang saya nganggurnya di Jakarta, atau faktor lain yang enggan saya akui: umur. Hahaha…

Beberapa teman, yang sebagian sudah bertahun-tahun tidak bertemu, saya jumpai untuk sekedar menuntaskan rindu, update gossip (ini menu utama sebetulnya), atau sekedar haha-hihi. Saat saya mengutarakan kebosanan yang saya rasakan, beberapa dari mereka malah bertanya, “Kenapa nggak nulis lagi, Link?” Jleb.

Gara-gara itulah sebenarnya tulisan ini saya buat. Saya coba untuk kembali ke blog ini, yang andaikan rumah, mungkin sudut-sudutnya sudah dipenuhi sarang laba-laba dan kayu-kayunya melapuk digerogoti rayap. Asal tau saja, untuk bikin paragraf kedua tulisan ini, saya perlu nonton film Detektif Conan dulu, tutup laptop, makan, main Angry Birds 2, mandi, tidur. Saya merasa kemampuan saya menulis menurun drastis. Maksudnya menulis kreatif, bukan ngerjain tugas kuliah atau tesis lho ya (jangan curhat… jangan curhat…). Apa memang untuk memulai kembali sesuatu yang sudah lama ditinggalkan itu butuh energi luar biasa besar, atau memang sayanya saja yang malas? Atau, lagi-lagi, faktor umur? Hahaha…

Pengalaman nulis saya memang tidak banyak. Selain blog, yang alhamdulillah pernah menang kompetisi, hanya satu buku yang saya tulis di masa “nganggur” pertama, dan saya lebih sering bilang kalau buku itu lebih mirip kliping informasi (pun kabarnya entah gimana itu buku). Tulisan-tulisan saya yang lainnya tersebar di buku-buku kompilasi, plus laporan proyek. Duh mak! Maka ketika beberapa teman mulai mendorong saya untuk nulis lagi, saya merasa mendapatkan tantangan. Lebih untuk membuktikan kepada diri saya sendiri kalau saya bisa.

Menerima tantangan tersebut tentu ada konsekuensinya: saya harus mulai membaca lagi. Saya sadar bahwa kejumudan saya dalam menulis adalah, selain malas, juga kurangnya asupan bacaan. Satu tahun kemarin, otak saya dijajah oleh berpuluh-puluh jurnal -yang alhamdulillah karena daya ingat saya yang luar biasa buruk, sulit saya ingat lagi isinya. Mungkin karena terlalu banyak baca jurnal-jurnal itu, ada rasa-rasa eneg kalau liat tulisan yang banyak. Ya Tuhan, inikah yang namanya trauma? Jadi, apa kabar keinginan lanjut PhD? Well, saya saat ini sedang berusaha kembali menjalin kasih dengan buku karena saya sadar saya harus memperkaya referensi lagi, baik itu secara perspektif maupun teknis.

Hanya dua buku yang selesai saya baca dalam rentang tiga bulan ini: Sejuta Warna Pelangi-nya Clara Ng dan Gadis Naik Bujang-nya Shanti Agustiani. Eh, buku pertama itu bukannya buku anak-anak ya? Betul. Sengaja saya beli untuk referensi karena masih ada hasrat untuk menuntaskan mimpi membuat buku untuk anak-anak. Oke, buku ini memang selesai dibaca dalam waktu kurang dari satu jam hahaha…. Tapi beberapa malam saya habiskan untuk menikmati ilustrasi-ilustrasinya yang digarap beberapa ilustrator buku anak berpengalaman. Nah, kalau buku yang kedua itu novel pendek karya teman saya, tentang masa pubertas remaja perempuan. Awalnya saya beli sebagai bentuk dukungan terhadap teman. Lalu ketika saya diajak untuk berkolaborasi menulis dengannya, saya merasa ada kebutuhan untuk menyelesaikan buku tersebut untuk menjajaki cara berpikirnya yang akan penting bagi saya jika memang nantinya kami berdua akan bekerja bersama. Sekarang, saya sedang mulai membaca buku Psikologi Terapan yang disunting dosen saya di Psikologi UGM. Aih, katanya trauma baca bacaan berat? Hehehe… Anggaplah ini transisi, karena isinya tidak seberat jurnal dan teori-teori kuliah.

Bagi yang menunggu-nunggu apa sebetulnya inti dari tulisan saya kali ini, silakan berhenti berharap hahaha… Tulisan ini tak lebih dari sekedar uji coba saja. Meminjam tagline-nya Nike “Just do it”, saya hanya sedang ingin menulis apa yang ada dalam kepala. Karena kalau nunggu “Ah nanti kalau ada topik seru. Tar aja kalau ada pengalaman asik. Ganti laptop dulu ah biar semangat nulisnya”, sampai lebaran kuda tujuh kali pun, JK Rowling mungkin tidak akan melahirkan Harry Potter.


*Disclaimer: saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari Nike. Sepatu lari saya aja merk-nya lain #kodekerasbuatyangmaudiendorse

baca selengkapnya

21 April 2015

Kisah Kasih Bikin Paspor

Hari ini adalah hari pertama saya, secara resmi, bekerja di kantor baru. Dan saya menghabiskan hampir seharian di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. 

Belum. Belum ada keinginan jadi PNS, termasuk jadi pegawai kantor imigrasi. Kedatangan saya di kantor itu tak lain dan tak bukan untuk urus paspor. Singkatnya, saya diterima bekerja di sebuah organisasi yang cakupan kerjanya tidak hanya di Indonesia, jadi saya merasa perlu segera membuat paspor baru setelah yang lama kadaluarsa sejak Februari lalu.


