10 Maret 2010

Perempuan di Satu Senja

Perempuan itu mengajak aku berbicara di satu senja. Tidak. Tidak di senja dengan lembayung mentari, juga tidak dengan gerimis hujan meruapkan bau tanah. Hanya senja biasa yang ramai oleh lalu lintas manusia. Tak ada kesan senyap membangkit nostalgi, apalagi romansa. "Sudah kau dengar ada kabar tak sedap tentang suamiku?" tanyanya setengah berbisik. Aku tidak menjawab, hanya mengerutkan kening tanda tanya dan melihat wajahnya. Matanya memang tak sehitam dulu. Rambutnya yang ikal lebat kini mulai memutih. Flek-flek coklat tua sudah memberikan tanda usiaya tidak muda lagi. Separuh abad, namun masih menyisakan kecantikan. "Tapi kau sudah tahu,...
baca selengkapnya