Saya memulai kisah kasih saya dengan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan sejak Senin kemarin. Dengan penuh percaya diri saya sampai di sana jam 8 lebih sedikit. Naik ke lantai dua, saya langsung menuju meja informasi. Mereka memberitahu kalau kuota pendaftaran paspor secara manual untuk hari itu sudah habis. Walah... Ternyata mereka sudah mulai proses sejak pukul 6 pagi untuk kuota 100 pendaftar setiap harinya! Baiklah.

Saya sempat cek untuk daftar secara online. Memang lebih sederhana, tak perlu antri berlama-lama (tapi tetap antri lho...). Sayangnya, jadwal yang diberikan oleh Kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk proses selanjutnya paling cepat adalah satu minggu setelah kita mengisi formulir online. Usut punya usut, kantor ini memang paling banyak peminatnya. Teman saya menyarankan saya untuk mencari kantor imigrasi lain. Di Jakarta Selatan sendiri sebetulnya ada dua unit yang khusus melayani pembuatan paspor, di Kebayoran Baru dan Cilandak. Saya cek juga kalau online di Kebayoran Baru itu jadwalnya bisa keesokan harinya. Tapi saya tetap melirik kantor imigrasi yang di Warung Buncit Raya karena searah dengan kantor. Biarlah daftar manual pun.

Pagi jam 6.30 saya sudah sampai di sana. Antrian sudah mengular di luar gedung, saudara-saudara! Saya tanya satpamnya apakah masih ada kuota, syukurlah masih. Berdirilah saya di antrian sekitar 1 jam sebelum kantor benar-benar membuka layanan. Setelah cek kilat berkas-berkas oleh petugas, saya lalu dapat formulir dengan nomor antrian 2-067. Kode 2 adalah kode pelamar 'biasa' saja. Yang kode 1 itu untuk lansia, anak dan diffable. Ok juga nih sistemnya, saya pikir. 

Entah berapa kursi sudah saya duduki, dengan posisi dari mulai duduk sopan sampai selonjoran nggak jelas. Sabar lah... Menjelang jam 12 siang terdengar pengumuman bahwa layanan akan tutup sampai jam 1. Yang bikin gemes adalah nomor antrian berhenti di 2-064. Dikit lagi, bro... Ya sudahlah, mau gimana lagi. Kasihan juga para pegawai itu ya mau makan. Jam 1 lewat 10 menit barulah antrian kembali dipanggil. 

Kalau memang hari sial itu benar adanya, mungkin ini hari sial buat saya. Saya dipanggil ke Counter 3. Petugasnya, yang ramah sama petugas lain tapi langsung pasang muka judes begitu menatap pendaftar (dan ini hampir semua lho, mungkin SOP nya begitu ya), segera mengecek kembali berkas-berkas saya. Dia tanya alamat saya dimana,

"Lha itu, saya udah tulis di formulir," jawab saya.

"Oh bukan KTP Jakarta ya. Ada surat pengantar dari kantor?"

Dueng! Saya baru ingat, dulu waktu saya bikin paspor di Jogja dengan KTP non-Jogja, saya bawa surat pengantar dari kantor. Tapi saya tidak mau rugi, masak iya sudah ngantri dari pagi terus harus balik lagi gara-gara nila setitik. Saya bilang,

"Lho, tadi waktu dicek di depan saya tidak dikasih tahu. Di web juga cuma dikasih tahu saya cuma harus bawa dokumen-dokumen ini." Asli, muka saya waktu itu pasti tidak kalah judes dengan si petugas. Si petugas akhirnya meminta saya membuat pernyataan tulis tangan bermaterai. Ya lebih baiklah daripada mengular dari pagi lagi. Eits, belum selesai. Giliran saya mau difoto, komputernya error. Nah lho. Dimintalah saya foto di Counter 2, dengan petugas bapak-bapak yang sibuk senyum-senyum gak jelas sama pendaftar perempuan muda. Dan lagi-lagi saya dapat jatah judesnya. Cih.

Selesai foto dan scan sidik jari, saya kembali ke Counter 3 untuk menerima tanda bukti yang akan digunakan untuk pembayaran dan pengambilan paspor. Komputernya masih error donk. Menunggulah lagi saya, sampai pendaftar lain tanya sama saya kenapa lama sekali. Saya cuma bilang,

"Tuh, teknologinya gak canggih."

Akhirnya, saya terbebas dari Kantor Imigrasi jam 2 lewat. Hore. Semoga saja pengambilan paspornya nanti, yang untungnya hanya 3 hari proses, tidak pakai ngantri dan nunggu lama.

Pelajaran apa yang bisa didapat dari kisah saya ini? Baiklah, jadi kalau Anda sedang akan membuat paspor:

  1. Proseslah jauh-jauh hari sebelum Anda berencana pergi ke luar negeri sehingga bisa memanfaatkan pendaftaran online
  2. Pakai agen juga bisa, tapi sediakan kocek lebih tentunya. Harga paspor 48 halaman plus administrasi itu Rp355.000 (bukan e-passport). Dulu saya di Jogja mesti bayar sekitar Rp500.000. Di Jakarta, info dari teman, berkisar Rp650.000 sampai Rp1.200.000
  3. Cari kantor imigrasi atau unit layanan paspor terdekat dengan rumah. Tanya dulu berapa kuota per harinya dan mulai antri jam berapa.
  4. Jika Anda akan mengurus paspor di provinsi yang tidak sesuai dengan KTP dan KK, minta surat pengantar dari kantor atau kampus. Kalau tidak, ya siap-siap mengarang indah seperti pengalaman saya di atas hehe...
  5. Dokumen yang harus disiapkan adalah KTP, KK, akte lahir (atau ijasah) dan paspor lama (untuk yang sudah punya). Semua dokumen asli dibawa plus fotokopiannya ukuran A4.
  6. Berpakaian rapi dan wajar. Begitu pengumuman yang ada di kantor imigrasi. Entah maksudnya wajar itu seperti apa, kalau dari pengamatan saya sih tidak ada yang pakai baju selam atau bikini pas daftar paspor. Tapi ini memang masuk akal karena sistem one stop service, pengambilan foto dilakukan di hari yang sama saat kita menyerahkan berkas (berposelah yang wajar!)
  7. Kalau kebetulan dapat kantor imigrasinya yang ramai naujubilah, perkuat iman dan takwa. Dan jangan lupa sarapan. 

Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pembuatan paspor bisa diintip di http://www.imigrasi.go.id/


*foto dicomot dari http://tanjungperak.imigrasi.go.id/

baca selengkapnya

11 Maret 2015

PHP itu Mematikan


Ya, saya memang mau cerita soal PHP yang singkatan Pemberi Harapan Palsu itu. Tapi sayang sekali harus saya katakan kalau ini tidak ada hubungannya dengan urusan percintaan. Karena selain saya tidak punya cukup pengalaman di bidang per-PHP-an dalam ranah asmara (sungguh saya minta maaf jika selama ini ada kata dan tindakan saya yang menjurus pada PHP, sama sekali tak ada niatan), apa yang hendak saya tulis ini didasarkan pada kisah nyata meskipun nama dan identitas tertentu sengaja dikaburkan agar tidak menyulut perkara di kemudian hari. Kendati demikian, saya rasa inti PHP yang akan saya ceritakan ini dapat pula diterapkan dalam  bidang-bidang kehidupan manusia lainnya, termasuk bidang asmara.

Alkisah, saya mengajukan lamaran pekerjaan pada suatu organisasi yang lumayan besar. Sebut saja PermenKaret. Tidak sampai seminggu, saya sudah ditelpon, diundang untuk wawancara. Kaget campur senang, tapi saya tidak langsung besar kepala. Toh siapa tahu memang PermenKaret ini punya cara rekruitmen seperti itu. Lolos administrasi, wawancara, lolos administrasi, wawancara, tidak perlu tumpuk CV pelamar beribu-ribu.

Lewat seminggu paska wawancara, saya mulai pasrah. Apalagi setelah tahu ada kandidat lain yang punya pengalaman lebih dari saya. Benar saja, setelah hampir dua minggu saya ditelpon HRD-nya PermenKaret. Dia bilang, untuk posisi yang saya lamar, mereka butuh orang yang lebih senior (saya tidak sempat tanya maksudnya ini dari perspektif usia ataukah pengalaman). Kepada saya, ditawarkan posisi lain. Oh jangan senang dulu, ini bukan tawaran untuk langsung menempati posisi tersebut. Ditawarkan kepada saya kira-kira saya tertarik atau tidak untuk ikut proses wawancara lagi, ya semacam final interview. Saya lalu minta dikirimkan deskripsi kerjanya untuk saya pelajari. Besoknya, saya terima undangan untuk wawancara.

Hanya satu orang yang mewawancarai saya, ‘bosnya’ PermenKaret di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan standar yang diakhiri dengan, “Kami butuh posisi itu secepatnya (tiga minggu setelah dinyatakan lolos harus ikut workshop) dengan gaji yang kami tawarkan bla…bla…bla…” Terdengar positif ya? Belum. Ini belum masuk bagian per-PHP-an. Saya diberi tahu akan mendapatkan kabar besoknya. Dan dimulailah…

Sampai besok sorenya saya bolak-balik cek email. Siapa tahu nyasar ke spam dan saya tidak mendapatkan notifikasi. Tidak ada kabar sama sekali sampai saya tidur. Masuk hari selanjutnya, belum ada kabar juga hingga akhirnya saya beranikan diri untuk menelepon si HRD. Saya bilang kalau saya perlu kabar agar saya bisa berdiskusi dengan tempat saya kerja sekarang untuk negosiasi waktu yang tepat saya bisa mundur. Sebagai informasi, kontrak pekerjaan saya sekarang berakhir awal April, yang artinya kalau PermenKaret ingin saya mulai bekerja, kalau saya diterima, pada akhir Maret, saya harus berdiskusi dulu, bukan? Jadi saya tekankan kalau saya menunggu sekali kabar yang seharusnya saya terima kemarin.

Jawaban dari sang HRD mengagetkan saya. Selain tidak tahu kalau saya seharusnya dikabari kemarin itu, dia juga belum tahu bagaimana hasilnya. Dia bilang akan mengabari saya hari itu juga. Saya jawab kalau saya paham jika PermenKaret butuh waktu untuk mempertimbangkan, tapi setidaknya saya diberi tahu kapan saya akan mendapat kepastian. Sang HRD keukeuh akan mengabari saya hari itu juga dengan alasan dia akan cuti panjang. Ok, baiklah. Dan sampai berhari-hari hingga detik ini tak ada satu pun kabar saya terima.

Sebelumnya, di mata saya PermenKaret adalah organisasi besar yang profesional. Walaupun kadang dengar berita ini itu yang agak kurang sedap tentangnya, saya merasa hal itu lumrah-lumrah saja. Toh tidak ada gading yang tak retak. Selama tidak fatal. Tapi dari proses rekruitmen yang saya alami, saya merasa ini benar-benar sudah di luar batas kewajaran. Saya merasa sudah di-PHP-in, hal yang sepatutnya tidak dilakukan organisasi sebesar itu. Memang saya dengar desas-desus soal posisi yang ditawarkan itu, tapi apapun yang terjadi ini tak ada kaitannya dengan kewajiban mereka untuk memberikan kepastian kepada orang yang sudah mereka wawancara. Mungkin akan berbeda kisah jika saya tidak diberi tahu, “Akan kami kabari besok” dan “Hari ini juga akan kami kabari”. Perkara saya tidak terima, kecewa pastinya. Tapi mendapat kabar, sekalipun lewat email, tentang penolakan itu jauh lebih baik rasanya. Saya bisa konsentrasi pada hal lain.

Memberi harapan kepada orang lain itu perlu komitmen yang besar. Seperti kita membuat janji. Pasalnya, kebanyakan dari kita yang diberi harapan akan segera menyusun rencana, jaga-jaga agar jika harapan itu benar-benar diberikan kita sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dan jika tidak, tindakan apa pula yang harus diambil. Menyusun agenda supaya hal-hal lain dalam hidupnya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun kita tidak hidup dalam satu dimensi melulu soal hal yang diharapkan itu saja, pecahan-pecahan hidup kita yang lainnya saling terkait. Satu ketidakpastian bisa berdampak pada hal lain dalam hidup kita. Meski kadang sesaat, ketidakpastian mematikan rencana dan agenda yang sudah kita susun. Tidak jarang pula justru ‘sesaat’ itulah waktu yang sangat krusial dalam hidup kita, maka matilah kita karena setitik PHP. (Ok, anak kalimat terakhir itu memang terdengar berlebihan)

Ngomong-ngomong, gak ada yang lagi PHP-in orang kan?


baca selengkapnya

22 Februari 2015

Mengapa Kita Membunuh Orang yang Membunuh Orang untuk Menunjukkan Bahwa Membunuh itu Salah?

Ramai diperbincangkan berita terkait hukuman mati yang akan diberikan kepada dua terpidana duo Bali Nine yang warga negara Australia. Tony Abbott, Perdana Menteri Australia, meminta Pemerintah Indonesia membatalkan hukuman tersebut. Wajar tentu saja bagi suatu pemerintah memberikan perlindungan maksimal bagi warganya. Sayangnya, Abbott menyinggung bantuan yang pernah diberikan pemerintahnya saat tsunami menerjang beberapa daerah di Indonesia pada 2004 silam. Seolah Abbott ingin mengingatkan, ‘Berterima kasihlah sedikit…

Ini jelas memicu reaksi kemarahan dari warga Indonesia. Beberapa lantas membuat gerakan pengumpulan  koin yang kemudian akan diserahkan kepada kedutaan Australia untuk mengembalikan bantuan yang pernah diberikan. Saya pribadi juga tersinggung dengan pernyataan Abbott. Tapi ini bukan berarti saya mendukung apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia atas hukuman mati yang akan segera diberikan kepada pengedar dan bandar narkoba.

Lalu apakah ini artinya saya mendukung peredaran dan penyalahgunaan narkoba? Tidak. Garis bawahi bahwa ketidaksetujuan saya bukan karena kasusnya. Sekalipun itu teroris yang dijatuhi hukuman, saya tetap dengan pendirian saya, hukuman mati bukan solusi. Hukuman mati hanya mengajarkan satu hal, yaitu bahwa menghabisi nyawa seseorang itu diperbolehkan, dengan alasan tertentu. Ini yang saya tidak dapat setujui. Dengan alasan apapun, tak ada yang berhak mengambil nyawa seseorang.

Saya tidak begitu peduli bagaimana Indonesia akan dilihat oleh dunia internasional karena masih memberlakukan hukuman mati. Saya juga tak begitu peduli bagaimana nantinya hubungan Indonesia dengan Australia, Brazil, Belanda atau negara lain yang warga negaranya tertangkap di Indonesia dan dijatuhi hukuman mati. Ini bukan soal saya melihat bagaimana hak asasi manusia ditegakkan di Indonesia. Ini murni perkara hati.

Beberapa orang yang mendukung diberikannya hukuman mati beralibi, toh para terpidana itu juga tidak berpikir dua kali saat melakukan kejahatan mereka. Berapa orang yang harus meregang nyawa karena overdosis narkoba? Berapa banyak anak yang kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, sahabat kehilangan kawan karena penyalahgunaan narkoba? Jika penjahatnya teroris, berapa nyawa yang telah mereka habisi dari satu ledakan bom? 

Saya jadi bertanya, apakah itu yang namanya keadilan? Mata dibalas dengan mata dan membuat kita lebih baik dari mereka? Siapa kita? Jika ini soal balas dendam, kenapa hukuman untuk pencuri sandal tidak dengan mencuri balik barang yang dimiliki si pencuri? Bukankah dari kecil pun kita diajari untuk tak mendendam?

*


Jika tidak dengan hukuman mati, mereka tidak akan kapok-kapok, datang ke Indonesia mengedarkan narkoba! Begitu mungkin alibi selanjutnya dari pendukung hukuman mati. Apakah membuat kapok harus dengan hukuman mati? Sadari saja kalau penegakkan hukum di Indonesia itu ibarat pisau yang tak kenal asahan berpuluh-puluh tahun. Tumpul. Karatan. Ini yang seharusnya diperbaiki. Mengasah kembali pisaunya. Bukan dengan menggasakkan pisau tumpul pada leher-leher bernyawa.

Soal nyawa ini, saya jadi ingat satu kawan di jejaring sosial. Ia teman sekolah yang lama tak berkomunikasi, tapi kembali terkoneksi berkat internet. Ia salah satu yang postingannya saya sukai karena isinya menyejukkan, beberapa ia buat dengan gaya berkisah. Satu cerita menarik saya comot di sini untuk mengingatkan kita betapa berharganya nyawa makhluk hidup:

Aku diam. Tiba-tiba kurasakan geli di lengan kiriku. Saat kulihat ada semut hitam tengah berjalan di sana, refleks kubeberkan telapak tangan kanan. Hendak kutepuk semut itu.

“Hei! Hati-hati, Nak! Tepukanmu bisa membunuhnya!” teriak ibu.

Aku menengok ke arah Ibu. Telapak tanganku tertahan di udara.

“Tak usah ditepuk. Pegang saja pelan-pelan, lalu pindahkan. Kecil-kecil gitu bernyawa lo..! Emang kamu bisa bikin nyawa?”**


*Judul dan Gambar diambil dari
http://nobodycorp.org/portfolio/anti-hukuman-mati/#jp-carousel-1737
**Thanks, Kang Idim!
baca selengkapnya

17 Februari 2015

Kita Pikir?

Enak sekali kalau punya kakak yang hanya terpaut umur 2-3 tahun. Topik obrolan masih satu frekuensi, bisa jadi teman curhat dan sekutu yang hebat saat orang tua terlalu ‘rese’. Hmm.. tapi enak juga kalau punya kakak yang terpaut umur jauh. Ada yang bisa diandalkan saat ibu atau ayah tidak ada di rumah, bisa memberikan masukan yang lebih masuk akal saat kita dilanda masalah, mengajari bermain gitar atau bagaimana perawatan wajah terbaik. Ah, tapi enak juga kalau punya adik. Ada yang bisa kita suruh-suruh saat kita malas menggerakkan badan. Eh, tunggu… Jadi anak tunggal juga sepertinya enak. Semua yang kita inginkan bisa dikabulkan. Perhatian dan kasih sayang hanya untuk kita.

Asyik sekali kalau punya pacar. Ada yang mengucapkan ‘Selamat Pagi’ setiap hari. Ada yang mengerti, dan berusaha mengerti, apa yang sedang kita rasakan. Ada yang tersenyum senang hanya karena melihat kita tertawa. Tapi… asyik juga ya kalau kita single. Bebas kemana-mana dengan siapa sesuka hati. Tak perlu khawatir rasa cemburu berlebih yang menyulut pertengkaran. Hmm… atau lebih asyik punya open-relationship. Punya teman rasa pacar. Kita masih bisa ‘bermain-main’ dengan orang lain tanpa harus takut menyakiti pasangan.

Setiap hari bertemu pacar itu sepertinya seru. Siapa bisa menahan rindu saat hati terbalut cinta? Kita bisa sentuh wajahnya setiap hari, bersyukur bisa menemaninya hampir dalam setiap apapun yang ia lakukan. Hmm… tapi punya pacar jarak jauh juga sepertinya seru. Setiap hari selalu ada dua kisah menarik, beda makanan yang disantap, beda orang yang ditemui. Ada ruang lebih untuk kehidupan pribadi tanpa harus merasa sendiri.

Ah, sepertinya menarik kalau rumah kita ada di tepi pantai. Mata selalu dimanjakan pada setiap senja. Air kelapa yang dinikmati bersama angin laut beraroma asin. Deburan ombak dan anak-anak yang berlari menyambut kapal nelayan yang baru pulang menangkap ikan. Tapi punya rumah di atas bukit juga menarik. Udara segar hadiah dari rindangnya pepohonan tersaji setiap saat. Bunga beraneka warna bermekaran di musim tertentu dengan iring nyanyian burung-burung kecil. Sesekali tupai menggemaskan menyapa teras rumah. Hmm… punya rumah di tengah kota juga menarik. Segala fasilitas bisa kita dapat semudah membalikkan badan. Ratusan orang kita temui setiap hari dengan berbagai kisah.

Atau justru sebaliknya…

Kakak yang umurnya dekat dengan kita hanya jadi biang masalah. Sediki-sedikit kita dibandingkan dengannya. Kakak yang umurnya jauh juga tidak jadi berkah karena tingkahnya lebih kolot dari orang tua kita. Punya adik itu menyebalkan, apalagi saat harus mengantarnya dan menjaganya bermain dengan bocah lain. Ugh! Dan kau pikir jadi anak tunggal itu enak? Serba diatur. Tak ada juga yang dapat diajak bicara saat orang tua tak di rumah.

Punya hubungan dengan seseorang hanya menambah rumit hidup. Sedikit-sedikit harus saling pengertian, sedikit-sedikit harus membuka diri. Dan single juga tidak selamanya bahagia, karena berarti jomblo, serupa tapi punya konotasi lebih negatif. Senegatif cara orang melihat kenapa kita tidak punya pacar juga. Open-relationship? Pernah dengar drama? Cukup.

Permintaan pacar untuk bertemu setiap hari terasa manis di awal, tapi ujung-ujungnya seperti harus ikut upacara setiap Senin pagi. Rutinitas. Membosankan. Dia tidak usah cerita, kita tahu apa kegiatan dia seharian. Dan punya pacar tapi jarak jauh juga bisa menjauhkan keromantisan. Apalagi saat sinyal mendadak hilang dan pacar memutuskan untuk pergi dengan teman-temannya daripada menelepon kita.

Rumah di pantai itu menarik? Tunggu saja saat musim badai. Dan rumah di atas bukit juga berarti siap-siap saja dengan kedatangan ular atau listrik yang tiba-tiba padam karena tiangnya amblas dibabat longsor. Akhirnya, hidup di tengah kota memang menjanjikan banyak hal, tapi ada yang harus ditebus untuk mendapatkan janji manis itu: waktu, tenaga, pikiran bahkan kadang pertemanan.

Jadi, kita pikir?
Lingkaran mana yang lebih terang?



baca selengkapnya

14 Desember 2014

Pesan yang Tak Sampai dari Supernova

Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Dee yang bukunya telah menjelma menjadi film layar lebar. Terlepas dari kekecewaan saya (masih gemas luar biasa dengan tokoh Diva), saya senang karena karya tersebut bisa diperluas pasarnya. Ya, sebagai fondasi Supernova, Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh bukan buku yang mudah dipahami karena kreativitas sang penulis mengawinkan istilah sains dan kata-kata romantis, ide besar tentang alam dan pengalaman sekian manusia yang walaupun hanya bagian titik-titik kecil dari ide besar itu tapi masing-masing saling terhubung. Jadi mungkin saja ada orang yang sudah membaca tapi tidak dapat esensinya, atau baru baca satu bab langsung tutup buku karena rasa baca buku pelajaran fisika, maka film ini bisa jadi alternatifnya.


Seperti satu narasi dalam bagian akhir film (saya lupa tepatnya, itu kelemahan saya yang paling menyebalkan), “Bagi Anda yang terbiasa melihat dunia hitam dan putih…”, Supernova memang menyajikan banyak fenomena yang dianggap masih tabu oleh masyarakat kita: pasangan sesama jenis, prostitusi, perselingkuhan. Cara Dee menghadirkan fenomena-fenomena itu menarik, memang mendobrak pola pikir hitam-putih kebanyakan orang. Misalnya saja, gay yang seringkali dilekatkan dengan hedonisme dan sering gonta-ganti pasangan. Dee justru menggambarkan tokoh gay yang berpasangan bertahun-tahun, tidak terjebak pada ‘mengapa aku seperti ini?’, party, fashion dan seks. Juga dari tokoh Diva, yang sebagai pekerja seks high-class, Dee ingin menunjukkan suatu otonomi atas tubuh seorang individu. (Tentu ini menjadi catatan karena bisa dijadikan senjata bagi para moralis menggeneralisir semua fenomena prostitusi)

Sayangnya, dobrakan yang coba ditawarkan oleh Dee tidak mendapatkan respon semestinya dari penikmat Supernova. Pesannya tidak sampai. Setidaknya begitu yang saya rasakan saat saya menonton filmnya kemarin sore. Cekikikan serta lontaran “iiih..” dan “jijik”, saat Reuben dan Dimas menunjukkan afeksi di antara mereka, mengisyaratkan saya satu hal: masyakarat belum siap dengan hal ini.

Namun yang paling membuat saya terganggu adalah saat adegan Arwin mengajak, secara tersirat, untuk berhubungan seks dengan istrinya, Rana, yang sedang tidak menginginkan hal tersebut karena hatinya sudah terpaut pada Ferre. Rana berteriak dalam hati, “Re, tolong aku. Aku diperkosa.*” Kebanyakan penonton, dan kebanyakan perempuan, tertawa. Heran saya.

Tidakkah mereka tahu adanya perkosaan dalam rumah tangga? Ya, itu terjadi ketika salah satu pihak tidak menginginkan berhubungan seks, tapi pihak lain tetap memaksa, dengan cara apapun sehalus apapun. Ini bukan lelucon. Saya jadi bertanya pada perempuan-perempuan penonton itu, jika mereka memang belum pernah melakukan hubungan seks, pernahkah setidaknya membayangkan apa rasanya harus mengikuti kehendak suami saat diri tidak menginginkan? Apakah hanya alasan sakit saja yang bisa membuat seorang istri dapat menolak ajakan suami? Ah ya, dalam agama bukankah istri harus melayani suami, dalam kondisi apapun ya, daripada dilaknat malaikat sampai pagi? Salah nonton film sepertinya, Ayat-ayat Cinta saja kalau begitu. 

Pertanyaannya saya justru, jika untuk hubungan seksual saja Rana tidak asertif pada suaminya, lalu apa yang menjadi landasan rumah tangga mereka? Komunikasi yang saling? Saya rasa tidak.

Dugaan saya yang lain adalah, tokoh Rana yang menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan suaminya, dianggap telah menurunkan martabatnya sendiri, setidaknya mungkin di hadapan para penonton seperti itu. Sehingga apa yang dialami dan dirasakan Rana akan dianggap main-main dan dikomentari “Ya salahnya sendiri…” termasuk saat merasa dirinya diperkosa oleh suami sendiri. Apakah saya saja yang terlalu sensitif dengan isu perkosaan ini? Bisa jadi, tapi bukan berarti tanpa alasan. 

Perkosaan bukan hal main-main. Saya bahkan sedapat mungkin tidak menggunakan kata tersebut untuk berkelakar, karena setiap kali mendengar kata perkosaan yang saya bayangkan adalah seseorang yang tersiksa tidak hanya secara fisik tapi juga mental. Maka ketika ada orang yang mengatakan, “Saya diperkosa” saya merasakan pedih yang luar biasa dalam, luka batin yang akan sulit untuk disembuhkan.

Well, jika memang dugaan-dugaan saya itulah yang menjadi dasar dari respon penonton terhadap adegan Rana dan Arwin tersebut, berarti ini adalah pekerjaan rumah bagi para pejuang hak asasi manusia, terutama hak perempuan. Faktor X dari penerima pesan film Supernova memang terlalu kompleks, dan tentu kita paham bahwa pola pikir masyarakat yang sudah mapan tidak dapat diubah begitu saja hanya dengan satu karya novel atau film.

Jika respon ini terjadi karena medianya, karena kehilangan daya untuk menggiring emosi penikmat karya karena proses adaptasi dari buku ke film (yang memang tidak mudah), ya ini pekerjaan rumah bagi para pembuat film. Terutama bagi yang ingin menggebrak cara-cara pikir tradisional.

Tapi saya sungguh-sungguh berharap bahwa respon tersebut memang tidak dikehendaki oleh sang pengirim pesan, sang pencipta karya. Bahwa apa yang dirasakan oleh Rana tersebut tidak dimaksudkan untuk main-main.


*Keping 9, Kestaria, Putri dan Bintang Jatuh

baca selengkapnya

12 Desember 2014

Email dan Etika

Beberapa hari lalu seorang kawan membuat status di akun jejaring sosialnya yang intinya menyindir seseorang –entah siapa, tak ia sebutkan, tak penting juga buat saya tahu- yang tak kunjung membalas email yang ia kirimkan. Padahal, si terkirim email punya gawai canggih yang terhubung dengan internet setiap waktu.

Lain lagi di kantor saya, ada satu staf yang mendapat teguran gara-gara caranya berkomunikasi melalui email. Tampak sepele sebetulnya: kegemarannya menggunakan akun pribadi dibandingkan dengan akun email kantor, penggunaan kata yang dianggap kurang sopan dan tata bahasanya yang membingungkan, panjang lebar tapi berputar-putar.

Nah, bertepatan dengan Jumat sore nan kelabu dan karena posisi saya di kantor membuat saya beberapa bulan lalu ketiban merampungkan bagian komunikasi internal dan eksternal, termasuk etikanya sebagai pedoman organisasi, maka dengan ini saya hendak berbagi apa yang telah saya dapatkan, baik berdasarkan pengalaman maupun hasil berselancar di jaring-jaring internet. (Luar biasa bukan bahasa saya?)

Intinya, berkomunikasi melalui email tetap butuh etika. Namanya etika, bisa jadi setiap budaya dan lingkaran sosial akan berbeda. Pada dasarnya sama saja seperti kita berkomunikasi langsung dengan orang alias tatap muka. Itu yang biasanya saya jadikan patokan beremail ria secara sopan dan santun. Taruh kata saat kita mengirim email kepada teman lama soal rancangan bisnis yang akan dibangun bersama, tentu berbeda dengan email kita untuk meminta informasi lebih detail soal produk asuransi. Saat beremail dengan teman, kita bisa bayangkan duduk bersamanya di sebuah coffee-shop sambil diselingi haha-hihi. Masak iya seperti itu juga saat berbicara dengan petugas asuransi? Ya, kecuali kalau petugas asuransinya ya sahabat kental kita. Oke, berikut poin-poinnya, dan ya, saya sengaja hanya fokus pada etika berkomunikasi dalam konteks profesional alias dunia kerja, walaupun bisa saja dipakai untuk urusan lain.

  • Kebanyakan organisasi atau perusahaan saat ini sudah menyediakan akun email untuk masing-masing stafnya dengan server organisasi atau perusahaan. Gunakan akun ini untuk semua urusan pekerjaan dan yang berkaitan dengan organisasi atau perusahaan kita. Tetap gunakan akun pribadi untuk email-email yang personal, untuk membuat akun jejaring sosial atau untuk menjadi anggota mailing-list backpacker-an atau pencarian jodoh. Akun email organisasi atau perusahaan menunjukkan bahwa kita memang bagian dari organisasi atau perusahaan tersebut. Ia menjadi identitas pertama kita saat kita hadir membawa nama lembaga. Bayangkan, kita akan presentasi proposal proyek di sebuah perusahaan besar dan kita datang dengan bersandal jepit dengan celana jeans belel. Tidak salah memang. Tapi ya… tetap ada tapinya.
  • Gunakan kalimat lengkap, jelas dan hindari singkatan-singkatan yang tidak baku. Komunikasi adalah menu sehari-hari kita dalam bekerja, bukan? Tidak jarang komunikasi ini berpengaruh pada atmosfer kerja. Drama yang muncul di internal organisasi juga ada kalanya muncul karena kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Juga saat kita berkomunikasi dengan orang di luar lembaga kita. Sadari bahwa setiap orang memiliki kapasitas, latar belakang dan sensitivitas yang berbeda-beda. 
  • Jangan lupa memberi judul untuk setiap email yang kita kirimkan karena selain memudahkan penerima email mengetahui maksud email kita, risiko terdeteksi sebagai spam juga bisa berkurang. Sama pentingnya adalah melengkapi email dengan pengantar dan penutup, termasuk saat meneruskan email atau melampirkan dokumen. Ibarat kita masuk ruangan orang lain, masak iya kita ujug-ujug masuk dan taruh dokumen di atas meja padahal si empunya ruangan duduk terus di kursinya.
  • Nah ini dia yang dialami kawan saya: balas email yang ditujukan kepada kita! Tidak perlu berpanjang-panjang jika memang tidak diperlukan, cukup dengan kalimat singkat bahwa maksud email sudah kita terima. Jika memang kita butuh waktu untuk mempelajari isi emailnya terlebih dahulu, bilang saja demikian. Tapi tidak perlu selalu membalas email yang di-CC kepada kita, kecuali, lagi-lagi, jika sangat diperlukan. Sama halnya dengan tidak perlu selalu “reply all” untuk email yang dikirimkan ke banyak orang pada waktu bersamaan. “Reply all” hanya dipakai jika semua orang membutuhkan jawaban kita.
  • Kita seringkali lupa jika setiap tanda baca memiliki arti sendiri. Demikian juga dengan penggunaan huruf kapital, bold dan warna-warni yang sering kali ditafsirkan berbeda oleh orang. 
Coba baca ini.
Coba baca ini!
Coba baca ini!
Coba baca ini!!!!
Coba baca ini?!!!
COBA BACA INI!!!

COBA BACA INI!!!

 
  • Emoticon? Walaupun sebaiknya dihindari, sebetulnya tergantung dengan siapa kita berkirim email. Terkadang ada yang menggunakan emoticon sederhana untuk lebih menunjukkan ekspresinya seperti :( atau :) saat mengirim email pada kolega. Bisa jadi atasan kita juga menggunakannya. Lebih peka saja dengan siapa kita beremail dan topik apa yang sedang dibicarakan.
  • Ingat, email hanya salah satu alat kita untuk berkomunikasi. Jika kita memang butuh jawaban segera dari orang yang kita kirimi email tapi tidak kunjung juga mendapatkan respon bak punguk merindukan bulan, segera saja temui atau hubungi lewat telepon. Siapa tahu yang bersangkutan sedang ada urusan yang jauh lebih penting atau mungkin ada di lokasi dengan koneksi internet kembang kempis.
  • Terakhir dan sebetulnya yang paling penting, sopan santun berlaku di mana pun, meski caranya berbeda. Lagi, lagi dan lagi, email hanya salah satu media untuk bisa berkomunikasi. Soal bagaimana caranya bertutur sopan, saya yakin tak ada satupun dari pembaca blog ini yang hidup dari kecil sendirian di tengah belantara. 


Have a nice weekend!
baca selengkapnya

17 November 2014

Oleh-oleh dari Bone

Tugas ke lapangan sering kali memberikan saya banyak pelajaran. Tak jarang, siraman yang saya dapat tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan. Namun justru pelajaran-pelajaran itu yang membuat kenop-kenop dalam otak tersambung dan mengalirkan getaran sampai ke hati.

Sore itu, saya tiba di Desa Waji, Bone, Sulawesi Selatan, setelah kurang lebih empat jam perjalanan dari Makassar. Tujuan saya adalah menemui salah satu pengguna biogas yang hendak saya wawancara lalu dipublikasikan. Pak Amir namanya.

Seperti kebanyakan petani dan peternak di Indonesia yang saya temui sebelumnya, penampilan Pak Amir juga tampak sederhana. Ia baru saja selesai menemani beberapa remaja SMA yang diantar salah satu gurunya untuk praktek  pembuatan biogas. Saat saya datang, mereka sedang duduk-duduk di teras rumah. Saya duga itu adalah bagian adat kesopanan yang tidak langsung angkat kaki setelah urusan selesai. Perlulah kiranya mencicipi apa yang sudah tuan rumah hidangkan sambal sedikit mengobrol ini itu.

“Saya hanya pesan satu hal kepada adik-adik ini saat pulang ke rumah nanti,” kata Pak Amir. Tamu yang lain mengangguk-angguk kompak, sepertinya sudah tahu apa kelanjutannya karena sudah disampaikan Pak Amir sebelumnya. 

“Saya minta mereka merenung.”

Sungguh di luar dugaan saya. Saya pikir ia akan memberikan dorongan para remaja ini untuk merawat ternak para orang tuanya, atau coba mengaplikasikan pupuk kompos dari ampas biogas, atau nasihat klasik lainnya: belajar yang rajin, bantu orang tua dan rajin menabung.

Merenung yang dimaksud Pak Amir bukanlah ala para filsuf yang sedang mencari apa hakikat hidup atau ala para negarawan yang sedang menggali cara terampuh membangkitkan semangat nasionalisme  rakyat. Para remaja ini diminta untuk merenungkan apa yang sudah dilakukan orang tuanya untuk mereka. Lalu coba mensyukuri apa yang sudah mereka dapatkan sekarang, bisa tumbuh dan bersekolah.

Ya, Pak Amir hanya lulus SD. Putusnya pendidikan adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidupnya. Dengan jujur ia mengatakan seringkali hatinya berdesir saat melihat remaja-remaja yang dengan riang gembira pergi ke sekolah. Bahkan sampai sekarang. Namun putus sekolah tak membuatnya patah arang. Ia punya modal lain, semangat dan kerja keras. Dua tahun lalu, ia dipercaya mendapatkan dana hibah dari bank besar di negeri ini. Ia adalah peternak yang sukses mengembangkan pupuk kompos ampas biogas di Bone, yang karena kesuksesannya tersebut ia sering dikunjungi banyak pihak yang ingin belajar darinya, termasuk para remaja sekolah. Ia telah menjadi guru bagi banyak orang.

“Pak Amir ini profesor lapangan,” kata guru yang mendampingi remaja sekolah ini. Belakangan, setelah rombongan sekolah ini pamit,Pak Amir memberi tahu saya bahwa perempuan tersebut adalah guru honorer tapi punya pengabdian luar biasa dalam dunia pendidikan.

Dalam perjalanan pulang ke Makassar sambil keliling mencari pom bensin yang masih buka gara-gara isu harga BBM naik, saya memikirkan nasihat Pak Amir sore itu. Saya belum sampai rumah dan saya pun sudah bukan remaja sekolah. Saya hanya tahu saya sudah mendapatkan oleh-oleh dari Bone, sebuah renungan: 

Kapan terakhir saya mensyukuri apa yang sudah saya dapatkan?
baca selengkapnya